Translate

Thursday, 9 April 2020

Pantai Mertasari_Tugas UTS Audio Visual Dasar







Berikut adalah video tugas tengah semester untuk mata kuliah Audio Visual Dasar dengan tema Kegiatan Manusia. Selamat menikmati.

Tuesday, 7 April 2020

Ikan Laut dalam Akuarium_Tugas UTS Audio Visual Dasar



Berikut adalah video tugas tengah semester untuk mata kuliah Audio Visual Dasar dengan tema Hewan. Selamat menikmati.




Pendekatan Bahasan Seni Rupa

Pada kesempatan saya kali ini saya akan membawakan marteri selanjutnya dari mata kuliah TINJAUAN SENI. Materi ini akan menjelaskan mengenai Pendekatan Bahasan Seni Rupa.


 Pendekatan Bahasan Seni Rupa


Kini, pembahasan teori dengan pendekatan lintas wilayah keilmuan telah menjadi bagian penting dalam pembicaraan bidang-bidang keilmuan. Membicarakan seni rupa sebagai kajian keilmuan, tidak lagi terbebas dari masuknya tinjauan dengan pendekatan bidang ilmu lain. Bidang kajian antropologi, sosiologi, dan psikologi, sudah lama menjadi bidang kajian yang melengkapi pendekatan bahasan seni rupa. 

Para antropolog telah lama tertarik untuk mengumpulkan data tentang hasil budaya fisik, hasil kegiatan masyarakat yang visual, yaitu karya-karya seni rupa. Bahasan para antropolog ini telah melahirkan sebutan yang kini melengkapi nama bidang kajian antropologi menjadi antropologi budaya. Batasan pengertian bidang budaya yang menjadi bagian kajian antropologi, ternyata, adalah bidang-bidang kesenian. Di dalamnya dicatat dan dibahas masalah-masalah yang terkait dengan benda-benda tinggalan masa lalu ataupun benda-benda masa kini apa adanya. Dari kegiatan-kegiatan tersebut lahir sebutan pendekatan entografi tetapi dengan penekanan pada perubahan pendekatan yang sekaligus sebagai revisi terhadap pola pendekatan antropolog yang hanya “sekadar” mencatat sesuatu itu sebagaimana apa adanya. Kini, pendekatan etnografi baru talah melibatkan tinjauan yang lebih mendalam dan melebar dengan memasukkan unsur kajian yang sosiologis maupun psiklogis. Sebuah benda, dalam pendekatan etnografi tidak steril dari pengaruh latar pembuat maupun kondisi lingkungannya.  Oleh  karena itu, bahasan  kesenirupaan bisa melibatkan sisi sosiologis masyarakat  pendukungnya, juga melibatkan masalah kejiwaan pelakunya dan zamannya.

Pendekatan Antropologi tentang Seni Rupa


Dalam Bab 1, sekilas telah dikemukakan beberapa buku yang membahas seni rupa dengan cara-bahas yang agak berbeda dengan bahasan buku kebanyakan. Yang dimaksud cara-bahas berbeda di sini adalah cara-bahas yang melepaskan pola pikir major-minor dalam penglompokan karya maupun pelaku seni rupa. Cara-bahas ini menempatkan semua karya manusia ke dalam satu padanan sebutan: arts, seni, seni
rupa. Para penulis Barat yang membahas seni rupa dengan “pandangan lain” ini menampilkan karya para pedesa dan para pekota. Seni primitif yang oleh para penganut paham pengelompokan seni utama-remeh dianggap bukat Arts, di dalam buku-buku seni rupa dengan pandangan lain ini dibahas dengan kesungguhan bahasan “seni utama”.

Buku World Cultures and Modern Art, katalog The XXthOlympiad Munchen 1972, seperti telah dikemukakan di muka, menampilkan tidak kurang dari 2.400-an bentuk karya seni rupa, tanpa memilah seni utama-remeh. Karya tersebut terdiri atas: lukisan, gambar, foto, gambar cetakan, kaligrafi, benda kriya, patung, topeng, dan boneka.

Jumlah karya seni rupa yang ditampilkan (dalam bentuk gambar atau foto), bisa ditafsirkan sebagai petunjuk tingkat kepentingan objek yang dipamerkan. Semakin tinggi jumlah bentuk karya seni rupa tertentu yang ditampilkan, semakin tinggi nilai kepentingannya.

Buku katalog ini menampilkan 210 buah lukisan, 78 di antaranya ditampilkan sebagai gambar penjelas. Lukisan yang dibahas terdiri atas lukisan yang dibuat di atas kanvas, papan, kain layar, dan sebagainya. Jenis gambar yang dibahas (203 gambar), dengan 26 buah sebagai gambar penjelas, terdiri atas gambar yang dibuat menggunakan bahan dan alat cat air, pena, pinsil, kapur gambar, dan tinta. Di sampipng itu, ada 40 buah foto yang 24 buah di antaranya ditampilkan.

Gambar cetakan terdiri atas gambar cetak tinggi (218 buah; 58 buah di antaranya menjadi gambar penjelas), cetak batu, cetak saring, cetak tera, cetak dalam, monotype, monogram, zincograph, dan lithography (cetak datar).

Jenis karya lainnya antara lain kaligrafi (suaksara), benda kriya (piala, pot bunga, pinggan, tempolong, mangkuk, botol, botol obat, cawan poci, dan sebagainya. Benda lain yang ditampilkan antara lain: kipas, sisir, jepit rambut, sabuk, mantel, selendang, baju rompi, serban, kopiah, topi baja, sepatu, tas, gelang, sarung, kain salut, bantal, kasur, permadani, peti, kotak, kotak rokok, bingkai cermin, meja, kursi, lemari, kisikisi jendela, pintu, dan masih banyak lagi.

Jonathan Benthall (1972), dalam buku Science and Technology in Art Today (8 bab), sejalan dengan permasalahan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan, dalam 4 bab bukunya menceritakan hubungan antara seni rupa dengan media fotografi, komputer, dan holografi sinar laser. Dalam bab yang lain diceritakan tentang seni rupa kinetis; hubungan seni rupa dengan ilmu lingkungan, ilmu bahasa, dan ilmu pengetahuan secara umum; masing-masing dibahas dalam satu bab. Benda-benda seni rupa yang dibahas antara lain: Patung kinetis, patung sibernetis, foto (berbagai bentuk dan teknik), lukisan tiga dimensional, holografi, dan sebagainya.

Science & Technology in the Arts, sebuah buku yang membahas paduan antara seni rupa, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Buku yang disusun oleh Stewart Kranz (1974) ini berisi bahasan yang lengkap tentang hasil kerja-gabung antara ilmuwan, teknolog, dan senirupawan.

Sejumlah jenis seni rupa hasil percobaan dan pencarian para perupa yang ditampilkan di dalam buku ini, mempertegas anutan paham bahwa “seniman selalu bekerja menggunakan alat yang sesuai dengan zamannya” (Kranz, 1974: 33). Di antaranya: seni lukis, seni patung (environmental sculpture dan kinetic sculpture), seni cahaya (kinetic light, video-lumined light wall, dan kinetic images), seni fotografi (satellite photography, scanning electron microscope photography, x-ray photography, dan shadow photography), seni bangun, seni lingkungan, seni komputer (computer design, computer art, dan computer film), kineorama, gambar suara (sound pictures), seni reklame (misal, skywriting), dan banyak lagi.

Islamic Art, sebagai bahan bandingan, buku yang disusun oleh David Talbot Rice (1975),  terdiri atas 12 bab, 288 halaman, membahas karya seni rupa masyarakat muslim berdasarkan tempat berkembangnya kegiatan seni rupa tersebut. Dari sejumlah karya seni rupa yang ditampilkan, sebagaian dilengkapi dengan gambar penjelas. Di antaranya: bejana, keramik, mozaik,  mesjid,  beranda,  gambar rancangan,  kisi-kisi jendela,  istana,  pintu gerbang,  lukisan  dinding,  hiasan dinding, menara, panel, kendi, mangkuk, piring, ubin, mimbar, penutup dinding, prasasti, lukis-an langit-langit, mihrab, naskah, ilustrasi naskah, halaman buku, lukisan mini, pot bunga, arca, lampu mesjid, dan kubah.

Sebuah buku tentang seni Jepang, The Art of Japan yang disusun oleh orang Jepang sendiri, Miyeko Murose (1977), menampilkan karya seni rupa yang dilengkapi dengan 40 lembar film positif (slide film). Meskipun hanya 46 halaman, buku ini menampilkan karya seni rupa dengan  jenis  yang  cukup  beragam.   Di antaranya: tembikar, patung kecil, gedung kekaisaran, rumah, lukisan dinding, patung, pakaian, balairung, pagoda, lukisan sutera, bangunan tempat benda suci, peti, kebun, ikebana, ruang minum teh, topeng, sekatan, lukisan gulung, sekatan lipat, kendi, kimono, permadani dinding, cetakan (woodblock, brocade-print, dan polychrome print), piring, katedral, dan hotel.
Buku lain, Russian Art yang disusun oleh Cyril G.E. Bunt (1946), bisa dijadikan sebagai bahan bandingan yang lain. Bunt membahas seni rupa Rusia mulai dari masa pra-Kristen hingga masa Abad XIX. Bentuk karya seni rupa yang dibahas Bunt antara lain: sarung pedang, peti, penutup kepala, terompet, kalung, hiasan kalung, obor, gelang, pot bunga, singgasana, perapian, gerbang, katedral, tanda peringatan, tiang, gereja, istana, ruang pertemuan, beranda, lukisan fresco, mosaik, patung orang suci (icon), cukilan kayu, etsa, teko, pisin, piring, patung kecil, bejana, kaki dian, perhiasan, tongkat pastor, peti kayu, halo, peti mayat, mangkuk, jilid buku, panel, perkakas tenun, pengeretan, mainan, harpa, bas, pakaian, topi, dan lain-lain.
       
Pandangan para antropolog tentang keberadaan seni rupa, tampaknya, harus menjadi bahan kajian bagi para pemerhati seni rupa. Para antropolog tidan pernah memilah bahasan seni rupa berdasarkan kelompok utama-remeh atau murni-terap. Karena kegiatan seni adalah bagian dari kegiatan manusia, “seni tidak bisa dipisahkan dari kehidupan” (Herkovits, 1955: 234). Bahasan para antropolog tentang arts, seni, seni rupa ini, terutama memperhatikan bentuk, tenkik pembuatan, motif hias, dan gaya (Koentjaraningrat, 1990: 380).

Bentuk dan jenis karya seni rupa yang disebut oleh para antropolog atau pun penyusun buku yang lebih condong menggunakan cara pendekatan antropologis dalam bahasan isi bukunya, bisa diperiksa dalam buku-buku seperti berikut ini.
Rene S. Wassing (1968) lewat satu bukunya African Art (286 halaman), menampilkan benda-benda seni rupa lengkap dengan gambar berwarna, masing-masing sehalaman penuh. Benda-benda seni rupa tersebut antara lain: topeng berbentuk topi penutup kepala (mirip helm), topeng, ukiran cadas, kotak minyak wangi, patung kecil, kapak upacara, tenunan, pot bunga, keranjang, patung kepala, tempat duduk tanpa sandaran, piagam, cangklong, gerabah, batik, sendok upacara, dan terompet. Ditampilkan pula mangkuk, kotak bertutup, genderang upacara, sisir, sandaran leher, piala, bejana, tempat madu,pakaian, makam, tongkat tari, sampiran anak panah, kursi, gelang, pintu, lonceng, kecapi, tali leher, lampu minyak, tempat susu, kotak tembakau, boneka, dan tameng tentara.

Buku Introduction to Cultural Anthropology (1968) yang disusun oleh James A. Clipton (Ed.), terdiri atas 18 bab, 540 halaman. Salah satu bab, 40 halaman, secara khusus membahas Art in the Life of Primitive Peoples. Benda-benda seni rupa yang ditampilkan, sebagian dilengkapi gambar penjelas, adalah: selimut, topeng (benda yang paling banyak dibahas), patung (bentuk manusia), piagam, lukisan, dan tenunan.

Buku yang lain, Art and Life in New Guinea (1979) yang didudun oleh Raymond William Firth, berisi bahasan tentang karya-karya seni rupa yang lebih beragam. Buku setebal 130 halaman ini menampilkan ikat pinggang, perahu, rumah, tengkorak kenang-kenang-an (skull-trophies),  haluan perahu,  kapak,  alu batu, topeng, tas, mangkuk, sudip, tempat menyimpan kapur, pedang, pemukul (senjata), cangklong, kotak bambu, seruling, kepala tongkat, genderang, pinggiran topi, tempat duduk, tongkat tari, tameng, dan kuburan. Jenis benda yang paling banyak ditampilkan adalah haluan perahu, tameng, sudip, dan genderang.

Buku yang lebih khususus berbicara tentang seni rupa dengan pendekatan antropologi, The Anthropology of Art, terdiri atas 5 bab, 227 halaman, disusun oleh Robert Layton (1981). Buku ini berisi pembicaraan seni primitif yang langka disinggung oleh para
“senirupawan” --apalagi tentang seni rupa primitif bangsa-bangsa Eropa-- dengan bahasan yang cukup mendalam. Salah satu jenis seni primitif Indonesia yang dibahas dalam buku ini adalah Seni Asmat.

Benda-benda seni rupa yang disebut oleh Llayton antara lain: lukisan gua, rumah, palet, patung, ukiran mini, topeng, keranjang, piagam, hiasan tubuh, hiasan kepala, jimat, kotak minuman, kapak, terompet, dan bejana.

Ada satu buku tentang seni rupa Indonesia --boleh jadi-- bahasannya cukup bijak dan lengkap. Frits A. Wagner, menyusun buku Indonesian The Art of Island Group (1959), bahasannya mencakup seni rupa Indonesia dengan latar belakang pendekatan sejarah, sosiologi, dan agama.

Wagner membagi bahasan isi bukunya (257 halaman) ke dalam 13 bagian. Dimulai dengan bahasan The Neolithic Age dan ditutup dengan Indonesia in the 19th and 20th Centuries. Benda-benda seni rupa yang dibahas oleh Wagner antara lain: kapak persegi, kapak upacara, keranjang, nekara, topi, topeng tari, kendi, patung mini, tempat air dari bambu, hampatong, patung nenek moyang, pedang, bejana, gelang, relief, nandi, makara, wayang kulit, wayang klitiik, wayang golek, gunugngan, candi, songket, piring, canting, keris, jaran kepang, angklung, benteng, paduraksa, lamak, pintu, lukisan, patung, dan lagi yang lain.

Setiap negara memiliki akuan tentang seni (rupa) utama --meminjam istilah paham pengelompokan seni rupa Barat. Hal itu sangat erat terkait dengan latar belakang sistem nilai dan kaidah budaya yang berlaku pada suatu negara. Dengan melihat, meneliti, memilah, mempertimbangkan, serta menilainya secara bijak dan lebih awas, kita bisa menentukan sikap penilaian terhadap hasil karya seni rupa Indonesia. Pantaskah kita masih mengganggap bahwa seni lukis, seni patung, dan seni bangun Indonesia (seperti dalam teori pemilahan yang di”comot” dari teori Barat) sebagai karya seni rupa utama (major arts), sementara hasil karya seni rupa lainnya kita anggap remeh?

Bangsa Indonesia memang masih harus belajar banyak dalam bersikap adil, awas, bijak, dan demokratis dalam menanggapi hasil olah pikir, rasa, dan kesadaran lingkungan masyarakat Indonesia sendiri. Nilai budaya yang mengeristal di dalam silasila Pancasila, khusus dalam sikap berkesenian, tampaknya masih belum menjadi sikap hidup yang nyata. Pemisahan antar pekota-pedesa, terpelajar-tak terpelajar, senimanperajin, profesional-amatir, ahli-tukang, dan sejumlah istilah lainnya, yang tujuannya membeda-bedakan penghargaan terhadap pekarya seni rupa, tidak menampakkan sila Persatuan Indonesia. Padahal yang membangun negara Indonesia bukan hanya para pekota, kaum terpelajar, seniman, golongan profesional, atau para ahli semata. Kaum pinggiran, para pelaku “seni remeh”, wong cilik, tidak kalah penting peranannya dalam menegakkan tiang ekonomi negara!
  
Tidak disadari bahwa nama besar Indonesia, lebih khusus nama Bali yang kadang seolah “terpisah dari Indonesia di mata masyarakat mancanegara, adalah karena hasil karya para pedusun,  pedesa,  yang karyanyanya  tidak pernah  dikenal nama pembuatnya. Begitu banyak cinderamata yang dihadiahkan kepada para tamu negara, berasal dari hasil karya para pedesa, para perajin! Tidakkah disadari bahwa betapa jumlah masukan untuk devisa negara yang disumbangkan dari hasil penjualan neka
benda “seni remeh”? Tidakkah disadari, penghuni terbanyak negara Indonesia ini adalah para para pedusun dengan segala hasil kerja dan karyanya yang tidak pernah bisa terhitung jumlah dan mutunya?

Perlu dibuktikan, seperti apa perhatian Pemerintah Indonesia terhadap benda-benda hasil masyarakat kita? Ketika karya batik, reog (sejenis Reog Ponorogo), lagu Rasa Sayange, Tari  Pendet, yang diakui oleh negara tetangga, Malaysia, secara suka cita, tidak ada upaya besar yang dilakukan Pemerintah untuk sekadar menanggapi keresahan masyarakat seni Indonesia tersebut. Jika ditelusuri lebih jauh lagi, Pemerintah masih belum menempatkan pendidikan seni sebagai bagian penting dalam kurikulum pendidikan Indonesia. Padahal kegiatan seni adalah kegiatan sehari-hari masyarakat Indonesia, bahkan menjadi andalan ekspor negara ketika migas tidak lagi menjanjikan masukan devisa negara.

Berikut adalah tulisan yang terkait dengan sikap orang tua dalam merespons keberadaan perangkat kerja rumah tangga yang baru, yang semuanya berbau teknologi masa kini. Dalam hal pembicaraan tentang teknologi, seolah-olah teknologi itu hanyalah milik mahluk masa kini, masa modern semata.  Padahal  pada kondisi nyata di lapangan, setiap generasi manusia  di manapun telah  diberi  kemampuan  oleh Allah  untuk bisa mengatasi kebutuhan  dan  kesulitannya  berkaitan  dengan lingkungannya. Semua perangkat hidup yang dibangun, digubah,  didesain  oleh manusia pada setiap zaman, adalah bentuk teknologi. Kini, ketika teknologi elektronika menjadi raja pada zaman modern, posisinya sama seperti temuan-temuan para leluhur manusia ketika berusaha “memperpanjang tangan mereka” (van Peursen) dalam mengatasi persoalanpersoalan kehidupan mereka. Tulisan berikut adalah sebuah pertanyaan dan pernyataan yang sejalan dengan kondisi masanya. Tulisan yang pernah dimuat di dalam harian Bali Post ini mempertanyakan bagaimana keluarga dalam menyikapi perkembangan teknologi masa kini.  

BAGAIMANA KELUARGA MENYIASATI TEKNOLOGI?

     
Perkembangan perangkat teknologi kita rasakan sangat pesat. Tahun 70-an, televisi masih dirasakan sebagai “kotak ajaib” yang hanya dimiliki orang-orang kaya tertentu saja. Atau, lebih ke belakang lagi, radio pun bisa dirasakan sebagai “benda aneh”  yang bisa omong. 
Kini, radio dan teve hanyalah benda amat biasa. Anak kecil pun bisa “menguasai” benda tersebut. Bahkan, ketika muncul komputer dan handphone, itu pun kini telah menjadi benda lumrah. Begitu banyak anak yang telah berkenalan, malah sangat akrab, dengan dunia penikmatan hasil teknologi elektronik tersebut. Menikmati radio di satu sisi hanya memberi kepuasan audio saja. Pendengaran adalah  perangkat utama yang digunakan oleh seseorang ketika menikmati acara radio. Interaksi pendengar, selain dilakukan lewat surat, kini, bisa dilakukan lewat pesawat telefon. Seorang penyiar yang disukai pendengar acara radio bisa “didekati” lewat sambungan telefon tersebut. Radio, dalam keterbatasan dan kelebihannya, hingga kini, masih banyak peminatnya, termasuk kelompok anak-anak.

Lebih lengkap dibanding radio, teve bersifat audio-visual. Penikmat acara teve bisa lebih lengkap merasakan kehadiran penyiar, penyanyi, pelawak, atau pun bintang film dan sinetron. Dalam proses interaksi antara penikmat dengan penyaji acara, seperti pada acara radio, bisa dilakukan lewat surat dan telefon. Namun penikmat acara bisa lebih lengkap menyaksikan penyaji acara secara visual. Lewat media massa jenis ini, banyak anak yang kemudian tergila-gila dengan bintang idola mereka. Salah satu jenis acara yang menjadi sumber peniruan bagi anak-anak adalah film kartun.


LEMBAGA PENDIDIKAN

     
Banyak ahli pendidikan yang kemudian percaya bahwa media teve bisa menjadi lembaga pendidikan. Sejalan dengan peran televisi sebagai media hiburan, maka materi tayangan pendidikan yang dikemas dalam acara teve juga harus bersifat menghibur.
Seperti disebutkan oleh Eduard Depari, “jika unsur kemasan diabaikan, tidak mustahil tayangan tersebut akan kehilangan daya tariknya”. 

Tentang besarnya pengaruh langsung acara teve kepada penonton cukup banyak bukti yang bisa diperhatikan di sekitar kita. Ketika teve swasta banyak menayangkan acara tele novela Mexico-an, begitu banyak ibu-ibu yang kemudian memiliki jadwal-tonton yang rutin. Jadwal tersebut tak bisa diubah. Tangisan dan keributan anak pada saat tayangan berlangsung, tidak akan bisa mengganggu acara menonton. Bahkan, anakanaklah yang mendapat dampratan, karena dianggap mengganggu acara menonton tayangan kesukaan ibu. Kesukaan ibu-ibu dalam menonton berlanjut dengan munculnya film-film kungfu yang diwarnai cerita drama percintaan. Begitu pun ketika muncul pula cerita wayang (India), drama percintaan (Jepang), dan juga tak ketinggalan sinetron seri buatan dalam negeri sendiri yang kebanyakan tayangannya sama dengan tele novela. 

Sama dengan ibu-ibu, anak-anak memiliki tayangan kesukaan yang khusus. Film kartun, aneka cerita, keluaran Jepang dan Amerika yang banyak ditayangkan di TVRI atau teve swasta, beberapa di antaranya kemudian menjadi cerita tungguan anak-anak. Semua tayang-an, bisa dipastikan, ada nilai baik dan buruknya.        

Seorang ibu bercerita tentang anaknya yang sangat terpengaruh acara tayangan teve.
“Anak saya pernah retak tulang kaki hingga harus operasi. Pasalnya, dia bergaya meniru jagoan kesukaannya di televisi. Dia meniru Superman yang bisa terbang.
Terbanglah dia dari balkon rumah, hingga kakinya luka”.  Kasus itu adalah pengaruh langsung yang tergolong berat. Pengaruh langsung yang ringan-ringan saja, mislanya yang diceritakan ibu yang lain: “Karena kesukaan terhadap jagoan yang biasa ditonton di teve, anak saya memaksa harus membeli semua jenis asesoris yang berhubungan dengan tokoh jagoannya”.

Sisi positif menonton teve diungkapkan oleh seorang ibu. “Pengaruh baik yang kami perhatikan pada putra kami adalah selalu ingin menjaga atau melindungi seperti halnya pada perilaku tokoh jagoan idolanya”. Hal yang menarik adalah yang dialami oleh seorang ibu lain dengan anaknya yang masih usia pra-TK. “Pada waktu itu”, tulisnya, “anak kami masih di Play Group. Tentunya belum dapat membaca. Padahal, pada waktu itu, film-film kartun dialognya berbahasa darimana film itu diproduksi. Terjemahannya tertulis dalam bahasa Indonesia di bagian bawah layar. Kami secara bergiliran membacakan terjemahan tersebut. Tetapi suatu waktu, kami sibuk. Tidak ada satu pun di antara kami yang sempat membacakan terjemahan film yang ditonton anak kami. 

Bertolak dari kekecewaan tadi, putra kami giat belajar membaca. Karena keinginan yang kuat, putra kami terus belajar. Pada usia sebelum 5 tahun anak kami, akhirnya, bisa membaca, membaca teks terjemahan film maupun koran, tanpa harus bergantung kepada orang tua”.

Maraknya aneka jenis video game, disusul dengan menjamurnya play station yang berbarengan dengan memasyarakatnya internet, menjadi lahan perluasan jenis hiburan, terutama, bagi anak-anak. Dunia maya, dunia yang dibangun dalam format digital, telah menjadi dunia penikmatan imajinasi anak-anak. Penemuan teknologi 3D yang semakin sempurna telah menolong para gamer untuk mengembara mengikuti hayalan para programer aneka jenis mainan.   

Dunia maya, dunia yang dibangun dalam format digital, pada dasarnya sejalan dengan pola imajinasi. Keinginan, hayalan, harapan, yang bentuknya cenderung mustahal sekalipun, bisa dikemas dalam bentuk nyata imajinasi, gambar digital. Salah satu bentuk gambar digital adalah mainan, game. Aneka mainan digital adalah pengembangan imaji yang telah diolah untuk kepentingan aneka tujuan. Tujuan baik, tentu saja, menjadi tujuan yang umum. Banyak software komputer misalnya, yang ditujukan untuk memudahkan proses pembelajaran. Pembelajaran dirancang menjadi interaktif lengkap dengan gerak (animasi), suara, dan bahkan komunikasi aktif antara mesin (komputer) dengan pengguna program. Tetapi, banyak juga software program komputer yang disisipi aneka tujuan buruk. Lebih khusus yang disebar lewat jalur website internet yang dikemas dalam bentuk program  freeware dan shareware. 

Perkembangan teknologi dampak awalnya bertalian dengan kemaslahatan umat. Tetapi kemudian, kemajuan teknologi telah turut memajukan dan menganekargamkan jenis kejahatan. Tujuan buruk pun telah dikemas sedemikian rupa hingga tampilannya tetap terselubung dalam bungkus mainan. Kekerasan yang menjadi pola film animasi keluaran beberapa perusahaan software dan komik Jepang, misalnya, yang mengandalkan penyelesaian cerita dengan pembunuhan, sangat “disukai” oleh anakanak kita. 

Tentu, gaya cerita seperti itu, akan diserap dan ditimbun anak dalam memorinya. Mungkin cerita cenderung lebih lamban pengaruhnya kepada anak-anak. Tetapi, peniruan-peniruan gaya yang dilakukan anak-anak secara terus-menerus bisa menjadi langkah penguatan. Untungnya, masyarakat pengguna komputer di Indonesia masih belum jauh banyak seperti di negara-negara tetangga, apalagi di Barat. Pelaku pembobolan bank dan keamanan negara, seperti di Amerika, adalah anak-anak muda yang iseng-iseng menyusup ke dalam website bank dan biro keamanan negara. Belum lagi, para pembuat virus dan worm (istilah sejenis virus di internet), adalah para pemuda juga. Di Indonesia, baru sebatas pengaruh dunia cerita saja yang banyak diserap oleh kebanyakan anak-anak masa kini.   

Dunia robot  seperti pada cerita Pokemon dan Digimon, dalam batas-batas tertentu banyak memberi sumbangan imajinasi teknologis yang lumayan kepada anak-anak. Entah bagaimana kreatifnya para pedagang mainan anak-anak dalam memanfaatkan tokoh yang sedang digandrungi oleh anak-anak. Dunia Mickey Mouse, Donald Duck, Power Ranger, Ninja Hatori, dan Doraemon yang juga pernah diolah para pedagang, sedikit demi sedikit digeser oleh ketenaran para robot Pokemon. Buku tulis, buku bacaan, kartu mainan, permen, kancing tempel, tas sekolah, kaos anak-anak, alat-alat makan, bahkan pelapis tempat tidur dan bantal, semua dihiasi gambar tokoh-tokoh Pokemon. Orang tua tak bisa menahan hasrat anak-anak untuk secara te-rus-menerus melengkapi “koleksi” benda-benda kesukaan yang kemudian akan menjadi benda kebanggaan anak di antara lingkungan temannya. Lingkungan teman sebaya telah lebih kuat memberi pengaruh kepada mereka. Apa yang bisa dimanfaatkan dari fenomena dunia hayal tersebut?  

PERLU BIMBINGAN


Arus pengaruh teman sebaya tak bisa dibendung oleh orang tua. Atau, kalau orang tua tetap mau membendungnya, pengaruh itu tetap juga akan luber tak terkendali. Lebih baik orang tua turut menyusun jalan-jalan penyalurannya, agar bah pengaruh itu bisa lebih sehat alirannya. Orang tua wajib peduli dengan kesenangan anak-anak. Kalau perlu, orang tua bisa melakukan diskusi dengan anak-anak tentang mainan-mainan kesenangannya.


Membiarkan anak mengeksplorasi dunianya adalah tindakan bijaksana. Tetapi, bimbingan, arahan, dan penyaluran merupakan kunci pengaman yang bisa dibentuk oleh orang tua. Orang tua adalah pengawas, pemilah, dan sekaligus fasilitator bagi kebutuhan eksplorasi anak. Biarkanlah anak mengurusi dunianya. Orang tua tidak bijaksana bila turut campur menentukan isi dunia anak. Jadilah wasit yang bertanggung jawab, yang bisa memfasilitasi lalu lintas imajinasi anak. Bukankah ketika kita, para orang tua, masih dalam usia anak-anak, kita selalu diberi kebebasan bermain, dan lahan bermain kita tidak pernah dijajah orang tua kita. 

4.3 Pendekatan Sosiologi tentang Seni Rupa

P.J. Bouman (1954), dalam bukunya Sosiologi Pengertian dan Masalah, pada salah satu bagian bukunya menulis tentang sosiologi seni, di samping tentang sosiologi agama, sosiologi kebudayaan, dan sebagainya. Bouman menunjuk bahwa perhatian para sosiologist dalam membahas seni adalah mengenai: 1) sampai seberapa jauh ciptaan seniman menunjukkan pengaruh sosial, 2) gema sosial ciptaan seni, 3) kedudukan seniman dalam masyarakat, dan 4) bagaimana masyarakat menghargai, menyebarkan, atau menghimpun hasil-hasil seni.

Tampaknya, apa yang dikemukakan oleh Bouman tahun 50-an dengan apa yang dipaparkan oleh Jaques Lennhardt tahun 70-an, tidak terlalu jauh bergeser. Penelitian para sosiologist tentang seni, Lennhardt menyebutnya arus utama (main trends) penelitian sosiologi seni, berkisar tentang hasil karya seni yang diperlakukan sebagai jejak sosial yang akan membimbing para sosiolog dalam meneliti komponen lingkungan sosial para pekerja seni, dan kondisi sosial penciptaan seni (Lennhardt, 1978: 585 - 596).

Bila disimpulkan, kedua penulis tadi menunjuk keterkaitan antara seni (penggubah seni, karya seni) dengan keadaan masyarakat (penikmat seni dan pemerhati atau pengemat seni). Pada kenyataannya, seniman atau penggubah karya seni, siapapun dia, pedesa ataupun pekota, selalu menanggapi lingkungan sebagai sumber inspirasi dalam proses penggubahan karyanya. Bahkan, dalam karya-karya seni tradisional, gambaran lingkungan sangat kental. Semua masyarakat pendukung suatu kesenian tradisional tertentu akan merasa menjadi bagian dari sistem nilai yang ada dalam kesenian tersebut.
Seperti disebutkan oleh Bouman, “kesadaran kelompok dapat dilihat djuga dari anonimitet seniman, jang tinggal dibelakang bajang2 kolektivitet”. Lebih khusus dalam kesenian primitif. Kesenian primitif adalah jenis kesenian yang paling mudah diberi tafsiran sosiologis, karena secara nyata menunjukkan perasaan kelompok masyarakat pendukungnya.

Pada sejumlah seni pertunjukan tradisional, kita bisa menyaksikan keterlibatan penonton (msyarakat) di dalam adegan-adegan yang dipertunjukkan oleh pemain. Bahkan, penonton bisa secara bebas berdialog dengan pemain, memberi masukan kepada pemain, memeinta bentuk pertunjukan tertentu, atau sekadar menanggapi apa yang dilakukan oleh pemain. Sebagai contoh bisa diperhatikan pertunjukan drama tradisional seperti Bondres (Bali) ataupun pertunjukan wayang kulit, wayang golek, maupun Lenong. Seorang nayaga bisa saja meluluskan permintaan penonton, atau seorang dalang bisa memainkan tokoh wayang (bukan wayang pokok) dilengkapi dengan dialog langsung dengan penikmat pertunjukan. Begitupun yang terjadi dalam lingkungan kegiatan seni rupa tradisional.

Bouman menegaskan:

“Sosiologi kesenian dapat memberi gambaran tentang keadaan2 jang menjuburkan tumbuhnja beberapa pernjataan seni tertentu, tetapi tidak pernah dapat ‘menerangkan’ bagaimana terdjadinja bentuk2 seni.Ia harus membatasi diri pada penjelidikan kesenian sebagai eksponen kesatuan djiwa kelompok, dengan tiada berhak untuk ingin menembus sampai proses psychologis jang terdjadi pada setiap seniman (meskipun ia mewakili fikiran kelompok)”.

Diakui oleh Baouman bahwa tafsiran sosiologis untuk jenis-jenis seni modern, yang menggambarkan individualitas senimannya, sangat sulit dilakukan. Ia mengangkat pendapat W. Kloos yang menyataan bahwa kesenian modern itu merupakan
“pernjataan yang paling individual dari perasaan-perasaan yang paling individual”. Tetapi, meskipun demikian, Bouman masih mengakui bahwa seniman tetap tidak bisa lepas dari pengaruh waktu dan lingkungannya. 

Yang menarik dari pernyataan Bouman adalah tentang gambaran kesenian Asia, terutama berkaitan dengan gaya seni:

“Kalau dirumuskan setjara negatif, dapatlah dikatakan, bahwa stabilitet kesenian Asia berhubungan dengan ketenangan struktur2 agraris dalam daerah2 kebudajaan tempat kesenian itu berkembang. Djuga kesenian Tiongkok, Djepang dan India Depan mengenal masa gaja, tetapi djarang ahli sedjarah kesenian memperhatikan latar belakang sosial dari penentuan masa gaja ini”.

Gaya, aliran, atau isme, tidak menjadi bagian kajian dalam sosiologi seni. Itu semua menjadi bagian kajian sejarah kesenian. Yang dikaji dalam pendekatan sosiologi seni adalah latar belakang keadaan masyarakat sebagai lingkungan seniman berada, yang mempengaruhi kelahiran suatu gaya. Lingkungan masyarakat seperti apa yang melatari kelahiran daya seni abstrak, mi-salnya.

Secara sosiologis, masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang santun, suka menghargai se-sama, mementingkan kebersamaan, erat ikatan batinnya dengan tradisi, dan sejumlah ciri sosiologis lainnya. Masyarakat Indonesia, pun sebagian telah menjadi masyarakat kota besar  yang mulai memiliki ciri-ciri sosiologis masyarakat kota besar,  bahkan untuk lingkungan tertentu telah menampakkan ciri masyarakat metropolis kotakota besar dunia. Radio, televisi,  dan  kini, nternet  dan telefon seluler, telah mengubah sedikit  demi  sedikit pola kehidupan  masyarakat tatap-muka menjadi msyarakat seluler, serba saluran elektronis. 

Ketiadaan sebuah telefon genggam, misalnya, telah membangun kekhawatiran yang aneh dibanding jauh dari anggota keluarga. Anak-anak muda telah menjadi konsumen kartu seluler yang telah menjadi sangat murah.  Perilaku  mempertahankan sesuatu secara bertanggung jawab, mungkin, mulai terkikis dengan perilaku serba instan, serba merasa mudah, dan serba merasa kurang memiliki penghargaan terhadap sesuatu. Pendidikan penghargaan perlu dihidupkan dalam lingkungan masyarakat, agar  bisa mengimbangi  arus besar  individualisme yang telah mencerabutkan rasa dan keberadaan manusia dari akar-awal. Perhatikan bagaimana bangsa ini kurang menghargai peninggalan para leluhur. Banyak kalangan yang memakai ras dan pikir untuk masa datang ketimbang merasa terikat dengan masa lalu. Seakan-akan masa lalu telah dilepas begitu saja tanpa sisa, sekadar ingatan sekalipun!

Bahasan para ahli tentang sosiologi seni, seperti yang ditunjukan dalam pola bahasan Bouman, condong kepada kelompok masyarakat seni pekota. Kedudukan seniman pedesa, seniman tradisi, masyarakat kebanyakan, kurang mendapat perhatian. Hal itu merupakan bentuk kesenjangan teori, seperti juga yang terjadi dalam dunia teori seni rupa Barat.

Masyarakat yang kini disebut sebagai masyarakat tradisi, pada zamannya adalah kelompok masyarakat pekota. Tetapi karena perubahan zaman, terjadi pergeseran dalam penyebutan posisi mereka. Sebagaimana ketika masyarakat masa kini sadar bahwa teknologi adalah milik mereka, hasil capaian mereka dalam mengolah alam lingkungannya, hal itu menjadi hal yang sama pada kelompok masyarakat lainnya dalam kurun waktu yang berbeda. Tradisi tidaklah mengacu waktu melainkan menyangkut kondisi. Sebagaimana  sebutan primitif yang selalu dihindari teoretisi seni Eropa untuk menyebut kondisi masyarakat mereka, kondisi itu bisa kita temukan pada masyarakat masa kini yang telah dianggap postmodern. 

Sebagai bahan pertimbangan, tulisan di bawah ini, tulisan yang pernah dimuat di dalam Harian Sinar Harapan, bisa dijadikan bahan bahasan.


 SADAR DUNIA ANAK-ANAK 

      

Anak-anak masa lalu, adalah anak-anak yang sangat dekat dengan alam. Mereka bermain dengan alam. Mereka merespon alam. Mereka bagian dari alam.

Anak-anak masa kini, tetap bagian dari alam, merespon alam, dan bermain dengan alam. Tetapi, banyak orang tua yang boleh jadi merasa, alam yang diakrabi oleh anakanak masa kini adalah alam yang sempit cakupannya. Bahkan, banyak perangkat alam yang justru dianggap tidak alamiah. Artinya, perangkat yang disukai sebagai alat bermain oleh anak-anak masa kini adalah perangkat alam milik lingkungan orang lain, milik bangsa lain, milik budaya bangsa lain.

Dulu, hampir semua bagian lingkungan dieksplorasi oleh anak sebagai sarana bermain. Tumbuh-tumbuhan kecil dipakai sebagai objek jual-jualan. Begitu banyak jenis tumbuhan yang dipersamakan dengan benda jualan sebenarnya. Kulit buah-buahan, daun pohon, dahan pohon, batang pohon, dan sejenisnya, telah mendorong kreativitas anak-anak dalam melahirkan aneka bentuk mainan alami bermusim. Ada mobilmobilan dari kulit jeruk Bali; ada mahkota kepala dari daun nangka; ada ketapel dari dahan pohon jambu biji; ada terompet dari batang padi, misalnya. Pada satu sisi, jenis mainannya cenderung tetap, tetapi pengembangan bentuk terus-menerus muncul dari hasil olahan generasi demi generasi. 

Ada yang berkilah, lingkungan tidak lagi memberi keamanan kepada anak-anak dalam meng-akrabinya. Memang, dulu, selokan di pinggir rumah masih berair jernih dan dipenuhi ikan-ikan kecil yang lucu-lucu. Kini, jenis ikan kecil tersebut, boleh jadi, telah men-jadi hewan langka. Kini, sungai di pinggiran desa tidak bisa dipakai mandi atau bermain air berlama-lama. Semua orang takut terkena gatal sisa buangan sampah rumah tangga, apalagi buangan bekal pabrik. Begitu pun, ketika musim mewuluku tanah sawah tiba, anak-anak tidak bisa secara bebas ikut serta bermain lumpur di sawah. Bermain lumpur pada masa kini dianggap sangat tidak sehat. Keceriaan anak-anak telah berganti rupa karena lingkungan alam telah habis dijadikan lingkungan baru yang tidak ramah kepada anak-anak. Saat bulan purnama tidak pernah memberi pengaruh apa pun kepada anak-anak masa kini. Masa panen (tanaman maupun ikan) telah jauh dari lingkungan anak-anak modern.

DUNIA ROBOT


Anak masa kini telah belajar dari lingkungan yang sebetulnya milik masyarakat lain.
Dunia robot, dunia masyarakat industri dan teknologi tinggi, telah “akrab” menjadi teman bermain anak-anak Indonesia masa kini. Dari mulai anak-anak kota besar yang telah le- bih dahulu kenal dengan pesawat teve berantena parabola dan aneka komik ekspor, yang kini berlanjut kenal dengan mesin komputer serta program internet, hingga anak-anak kampung di sisi gunung yang secara nasib ketiban pulung keluarganya menjadi OKB karena pengaruh situasi reformasi, telah begitu dekat juga dengan robot. Ya, meskipun hanya kenal robot maya, robot animasi, robot gambar, mereka begitu nikmat “memilikinya”.

Periksalah saat-saat jam rehat anak-anak sekolah dasar. Periksa pula lingkungan pos kamling atau lapangan desa yang biasa dipakai tempat bermain oleh anak-anak. Apa yang mereka obrolkan? Hampir rata, mereka mengobrolkan tokoh-tokoh Pokemon dan Digi- mon. Malahan, kalau kita mau memeriksa lingkungan anak-anak yang lebih dekat ke pusat informasi, keragaman tokoh cerita itu semakin luas.

Bayangkan, buku komik yang laku di penjual buku sangat fantastis. Buku edisi terbaru Crayon Shincan, Detektif Conan, Cardcaptor Sakura, Doraemon, Detektif Kindaichi, dan sejumlah besar komik buatan seniman Jepang, sangat laku di pasaran. Memang ada sejumlah komik bu-atan masyarakat seniman komik Indonesia, sebagai bahan perbandingan, seperti komik cerita tradisi Ramayana, Sangkuriang, dan Mundinglaya, atau komik yang terkait dengan cerita masa kini seperti Saras, yang masih bisa laku terjual di pasaran tetapi oplah penjualannya kalah jauh oleh komik impor.
 
Pokemon dan Digimon, yang kerap menjadi bahan obrolan anak-anak sekolah dasar, ternyata, lebih banyak hasil pengaruh merebaknya penggunaan play station, juga produk Jepang. Compact disk (CD), bentuknya bisa VCD maupun CD-Games khusus komputer, telah menjadi barang murah. Bahkan, munculnya warung-warung penyewaan perangkat play station (hardware maupun software), telah menyuburkan hidupnya budaya cerita dan mainan masyarakat mancanegara seperti Jepang. 


KARTUN      


Film kartun atau anime yang beredar di sekitar masyarakat penonton teve Indonesia, kini, lebih banyak produk Jepang. Bisa kita saksikan, ternyata, tidak semua film kartun ditujukan untuk konsumsi anak-anak. Terbukti, banyak film kartun Jepang yang tema ceritanya tentang percintaan remaja, bahkan tentang ulah para orang tua. Jelaslah, orang tua mana pun tidak akan setuju kalau jenis film kartun seperti itu ditonton oleh anak-anaknya yang di bawah usia dua belas tahunan. Kecuali orang tua yang memiliki sikap masa bodoh, atau menghalalkan tontonan dewasa untuk anak-anaknya.

Di samping film kartun percintaan, atau paling tidak disisipi adegan “wah”, banyak juga film kartun kekerasan. Musuh adalah objek pembunuhan. Musuh harus “diselesaikan” dengan cara dibunuh, bahkan dihancurleburkan. Dan, menonton jagoan membunuh musuh, bagi anak-anak, adalah hal yang amat biasa. Bahkan, membunuh musuh adalah “keharusan”, yang bisa menyebarkan rasa puas, rasa senang, rasa plong.

Kartun, film maupun komik, bisa dipastikan disukai oleh anak-anak maupun orang dewasa. Bukti tersebut telah dimanfaatkan oleh para penggubah kartun dan produser film kartun. Mereka memproduksi film-film kartun yang ditujukan kepada penikmat dewasa. Tetapi, kita, msaya-rakat Indonesia, sudah kepalang percaya bahwa film kartun adalah untuk konsumsi anak-anak. Kondisi pandangan ini kemudian melahirkan sikap-sikap orang tua yang kurang hati-hati dalam menyaring film kartun yang cocok ditonton oleh anak-anaknya. 
“Ah, itu kan hanya kartun”. Sergahan seperti tadi bisa juga dipakai untuk menunjuk film non-kartun. Semua film, apa pun bentuknya, adalah gubahan manusia. Hanya cerita. Tetapi, ternyata, tidak demikian sederhana kita bersikap terhadap hasil gubahan berbentuk film tersebut. Isi film menjadi penting. Bentuk tampilan adalah sebagai alat peraga, media ungkap, bahkan media ajar yang bisa dimanfaatkan secara efektif untuk tujuan tertentu.

Tampaknya, kita sudah mulai banyak kehilangan milik kita sendiri. Kita lebih percaya diri jika kita memanfaatkan produk bangsa lain, termasuk sarana menanamkan nilai kepada anak-anak. Sarana bermain bagi anak-anak kita, yang bersifat bacaan, tontonan, dengaran, maupun pakaian, hampir semua adalah produk luar. Sejak lama Made in China menjadi trade mark aneka jenis mainan yang masuk ke Indonesia. Sekadar mainan sederhana dari bahan plastik bekas sekalipun. Rakyat China sangat kreatif. Entah dengan tuntutan dan cara apa pemerintah mereka bisa menggugah individuindividunya untuk berkarya dan berkarya. Dulu, pernah ada sejumlah jenis mainan buatan masyarakat Indonesia yang diekspor ke negara-negara tetangga. Tetapi, kelanjutan kegiatan itu, tidak pernah kedengaran lagi ceritanya. Lalu, akankah kita hanya menjadi masyarakat pengguna hasil gubahan orang lain semata?

Dalam kurikulum pendidikan seni rupa di tingkat perguruan tinggi, misalnya, terlalu sedikit, atau bahkan bisa disebut tidak ada arahan materi untuk keperluan menggugah para mahasiswa mengembangkan aneka jenis mainan anak. Kegiatan melukis, mematung, dan menggambar, seolah-olah telah menjadi pokok ajaran dalam seni rupa. Kalau kita menunggu atau sekadar berharap ada perubahan isi kurikulum yang bersumber dari kebijakan pusat, tampaknya kita seperti menggantang asap. Pemerintah masih menggang-gap bidang seni rupa hanya sebagai bidang kegiatan pengisi waktu luang yang nilai ilmiahnya sangat jauh bila  dibandingkan dengan sains. Begitu pun hasil devisa yang didapat dari penjualan benda-benda seni rupa, masih ditafsir sebagai hasil pengembangan bidang pariwisata. Artinya, devisa negara dari penjualan barang seni rupa secara bengis diaku sebagai devisa dari bidang pariwisata.  

Mendiamkan potensi kreatif anak-anak kita, membatasinya dengan makanan kreativitas bangsa lain, sungguh perbuatan yang tak bijak.


Pendekatan Psikologi tentang Seni Rupa


Pendekatan psikologi terhadap seni lebih cenderung berupa kajian estetis yang dikaitkan dengan perilaku dan pengalaman manusia dalam pengolahan, penikmatan,  ataupun pe-ngaruh  seni. Para ahli psikologi mengenal dua bentuk pendekatan psikologis: Pendekatan Gestaltism (The Psychology of Vision, Psikologi Cerapan) dan pendekatan Psikologi Analitik. Dalam buku ini lebih khusus akan dibahas dibahas pendekatan yang kedua, pendekatan psikologi analitik dari Carl Gustav Jung.

Dalam pembicaraan psikologi analitik, khususnya ketika membahas seni modern, kita akan menemukan sebutan extraverted (model perilaku yang bersifat subjektif). Extraverted, sikap ekstravet, adalah bentuk lain untuk menyebut tampilan seni yang (dianggap) bersfat universal. Introverted (kebalikan dari kondisi ekstravet), sikap intovet, digunakan untuk menyebut tampilan karya seni yang bersifat individual.

Batasan istilah universal dalam seni modern sering menunjukkan makna yang kabur. Di satu sisi,istilah ini diartikan sebagai sesuatu yang dianggap memiliki sifat mendunia, memiliki nilai yang sama di seluruh dunia: tegasnya dalam menunjuk nilai estetis sebuah karya seni. Pada sisi lain, istilah ini diartikan mengalam, mengacu alam. Pengertian yang pertama dan kedua merujuk pada tampilan karya seni yang berbeda,yaitu karya seni yang berciri pribadi, khas, lain dari yang lain, dan yang berciri umum.

Seni modern merupakan gambaran pikir masyarakat industri yang sekular (lihat juga bahasan tentang Desain Sesudah Modernisme, kutipan dari bagian laporan skripsi Meiyani Hertanto). Di dalamnya terdapat pemisahan fenomena estetik, otonom, dan terpisah dari pranata sosial dan masyarakat umum. Karena memisahkan diri dari masyarakat umum, seni modern sering dianggap tidak akrab dengan masyarakat.

Kaum modernis berpandangan bahwa kegiatan seni adalah upaya yang terus menerus me-negakkan kualitas estetis. Paham modernis ini melahirkan nilai dan norma yang menjadi acu-an: nilai kebaruan, bersifat material, dan terindera. Nilai keaslian melahirkan individualitas (menurut mereka) sekaligus universalitas. Kedua nilai tersebut menuntut tingkat kreativitas yang tinggi kepada para senimannya.

Untuk menemukan sesuatu yang baru dan asli, seniman melakukan pencarian yang terus-menerus. Kebebasan pencarian merupakan sesuatu yang sangat diagungkan. Salah satu akibat buruknya, seperti telah disebutkan di muka, seniman menjadi terasing atau mengasingkan diri  dari masyarakat banyak.

Dalam perkembangannya, seni modern mengenal berbagai isme, mazhab, atau aliran (tentang hal ini akan dibahas tersendiri). Sejalan dengan prinsip “terus-berubah” milik dunia industri dan sifat ilmu pengetahuan, dalam seni modern selalu terjadi perubahan aliran. Setiap aliran baru merupakan penolakan terhadap aliran sebelumnya. Sebagai contoh, lahirnya impressionisme sebagai hasil reaksi terhadap kebiasaan melukis di dalam studio yang biasa dilakukan oleh para pelukis penganut aliran realis (lihat Myers, 1961: 387 - 408). Pergantian pengaruh aliran dalam seni modern merupakan hal yang sangat biasa. Gambaran gerak yang tanpa henti, gambaran sifat manusia modern, tampak jelas di sana. Tetapi, dalam perubahan tersebut, seperti disebutkan oleh Gustav Jung, terjadi pergantian pengaruh dua sifat utama manusia yang terus berulang: ekstravet (extravert) dan introvet (introvert) (Fodham, 1988).

Bidang psikologi sudah cukup lama merambah medan bahasan bidang seni. Pandangan dan analisis para psikolog tentang seni, terpusat pada sudut pandang kejiwaan yang bisa diukur dalam tampilan perilaku. Para psikolog, khususnya ahli psikologi analitik, mengkajinya melalui pembagian model-model manusia pelakunya. Pembedaan tersebut lebih dikenal dengan sebutan tipe-tipe psikologis.

Usaha pembahasan tipe-tipe psikologis ini memiliki sejarah yang panjang. Diawali oleh Galen, seorang dokter Yunani, lebih kurang dua ribu tahun yang lalu, yang merumuskan empat temperamen manusia: sanguinikus, flegmatik, kolerik, dan melankolik. Kemudian Kretschmer mencoba mencari rumusan penggolongan yang lebih modern, yang dilanjutkan oleh Carl Gustav Jung. Jung-lah --dengan konsep sikap ekstravert dan introvert-- yang dengan teliti melacak sejarah pengaruh tipe psikologis pada puisi dan estetika (Read, 1958: 73 - 106).

Sikap ekstravert, menurut Jung, ditandai dengan libido yang mengalir ke luar; berminat kepada kejadian-kejadian, orang dan benda; juga memiliki hubungan serta ketergantungan terhadap hal tersebut. Orang ekstravert mengadakan hubungan dengan dunia luar melalui intelek, perasaan, penginderaan, atau intuisinya. Mereka mudah terikat oleh fakta; tidak dapat melihat sesuatu di luar fakta; menyukai logika dan keteraturan; lebih tertarik kepada dunia luar; dan tidak menyukai kesendirian. 

Sebaliknya, sikap introvert ditandai dengan libido yang mengalir ke dalam; terpusat pada faktor-faktor subjektif; menarik diri; dan dikuasai kebutuhan dalam. Orang introvet tidak berminat pada fakta,melainkan pada ide (gagasan).

Konsep sikap yang dirumuskan oleh Jung, pada dasarnya terdiri atas tiga pokok bahasan. Pertama, konsep arketif (archetype), yaitu konsep keseduniaan (universality) manusia dalam peng-alaman nyata dan imajinasi. Jung mendefinisikan istilah arketif ini sebagai gambaran ruhanian dari dorongan-dorongan naluri jasmaniah. Kedua, konsep ego dan self. Ego menggambarkan sesuatu yang utama, yang bertalian dengan identitias, batas dan kemampuan perorangan. Sedangkan self bertanggung jawab terhadapa pengalaman simbol-simbol keutamaan, perasaan, dan kesadaran. Ketiga, konsep individuation, yaitu kemampuan memadukan sejumlah aspek proses kesadaran, ketidaksadaran, dan hayalan yang membimbing seseorang kepada kesadaran di luar ego (kesadaran transendental) bukan hanya sekadar pengalaman keunikan individualnya saja.       

Merujuk ciri-ciri tipe psikologis yang dikemukakan oleh Jung, bertalian dengan pelaku seni modern, secara garis besar terdiri atas empat kelompok seperti berikut.

Realisme, Naturalisme, dan Impressionisme 

Kelompok seniman yang menganut tiga aliran seni ini mengutamakan unsur pikir dalam kegiat-annya. Tampilan kelompok ini menunjukkan sikap peniruan terhadap dunia-luar alam. Tampil-an utama karya yang dilatari ketiga aliran ini adalah sesuatu yang nyata. Kenyataan inilah yang menuntut unsur pikir karena peniruan bentuk real, natural, maupun impression adalah peniruan terhadap bentuk-bentuk yang ada di alam. Walaupun kemudian ada penambahan tertentu, ikatan bentuk-bentuk yang nyata sebagai unsur utama dalam model atau objek benda yang ditiru tetap ketat. Sesuatu yang nyata tampak jelas dalam bentuk-luar objek. 

Superrealisme dan Futurisme    


Peranan sensasi sangat kuat dalam konsep kegiatan kelompok ini. Mereka menunjukkan perhatian terhadap nilai-nilai spiritual dalam memanggapi dunia-luar alam. Dunia-luar, bagi ke-lompok ini, masih menjadi perhatian yang utama. Mereka menggunakan sensasi bentuk nyata dengan menambahkan unsur-unsur tampilan yang luar biasa, berlebihan, bahkan menampakkan kondisi yang ada di luar dunia nyata.  

Fauvisme dan Expressionisme


Peranan sesnsasi sangat kuat dalam konsep kegiatan kelompok ini. Karya mereka menampilkan kerinduan terhadap sensasi rasa perseorangan senimannya. Senimanseniman ini mengutamakan subjektivitas dirinya dalam mengolah karya.

Cubisme, Constructivisme, dan Functionalisme


Bagi kelompok ini, intuisi menjadi titik pusat konsep berpikir mereka. Mereka menunjukkan keasyikan dengan bentuk-bentuk mujarad (abstrak)

Kelompok pertama memiliki latar sikap objektif senimannya. Bentuk-bentuk alam menjadi dasar tiruan: fotografis maupun impressionistis. Keberadaan objek mengontrol kegiatan jasmani. Seluruh perhatian seniman ditujukan hanya untuk meneliti kepastian objek. Faktor bawah sadar dan kejiwaan seniman mungkin bisa tersalurkan melalui pengaturan komposisi dan warna.
  
Para seniman relalis dan naturalis lebih menampilkan sikap ekstravet, karena mereka mengutamakan peniruan dunia-luar alam.Agak berbeda dengan kaum impressionis, meskipun mereka tetap mengacu bentuk objek, objek tidak selalu sesuatu yang tampak sebagai bentuk dalam kenyataan. Sikap objektif mereka dibarengi sikap subjektif dalam menangkap objek untuk digambarkan kembali. Hal tersebut menunjukkan gambaran-dalam dari kenyataan luar.

Kelompok kedua mengagungkan imajinasi. Imajinasi yang menguasai perasaan seniman ke-lompok ini bisa imajinasi figuratif maupun nonfiguaratif. Seniman kelaompok ini, yang memiliki sifat ekstrovet, harus bersetuju dengan kenyataan dalam memanipulasi materi untuk memenuhi tuntutan imajinasinya. Mereka menyalurkan ciri pribadinya ke dalam objek, sehingga objek yang ditampilkan bisa mewakili dirinya. Tetapi yang memiliki sifat introvet, mereka le-bih mementingkan otomatisasi perasaan yang dikuasai alam bawah sadarnya.

Kelompok ketiga dilatari sikap objektif dan subjektif. Sensasi yang memotori sikap mereka, pada kelompok yang ekstravet, sangat dibatasi keadaan objek. Tetapi, seperti ditemukan oleh Jung, reaksi terhadap objekbukan pada kenyataannya, bukan pula pada tampilan dangkal, melainkan pada nilai sensasinya. Kualitas rasional dan spiritual di kesampingkan. Objek sebagai hasil pengalaman penginderaan, ditampilkan dengan titik berat pada derajat sensasi. Kelomok yang bersikap introvet lelbih dikenal dengan sebutan tipe haptic. Tipe ini, tentu saja, lebih banyak merupakan sifat bawaan.

Kelompok keempat menempatkan intuisi sebaai penggerak utama sikap berpikir mereka. Ke-lompok ini bisa dikatakan cenderung menampilkan sikap introver, intuisi seniman tidak langsung berhubugnan dengan bentuk eksternal, di luar ekspresi. Ada kelompok yang bisa disebut sebagai kelompok dengan sikap ekstravet. Hal tersebut tampak pada jenis tampilan karya arsitektur fungsional dan dalam sejumlah seni industri. Penggolongan yang dilakukan Jung, pada kenyataannya, tidak bisa dikatakan sebagai sesuatu yang eksak. Read (1958) menyebutnya hanya sebagai model hipotesis. Seni dan kepribadian merupakan sesuatu yang meredeka, tetapi bisa disebutkan bahwa keduanya memiliki bentuk hubungan yang akan tampak dalam cara berekspresi senimannya. Seberapa tinggi tingkat keter-hubungannya, bagi setiap orang, bagi setiap bangsa, bisa dipastikan terdapat sejumlah perbedaan.

Sebagai sebuah bentuk pendekatan ilmiah, penggolongan nilai estetis karya seni modern yang dilakukan oleh Jung, bisa digunakan sebagai alternatif pendekatan estetika. Tetapi ada kerancuan anggapan dalam konsep yang dikemukakan oleh Jung. Jung menyebutkan, tipe psikologis hanya bisa diterapkan kepada mereka yang memiliki sifat bawaan: ekstravet atau pun introvet., yaitu sifat yang menetap. Padahal banyak seniman yang tidak menetap dalam satu gaya, tidak setia dengan satu kondisi tampilan! Hanya seniman dengan tipe hapticlah yang memiliki gaya bawaan.

Sebagai bahasan tambahan, di sini dipaparkan bahasan tentang keberadaan seni modern dan postmodern dari sisi sejarah, yang dikutip dengan beberapa perubahan dari bagian laporan skripsi (BAB II) yang ditulis oleh Meiyani Hertanto, S.Sn., yang diajukan dalam menyelesaikan ujian akhir di FSRD ITB (1991).  

Posisi Bidang Kerja Desain dalam Seni Rupa

Pada kesempatan saya kali ini saya akan membawakan marteri selanjutnya dari mata kuliah TINJAUAN SENI. Materi ini akan menjelaskan mengenai Posisi Bidang Kerja Desain dalam Seni Rupa


Posisi Bidang Kerja Desain dalam Seni Rupa

1.  Fenomena Desain


Istilah desain telah banyak digunakan di dalam aneka jenis kegiatan masa kini. Tetapi, pengertian tentangnya belum dipahami secara menyeluruh. Pengertian desain, dalam kamus umum sama dengan konstruksi, pola (Echols dan Shadily, 1990: 177); rencana (Wojowasito, 1982: 104); gagasan awal, rancangan, perencanaan, susunan, projek, hasil yang tepat, produksi, membuat, mencipta, menyiapkan, menyusun, meningkatkan, pikiran, maksud, kejelasan (Webster, 1974: 207); gubahan, ciptaan, bentukan, dan rangkuman.

Dalam pengertian praktis, Luzadder (1986: 243 - 244) menyebutkan batasan tentang pengertian desain: “(1) membentuk atau menyusun dalam fikiran, (2) mengusahakan suatu rencana, (3) merencanakan dan membentuk (fashion) suatu sistim (konstruksi) dan (4) mengolah sketsa pendahuluan dan/atau rencana untuk sustu sistim yang harus dibuat”. Tetapi, dalam kebanyakan penggunaannya istilah kata ini dipakai sebagai padan kata rancangan. Istilah merancang (kata kerja) bisa berarti menggubah sesuatu yang baru; menyusun sesuatu yang telah ada menjadi sesuatu yang baru, cara baru, untuk meningkatkan daya guna. Atau yang lebih lebih ekstrem, merancanga adalah merencanakan sesuatu yang baru sama sekali. Kegiatan merancang, seperti ditegaskan oleh Luzadder (ibid: 243 - 244) “merupakan seni dan sekaligus ilmu pengetahuan”. Kata desain ini (sekitar tahun 2000-an), belum masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) maupun Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI).

Saliya (dalam Sachari, 1986: 28) menulis:
“Tampaknya pengertian desain di Indonesia lelbih mengarah kepada kegiatannya, bukan ke konsepnya. Ini dapat dilihat dari sulitnya menerjemahkan kata ‘design’ ke dalam Bahasa Indonesia. Sementara ini ada kesepakatan-terbatas (Arsitektur) untuk menerjemahkannya dengan ‘(me)-rancang-(an)’; yang tidak puas dengan terjemahan itu membuatnya dengan mengindonesiakan menjadi ‘desain’ atau ‘disain’.”

Desain adalah proses dan juga hasil dari proses. Proses meliputi konsep gagasan dan metode. Hasil dari proses mencakup gaya dan estetika. Secara nyata proses dan hasil dari proses itu terkait dengan pengaruh dari luar seperti kemajuan sains dan teknologi; lingkungan sosial budaya; dan kaidah estetika yang berlaku. Oleh karena itu, desain tidak netral, tidak bisa menentukan perkembangan dirinya sendiri.
Berkembangnya kegiatan desain sejalan dengan kebutuhan industri. Heskett (1980: 6) menulis:

“Pertumbuhan perdagangan pada jaman pertengahan merupakan suatu fase yang amat penting bagi perkembangan menuju spesialisasi.Di negara-negara Eropa Barat yang sedang berkembang seperti Florentina, Venesia, Neremberg dan Bruges, bengkelbengkel besar dikembangkan untuk melayani selera-selera canggih (sophisticated) kehidupan istana, gereja-gereja dan saudagar-saudagar kaya. Kendati keahlian tradisional dan teknik-tekniknya masih tetap kuat, akan tetapi kecakapan itu sudah terspesialisasi. Tidak sedikit barang-barang sejenis telah dibuat oleh para pengrajinpengrajin di kota yang tinggi tingkat kecakapan dan kepekaan seninya dengan proses produksi yang masih berdasarkan metode kerajinan (craft methods) untuk memperbanyak model-model yang telah dibuat. Karena itu batas antara seniman dan pengrajin masih bebaur, ini tergantung dari kadar kemampuan yang diperoleh lewat pengalaman dan teknik yang berlaku pada masa itu, ketimbang pada perbedaan sifat dan jenis kegiatannya”.

Ketika disadari bahwa produk yang sama tetapi dengan desain yang berbeda memberi pengaruh lebih baik kepada perhatian pengguna, maka pengembangan produk benda merupakan suatu hal yang tak bisa ditunda. Friendrich Naumann, seorang pengarang dan politikus, tahun 1906 menulis sebuah artikel tentang perlunya pendekatan baru dalam memecahkan masalah-maslah yang dihadapi oleh industri. Naumann kembali menegaskan bahwa antara seniman, produser, dan penjual, harus berada dalam kondisi kerja sama. Selanjutnya ia menegaskan bahwa antara seniman (unsur estetis) dengan mesin (unsur produktif) harus dipadukan sehingga “sejak adanya keinginan memproduksi desain secara mekanis, estetika baru harus ditemukan, karena memproduksi secara manual (dengan tangan) akan menyia-nyiakan kemampuan mesin. Seni yang belum sempurna ini harus disempurnakan, dan mesin harus diberi roh dan dipakai sebagai pendidikan cita rasa”.


2.  Desain Sebagai Bidang Kegiatan Seni Rupa 


Pengelompokan hasil kegiatan seni rupa menjadi seni murni dan seni terap, seperti telah diuraikan, menunjukkan posisi pelakunya. Istilah seni terap digunakan untuk menunjuk karya-karya yang dibuat oleh para pedesa. Sementara itu, sebutan seni murni ditujukan kepada karya-karya yang dibuat oleh para pekota. Tetapi, seni terap itu, pada kenyataannya, digarap juga oleh orang-orang kota yang selam ini merasa berbeda posisi (baca: lebih tinggi tingkat sosialnya) dibanding orang desa. Agar posisi orang kota penggarap seni terap tidak ikut diremehkan, maka mereka menerapkan penanda sebutan khusus kepada produk mereka, bahwa produk mereka dikerjakan berdasarkan konsep tertentu. Konsep dalam berkarya diposisikan sebagai pembeda antara pedesa dengan pekota. Padahal, konsep tersebut, tentu ada dalam dua kondisi yang tidak sama: yang maujud (digembar-gemborkan, dipresentasikan, dibukukan dalam teori) dan yang tidak maujud, tidak pernah dipresentasikan, tidak peprnah diangkat sebagai bahan wacana, apalagi perdebatan. Konsep tersebut dianggap mendasari penyebutan istilah desain!

Tak bisa dipungkiri, desain telah menjadi satu label keberhasilan benda produk. Sejalan dengan pemikiran masyarakat kota yang lebih terdidik, benda produk dilahirkan dalam kesenggangan pencarian. Kebaruan, kelainan, keunikan sebagai gambaran tuntutan pola pikir para medernis, baik dalam hal bentuk maupun aneka kemungkinannya, telah dipadukan dengan produk desain mereka. Aneka riset dilakukan untuk mengembangkan temuan desain baru. Sejarah mencatat bidang seni rupa ini telah menjadi contoh keberhasila yang luar biasa.

Manusia bisa terlibat dalam produk desain setiap waktu, tanpa disadari. Mulai bangun tidur, menjalankan kewajiban harian, hingga menjelang tidur kembali, manusia selalu berhadapan dan ada di dalam penggunaan produk desain. Menarik sekali apa yang dijadikan tema Orasi Ilmiah Dr. Sanento Yuliman dalam Dies Natalis ITB tahun 1990an, tentang posisi karya seni rupa dalam semua sisi kehidupan manusia. Pemaparan tersebut adalah upaya Sanento untuk menyadarkan masyarakat ilmiah bidang teknologi yang kerap kurang bijak dalam menempatkan bidang kajian seni rupa dalam hubungannya dengan bidang teknologi.


3.  Desain Yang Tak Pernah Berhenti


Berikuti ini adalah contoh desain yang tak pernah berhenti yang dilakukan juga oleh masyarakat desa. Cuma, karena mereka tidak pernah mau menggembar-gemborkan temuan, konsep, atau keinginan berbeda dibanding masyarakat yang lain, perubahanperubahan itu tidak pernah mengemuka. Tulisan tentang 40-an jenis tipat (ketupat, kemasan ketupat) yang menggambarkan desain yang tak pernah berhenti, ditulis oleh Ketut Kendi Paradika, S.Pd. berupa laporan sebagian hasil penelitiannya dalam menyelesaikan tugas kahir program S-1 di Jurusan Pendidikan Seni Rupa, FBSUNDIKSHA (Tipat Banten di Desa Kaliasem, Buleleng, 2008). Beberapa di antaranya dijelaskan dengan uraian cara pembuatannya. Di samping itu, disertakan pula sebagai perbandingan, hasil penelitian untuk keperluan yang sama dan di jurusan yang sama, yang dilaporkan oleh I Wayan Alit Angga Wasta (Kerajinan Layang-Layang di Desa Lodtunduh, Kecamatan Ubud, 2007).

 3.1  JENIS ATAU BENTUK RUPA TIPAT BANTEN DI DESA KALIASEM,
      KECAMATAN BANJAR, KABUPATEN BULELENG
     


Jenis tipat banten memiliki bentuk yang sangat beragam. Bentuk menjadi identitas dimana dan kapan tipat tersebut digunakan, Secara religius tipat yang dibuat sedemikian rupa merupakan pelengkap upakara atau banten, dibalik fungsinya tersebut jika diamati tipat banten juga memiliki unsur estetika baik itu keindahan dan keunikan tersendiri.

Jenis atau bentuk tipat banten sesuai dengan data yang diperoleh di desa Kaliasem, kecamatan Banjar, kabupaten Buleleng, antara lain adalah sebagai berikut :

Tipat Nasi
Tipat nasi merupakan tipat yang banyak dijumpai pada berbagai perlengkapan upakara atau banten. Bentuknya menyerupai segi empat atau belah ketupat, dengan panjang sisinya ± 5 cm. Tipat Nasi dapat disebut dengan tipat Kelanan. Disebut tipat kelanan jika berjumlah 6 (enam) sesuai dengan keperluan upakara.

Tipat Sirikan
Tipat Sirikan bentuknya menyerupai tipat nasi, namun bentuk tipat sirikan lebih pipih dan menyerupai segi empat jajaran genjang, Tipat sirikan juga dapat disebut tipat Kelanan jika berjumlah 6 (enam).  Umumnya tipat sirikan panjang sisinya ± 6 cm.

Tipat Mrasada
Tipat ini merupakan tipat yang berukuran kecil, bentuknya segi empat jajaran genjang mirip dengan tipat sirikan hanya saja tipat mrasada ukurannya lebih kecil karena hanya terbuat dari setengah pilah dari helai busung janur. Ukuran panjang sisinya ± 4 cm.

Tipat Galeng
Tipat galeng bentuknya menyerupai galeng (bahasa Bali) yang artinya bantal.
Berbentuk segi empat pipih menyerupai tipat sirikan namun lebih memanjang. Ukurannya ± 5 Cm x 10 Cm.

Tipat Dampulan
Tipat dampulan bentuknya segi empat jajaran genjang. Bentuknya hampir sama dengan tipat sirikan, hanya saja bentuknya lebih besar dan dua sudutnya lebih turun ke bawah, serta pada salah satu bagian sudutnya dihiasi dengan jalinan bentuk kepala burung. Tipat ini memiliki ukuran panjang masing-masing sisinya ± 7 cm 

Tipat Gong
Tipat gong merupakan tipat yang berbentuk instrument gamelan Bali yang disebut gong, bentuk tipat gong mirip dengan tipat sirikan namun ukurannya lebih besar dan ada tonjolan segi empat di bagian atasnya. Ukuran panjang sisi bawah ± 8 cm, dan sisi tonjolan di atasnya 3 cm.       

Tipat Panggul
Tipat panggul merupakan tipat pendamping dari tipat gong, bentuknya menyerupai alat pemukul gamelan gong yang disebut panggul. Bentuknya bulat agak memanjang dengan bentuk pegangan bulat lebih kecil dan lebih memanjang lagi, panjang keseluruhannya ± 6 cm, dengan panjang bulatan panggul sekitar 3 cm, dan panjang pegangannya 3 cm.

Tipat Taluh
Dilihat dari namanya taluh (bahasa Bali) artinya adalah telor. Jadi bentuk tipat taluh ini bulat menyerupai telor, panjang diameternya ± 4 cm.

Tipat Gatep
Tipat ini secara keseluruhan bentuknya menyerupai buah gatep. Bentuknya bulat tersusun dari beberapa sudut yang berdiagonal. Tipat ini beurukuran kecil dengan diameter ± 2 cm. dan masih banyak lagi.

Uraian berikut adalah sebagian dari laporan hasil penelitian skripsi tentang layanglayang. 

3.2               BENTUK LAYANG-LAYANG  DI DESA LODTUNDUH,        KECAMATAN UBUD, KABUPATEN GIANYAR


Layang-layang berekor

Yang dimaksud dengan sebutan ekor dalam layang-layang adalah penambahan kain panjang yang disambungkan pada bagian bawah layang-layang. Ini ditegaskan agar tidak tertukar dengan pengertian ekor pada model layang-layang bentuk burung. 

a. Layang-layang bentuk Naga

Bentuk naga merupakan bentuk yang pertama kali dikembangkan perusahaan Jaya Sairam dan  layang-layang naga paling banyak penjualannya. Layang layang naga diproduksi bermacam-macam ukuran ada extra small, small, medium, large, dan extra large. Pada ukuran small bentuk ornamen kepala naga agak sederhana, sedangkan pada ukuran medium, large, dan extra large bentuk ornamen kepala semakin detail dan tampak lebih bagus dan lebih galak. 



Untuk layang-layang ukuran large dan extra large, layang-layang ini tidak sepenuhnya untuk dimainkan atau sebagai hiburan tapi bisa juga difungsikan sebagai barang penghias atau pajangan pada tembok. Layang layang bentuk naga bisa ditutup dan dikembangkan sehingga mudah di bawa kemana-mana. 

Konstruksi bantang (kerangka) layang-layang naga terdiri atas:

-  Bantang badan bentuk T

Bantang badan bahan bambunya dibuat lebih besar dan lebih keras, karena bantang badan akan menjadi pegangan dari bantang sayap atas dan sayap bawah, disamping itu bantang badan nantinya juga sebagai tempat mengikat tali timbang.

-  Bantang sayap atas

Bantang sayap atas dipasang pada bantang badan bagian atas. Bantang ini berfungsi menahan tekanan bagian atas layang-layang. Bantang sayap atas dibuat agak lentur agar tidak mudah patah saat diterpa angin. Biasanya diraut mengecil keujung sehingga bagian ujung  akan lebih lentur.

-  Bantang sayap bawah 
Bantang sayap bawah ukurannya lebih pendek dari bantang atas, bantang ini dipasang  pada bantang badan bagian bawah. Bantang ini berfungsi menahan tekanan yang ada dibagian bawah layang-layang.

-  Benang pinggir

Benang pinggir fungsinya menyatukan bentuk menjadi satu kesatuan sehingga lebih kuat menahan terpaan angin.

b.  Layang-layang bentuk monyet

Layang-layang bentuk monyet  bermotif binatang monyet yang berada di pohon kelapa dan duduk  diatas buahnya dengan tangan terhentang dan tangan kiri monyet memegang sebuah kelapa. Ukuranya dibuat bermacam-macam ada extra small, small, medium, large, dan extra large. Konstruksi bantang yang digunakan sama dengan kontruksi bantang pada bentuk naga.


c.   Layang-layang bentuk macan

Layang-layang bentuk macan bermotif macan bersayap dengan mulut terbuka menampakkan wajah garang dengan kedua kaki depannya direntangkan  dan kedua kaki belakang ditekuk. Ukuranya dibuat bermacam-macam ada extra small, small, medium, large, dan extra large. Konstruksi bantang yang digunakan sama dengan konstruksi bantang pada bentuk naga



Layang-layang tidak berekor

a.   Layang-layang kupu-kupu

Layang-layang kupu-kupu bermotif kupu-kupu dengan sayap terbuka dan warna warni penggambarannya secara dekoratif  dan pewarnaanya sayapnya menggunakan tehnik ketul ( seperti pointilisme) dan bergradasi. Ukuranya dibuat bermacam-macam ada extra small, small, medium, large, dan extra large. Konstruksi bantang yang digunakan sama dengan kontruksi bantang pada bentuk naga.

b.  Layang-layang burung

Layang layang bentuk burung ada bermacam-macam seperti bentuk burung elang, burung hantu, burung cendrawasih, dan burung onta. Secara mendasar semua bentuk burung tersebut bermotifnya burung yang sedang terbang, perbedaannya terletak pada hiasan kepala yaitu sesuai dengan bentuk burung yang dibuat. . Ukuranya dibuat bermacam-macam ada extra small, small, medium, large, dan extra large. Kontruksi bantang yang digunakan sama dengan konstruksi bantang pada bentuk naga.  

c.   Layang-layang bentuk capung

Layang-layang bentuk capung bermotif binatang capung dengan dua pasang sayap terbuka. Pewarnaannya menggaunakan tehnik gradasi dengan arsiran. Ukuranya dibuat bermacam-macam ada extra small, small, medium, large, dan extra large.

d.  Layang-layang bentuk kelelawar

Layang-layang kelelawar bermotif kelelawar terbang dengan mulut terbuka. Ukuranya dibuat bermacam-macam ada extra small, small, medium, large, dan extra large. Kontruksi bantang yang di gunakan sama dengan konstruksi bantang pada bentuk naga.

Nilai Estetis dan Fungsional layang-layang di Desa Lodtunduh, 
Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar

Layang-layang bentuk naga

Salah satu dari layang-layang berekor adalah layang-layang bentuk naga yang sangat bagus. Layang-layang naga berbentuk tiruan binatang naga yang bersayap dengan mulut terbuka. Konstruksi bantangnya  bisa ditutup dan dikembangkan sehingga mudah dibawa kemana-mana. Fungsi layang layang naga sebagai benda mainan atau hiburan, pada ukuran medium, large, dan extra large bisa difungsikan sebagai benda hiasan. \

Sebagai informasi tambahan, terkait dengan kepiawaian masyarakat Bali dalam mengolah lingkungannya dalam suatu kegiatan kreatif, kegiatan mendesain yang tak pernah berhenti, bahasan berikut ini mengungkap tentang pemanfaatan uang kepeng di Bali. 


3.3  UANG KEPENG DI BALI

Panji Koming dan Pailul, tokoh kartun ciptaan Dwi Koendoro, masih menggunakan uang “kepeng” untuk kegiatan transaksi jual beli mereka. Kedua tokoh tersebut adalah tokoh zaman Nusantara Lama yang dihadirkan kembali untuk “menyungging” kehidupan masa kini oleh pekartunnya dalam koran Kompas Minggu. Uang kepeng, bagi mereka, adalah nyawa kehidupan sehari-hari. Jauh setelah zaman Panji Koming, di Bali, uang kepeng masih memiliki harga yang tinggi. Bahkan, banyak masyarakat Bali yang sangat bangga bisa memiliki koleksi uang kepeng yang banyak daripada memiliki uang rupiah! 

Bagi Made Gede Koming, penduduk Gianyar, Bali, kepeng juga masih memiliki nilai yang sama dengan rupiah atau dollar, poundsterling, yen, mark, ringgit, dan berjenis duit modern lainnya. Kepeng bisa dirupiahkan. Bahkan, beberapa jenis kepeng bernilai tukar lebih mahal, sekitar 200-300 ribu rupiah per keping. Kepeng yang bergambar tokoh-tokoh wayang seperti Arjuna dan Bima serta gambar binatang seperti jaran dan gajah, misalnya, dianggap memiliki tuah. Malah ada sejenis kepeng yang disebut paica, yang dianggap sebagai anuge-rah kekuatan tertentu. Oleh karena itu, masih banyak masyarakat Bali yang mempercayai hal itu. Koming, pun merasakan derasnya perputaran uang kepeng itu, terutama pada bulan-bulan tertentu.

Keterkaitan masa lalu dengan masa kini, pada masyarakat Bali, sangat kental. Masyarakat Bali yang beragama Hindu masih mengusung pola hidup yang erat kaitannya dengan para leluhur. Kawitan merupakan istilah yang digunakan sebagai sebutan tentang keterkaitan itu. Seorang warga Hindu Bali dianggap tidak bisa lepas dari ikatan asal (wit, ane mula), baik dengan leluhur maupun desa kelahiran. Oleh karena itu, pada setiap upacara besar, orang-orang Bali yang beragama Hindu, yang telah tinggal di luar desa, juga di luar Bali, harus pulang kampung untuk melaksanakan upacara di desa kawitannya. Hal lain yang menunjukkan bahwa masyarakat Bali masih terkait dengn keberadaan catatan masa lalu adalah pemanfaatan uang bolong (pis bolong, jinah bolong) yang biasa disebut ke-peng, dalam aneka kegiatan upacara.

Uang bolong dimaksud adalah uang logam (terbuat dari bahan krawang atau sejenis bahan pembuatan gamelan, kuningan, juga perunggu) yang memiliki lubang pada bagian tengahnya. Lubang pada uang tersebut umumnya berbentuk segi empat. Ada juga yang berbentuk bundar, segi enam sama sisi, juga segi banyak tak beraturan. Orang Belanda menyebutnya Chinesche Duit atau juga Chinese Coins.

Masyarakat Bali yang terkait dengan uang kepeng ini mengenal, paling tidak, lima jenis pis bolong. Ada yang disebut pis lumrah (uang bolong yang paling banyak ditemukan beredar), pis krinyah atau mas (berwarna kuning), pis kuci atau jepun (berwarna hitam, diperkirakan dari Jepang masa lalu), pis lembang (permukaannya rata), dan pis wadon (wadon sangka, bermotif; wadon sari, biasa dipakai untuk pelengkap sajen). Menurut aneka catatan, uang kepeng tersebut terdiri atas tiga kelompok. Kelompok pertama disebut kepeng asli Cina atau Jepang, yaitu kepeng yang berisi tulisan huruf kanji. Kedua, kepepng lokal Nusantara yang berhuruf Jawa Kuno atau Dewanagari, berhuruf Arab, dan berhiasan bentuk wayang atau flora lokal. Ketiga, kepeng “tiruan” buatan masa kini. Kepeng masa kini berkualitas sangat rendah, mudah meleleh ketika terbakar api. Sedangkan kepeng masa lalu, misalnya yang telah menjadi pelengkap upacara pembakaran jenazah (pelebon, ngaben), uang tersebut masih bisa utuh, bisa digunakan lagi.

Kepeng Cina berisi tulisan huruf kanji Cina pada kedua bagian permukaannya (jou), baik pada permukaan atas (mien atau sleh) maupun pada permukaan bawah (pei atau trep). Lubang-nya (hao) berbentuk segi empat sama sisi. Pada bagian muka tertulis informasi  (“legenda”) tentang gelar kaisar Cina yang sedang memerintah. Tulisan tersebut mengisi bagian sleh, mengelilingi hao, bagian atas, kanan, dan kiri. Tipografi dan hiasan tersebut, seperti dicatat oleh Darmayendra (2000) dari sumber Balai Arkeologi Bali, cara membacanya berurutan atas-kanan-bawah-kiri, atau bisa juga atas-bawah-kanan-kiri. 

Selanjutnya, disebutkan ada lima gaya tulisan yang ditemukan dalam kepeng Cina: 1) zhuan shu (seal script style), gaya tulisan melengkung menyerupai materai, yaitu gaya tulisan tertua yang dipakai pada masa Dinasi Sui dan sebelumnya; 2) li shu (square plain script style), gaya tulisan persegi; 3) kai shu (regular script style), gaya tulisan baku; 4) xing shu (running script style), gaya tulisan sambung; dan 5) cao shu (cursive script style), gaya tulisan miring. Bagian trep berisi tulisan tentang nama tempat pembuatan uang kepeng tersebut.

Uang Nusantara Lama ukurannya lebih besar daripada uang Cina. Menurut catatan yang ada pada Museum Bali, ditemukan uang kepeng yang bertuliskan pangeran ratu dengan huruf Jawa Kuno (Dewanagari) yang diperkirakan dari Banten. Lubang yang terdapat pada uang kepeng tersebut berbentuk segi enam beraturan. Tulisan pada sleh disusun melingkari lubang. Pada bagian trep berisi goresan-goresan yang kurang begitu jelas maknanya. Begitu pun pada uang kepeng Palembang. Tulisannya, huruf Arab, disusun melingkari lubang yang bentuknya membundar. Tulisan pada bagian sleh: Hadza Fulus fi Balad Palembang 1198. Bagian trepnya polos tanpa tulisan apapun.

Tulisan-tulisan tersebut, kini, tidak menunjukkan harga satuan uang kepeng yang sebenarnya, karena perhitungannya dalam transaksi adalah jumlah biji uang tersebut. Satu biji uang kepeng disebut keteng, aketeng. Di pasar uang kepeng, misalnya di Gianyar, masyarakat mengenal jumlah kepeng tertentu yang dijual secara ikatan. Uang kepeng, untuk memudahkan pendistribusiannya, sekaligus juga berkaitan dengan kepercayaan tertentu, diikat dengan benang tukelan untuk kepeng yang jumlahnya 25 (selae keteng), diikat dengan tali tali bambu (200 biji, satak keteng), dan diikat dengan tali ampen, tali serat (1.000 biji, siu keteng). Tetapi untuk satuan jumlah kepeng yang disebut satak, jumlahnya dikurangi sebanyak 5 biji yang disebut long, dan satuan siu keteng dikurangi 25 biji.

Tentang pengurangan tersebut, ada yang menyebutkan untuk mengurangi “pembengkakan hitungan (embet)” dalam transaksi. Tetapi, alasan-alasan tentang masalah pengurangan tersebut belum begitu jelas. Sidemen (1998) mencatat, model pengurangan seperti itu ditemukan juga dalam perhitungan uang kepeng (satuannya disebut picis) di Jawa, setiap pembayaran 1 puon (1.000 picis) selalu dikurangi 30 picis. Ngurah Nala dan Adia Wiratmadja (1991) menjelaskan bahwa dalam setiap korban suci (yadnya) di Bali dilengkapi dengan aneka simbol berupa sesajen. Sesajen tersebut dibuat dari unsur tumbuh-tumbuhan, binatang, termasuk mineral. Uang kepang dianggap memiliki unsur-unsur panca datu (lima jenis logam): emas, perak, tembaga, besi,  dan logam campuran.  Kelima  unsur tadi, menurut Sudana dan Budiastra (1999) bertalian dengan konsep keseimbangan dunia dalam faham agama Hindu. Emas di Barat, perak di Timur, tembaga di Selatan, dan besi di Utara. Sedangkan di tengahtengah adalah besi campuran. Semua itu dihubungkan dengan posisi nama-nama dewa Mahadewa, Iswara, Brahma, Wisnu, dan Syiwa dalam kepercayaan Hindu. Oleh karena itu, uang kepeng biasa dijadikan sebagai pengganti unsur-unsur logam tersebut.
Uang kepeng digunakan sebagai salah satu pelengkap sesajen (persembahan) dalam upacara. Panca yadnya adalah upacara yang terkait dengan keberadaan kepeng tersebut, terdiri atas dewa yadnya, rsi yadnya, pitra yadnya, manusa yadnya, dan butha yadnya. Pitra yadnya dan manusa yadnya, terutama, yang banyak memerlukan kelengkapan kepeng. Karena rutinnya upacara-upacara tersebut, pemakaian uang kepeng tidak pernah berhenti. Pada bulan Juli – September, setiap tahun, pesanan uang kepeng meningkat keras. Pada bulan-bulan tadi transaksi jual-beli uang kepeng di pasar  tradisional  Bali menjadi masa paling ramai, bertalian dengan bulan upacara bagi masyarakat Hindu.

Permintaan pasar tidak sebanding dengan ketersediaan kepeng. Apalagi ketersediaan kepeng Cina, kepeng asli, sudah semakin berkurang. Kesulitan tadi terkait juga dengan akar kreasi seniman Bali sendiri yang cenderung merambah hal-hal yang baru yang bisa diuangkan. Bentuk gubahan patung yang bahannya dari uang kepeng adalah salah satu yang terkait erat dengan hal tadi. Kesulitan-kesulitan tersebut, kemudian, mendatangkan cara baru dalam menaggulangi kekurangan uang kepeng. Kini, banyak kepeng baru, buatan baru, yang “dianggap” bisa menutupi kebutuhan terhadap kepeng. Tetapi, banyak masyarakat Hindu yang kemudian merasa kurang sempurna aktivitas upacaranya ketika memakai kepeng buatan baru, karena kualitas uang baru itu lebih buruk daripada uang yang asli. Kepeng baru, tampaknya, dibuat dengan perhitungan yang sangat ekonomis, tidak tahan lama, agar produksi bisa tetap berjalan.

Kelangkaan kepeng asli, secara sejarah, juga pernah terkait dengan sikap pemerintah Belanda yang ingin menghilangkan fungsi kepepng tersebut sebagai uang pembayaran yang syah pada saat itu. Tetapi, keteguhan masyarakat Bali dalam mempertahankan keberadaan kepeng sebagai sarana upacara, khususnya, melunturkan keinginan Belanda, sehingga penggunaan kepeng dalam keseharian masyarakat Bali saat itu tidak dipermasalahkan lagi. Bahkan, hingga kini, kepeng tetap memiliki nilai khusus sebagai uang masa lalu yang berharga. Bagitupun keberlanjutan dan kelangkaannya telah menggubgah para pengolah logam untuk membuat jenis uang kepeng baru, sekalipun dengan kualitas bahan yang lebih rendah dan berharga lebih murah dibanding uang kepeng asli. 

Harga uang kepeng, seperti diakui oleh salah seorang penjual kepeng di Klungkung, cukup beragam. Jenis uang kepeng lama, uang berwarna emas Rp 800,00 perbiji, uang kuci yang berwarna hitam Rp 900,00 perbiji, dan uang lumrah Rp 500,00 perbiji. Jenis uang kepeng “baru” terdiri atas uang super (warna kuning) Rp 20.000,00 per 200 biji, uang kuci Rp 15.000,00 per 200 biji, dan uang lumrah Rp 12.000,00 per 200 biji. 

PUSTAKA RUJUKAN

“Art”, Chambers’s Encyclopedia, Vol. 1. London: George Newnes Limited
“Art”, Collier’s Encyclopedia, Vol. 2. Canada: MacMillan Educational Corporation “Art”, The Encyclopedia Americana, Vol. 2. New York: American Corporation Echols, John M. dan Hassan Shadily. 1990. Kamus Inggris Indonesia. Jakarta:         Gramedia
Heskett, John. 1980. Desain Industri. Diterjemahkan oleh Chandra Johan dan Agus         Sachari. Jakarta: Rajawali
Luzadder, Warren J. 1981. Menggambar Teknik Untuk Disain, Pengembangan 
       Produk, dan Kontrol Numerik. Jakarta: Erlangga
Moeliono, Anton M. (djp). 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai         Pustaka
Myers, Bernard S. 1958. Understanding The Arts. New York: Holt, Rinehart and         Winston, Inc
Sachari, Agus (Ed.). 1986. Paradigma Desain Indonesia. Jakarta: Rajawali Sudjoko. 1988. “Seni-Budaya Tahun 2000”, dalam Perubahan, Pembaruan, dan         Kesadaran Menghadapi Abad Ke-21. Jakarta: Dian Rakyat
Supangkat, Jim. 1992. “Kembali Ke Satu Seni Rupa”, Katalog Jakarta Art & Design         Expo 1992
Wojowasito, S. 1982. Kamus Inggeris Indonesia. Bandung: Pangarang