Pada blog ini saya akan merangkum kembali ilmu-ilmu yang saya dapatkan pada matakuliah Pendidikan Agama Islam. Dan Tinjauan Seni
Translate
Thursday, 9 April 2020
Pantai Mertasari_Tugas UTS Audio Visual Dasar
Berikut adalah video tugas tengah semester untuk mata kuliah Audio Visual Dasar dengan tema Kegiatan Manusia. Selamat menikmati.
Tuesday, 7 April 2020
Ikan Laut dalam Akuarium_Tugas UTS Audio Visual Dasar
Berikut adalah video tugas tengah semester untuk mata kuliah Audio Visual Dasar dengan tema Hewan. Selamat menikmati.
Pendekatan Bahasan Seni Rupa
Pada kesempatan saya kali ini saya akan membawakan marteri selanjutnya dari mata kuliah TINJAUAN SENI. Materi ini akan menjelaskan mengenai Pendekatan Bahasan Seni Rupa.Pendekatan Bahasan Seni Rupa
Kini, pembahasan teori dengan
pendekatan lintas wilayah keilmuan telah menjadi bagian penting dalam
pembicaraan bidang-bidang keilmuan. Membicarakan seni rupa sebagai kajian
keilmuan, tidak lagi terbebas dari masuknya tinjauan dengan pendekatan bidang
ilmu lain. Bidang kajian antropologi, sosiologi, dan psikologi, sudah lama
menjadi bidang kajian yang melengkapi pendekatan bahasan seni rupa.
Para antropolog telah lama
tertarik untuk mengumpulkan data tentang hasil budaya fisik, hasil kegiatan
masyarakat yang visual, yaitu karya-karya seni rupa. Bahasan para antropolog
ini telah melahirkan sebutan yang kini melengkapi nama bidang kajian
antropologi menjadi antropologi budaya. Batasan pengertian bidang budaya yang
menjadi bagian kajian antropologi, ternyata, adalah bidang-bidang kesenian. Di
dalamnya dicatat dan dibahas masalah-masalah yang terkait dengan benda-benda
tinggalan masa lalu ataupun benda-benda masa kini apa adanya. Dari
kegiatan-kegiatan tersebut lahir sebutan pendekatan entografi tetapi dengan
penekanan pada perubahan pendekatan yang sekaligus sebagai revisi terhadap pola
pendekatan antropolog yang hanya “sekadar” mencatat sesuatu itu sebagaimana apa
adanya. Kini, pendekatan etnografi baru talah melibatkan tinjauan yang lebih
mendalam dan melebar dengan memasukkan unsur kajian yang sosiologis maupun
psiklogis. Sebuah benda, dalam pendekatan etnografi tidak steril dari pengaruh
latar pembuat maupun kondisi lingkungannya.
Oleh karena itu, bahasan kesenirupaan bisa melibatkan sisi sosiologis
masyarakat pendukungnya, juga melibatkan
masalah kejiwaan pelakunya dan zamannya.
Pendekatan Antropologi tentang Seni Rupa
Dalam Bab 1, sekilas telah
dikemukakan beberapa buku yang membahas seni rupa dengan cara-bahas yang agak
berbeda dengan bahasan buku kebanyakan. Yang dimaksud cara-bahas berbeda di
sini adalah cara-bahas yang melepaskan pola pikir major-minor dalam
penglompokan karya maupun pelaku seni rupa. Cara-bahas ini menempatkan semua
karya manusia ke dalam satu padanan sebutan: arts, seni, seni
rupa. Para penulis Barat yang membahas seni rupa
dengan “pandangan lain” ini menampilkan karya para pedesa dan para pekota. Seni
primitif yang oleh para penganut paham pengelompokan seni utama-remeh dianggap
bukat Arts, di dalam buku-buku seni rupa dengan pandangan lain ini dibahas
dengan kesungguhan bahasan “seni utama”.
Buku World
Cultures and Modern Art, katalog The XXthOlympiad Munchen 1972, seperti
telah dikemukakan di muka, menampilkan tidak kurang dari 2.400-an bentuk karya
seni rupa, tanpa memilah seni utama-remeh. Karya tersebut terdiri atas:
lukisan, gambar, foto, gambar cetakan, kaligrafi, benda kriya, patung, topeng,
dan boneka.
Jumlah karya seni rupa yang ditampilkan (dalam bentuk
gambar atau foto), bisa ditafsirkan sebagai petunjuk tingkat kepentingan objek
yang dipamerkan. Semakin tinggi jumlah bentuk karya seni rupa tertentu yang
ditampilkan, semakin tinggi nilai kepentingannya.
Buku katalog ini menampilkan 210 buah lukisan, 78 di
antaranya ditampilkan sebagai gambar penjelas. Lukisan yang dibahas terdiri
atas lukisan yang dibuat di atas kanvas, papan, kain layar, dan sebagainya.
Jenis gambar yang dibahas (203 gambar), dengan 26 buah sebagai gambar penjelas,
terdiri atas gambar yang dibuat menggunakan bahan dan alat cat air, pena,
pinsil, kapur gambar, dan tinta. Di sampipng itu, ada 40 buah foto yang 24 buah
di antaranya ditampilkan.
Gambar cetakan terdiri atas gambar cetak tinggi (218
buah; 58 buah di antaranya menjadi gambar penjelas), cetak batu, cetak saring,
cetak tera, cetak dalam, monotype, monogram, zincograph, dan lithography (cetak
datar).
Jenis karya lainnya antara lain kaligrafi (suaksara),
benda kriya (piala, pot bunga, pinggan, tempolong, mangkuk, botol, botol obat,
cawan poci, dan sebagainya. Benda lain yang ditampilkan antara lain: kipas,
sisir, jepit rambut, sabuk, mantel, selendang, baju rompi, serban, kopiah, topi
baja, sepatu, tas, gelang, sarung, kain salut, bantal, kasur, permadani, peti,
kotak, kotak rokok, bingkai cermin, meja, kursi, lemari, kisikisi jendela,
pintu, dan masih banyak lagi.
Jonathan Benthall (1972), dalam buku Science and Technology in Art Today (8
bab), sejalan dengan permasalahan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan,
dalam 4 bab bukunya menceritakan hubungan antara seni rupa dengan media
fotografi, komputer, dan holografi sinar laser. Dalam bab yang lain diceritakan
tentang seni rupa kinetis; hubungan seni rupa dengan ilmu lingkungan, ilmu
bahasa, dan ilmu pengetahuan secara umum; masing-masing dibahas dalam satu bab.
Benda-benda seni rupa yang dibahas antara lain: Patung kinetis, patung
sibernetis, foto (berbagai bentuk dan teknik), lukisan tiga dimensional,
holografi, dan sebagainya.
Science &
Technology in the Arts, sebuah buku yang membahas paduan antara seni rupa,
ilmu pengetahuan, dan teknologi. Buku yang disusun oleh Stewart Kranz (1974)
ini berisi bahasan yang lengkap tentang hasil kerja-gabung antara ilmuwan,
teknolog, dan senirupawan.
Sejumlah jenis seni rupa hasil percobaan dan pencarian
para perupa yang ditampilkan di dalam buku ini, mempertegas anutan paham bahwa “seniman selalu bekerja menggunakan alat
yang sesuai dengan zamannya” (Kranz, 1974: 33). Di antaranya: seni lukis,
seni patung (environmental sculpture dan kinetic sculpture), seni cahaya
(kinetic light, video-lumined light wall, dan kinetic images), seni fotografi
(satellite photography, scanning electron microscope photography, x-ray
photography, dan shadow photography), seni bangun, seni lingkungan, seni
komputer (computer design, computer art, dan computer film), kineorama, gambar
suara (sound pictures), seni reklame (misal, skywriting), dan banyak lagi.
Islamic Art,
sebagai bahan bandingan, buku yang disusun oleh David Talbot Rice (1975), terdiri atas 12 bab, 288 halaman, membahas
karya seni rupa masyarakat muslim berdasarkan tempat berkembangnya kegiatan
seni rupa tersebut. Dari sejumlah karya seni rupa yang ditampilkan, sebagaian
dilengkapi dengan gambar penjelas. Di antaranya: bejana, keramik, mozaik, mesjid, beranda,
gambar rancangan, kisi-kisi
jendela, istana, pintu gerbang, lukisan
dinding, hiasan dinding, menara,
panel, kendi, mangkuk, piring, ubin, mimbar, penutup dinding, prasasti,
lukis-an langit-langit, mihrab, naskah, ilustrasi naskah, halaman buku, lukisan
mini, pot bunga, arca, lampu mesjid, dan kubah.
Sebuah buku tentang seni Jepang, The Art of Japan yang disusun oleh orang Jepang sendiri, Miyeko
Murose (1977), menampilkan karya seni rupa yang dilengkapi dengan 40 lembar
film positif (slide film). Meskipun hanya 46 halaman, buku ini menampilkan
karya seni rupa dengan jenis yang
cukup beragam. Di antaranya: tembikar, patung kecil, gedung
kekaisaran, rumah, lukisan dinding, patung, pakaian, balairung, pagoda, lukisan
sutera, bangunan tempat benda suci, peti, kebun, ikebana, ruang minum teh,
topeng, sekatan, lukisan gulung, sekatan lipat, kendi, kimono, permadani
dinding, cetakan (woodblock, brocade-print, dan polychrome print), piring,
katedral, dan hotel.
Buku lain, Russian
Art yang disusun oleh Cyril G.E. Bunt (1946), bisa dijadikan sebagai bahan
bandingan yang lain. Bunt membahas seni rupa Rusia mulai dari masa pra-Kristen
hingga masa Abad XIX. Bentuk karya seni rupa yang dibahas Bunt antara lain:
sarung pedang, peti, penutup kepala, terompet, kalung, hiasan kalung, obor,
gelang, pot bunga, singgasana, perapian, gerbang, katedral, tanda peringatan,
tiang, gereja, istana, ruang pertemuan, beranda, lukisan fresco, mosaik, patung
orang suci (icon), cukilan kayu, etsa, teko, pisin, piring, patung kecil,
bejana, kaki dian, perhiasan, tongkat pastor, peti kayu, halo, peti mayat,
mangkuk, jilid buku, panel, perkakas tenun, pengeretan, mainan, harpa, bas,
pakaian, topi, dan lain-lain.
Pandangan para antropolog tentang keberadaan seni
rupa, tampaknya, harus menjadi bahan kajian bagi para pemerhati seni rupa. Para
antropolog tidan pernah memilah bahasan seni rupa berdasarkan kelompok
utama-remeh atau murni-terap. Karena kegiatan seni adalah bagian dari kegiatan
manusia, “seni tidak bisa dipisahkan dari kehidupan” (Herkovits, 1955: 234).
Bahasan para antropolog tentang arts, seni, seni rupa ini, terutama
memperhatikan bentuk, tenkik pembuatan, motif hias, dan gaya (Koentjaraningrat,
1990: 380).
Bentuk dan jenis karya seni rupa yang disebut oleh
para antropolog atau pun penyusun buku yang lebih condong menggunakan cara
pendekatan antropologis dalam bahasan isi bukunya, bisa diperiksa dalam
buku-buku seperti berikut ini.
Rene S. Wassing (1968) lewat satu bukunya African Art
(286 halaman), menampilkan benda-benda seni rupa lengkap dengan gambar
berwarna, masing-masing sehalaman penuh. Benda-benda seni rupa tersebut antara
lain: topeng berbentuk topi penutup kepala (mirip helm), topeng, ukiran cadas,
kotak minyak wangi, patung kecil, kapak upacara, tenunan, pot bunga, keranjang,
patung kepala, tempat duduk tanpa sandaran, piagam, cangklong, gerabah, batik,
sendok upacara, dan terompet. Ditampilkan pula mangkuk, kotak bertutup,
genderang upacara, sisir, sandaran leher, piala, bejana, tempat madu,pakaian,
makam, tongkat tari, sampiran anak panah, kursi, gelang, pintu, lonceng,
kecapi, tali leher, lampu minyak, tempat susu, kotak tembakau, boneka, dan
tameng tentara.
Buku Introduction to Cultural Anthropology (1968)
yang disusun oleh James A. Clipton (Ed.), terdiri atas 18 bab, 540 halaman.
Salah satu bab, 40 halaman, secara khusus membahas Art in the Life of Primitive
Peoples. Benda-benda seni rupa yang ditampilkan, sebagian dilengkapi gambar
penjelas, adalah: selimut, topeng (benda yang paling banyak dibahas), patung
(bentuk manusia), piagam, lukisan, dan tenunan.
Buku yang lain, Art and Life in New Guinea (1979)
yang didudun oleh Raymond William Firth, berisi bahasan tentang karya-karya
seni rupa yang lebih beragam. Buku setebal 130 halaman ini menampilkan ikat
pinggang, perahu, rumah, tengkorak kenang-kenang-an (skull-trophies), haluan perahu, kapak,
alu batu, topeng, tas, mangkuk, sudip, tempat menyimpan kapur, pedang,
pemukul (senjata), cangklong, kotak bambu, seruling, kepala tongkat, genderang,
pinggiran topi, tempat duduk, tongkat tari, tameng, dan kuburan. Jenis benda
yang paling banyak ditampilkan adalah haluan perahu, tameng, sudip, dan
genderang.
Buku yang lebih khususus berbicara tentang seni rupa
dengan pendekatan antropologi, The
Anthropology of Art, terdiri atas 5 bab, 227 halaman, disusun oleh Robert
Layton (1981). Buku ini berisi pembicaraan seni primitif yang langka disinggung
oleh para
“senirupawan” --apalagi tentang seni rupa primitif
bangsa-bangsa Eropa-- dengan bahasan yang cukup mendalam. Salah satu jenis seni
primitif Indonesia yang dibahas dalam buku ini adalah Seni Asmat.
Benda-benda seni rupa yang disebut oleh Llayton
antara lain: lukisan gua, rumah, palet, patung, ukiran mini, topeng, keranjang,
piagam, hiasan tubuh, hiasan kepala, jimat, kotak minuman, kapak, terompet, dan
bejana.
Ada satu buku tentang seni rupa Indonesia --boleh
jadi-- bahasannya cukup bijak dan lengkap. Frits A. Wagner, menyusun buku Indonesian The Art of Island Group
(1959), bahasannya mencakup seni rupa Indonesia dengan latar belakang
pendekatan sejarah, sosiologi, dan agama.
Wagner membagi bahasan isi bukunya (257 halaman) ke
dalam 13 bagian. Dimulai dengan bahasan The Neolithic Age dan ditutup dengan
Indonesia in the 19th and 20th Centuries. Benda-benda seni rupa yang dibahas
oleh Wagner antara lain: kapak persegi, kapak upacara, keranjang, nekara, topi,
topeng tari, kendi, patung mini, tempat air dari bambu, hampatong, patung nenek
moyang, pedang, bejana, gelang, relief, nandi, makara, wayang kulit, wayang
klitiik, wayang golek, gunugngan, candi, songket, piring, canting, keris, jaran
kepang, angklung, benteng, paduraksa, lamak, pintu, lukisan, patung, dan lagi
yang lain.
Setiap negara memiliki akuan tentang seni (rupa)
utama --meminjam istilah paham pengelompokan seni rupa Barat. Hal itu sangat
erat terkait dengan latar belakang sistem nilai dan kaidah budaya yang berlaku
pada suatu negara. Dengan melihat, meneliti, memilah, mempertimbangkan, serta
menilainya secara bijak dan lebih awas, kita bisa menentukan sikap penilaian
terhadap hasil karya seni rupa Indonesia. Pantaskah kita masih mengganggap
bahwa seni lukis, seni patung, dan seni bangun Indonesia (seperti dalam teori
pemilahan yang di”comot” dari teori Barat) sebagai karya seni rupa utama (major
arts), sementara hasil karya seni rupa lainnya kita anggap remeh?
Bangsa Indonesia memang masih harus belajar banyak
dalam bersikap adil, awas, bijak, dan demokratis dalam menanggapi hasil olah
pikir, rasa, dan kesadaran lingkungan masyarakat Indonesia sendiri. Nilai
budaya yang mengeristal di dalam silasila Pancasila, khusus dalam sikap
berkesenian, tampaknya masih belum menjadi sikap hidup yang nyata. Pemisahan
antar pekota-pedesa, terpelajar-tak terpelajar, senimanperajin,
profesional-amatir, ahli-tukang, dan sejumlah istilah lainnya, yang tujuannya membeda-bedakan
penghargaan terhadap pekarya seni rupa, tidak menampakkan sila Persatuan
Indonesia. Padahal yang membangun negara Indonesia bukan hanya para pekota,
kaum terpelajar, seniman, golongan profesional, atau para ahli semata. Kaum
pinggiran, para pelaku “seni remeh”, wong cilik, tidak kalah penting peranannya
dalam menegakkan tiang ekonomi negara!
Tidak disadari bahwa nama besar Indonesia, lebih
khusus nama Bali yang kadang seolah “terpisah dari Indonesia di mata masyarakat
mancanegara, adalah karena hasil karya para pedusun, pedesa,
yang karyanyanya tidak
pernah dikenal nama pembuatnya. Begitu
banyak cinderamata yang dihadiahkan kepada para tamu negara, berasal dari hasil
karya para pedesa, para perajin! Tidakkah disadari bahwa betapa jumlah masukan
untuk devisa negara yang disumbangkan dari hasil penjualan neka
benda “seni remeh”? Tidakkah disadari, penghuni
terbanyak negara Indonesia ini adalah para para pedusun dengan segala hasil
kerja dan karyanya yang tidak pernah bisa terhitung jumlah dan mutunya?
Perlu dibuktikan, seperti apa perhatian Pemerintah
Indonesia terhadap benda-benda hasil masyarakat kita? Ketika karya batik, reog
(sejenis Reog Ponorogo), lagu Rasa Sayange, Tari Pendet, yang diakui oleh negara tetangga,
Malaysia, secara suka cita, tidak ada upaya besar yang dilakukan Pemerintah
untuk sekadar menanggapi keresahan masyarakat seni Indonesia tersebut. Jika
ditelusuri lebih jauh lagi, Pemerintah masih belum menempatkan pendidikan seni
sebagai bagian penting dalam kurikulum pendidikan Indonesia. Padahal kegiatan
seni adalah kegiatan sehari-hari masyarakat Indonesia, bahkan menjadi andalan
ekspor negara ketika migas tidak lagi menjanjikan masukan devisa negara.
Berikut adalah tulisan yang terkait dengan sikap
orang tua dalam merespons keberadaan perangkat kerja rumah tangga yang baru,
yang semuanya berbau teknologi masa kini. Dalam hal pembicaraan tentang
teknologi, seolah-olah teknologi itu hanyalah milik mahluk masa kini, masa
modern semata. Padahal pada kondisi nyata di lapangan, setiap
generasi manusia di manapun telah diberi
kemampuan oleh Allah untuk bisa mengatasi kebutuhan dan
kesulitannya berkaitan dengan lingkungannya. Semua perangkat hidup
yang dibangun, digubah, didesain oleh manusia pada setiap zaman, adalah bentuk
teknologi. Kini, ketika teknologi elektronika menjadi raja pada zaman modern,
posisinya sama seperti temuan-temuan para leluhur manusia ketika berusaha
“memperpanjang tangan mereka” (van Peursen) dalam mengatasi persoalanpersoalan
kehidupan mereka. Tulisan berikut adalah sebuah pertanyaan dan pernyataan yang
sejalan dengan kondisi masanya. Tulisan yang pernah dimuat di dalam harian Bali Post ini mempertanyakan bagaimana
keluarga dalam menyikapi perkembangan teknologi masa kini.
BAGAIMANA KELUARGA MENYIASATI TEKNOLOGI?
Perkembangan perangkat teknologi kita rasakan sangat
pesat. Tahun 70-an, televisi masih dirasakan sebagai “kotak ajaib” yang hanya
dimiliki orang-orang kaya tertentu saja. Atau, lebih ke belakang lagi, radio
pun bisa dirasakan sebagai “benda aneh”
yang bisa omong.
Kini, radio dan teve hanyalah benda amat biasa. Anak
kecil pun bisa “menguasai” benda tersebut. Bahkan, ketika muncul komputer dan
handphone, itu pun kini telah menjadi benda lumrah. Begitu banyak anak yang
telah berkenalan, malah sangat akrab, dengan dunia penikmatan hasil teknologi
elektronik tersebut. Menikmati radio di satu sisi hanya memberi kepuasan audio
saja. Pendengaran adalah perangkat utama
yang digunakan oleh seseorang ketika menikmati acara radio. Interaksi
pendengar, selain dilakukan lewat surat, kini, bisa dilakukan lewat pesawat
telefon. Seorang penyiar yang disukai pendengar acara radio bisa “didekati”
lewat sambungan telefon tersebut. Radio, dalam keterbatasan dan kelebihannya,
hingga kini, masih banyak peminatnya, termasuk kelompok anak-anak.
Lebih lengkap dibanding radio, teve bersifat
audio-visual. Penikmat acara teve bisa lebih lengkap merasakan kehadiran
penyiar, penyanyi, pelawak, atau pun bintang film dan sinetron. Dalam proses
interaksi antara penikmat dengan penyaji acara, seperti pada acara radio, bisa
dilakukan lewat surat dan telefon. Namun penikmat acara bisa lebih lengkap menyaksikan
penyaji acara secara visual. Lewat media massa jenis ini, banyak anak yang
kemudian tergila-gila dengan bintang idola mereka. Salah satu jenis acara yang
menjadi sumber peniruan bagi anak-anak adalah film kartun.
LEMBAGA PENDIDIKAN
Banyak ahli pendidikan yang kemudian percaya bahwa
media teve bisa menjadi lembaga pendidikan. Sejalan dengan peran televisi
sebagai media hiburan, maka materi tayangan pendidikan yang dikemas dalam acara
teve juga harus bersifat menghibur.
Seperti disebutkan oleh Eduard Depari, “jika unsur
kemasan diabaikan, tidak mustahil tayangan tersebut akan kehilangan daya
tariknya”.
Tentang besarnya pengaruh langsung acara teve kepada
penonton cukup banyak bukti yang bisa diperhatikan di sekitar kita. Ketika teve
swasta banyak menayangkan acara tele novela Mexico-an, begitu banyak ibu-ibu
yang kemudian memiliki jadwal-tonton yang rutin. Jadwal tersebut tak bisa
diubah. Tangisan dan keributan anak pada saat tayangan berlangsung, tidak akan
bisa mengganggu acara menonton. Bahkan, anakanaklah yang mendapat dampratan,
karena dianggap mengganggu acara menonton tayangan kesukaan ibu. Kesukaan
ibu-ibu dalam menonton berlanjut dengan munculnya film-film kungfu yang
diwarnai cerita drama percintaan. Begitu pun ketika muncul pula cerita wayang
(India), drama percintaan (Jepang), dan juga tak ketinggalan sinetron seri
buatan dalam negeri sendiri yang kebanyakan tayangannya sama dengan tele
novela.
Sama dengan ibu-ibu, anak-anak memiliki tayangan
kesukaan yang khusus. Film kartun, aneka cerita, keluaran Jepang dan Amerika
yang banyak ditayangkan di TVRI atau teve swasta, beberapa di antaranya
kemudian menjadi cerita tungguan anak-anak. Semua tayang-an, bisa dipastikan,
ada nilai baik dan buruknya.
Seorang ibu bercerita tentang anaknya yang sangat
terpengaruh acara tayangan teve.
“Anak saya pernah retak tulang kaki hingga harus
operasi. Pasalnya, dia bergaya meniru jagoan kesukaannya di televisi. Dia
meniru Superman yang bisa terbang.
Terbanglah dia dari balkon rumah, hingga kakinya
luka”. Kasus itu adalah pengaruh
langsung yang tergolong berat. Pengaruh langsung yang ringan-ringan saja,
mislanya yang diceritakan ibu yang lain: “Karena kesukaan terhadap jagoan yang
biasa ditonton di teve, anak saya memaksa harus membeli semua jenis asesoris
yang berhubungan dengan tokoh jagoannya”.
Sisi positif menonton teve diungkapkan oleh seorang
ibu. “Pengaruh baik yang kami perhatikan pada putra kami adalah selalu ingin
menjaga atau melindungi seperti halnya pada perilaku tokoh jagoan idolanya”.
Hal yang menarik adalah yang dialami oleh seorang ibu lain dengan anaknya yang
masih usia pra-TK. “Pada waktu itu”, tulisnya, “anak kami masih di Play Group.
Tentunya belum dapat membaca. Padahal, pada waktu itu, film-film kartun dialognya
berbahasa darimana film itu diproduksi. Terjemahannya tertulis dalam bahasa
Indonesia di bagian bawah layar. Kami secara bergiliran membacakan terjemahan
tersebut. Tetapi suatu waktu, kami sibuk. Tidak ada satu pun di antara kami
yang sempat membacakan terjemahan film yang ditonton anak kami.
Bertolak dari kekecewaan tadi, putra kami giat
belajar membaca. Karena keinginan yang kuat, putra kami terus belajar. Pada
usia sebelum 5 tahun anak kami, akhirnya, bisa membaca, membaca teks terjemahan
film maupun koran, tanpa harus bergantung kepada orang tua”.
Maraknya aneka jenis video game, disusul dengan
menjamurnya play station yang berbarengan dengan memasyarakatnya internet,
menjadi lahan perluasan jenis hiburan, terutama, bagi anak-anak. Dunia maya,
dunia yang dibangun dalam format digital, telah menjadi dunia penikmatan
imajinasi anak-anak. Penemuan teknologi 3D yang semakin sempurna telah menolong
para gamer untuk mengembara mengikuti hayalan para programer aneka jenis
mainan.
Dunia maya, dunia yang dibangun dalam format digital,
pada dasarnya sejalan dengan pola imajinasi. Keinginan, hayalan, harapan, yang
bentuknya cenderung mustahal sekalipun, bisa dikemas dalam bentuk nyata
imajinasi, gambar digital. Salah satu bentuk gambar digital adalah mainan,
game. Aneka mainan digital adalah pengembangan imaji yang telah diolah untuk
kepentingan aneka tujuan. Tujuan baik, tentu saja, menjadi tujuan yang umum.
Banyak software komputer misalnya, yang ditujukan untuk memudahkan proses
pembelajaran. Pembelajaran dirancang menjadi interaktif lengkap dengan gerak
(animasi), suara, dan bahkan komunikasi aktif antara mesin (komputer) dengan
pengguna program. Tetapi, banyak juga software program komputer yang disisipi
aneka tujuan buruk. Lebih khusus yang disebar lewat jalur website internet yang
dikemas dalam bentuk program freeware
dan shareware.
Perkembangan teknologi dampak awalnya bertalian
dengan kemaslahatan umat. Tetapi kemudian, kemajuan teknologi telah turut
memajukan dan menganekargamkan jenis kejahatan. Tujuan buruk pun telah dikemas
sedemikian rupa hingga tampilannya tetap terselubung dalam bungkus mainan.
Kekerasan yang menjadi pola film animasi keluaran beberapa perusahaan software
dan komik Jepang, misalnya, yang mengandalkan penyelesaian cerita dengan
pembunuhan, sangat “disukai” oleh anakanak kita.
Tentu, gaya cerita seperti itu, akan diserap dan
ditimbun anak dalam memorinya. Mungkin cerita cenderung lebih lamban
pengaruhnya kepada anak-anak. Tetapi, peniruan-peniruan gaya yang dilakukan
anak-anak secara terus-menerus bisa menjadi langkah penguatan. Untungnya,
masyarakat pengguna komputer di Indonesia masih belum jauh banyak seperti di
negara-negara tetangga, apalagi di Barat. Pelaku pembobolan bank dan keamanan
negara, seperti di Amerika, adalah anak-anak muda yang iseng-iseng menyusup ke
dalam website bank dan biro keamanan negara. Belum lagi, para pembuat virus dan
worm (istilah sejenis virus di internet), adalah para pemuda juga. Di
Indonesia, baru sebatas pengaruh dunia cerita saja yang banyak diserap oleh
kebanyakan anak-anak masa kini.
Dunia robot
seperti pada cerita Pokemon dan Digimon, dalam batas-batas tertentu
banyak memberi sumbangan imajinasi teknologis yang lumayan kepada anak-anak.
Entah bagaimana kreatifnya para pedagang mainan anak-anak dalam memanfaatkan
tokoh yang sedang digandrungi oleh anak-anak. Dunia Mickey Mouse, Donald Duck,
Power Ranger, Ninja Hatori, dan Doraemon yang juga pernah diolah para pedagang,
sedikit demi sedikit digeser oleh ketenaran para robot Pokemon. Buku tulis,
buku bacaan, kartu mainan, permen, kancing tempel, tas sekolah, kaos anak-anak,
alat-alat makan, bahkan pelapis tempat tidur dan bantal, semua dihiasi gambar
tokoh-tokoh Pokemon. Orang tua tak bisa menahan hasrat anak-anak untuk secara
te-rus-menerus melengkapi “koleksi” benda-benda kesukaan yang kemudian akan
menjadi benda kebanggaan anak di antara lingkungan temannya. Lingkungan teman
sebaya telah lebih kuat memberi pengaruh kepada mereka. Apa yang bisa
dimanfaatkan dari fenomena dunia hayal tersebut?
PERLU BIMBINGAN
Arus pengaruh teman sebaya tak bisa dibendung oleh
orang tua. Atau, kalau orang tua tetap mau membendungnya, pengaruh itu tetap
juga akan luber tak terkendali. Lebih baik orang tua turut menyusun jalan-jalan
penyalurannya, agar bah pengaruh itu bisa lebih sehat alirannya. Orang tua
wajib peduli dengan kesenangan anak-anak. Kalau perlu, orang tua bisa melakukan
diskusi dengan anak-anak tentang mainan-mainan kesenangannya.
Membiarkan anak mengeksplorasi dunianya adalah
tindakan bijaksana. Tetapi, bimbingan, arahan, dan penyaluran merupakan kunci
pengaman yang bisa dibentuk oleh orang tua. Orang tua adalah pengawas, pemilah,
dan sekaligus fasilitator bagi kebutuhan eksplorasi anak. Biarkanlah anak
mengurusi dunianya. Orang tua tidak bijaksana bila turut campur menentukan isi
dunia anak. Jadilah wasit yang bertanggung jawab, yang bisa memfasilitasi lalu
lintas imajinasi anak. Bukankah ketika kita, para orang tua, masih dalam usia
anak-anak, kita selalu diberi kebebasan bermain, dan lahan bermain kita tidak
pernah dijajah orang tua kita.
4.3 Pendekatan Sosiologi tentang Seni Rupa
P.J. Bouman (1954), dalam bukunya Sosiologi
Pengertian dan Masalah, pada salah satu bagian bukunya menulis tentang
sosiologi seni, di samping tentang sosiologi agama, sosiologi kebudayaan, dan
sebagainya. Bouman menunjuk bahwa perhatian para sosiologist dalam membahas
seni adalah mengenai: 1) sampai seberapa jauh ciptaan seniman menunjukkan
pengaruh sosial, 2) gema sosial ciptaan seni, 3) kedudukan seniman dalam
masyarakat, dan 4) bagaimana masyarakat menghargai, menyebarkan, atau
menghimpun hasil-hasil seni.
Tampaknya, apa yang dikemukakan oleh Bouman tahun
50-an dengan apa yang dipaparkan oleh Jaques Lennhardt tahun 70-an, tidak
terlalu jauh bergeser. Penelitian para sosiologist tentang seni, Lennhardt
menyebutnya arus utama (main trends) penelitian sosiologi seni, berkisar
tentang hasil karya seni yang diperlakukan sebagai jejak sosial yang akan
membimbing para sosiolog dalam meneliti komponen lingkungan sosial para pekerja
seni, dan kondisi sosial penciptaan seni (Lennhardt, 1978: 585 - 596).
Bila disimpulkan, kedua penulis tadi menunjuk
keterkaitan antara seni (penggubah seni, karya seni) dengan keadaan masyarakat
(penikmat seni dan pemerhati atau pengemat seni). Pada kenyataannya, seniman
atau penggubah karya seni, siapapun dia, pedesa ataupun pekota, selalu
menanggapi lingkungan sebagai sumber inspirasi dalam proses penggubahan
karyanya. Bahkan, dalam karya-karya seni tradisional, gambaran lingkungan
sangat kental. Semua masyarakat pendukung suatu kesenian tradisional tertentu
akan merasa menjadi bagian dari sistem nilai yang ada dalam kesenian tersebut.
Seperti disebutkan oleh Bouman, “kesadaran kelompok
dapat dilihat djuga dari anonimitet seniman, jang tinggal dibelakang bajang2
kolektivitet”. Lebih khusus dalam kesenian primitif. Kesenian primitif adalah
jenis kesenian yang paling mudah diberi tafsiran sosiologis, karena secara
nyata menunjukkan perasaan kelompok masyarakat pendukungnya.
Pada sejumlah seni pertunjukan tradisional, kita bisa
menyaksikan keterlibatan penonton (msyarakat) di dalam adegan-adegan yang
dipertunjukkan oleh pemain. Bahkan, penonton bisa secara bebas berdialog dengan
pemain, memberi masukan kepada pemain, memeinta bentuk pertunjukan tertentu,
atau sekadar menanggapi apa yang dilakukan oleh pemain. Sebagai contoh bisa
diperhatikan pertunjukan drama tradisional seperti Bondres (Bali) ataupun
pertunjukan wayang kulit, wayang golek, maupun Lenong. Seorang nayaga bisa saja
meluluskan permintaan penonton, atau seorang dalang bisa memainkan tokoh wayang
(bukan wayang pokok) dilengkapi dengan dialog langsung dengan penikmat
pertunjukan. Begitupun yang terjadi dalam lingkungan kegiatan seni rupa
tradisional.
Bouman menegaskan:
“Sosiologi kesenian dapat memberi gambaran tentang
keadaan2 jang menjuburkan tumbuhnja beberapa pernjataan seni tertentu, tetapi
tidak pernah dapat ‘menerangkan’ bagaimana terdjadinja bentuk2 seni.Ia harus
membatasi diri pada penjelidikan kesenian sebagai eksponen kesatuan djiwa
kelompok, dengan tiada berhak untuk ingin menembus sampai proses psychologis
jang terdjadi pada setiap seniman (meskipun ia mewakili fikiran kelompok)”.
Diakui oleh Baouman bahwa tafsiran sosiologis untuk
jenis-jenis seni modern, yang menggambarkan individualitas senimannya, sangat
sulit dilakukan. Ia mengangkat pendapat W. Kloos yang menyataan bahwa kesenian
modern itu merupakan
“pernjataan yang paling individual dari
perasaan-perasaan yang paling individual”. Tetapi, meskipun demikian, Bouman
masih mengakui bahwa seniman tetap tidak bisa lepas dari pengaruh waktu dan
lingkungannya.
Yang menarik dari pernyataan Bouman adalah tentang
gambaran kesenian Asia, terutama berkaitan dengan gaya seni:
“Kalau dirumuskan setjara negatif, dapatlah
dikatakan, bahwa stabilitet kesenian Asia berhubungan dengan ketenangan
struktur2 agraris dalam daerah2 kebudajaan tempat kesenian itu berkembang.
Djuga kesenian Tiongkok, Djepang dan India Depan mengenal masa gaja, tetapi
djarang ahli sedjarah kesenian memperhatikan latar belakang sosial dari
penentuan masa gaja ini”.
Gaya, aliran, atau isme, tidak menjadi bagian kajian
dalam sosiologi seni. Itu semua menjadi bagian kajian sejarah kesenian. Yang
dikaji dalam pendekatan sosiologi seni adalah latar belakang keadaan masyarakat
sebagai lingkungan seniman berada, yang mempengaruhi kelahiran suatu gaya.
Lingkungan masyarakat seperti apa yang melatari kelahiran daya seni abstrak,
mi-salnya.
Secara sosiologis, masyarakat Indonesia adalah
masyarakat yang santun, suka menghargai se-sama, mementingkan kebersamaan, erat
ikatan batinnya dengan tradisi, dan sejumlah ciri sosiologis lainnya.
Masyarakat Indonesia, pun sebagian telah menjadi masyarakat kota besar yang mulai memiliki ciri-ciri sosiologis
masyarakat kota besar, bahkan untuk
lingkungan tertentu telah menampakkan ciri masyarakat metropolis kotakota besar
dunia. Radio, televisi, dan kini, nternet
dan telefon seluler, telah mengubah sedikit demi
sedikit pola kehidupan masyarakat
tatap-muka menjadi msyarakat seluler, serba saluran elektronis.
Ketiadaan sebuah telefon genggam, misalnya, telah
membangun kekhawatiran yang aneh dibanding jauh dari anggota keluarga.
Anak-anak muda telah menjadi konsumen kartu seluler yang telah menjadi sangat
murah. Perilaku mempertahankan sesuatu secara bertanggung
jawab, mungkin, mulai terkikis dengan perilaku serba instan, serba merasa
mudah, dan serba merasa kurang memiliki penghargaan terhadap sesuatu.
Pendidikan penghargaan perlu dihidupkan dalam lingkungan masyarakat, agar bisa mengimbangi arus besar
individualisme yang telah mencerabutkan rasa dan keberadaan manusia dari
akar-awal. Perhatikan bagaimana bangsa ini kurang menghargai peninggalan para
leluhur. Banyak kalangan yang memakai ras dan pikir untuk masa datang ketimbang
merasa terikat dengan masa lalu. Seakan-akan masa lalu telah dilepas begitu
saja tanpa sisa, sekadar ingatan sekalipun!
Bahasan para ahli tentang sosiologi seni, seperti
yang ditunjukan dalam pola bahasan Bouman, condong kepada kelompok masyarakat
seni pekota. Kedudukan seniman pedesa, seniman tradisi, masyarakat kebanyakan,
kurang mendapat perhatian. Hal itu merupakan bentuk kesenjangan teori, seperti
juga yang terjadi dalam dunia teori seni rupa Barat.
Masyarakat yang kini disebut sebagai masyarakat
tradisi, pada zamannya adalah kelompok masyarakat pekota. Tetapi karena
perubahan zaman, terjadi pergeseran dalam penyebutan posisi mereka. Sebagaimana
ketika masyarakat masa kini sadar bahwa teknologi adalah milik mereka, hasil capaian
mereka dalam mengolah alam lingkungannya, hal itu menjadi hal yang sama pada
kelompok masyarakat lainnya dalam kurun waktu yang berbeda. Tradisi tidaklah
mengacu waktu melainkan menyangkut kondisi. Sebagaimana sebutan primitif yang selalu dihindari
teoretisi seni Eropa untuk menyebut kondisi masyarakat mereka, kondisi itu bisa
kita temukan pada masyarakat masa kini yang telah dianggap postmodern.
Sebagai bahan pertimbangan, tulisan di bawah ini,
tulisan yang pernah dimuat di dalam Harian Sinar
Harapan, bisa dijadikan bahan bahasan.
SADAR DUNIA ANAK-ANAK
Anak-anak masa lalu, adalah anak-anak yang sangat
dekat dengan alam. Mereka bermain dengan alam. Mereka merespon alam. Mereka
bagian dari alam.
Anak-anak masa kini, tetap bagian dari alam, merespon
alam, dan bermain dengan alam. Tetapi, banyak orang tua yang boleh jadi merasa,
alam yang diakrabi oleh anakanak masa kini adalah alam yang sempit cakupannya.
Bahkan, banyak perangkat alam yang justru dianggap tidak alamiah. Artinya,
perangkat yang disukai sebagai alat bermain oleh anak-anak masa kini adalah
perangkat alam milik lingkungan orang lain, milik bangsa lain, milik budaya
bangsa lain.
Dulu, hampir semua bagian lingkungan dieksplorasi
oleh anak sebagai sarana bermain. Tumbuh-tumbuhan kecil dipakai sebagai objek
jual-jualan. Begitu banyak jenis tumbuhan yang dipersamakan dengan benda jualan
sebenarnya. Kulit buah-buahan, daun pohon, dahan pohon, batang pohon, dan
sejenisnya, telah mendorong kreativitas anak-anak dalam melahirkan aneka bentuk
mainan alami bermusim. Ada mobilmobilan dari kulit jeruk Bali; ada mahkota
kepala dari daun nangka; ada ketapel dari dahan pohon jambu biji; ada terompet
dari batang padi, misalnya. Pada satu sisi, jenis mainannya cenderung tetap,
tetapi pengembangan bentuk terus-menerus muncul dari hasil olahan generasi demi
generasi.
Ada yang berkilah, lingkungan tidak lagi memberi
keamanan kepada anak-anak dalam meng-akrabinya. Memang, dulu, selokan di
pinggir rumah masih berair jernih dan dipenuhi ikan-ikan kecil yang lucu-lucu.
Kini, jenis ikan kecil tersebut, boleh jadi, telah men-jadi hewan langka. Kini,
sungai di pinggiran desa tidak bisa dipakai mandi atau bermain air
berlama-lama. Semua orang takut terkena gatal sisa buangan sampah rumah tangga,
apalagi buangan bekal pabrik. Begitu pun, ketika musim mewuluku tanah sawah
tiba, anak-anak tidak bisa secara bebas ikut serta bermain lumpur di sawah.
Bermain lumpur pada masa kini dianggap sangat tidak sehat. Keceriaan anak-anak
telah berganti rupa karena lingkungan alam telah habis dijadikan lingkungan
baru yang tidak ramah kepada anak-anak. Saat bulan purnama tidak pernah memberi
pengaruh apa pun kepada anak-anak masa kini. Masa panen (tanaman maupun ikan)
telah jauh dari lingkungan anak-anak modern.
DUNIA ROBOT
Anak masa kini telah belajar dari lingkungan yang
sebetulnya milik masyarakat lain.
Dunia robot, dunia masyarakat industri dan teknologi
tinggi, telah “akrab” menjadi teman bermain anak-anak Indonesia masa kini. Dari
mulai anak-anak kota besar yang telah le- bih dahulu kenal dengan pesawat teve
berantena parabola dan aneka komik ekspor, yang kini berlanjut kenal dengan
mesin komputer serta program internet, hingga anak-anak kampung di sisi gunung
yang secara nasib ketiban pulung keluarganya menjadi OKB karena pengaruh
situasi reformasi, telah begitu dekat juga dengan robot. Ya, meskipun hanya
kenal robot maya, robot animasi, robot gambar, mereka begitu nikmat
“memilikinya”.
Periksalah saat-saat jam rehat anak-anak sekolah
dasar. Periksa pula lingkungan pos kamling atau lapangan desa yang biasa
dipakai tempat bermain oleh anak-anak. Apa yang mereka obrolkan? Hampir rata,
mereka mengobrolkan tokoh-tokoh Pokemon dan Digi- mon. Malahan, kalau kita mau
memeriksa lingkungan anak-anak yang lebih dekat ke pusat informasi, keragaman
tokoh cerita itu semakin luas.
Bayangkan, buku komik yang laku di penjual buku
sangat fantastis. Buku edisi terbaru Crayon Shincan, Detektif Conan, Cardcaptor
Sakura, Doraemon, Detektif Kindaichi, dan sejumlah besar komik buatan seniman
Jepang, sangat laku di pasaran. Memang ada sejumlah komik bu-atan masyarakat seniman
komik Indonesia, sebagai bahan perbandingan, seperti komik cerita tradisi
Ramayana, Sangkuriang, dan Mundinglaya, atau komik yang terkait dengan cerita
masa kini seperti Saras, yang masih bisa laku terjual di pasaran tetapi oplah
penjualannya kalah jauh oleh komik impor.
Pokemon dan Digimon, yang kerap menjadi bahan obrolan
anak-anak sekolah dasar, ternyata, lebih banyak hasil pengaruh merebaknya
penggunaan play station, juga produk Jepang. Compact disk (CD), bentuknya bisa
VCD maupun CD-Games khusus komputer, telah menjadi barang murah. Bahkan,
munculnya warung-warung penyewaan perangkat play station (hardware maupun
software), telah menyuburkan hidupnya budaya cerita dan mainan masyarakat
mancanegara seperti Jepang.
KARTUN
Film kartun atau anime yang beredar di sekitar
masyarakat penonton teve Indonesia, kini, lebih banyak produk Jepang. Bisa kita
saksikan, ternyata, tidak semua film kartun ditujukan untuk konsumsi anak-anak.
Terbukti, banyak film kartun Jepang yang tema ceritanya tentang percintaan
remaja, bahkan tentang ulah para orang tua. Jelaslah, orang tua mana pun tidak
akan setuju kalau jenis film kartun seperti itu ditonton oleh anak-anaknya yang
di bawah usia dua belas tahunan. Kecuali orang tua yang memiliki sikap masa bodoh,
atau menghalalkan tontonan dewasa untuk anak-anaknya.
Di samping film kartun percintaan, atau paling tidak
disisipi adegan “wah”, banyak juga film kartun kekerasan. Musuh adalah objek
pembunuhan. Musuh harus “diselesaikan” dengan cara dibunuh, bahkan dihancurleburkan.
Dan, menonton jagoan membunuh musuh, bagi anak-anak, adalah hal yang amat
biasa. Bahkan, membunuh musuh adalah “keharusan”, yang bisa menyebarkan rasa
puas, rasa senang, rasa plong.
Kartun, film maupun komik, bisa dipastikan disukai oleh
anak-anak maupun orang dewasa. Bukti tersebut telah dimanfaatkan oleh para
penggubah kartun dan produser film kartun. Mereka memproduksi film-film kartun
yang ditujukan kepada penikmat dewasa. Tetapi, kita, msaya-rakat Indonesia,
sudah kepalang percaya bahwa film kartun adalah untuk konsumsi anak-anak.
Kondisi pandangan ini kemudian melahirkan sikap-sikap orang tua yang kurang
hati-hati dalam menyaring film kartun yang cocok ditonton oleh
anak-anaknya.
“Ah, itu kan hanya kartun”. Sergahan seperti tadi bisa
juga dipakai untuk menunjuk film non-kartun. Semua film, apa pun bentuknya,
adalah gubahan manusia. Hanya cerita. Tetapi, ternyata, tidak demikian
sederhana kita bersikap terhadap hasil gubahan berbentuk film tersebut. Isi
film menjadi penting. Bentuk tampilan adalah sebagai alat peraga, media ungkap,
bahkan media ajar yang bisa dimanfaatkan secara efektif untuk tujuan tertentu.
Tampaknya, kita sudah mulai banyak kehilangan milik
kita sendiri. Kita lebih percaya diri jika kita memanfaatkan produk bangsa
lain, termasuk sarana menanamkan nilai kepada anak-anak. Sarana bermain bagi
anak-anak kita, yang bersifat bacaan, tontonan, dengaran, maupun pakaian,
hampir semua adalah produk luar. Sejak lama Made in China menjadi trade mark
aneka jenis mainan yang masuk ke Indonesia. Sekadar mainan sederhana dari bahan
plastik bekas sekalipun. Rakyat China sangat kreatif. Entah dengan tuntutan dan
cara apa pemerintah mereka bisa menggugah individuindividunya untuk berkarya
dan berkarya. Dulu, pernah ada sejumlah jenis mainan buatan masyarakat
Indonesia yang diekspor ke negara-negara tetangga. Tetapi, kelanjutan kegiatan
itu, tidak pernah kedengaran lagi ceritanya. Lalu, akankah kita hanya menjadi
masyarakat pengguna hasil gubahan orang lain semata?
Dalam kurikulum pendidikan seni rupa di tingkat
perguruan tinggi, misalnya, terlalu sedikit, atau bahkan bisa disebut tidak ada
arahan materi untuk keperluan menggugah para mahasiswa mengembangkan aneka
jenis mainan anak. Kegiatan melukis, mematung, dan menggambar, seolah-olah
telah menjadi pokok ajaran dalam seni rupa. Kalau kita menunggu atau sekadar
berharap ada perubahan isi kurikulum yang bersumber dari kebijakan pusat,
tampaknya kita seperti menggantang asap. Pemerintah masih menggang-gap bidang
seni rupa hanya sebagai bidang kegiatan pengisi waktu luang yang nilai
ilmiahnya sangat jauh bila dibandingkan
dengan sains. Begitu pun hasil devisa yang didapat dari penjualan benda-benda
seni rupa, masih ditafsir sebagai hasil pengembangan bidang pariwisata. Artinya,
devisa negara dari penjualan barang seni rupa secara bengis diaku sebagai
devisa dari bidang pariwisata.
Mendiamkan potensi kreatif anak-anak kita,
membatasinya dengan makanan kreativitas bangsa lain, sungguh perbuatan yang tak
bijak.
Pendekatan Psikologi tentang Seni Rupa
Pendekatan psikologi terhadap seni lebih cenderung
berupa kajian estetis yang dikaitkan dengan perilaku dan pengalaman manusia
dalam pengolahan, penikmatan, ataupun
pe-ngaruh seni. Para ahli psikologi
mengenal dua bentuk pendekatan psikologis: Pendekatan Gestaltism (The Psychology of Vision, Psikologi
Cerapan) dan pendekatan Psikologi Analitik. Dalam buku ini lebih khusus akan
dibahas dibahas pendekatan yang kedua, pendekatan psikologi analitik dari Carl
Gustav Jung.
Dalam pembicaraan psikologi analitik, khususnya
ketika membahas seni modern, kita akan menemukan sebutan extraverted (model perilaku yang bersifat subjektif). Extraverted,
sikap ekstravet, adalah bentuk lain untuk menyebut tampilan seni yang
(dianggap) bersfat universal. Introverted (kebalikan dari kondisi ekstravet),
sikap intovet, digunakan untuk menyebut tampilan karya seni yang bersifat
individual.
Batasan istilah universal dalam seni modern sering
menunjukkan makna yang kabur. Di satu sisi,istilah ini diartikan sebagai
sesuatu yang dianggap memiliki sifat mendunia,
memiliki nilai yang sama di seluruh dunia: tegasnya dalam menunjuk nilai
estetis sebuah karya seni. Pada sisi lain, istilah ini diartikan mengalam, mengacu alam. Pengertian yang
pertama dan kedua merujuk pada tampilan karya seni yang berbeda,yaitu karya
seni yang berciri pribadi, khas, lain dari yang lain, dan yang berciri umum.
Seni modern merupakan gambaran pikir masyarakat
industri yang sekular (lihat juga bahasan tentang Desain Sesudah Modernisme,
kutipan dari bagian laporan skripsi Meiyani Hertanto). Di dalamnya terdapat
pemisahan fenomena estetik, otonom, dan terpisah dari pranata sosial dan
masyarakat umum. Karena memisahkan diri dari masyarakat umum, seni modern
sering dianggap tidak akrab dengan masyarakat.
Kaum modernis berpandangan bahwa kegiatan seni adalah
upaya yang terus menerus me-negakkan kualitas estetis. Paham modernis ini
melahirkan nilai dan norma yang menjadi acu-an: nilai kebaruan, bersifat material, dan terindera. Nilai keaslian
melahirkan individualitas (menurut mereka) sekaligus universalitas. Kedua nilai
tersebut menuntut tingkat kreativitas yang tinggi kepada para senimannya.
Untuk menemukan sesuatu yang baru dan asli, seniman
melakukan pencarian yang terus-menerus. Kebebasan pencarian merupakan sesuatu
yang sangat diagungkan. Salah satu akibat buruknya, seperti telah disebutkan di
muka, seniman menjadi terasing atau mengasingkan diri dari masyarakat banyak.
Dalam perkembangannya, seni modern mengenal berbagai
isme, mazhab, atau aliran (tentang hal ini akan dibahas tersendiri). Sejalan
dengan prinsip “terus-berubah” milik dunia industri dan sifat ilmu pengetahuan,
dalam seni modern selalu terjadi perubahan aliran. Setiap aliran baru merupakan
penolakan terhadap aliran sebelumnya. Sebagai contoh, lahirnya impressionisme sebagai hasil reaksi
terhadap kebiasaan melukis di dalam studio yang biasa dilakukan oleh para
pelukis penganut aliran realis (lihat
Myers, 1961: 387 - 408). Pergantian pengaruh aliran dalam seni modern merupakan
hal yang sangat biasa. Gambaran gerak yang tanpa henti, gambaran sifat manusia
modern, tampak jelas di sana. Tetapi, dalam perubahan tersebut, seperti
disebutkan oleh Gustav Jung, terjadi pergantian pengaruh dua sifat utama
manusia yang terus berulang: ekstravet (extravert)
dan introvet (introvert) (Fodham,
1988).
Bidang psikologi sudah cukup lama merambah medan
bahasan bidang seni. Pandangan dan analisis para psikolog tentang seni,
terpusat pada sudut pandang kejiwaan yang bisa diukur dalam tampilan perilaku.
Para psikolog, khususnya ahli psikologi analitik, mengkajinya melalui pembagian
model-model manusia pelakunya. Pembedaan tersebut lebih dikenal dengan sebutan tipe-tipe psikologis.
Usaha pembahasan tipe-tipe psikologis ini memiliki
sejarah yang panjang. Diawali oleh Galen, seorang dokter Yunani, lebih kurang
dua ribu tahun yang lalu, yang merumuskan empat temperamen manusia: sanguinikus, flegmatik, kolerik, dan
melankolik. Kemudian Kretschmer mencoba mencari rumusan penggolongan yang
lebih modern, yang dilanjutkan oleh Carl Gustav Jung. Jung-lah --dengan konsep
sikap ekstravert dan introvert-- yang dengan teliti melacak sejarah pengaruh
tipe psikologis pada puisi dan estetika (Read, 1958: 73 - 106).
Sikap ekstravert, menurut Jung, ditandai dengan
libido yang mengalir ke luar; berminat kepada kejadian-kejadian, orang dan
benda; juga memiliki hubungan serta ketergantungan terhadap hal tersebut. Orang
ekstravert mengadakan hubungan dengan dunia luar melalui intelek, perasaan,
penginderaan, atau intuisinya. Mereka mudah terikat oleh fakta; tidak dapat
melihat sesuatu di luar fakta; menyukai logika dan keteraturan; lebih tertarik
kepada dunia luar; dan tidak menyukai kesendirian.
Sebaliknya, sikap introvert ditandai dengan libido
yang mengalir ke dalam; terpusat pada faktor-faktor subjektif; menarik diri;
dan dikuasai kebutuhan dalam. Orang introvet tidak berminat pada
fakta,melainkan pada ide (gagasan).
Konsep sikap yang dirumuskan oleh Jung, pada dasarnya
terdiri atas tiga pokok bahasan. Pertama, konsep
arketif (archetype), yaitu konsep keseduniaan
(universality) manusia dalam peng-alaman nyata dan imajinasi. Jung
mendefinisikan istilah arketif ini sebagai gambaran ruhanian dari
dorongan-dorongan naluri jasmaniah. Kedua, konsep
ego dan self. Ego menggambarkan sesuatu yang utama, yang bertalian dengan
identitias, batas dan kemampuan perorangan. Sedangkan self bertanggung jawab
terhadapa pengalaman simbol-simbol keutamaan, perasaan, dan kesadaran. Ketiga, konsep individuation, yaitu kemampuan
memadukan sejumlah aspek proses kesadaran, ketidaksadaran, dan hayalan yang
membimbing seseorang kepada kesadaran di luar ego (kesadaran transendental)
bukan hanya sekadar pengalaman keunikan individualnya saja.
Merujuk ciri-ciri tipe psikologis yang dikemukakan oleh
Jung, bertalian dengan pelaku seni modern, secara garis besar terdiri atas
empat kelompok seperti berikut.
Realisme, Naturalisme, dan Impressionisme
Kelompok seniman yang menganut tiga aliran seni ini
mengutamakan unsur pikir dalam kegiat-annya. Tampilan kelompok ini menunjukkan
sikap peniruan terhadap dunia-luar alam. Tampil-an utama karya yang dilatari
ketiga aliran ini adalah sesuatu yang nyata. Kenyataan inilah yang menuntut
unsur pikir karena peniruan bentuk real,
natural, maupun impression adalah
peniruan terhadap bentuk-bentuk yang ada di alam. Walaupun kemudian ada
penambahan tertentu, ikatan bentuk-bentuk yang nyata sebagai unsur utama dalam
model atau objek benda yang ditiru tetap ketat. Sesuatu yang nyata tampak jelas
dalam bentuk-luar objek.
Superrealisme dan Futurisme
Peranan sensasi sangat kuat dalam konsep kegiatan
kelompok ini. Mereka menunjukkan perhatian terhadap nilai-nilai spiritual dalam
memanggapi dunia-luar alam. Dunia-luar, bagi ke-lompok ini, masih menjadi
perhatian yang utama. Mereka menggunakan sensasi bentuk nyata dengan
menambahkan unsur-unsur tampilan yang luar biasa, berlebihan, bahkan
menampakkan kondisi yang ada di luar dunia nyata.
Fauvisme dan Expressionisme
Peranan sesnsasi sangat kuat dalam konsep kegiatan
kelompok ini. Karya mereka menampilkan kerinduan terhadap sensasi rasa
perseorangan senimannya. Senimanseniman ini mengutamakan subjektivitas dirinya
dalam mengolah karya.
Cubisme, Constructivisme, dan Functionalisme
Bagi kelompok ini, intuisi menjadi titik pusat konsep
berpikir mereka. Mereka menunjukkan keasyikan dengan bentuk-bentuk mujarad
(abstrak)
Kelompok pertama memiliki latar sikap objektif
senimannya. Bentuk-bentuk alam menjadi dasar tiruan: fotografis maupun
impressionistis. Keberadaan objek mengontrol kegiatan jasmani. Seluruh
perhatian seniman ditujukan hanya untuk meneliti kepastian objek. Faktor bawah
sadar dan kejiwaan seniman mungkin bisa tersalurkan melalui pengaturan
komposisi dan warna.
Para seniman relalis dan naturalis lebih menampilkan
sikap ekstravet, karena mereka mengutamakan peniruan dunia-luar alam.Agak
berbeda dengan kaum impressionis, meskipun mereka tetap mengacu bentuk objek,
objek tidak selalu sesuatu yang tampak sebagai bentuk dalam kenyataan. Sikap
objektif mereka dibarengi sikap subjektif dalam menangkap objek untuk
digambarkan kembali. Hal tersebut menunjukkan gambaran-dalam dari kenyataan
luar.
Kelompok kedua mengagungkan imajinasi. Imajinasi yang
menguasai perasaan seniman ke-lompok ini bisa imajinasi figuratif maupun
nonfiguaratif. Seniman kelaompok ini, yang memiliki sifat ekstrovet, harus
bersetuju dengan kenyataan dalam memanipulasi materi untuk memenuhi tuntutan
imajinasinya. Mereka menyalurkan ciri pribadinya ke dalam objek, sehingga objek
yang ditampilkan bisa mewakili dirinya. Tetapi yang memiliki sifat introvet,
mereka le-bih mementingkan otomatisasi perasaan yang dikuasai alam bawah
sadarnya.
Kelompok ketiga dilatari sikap objektif dan
subjektif. Sensasi yang memotori sikap mereka, pada kelompok yang ekstravet,
sangat dibatasi keadaan objek. Tetapi, seperti ditemukan oleh Jung, reaksi
terhadap objekbukan pada kenyataannya, bukan pula pada tampilan dangkal,
melainkan pada nilai sensasinya. Kualitas rasional dan spiritual di
kesampingkan. Objek sebagai hasil pengalaman penginderaan, ditampilkan dengan
titik berat pada derajat sensasi. Kelomok yang bersikap introvet lelbih dikenal
dengan sebutan tipe haptic. Tipe ini,
tentu saja, lebih banyak merupakan sifat bawaan.
Kelompok keempat menempatkan intuisi sebaai penggerak
utama sikap berpikir mereka. Ke-lompok ini bisa dikatakan cenderung menampilkan
sikap introver, intuisi seniman tidak langsung berhubugnan dengan bentuk eksternal,
di luar ekspresi. Ada kelompok yang bisa disebut sebagai kelompok dengan sikap
ekstravet. Hal tersebut tampak pada jenis tampilan karya arsitektur fungsional
dan dalam sejumlah seni industri. Penggolongan yang dilakukan Jung, pada
kenyataannya, tidak bisa dikatakan sebagai sesuatu yang eksak. Read (1958)
menyebutnya hanya sebagai model hipotesis.
Seni dan kepribadian merupakan sesuatu yang meredeka, tetapi bisa disebutkan
bahwa keduanya memiliki bentuk hubungan yang akan tampak dalam cara berekspresi
senimannya. Seberapa tinggi tingkat keter-hubungannya, bagi setiap orang, bagi
setiap bangsa, bisa dipastikan terdapat sejumlah perbedaan.
Sebagai sebuah bentuk pendekatan ilmiah, penggolongan
nilai estetis karya seni modern yang dilakukan oleh Jung, bisa digunakan
sebagai alternatif pendekatan estetika. Tetapi ada kerancuan anggapan dalam
konsep yang dikemukakan oleh Jung. Jung menyebutkan, tipe psikologis hanya bisa
diterapkan kepada mereka yang memiliki sifat bawaan: ekstravet atau pun
introvet., yaitu sifat yang menetap. Padahal banyak seniman yang tidak menetap
dalam satu gaya, tidak setia dengan satu kondisi tampilan! Hanya seniman dengan
tipe hapticlah yang memiliki gaya
bawaan.
Posisi Bidang Kerja Desain dalam Seni Rupa
Pada kesempatan saya kali ini saya akan membawakan marteri selanjutnya dari mata kuliah TINJAUAN SENI. Materi ini akan menjelaskan mengenai Posisi Bidang Kerja
Desain dalam Seni Rupa
Posisi Bidang Kerja
Desain dalam Seni Rupa
1. Fenomena Desain
Istilah desain telah banyak digunakan di dalam aneka
jenis kegiatan masa kini. Tetapi, pengertian tentangnya belum dipahami secara
menyeluruh. Pengertian desain, dalam kamus umum sama dengan konstruksi, pola
(Echols dan Shadily, 1990: 177); rencana (Wojowasito, 1982: 104); gagasan awal,
rancangan, perencanaan, susunan, projek, hasil yang tepat, produksi, membuat,
mencipta, menyiapkan, menyusun, meningkatkan, pikiran, maksud, kejelasan
(Webster, 1974: 207); gubahan, ciptaan, bentukan, dan rangkuman.
Dalam pengertian praktis, Luzadder (1986: 243 - 244)
menyebutkan batasan tentang pengertian desain: “(1) membentuk atau menyusun
dalam fikiran, (2) mengusahakan suatu rencana, (3) merencanakan dan membentuk
(fashion) suatu sistim (konstruksi) dan (4) mengolah sketsa pendahuluan
dan/atau rencana untuk sustu sistim yang harus dibuat”. Tetapi, dalam
kebanyakan penggunaannya istilah kata ini dipakai sebagai padan kata rancangan.
Istilah merancang (kata kerja) bisa berarti menggubah sesuatu yang baru;
menyusun sesuatu yang telah ada menjadi sesuatu yang baru, cara baru, untuk
meningkatkan daya guna. Atau yang lebih lebih ekstrem, merancanga adalah
merencanakan sesuatu yang baru sama sekali. Kegiatan merancang, seperti
ditegaskan oleh Luzadder (ibid: 243 - 244) “merupakan seni dan sekaligus ilmu
pengetahuan”. Kata desain ini (sekitar tahun 2000-an), belum masuk ke dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) maupun Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI).
Saliya (dalam Sachari, 1986: 28) menulis:
“Tampaknya pengertian desain di Indonesia lelbih
mengarah kepada kegiatannya, bukan ke konsepnya. Ini dapat dilihat dari
sulitnya menerjemahkan kata ‘design’ ke dalam Bahasa Indonesia. Sementara ini
ada kesepakatan-terbatas (Arsitektur) untuk menerjemahkannya dengan
‘(me)-rancang-(an)’; yang tidak puas dengan terjemahan itu membuatnya dengan
mengindonesiakan menjadi ‘desain’ atau ‘disain’.”
Desain adalah proses dan juga hasil dari proses.
Proses meliputi konsep gagasan dan metode. Hasil dari proses mencakup gaya dan
estetika. Secara nyata proses dan hasil dari proses itu terkait dengan pengaruh
dari luar seperti kemajuan sains dan teknologi; lingkungan sosial budaya; dan
kaidah estetika yang berlaku. Oleh karena itu, desain tidak netral, tidak bisa
menentukan perkembangan dirinya sendiri.
Berkembangnya kegiatan desain sejalan dengan kebutuhan
industri. Heskett (1980: 6) menulis:
“Pertumbuhan perdagangan pada jaman pertengahan
merupakan suatu fase yang amat penting bagi perkembangan menuju spesialisasi.Di
negara-negara Eropa Barat yang sedang berkembang seperti Florentina, Venesia,
Neremberg dan Bruges, bengkelbengkel besar dikembangkan untuk melayani
selera-selera canggih (sophisticated) kehidupan istana, gereja-gereja dan
saudagar-saudagar kaya. Kendati keahlian tradisional dan teknik-tekniknya masih
tetap kuat, akan tetapi kecakapan itu sudah terspesialisasi. Tidak sedikit
barang-barang sejenis telah dibuat oleh para pengrajinpengrajin di kota yang
tinggi tingkat kecakapan dan kepekaan seninya dengan proses produksi yang masih
berdasarkan metode kerajinan (craft methods) untuk memperbanyak model-model
yang telah dibuat. Karena itu batas antara seniman dan pengrajin masih bebaur,
ini tergantung dari kadar kemampuan yang diperoleh lewat pengalaman dan teknik
yang berlaku pada masa itu, ketimbang pada perbedaan sifat dan jenis
kegiatannya”.
Ketika disadari bahwa produk yang sama tetapi dengan
desain yang berbeda memberi pengaruh lebih baik kepada perhatian pengguna, maka
pengembangan produk benda merupakan suatu hal yang tak bisa ditunda. Friendrich
Naumann, seorang pengarang dan politikus, tahun 1906 menulis sebuah artikel
tentang perlunya pendekatan baru dalam memecahkan masalah-maslah yang dihadapi
oleh industri. Naumann kembali menegaskan bahwa antara seniman, produser, dan
penjual, harus berada dalam kondisi kerja sama. Selanjutnya ia menegaskan bahwa
antara seniman (unsur estetis) dengan mesin (unsur produktif) harus dipadukan
sehingga “sejak adanya keinginan memproduksi desain secara mekanis, estetika
baru harus ditemukan, karena memproduksi secara manual (dengan tangan) akan
menyia-nyiakan kemampuan mesin. Seni yang belum sempurna ini harus
disempurnakan, dan mesin harus diberi roh dan dipakai sebagai pendidikan cita
rasa”.
2. Desain Sebagai Bidang Kegiatan Seni Rupa
Pengelompokan hasil kegiatan seni rupa menjadi seni
murni dan seni terap, seperti telah diuraikan, menunjukkan posisi pelakunya.
Istilah seni terap digunakan untuk menunjuk karya-karya yang dibuat oleh para
pedesa. Sementara itu, sebutan seni murni ditujukan kepada karya-karya yang
dibuat oleh para pekota. Tetapi, seni terap itu, pada kenyataannya, digarap
juga oleh orang-orang kota yang selam ini merasa berbeda posisi (baca: lebih
tinggi tingkat sosialnya) dibanding orang desa. Agar posisi orang kota
penggarap seni terap tidak ikut diremehkan, maka mereka menerapkan penanda
sebutan khusus kepada produk mereka, bahwa produk mereka dikerjakan berdasarkan
konsep tertentu. Konsep dalam berkarya diposisikan sebagai pembeda antara
pedesa dengan pekota. Padahal, konsep tersebut, tentu ada dalam dua kondisi
yang tidak sama: yang maujud (digembar-gemborkan, dipresentasikan, dibukukan
dalam teori) dan yang tidak maujud, tidak pernah dipresentasikan, tidak peprnah
diangkat sebagai bahan wacana, apalagi perdebatan. Konsep tersebut dianggap
mendasari penyebutan istilah desain!
Tak bisa dipungkiri, desain telah menjadi satu label
keberhasilan benda produk. Sejalan dengan pemikiran masyarakat kota yang lebih
terdidik, benda produk dilahirkan dalam kesenggangan pencarian. Kebaruan,
kelainan, keunikan sebagai gambaran tuntutan pola pikir para medernis, baik
dalam hal bentuk maupun aneka kemungkinannya, telah dipadukan dengan produk
desain mereka. Aneka riset dilakukan untuk mengembangkan temuan desain baru.
Sejarah mencatat bidang seni rupa ini telah menjadi contoh keberhasila yang
luar biasa.
Manusia bisa terlibat dalam produk desain setiap
waktu, tanpa disadari. Mulai bangun tidur, menjalankan kewajiban harian, hingga
menjelang tidur kembali, manusia selalu berhadapan dan ada di dalam penggunaan
produk desain. Menarik sekali apa yang dijadikan tema Orasi Ilmiah Dr. Sanento
Yuliman dalam Dies Natalis ITB tahun 1990an, tentang posisi karya seni rupa
dalam semua sisi kehidupan manusia. Pemaparan tersebut adalah upaya Sanento
untuk menyadarkan masyarakat ilmiah bidang teknologi yang kerap kurang bijak
dalam menempatkan bidang kajian seni rupa dalam hubungannya dengan bidang
teknologi.
3. Desain Yang Tak Pernah Berhenti
Berikuti ini adalah contoh desain yang tak pernah
berhenti yang dilakukan juga oleh masyarakat desa. Cuma, karena mereka tidak
pernah mau menggembar-gemborkan temuan, konsep, atau keinginan berbeda
dibanding masyarakat yang lain, perubahanperubahan itu tidak pernah mengemuka.
Tulisan tentang 40-an jenis tipat
(ketupat, kemasan ketupat) yang menggambarkan desain yang tak pernah berhenti,
ditulis oleh Ketut Kendi Paradika, S.Pd. berupa laporan sebagian hasil
penelitiannya dalam menyelesaikan tugas kahir program S-1 di Jurusan Pendidikan
Seni Rupa, FBSUNDIKSHA (Tipat Banten di Desa Kaliasem, Buleleng, 2008).
Beberapa di antaranya dijelaskan dengan uraian cara pembuatannya. Di samping
itu, disertakan pula sebagai perbandingan, hasil penelitian untuk keperluan
yang sama dan di jurusan yang sama, yang dilaporkan oleh I Wayan Alit Angga
Wasta (Kerajinan Layang-Layang di Desa Lodtunduh, Kecamatan Ubud, 2007).
3.1 JENIS
ATAU BENTUK RUPA TIPAT BANTEN DI DESA KALIASEM,
KECAMATAN BANJAR, KABUPATEN BULELENG
Jenis tipat banten memiliki bentuk yang sangat
beragam. Bentuk menjadi identitas dimana dan kapan tipat tersebut digunakan,
Secara religius tipat yang dibuat sedemikian rupa merupakan pelengkap upakara
atau banten, dibalik fungsinya tersebut jika diamati tipat banten juga memiliki
unsur estetika baik itu keindahan dan keunikan tersendiri.
Jenis atau bentuk tipat banten sesuai dengan data yang
diperoleh di desa Kaliasem, kecamatan Banjar, kabupaten Buleleng, antara lain
adalah sebagai berikut :
Tipat Nasi
Tipat nasi merupakan tipat yang banyak dijumpai pada
berbagai perlengkapan upakara atau banten. Bentuknya menyerupai segi empat atau
belah ketupat, dengan panjang sisinya ± 5 cm. Tipat Nasi dapat disebut dengan
tipat Kelanan. Disebut tipat kelanan jika berjumlah 6 (enam) sesuai dengan
keperluan upakara.
Tipat Sirikan
Tipat Sirikan bentuknya menyerupai tipat nasi, namun
bentuk tipat sirikan lebih pipih dan menyerupai segi empat jajaran genjang,
Tipat sirikan juga dapat disebut tipat Kelanan jika berjumlah 6 (enam). Umumnya tipat sirikan panjang sisinya ± 6 cm.
Tipat Mrasada
Tipat ini merupakan tipat yang berukuran kecil,
bentuknya segi empat jajaran genjang mirip dengan tipat sirikan hanya saja
tipat mrasada ukurannya lebih kecil karena hanya terbuat dari setengah pilah
dari helai busung janur. Ukuran panjang sisinya ± 4 cm.
Tipat Galeng
Tipat galeng bentuknya menyerupai galeng (bahasa Bali)
yang artinya bantal.
Berbentuk segi empat pipih menyerupai tipat sirikan
namun lebih memanjang. Ukurannya ± 5 Cm x 10 Cm.
Tipat Dampulan
Tipat dampulan bentuknya segi empat jajaran genjang.
Bentuknya hampir sama dengan tipat sirikan, hanya saja bentuknya lebih besar
dan dua sudutnya lebih turun ke bawah, serta pada salah satu bagian sudutnya
dihiasi dengan jalinan bentuk kepala burung. Tipat ini memiliki ukuran panjang
masing-masing sisinya ± 7 cm
Tipat Gong
Tipat gong merupakan tipat yang berbentuk instrument
gamelan Bali yang disebut gong, bentuk tipat gong mirip dengan tipat sirikan
namun ukurannya lebih besar dan ada tonjolan segi empat di bagian atasnya.
Ukuran panjang sisi bawah ± 8 cm, dan sisi tonjolan di atasnya 3 cm.
Tipat Panggul
Tipat panggul merupakan tipat pendamping dari tipat
gong, bentuknya menyerupai alat pemukul gamelan gong yang disebut panggul.
Bentuknya bulat agak memanjang dengan bentuk pegangan bulat lebih kecil dan
lebih memanjang lagi, panjang keseluruhannya ± 6 cm, dengan panjang bulatan
panggul sekitar 3 cm, dan panjang pegangannya 3 cm.
Tipat Taluh
Dilihat dari namanya taluh (bahasa Bali) artinya
adalah telor. Jadi bentuk tipat taluh ini bulat menyerupai telor, panjang
diameternya ± 4 cm.
Tipat Gatep
Tipat ini secara keseluruhan bentuknya menyerupai buah
gatep. Bentuknya bulat tersusun dari beberapa sudut yang berdiagonal. Tipat ini
beurukuran kecil dengan diameter ± 2 cm. dan masih banyak lagi.
Uraian berikut adalah sebagian dari laporan hasil
penelitian skripsi tentang layanglayang.
3.2 BENTUK LAYANG-LAYANG DI DESA LODTUNDUH, KECAMATAN UBUD, KABUPATEN GIANYAR
Layang-layang berekor
Yang dimaksud dengan sebutan ekor dalam layang-layang
adalah penambahan kain panjang yang disambungkan pada bagian bawah
layang-layang. Ini ditegaskan agar tidak tertukar dengan pengertian ekor pada
model layang-layang bentuk burung.
a. Layang-layang bentuk Naga
Bentuk naga merupakan bentuk yang pertama kali
dikembangkan perusahaan Jaya Sairam dan
layang-layang naga paling banyak penjualannya. Layang layang naga
diproduksi bermacam-macam ukuran ada extra small, small, medium, large, dan
extra large. Pada ukuran small bentuk ornamen kepala naga agak sederhana,
sedangkan pada ukuran medium, large, dan extra large bentuk ornamen kepala
semakin detail dan tampak lebih bagus dan lebih galak.
Untuk layang-layang ukuran large dan extra large,
layang-layang ini tidak sepenuhnya untuk dimainkan atau sebagai hiburan tapi
bisa juga difungsikan sebagai barang penghias atau pajangan pada tembok. Layang
layang bentuk naga bisa ditutup dan dikembangkan sehingga mudah di bawa
kemana-mana.
Konstruksi bantang (kerangka) layang-layang naga
terdiri atas:
- Bantang
badan bentuk T
Bantang badan bahan bambunya dibuat lebih besar dan
lebih keras, karena bantang badan akan menjadi pegangan dari bantang sayap atas
dan sayap bawah, disamping itu bantang badan nantinya juga sebagai tempat mengikat
tali timbang.
- Bantang
sayap atas
Bantang sayap atas dipasang pada bantang badan bagian
atas. Bantang ini berfungsi menahan tekanan bagian atas layang-layang. Bantang
sayap atas dibuat agak lentur agar tidak mudah patah saat diterpa angin. Biasanya
diraut mengecil keujung sehingga bagian ujung
akan lebih lentur.
- Bantang
sayap bawah
Bantang sayap bawah ukurannya lebih pendek dari
bantang atas, bantang ini dipasang pada
bantang badan bagian bawah. Bantang ini berfungsi menahan tekanan yang ada
dibagian bawah layang-layang.
- Benang
pinggir
Benang pinggir fungsinya menyatukan bentuk menjadi
satu kesatuan sehingga lebih kuat menahan terpaan angin.
b. Layang-layang
bentuk monyet
Layang-layang bentuk monyet bermotif binatang monyet yang berada di pohon
kelapa dan duduk diatas buahnya dengan
tangan terhentang dan tangan kiri monyet memegang sebuah kelapa. Ukuranya
dibuat bermacam-macam ada extra small, small, medium, large, dan extra large.
Konstruksi bantang yang digunakan sama dengan kontruksi bantang pada bentuk
naga.
c. Layang-layang
bentuk macan
Layang-layang bentuk macan bermotif macan bersayap
dengan mulut terbuka menampakkan wajah garang dengan kedua kaki depannya
direntangkan dan kedua kaki belakang
ditekuk. Ukuranya dibuat bermacam-macam ada extra small, small, medium, large,
dan extra large. Konstruksi bantang yang digunakan sama dengan konstruksi
bantang pada bentuk naga
Layang-layang tidak berekor
a. Layang-layang
kupu-kupu
Layang-layang kupu-kupu bermotif kupu-kupu dengan
sayap terbuka dan warna warni penggambarannya secara dekoratif dan pewarnaanya sayapnya menggunakan tehnik
ketul ( seperti pointilisme) dan bergradasi. Ukuranya dibuat bermacam-macam ada
extra small, small, medium, large, dan extra large. Konstruksi bantang yang
digunakan sama dengan kontruksi bantang pada bentuk naga.
b. Layang-layang
burung
Layang layang bentuk burung ada bermacam-macam seperti
bentuk burung elang, burung hantu, burung cendrawasih, dan burung onta. Secara
mendasar semua bentuk burung tersebut bermotifnya burung yang sedang terbang,
perbedaannya terletak pada hiasan kepala yaitu sesuai dengan bentuk burung yang
dibuat. . Ukuranya dibuat bermacam-macam ada extra small, small, medium, large,
dan extra large. Kontruksi bantang yang digunakan sama dengan konstruksi
bantang pada bentuk naga.
c. Layang-layang
bentuk capung
Layang-layang bentuk capung bermotif binatang capung
dengan dua pasang sayap terbuka. Pewarnaannya menggaunakan tehnik gradasi
dengan arsiran. Ukuranya dibuat bermacam-macam ada extra small, small, medium,
large, dan extra large.
d. Layang-layang
bentuk kelelawar
Layang-layang kelelawar bermotif kelelawar terbang
dengan mulut terbuka. Ukuranya dibuat bermacam-macam ada extra small, small,
medium, large, dan extra large. Kontruksi bantang yang di gunakan sama dengan
konstruksi bantang pada bentuk naga.
Nilai Estetis dan Fungsional layang-layang di Desa
Lodtunduh,
Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar
Layang-layang bentuk naga
Salah satu dari layang-layang berekor adalah
layang-layang bentuk naga yang sangat bagus. Layang-layang naga berbentuk
tiruan binatang naga yang bersayap dengan mulut terbuka. Konstruksi
bantangnya bisa ditutup dan dikembangkan
sehingga mudah dibawa kemana-mana. Fungsi layang layang naga sebagai benda
mainan atau hiburan, pada ukuran medium, large, dan extra large bisa
difungsikan sebagai benda hiasan. \
Sebagai informasi tambahan, terkait dengan kepiawaian
masyarakat Bali dalam mengolah lingkungannya dalam suatu kegiatan kreatif,
kegiatan mendesain yang tak pernah berhenti, bahasan berikut ini mengungkap
tentang pemanfaatan uang kepeng di Bali.
3.3 UANG KEPENG DI BALI
Panji Koming dan Pailul, tokoh kartun ciptaan Dwi
Koendoro, masih menggunakan uang “kepeng” untuk kegiatan transaksi jual beli
mereka. Kedua tokoh tersebut adalah tokoh zaman Nusantara Lama yang dihadirkan
kembali untuk “menyungging” kehidupan masa kini oleh pekartunnya dalam koran
Kompas Minggu. Uang kepeng, bagi mereka, adalah nyawa kehidupan sehari-hari.
Jauh setelah zaman Panji Koming, di Bali, uang kepeng masih memiliki harga yang
tinggi. Bahkan, banyak masyarakat Bali yang sangat bangga bisa memiliki koleksi
uang kepeng yang banyak daripada memiliki uang rupiah!
Bagi Made Gede Koming, penduduk Gianyar, Bali, kepeng
juga masih memiliki nilai yang sama dengan rupiah atau dollar, poundsterling,
yen, mark, ringgit, dan berjenis duit modern lainnya. Kepeng bisa dirupiahkan.
Bahkan, beberapa jenis kepeng bernilai tukar lebih mahal, sekitar 200-300 ribu
rupiah per keping. Kepeng yang bergambar tokoh-tokoh wayang seperti Arjuna dan
Bima serta gambar binatang seperti jaran dan gajah, misalnya, dianggap memiliki
tuah. Malah ada sejenis kepeng yang disebut paica, yang dianggap sebagai
anuge-rah kekuatan tertentu. Oleh karena itu, masih banyak masyarakat Bali yang
mempercayai hal itu. Koming, pun merasakan derasnya perputaran uang kepeng itu,
terutama pada bulan-bulan tertentu.
Keterkaitan masa lalu dengan masa kini, pada
masyarakat Bali, sangat kental. Masyarakat Bali yang beragama Hindu masih
mengusung pola hidup yang erat kaitannya dengan para leluhur. Kawitan merupakan
istilah yang digunakan sebagai sebutan tentang keterkaitan itu. Seorang warga
Hindu Bali dianggap tidak bisa lepas dari ikatan asal (wit, ane mula), baik dengan leluhur maupun desa kelahiran. Oleh
karena itu, pada setiap upacara besar, orang-orang Bali yang beragama Hindu,
yang telah tinggal di luar desa, juga di luar Bali, harus pulang kampung untuk
melaksanakan upacara di desa kawitannya. Hal lain yang menunjukkan bahwa
masyarakat Bali masih terkait dengn keberadaan catatan masa lalu adalah
pemanfaatan uang bolong (pis bolong,
jinah bolong) yang biasa disebut ke-peng, dalam aneka kegiatan upacara.
Uang bolong dimaksud adalah uang logam (terbuat dari
bahan krawang atau sejenis bahan pembuatan gamelan, kuningan, juga perunggu)
yang memiliki lubang pada bagian tengahnya. Lubang pada uang tersebut umumnya
berbentuk segi empat. Ada juga yang berbentuk bundar, segi enam sama sisi, juga
segi banyak tak beraturan. Orang Belanda menyebutnya Chinesche Duit atau juga Chinese
Coins.
Masyarakat Bali yang terkait dengan uang kepeng ini
mengenal, paling tidak, lima jenis pis bolong. Ada yang disebut pis lumrah
(uang bolong yang paling banyak ditemukan beredar), pis krinyah atau mas
(berwarna kuning), pis kuci atau jepun (berwarna hitam, diperkirakan dari
Jepang masa lalu), pis lembang (permukaannya rata), dan pis wadon (wadon
sangka, bermotif; wadon sari, biasa dipakai untuk pelengkap sajen). Menurut
aneka catatan, uang kepeng tersebut terdiri atas tiga kelompok. Kelompok
pertama disebut kepeng asli Cina atau Jepang, yaitu kepeng yang berisi tulisan
huruf kanji. Kedua, kepepng lokal Nusantara yang berhuruf Jawa Kuno atau
Dewanagari, berhuruf Arab, dan berhiasan bentuk wayang atau flora lokal.
Ketiga, kepeng “tiruan” buatan masa kini. Kepeng masa kini berkualitas sangat
rendah, mudah meleleh ketika terbakar api. Sedangkan kepeng masa lalu, misalnya
yang telah menjadi pelengkap upacara pembakaran jenazah (pelebon, ngaben), uang
tersebut masih bisa utuh, bisa digunakan lagi.
Kepeng Cina berisi tulisan huruf kanji Cina pada kedua
bagian permukaannya (jou), baik pada
permukaan atas (mien atau sleh) maupun pada permukaan bawah (pei atau trep). Lubang-nya (hao)
berbentuk segi empat sama sisi. Pada bagian muka tertulis informasi (“legenda”) tentang gelar kaisar Cina yang
sedang memerintah. Tulisan tersebut mengisi bagian sleh, mengelilingi hao,
bagian atas, kanan, dan kiri. Tipografi dan hiasan tersebut, seperti dicatat
oleh Darmayendra (2000) dari sumber Balai Arkeologi Bali, cara membacanya
berurutan atas-kanan-bawah-kiri, atau bisa juga atas-bawah-kanan-kiri.
Selanjutnya, disebutkan ada lima gaya tulisan yang
ditemukan dalam kepeng Cina: 1) zhuan shu (seal script style), gaya tulisan
melengkung menyerupai materai, yaitu gaya tulisan tertua yang dipakai pada masa
Dinasi Sui dan sebelumnya; 2) li shu (square
plain script style), gaya tulisan persegi; 3) kai shu (regular script style), gaya tulisan baku; 4) xing shu (running script style), gaya tulisan sambung; dan 5) cao shu (cursive script style), gaya tulisan
miring. Bagian trep berisi tulisan tentang nama tempat pembuatan uang kepeng
tersebut.
Uang Nusantara Lama ukurannya lebih besar daripada
uang Cina. Menurut catatan yang ada pada Museum Bali, ditemukan uang kepeng
yang bertuliskan pangeran ratu dengan huruf Jawa Kuno (Dewanagari) yang
diperkirakan dari Banten. Lubang yang terdapat pada uang kepeng tersebut
berbentuk segi enam beraturan. Tulisan pada sleh disusun melingkari lubang.
Pada bagian trep berisi goresan-goresan yang kurang begitu jelas maknanya.
Begitu pun pada uang kepeng Palembang. Tulisannya, huruf Arab, disusun
melingkari lubang yang bentuknya membundar. Tulisan pada bagian sleh: Hadza Fulus fi Balad Palembang 1198.
Bagian trepnya polos tanpa tulisan apapun.
Tulisan-tulisan tersebut, kini, tidak menunjukkan
harga satuan uang kepeng yang sebenarnya, karena perhitungannya dalam transaksi
adalah jumlah biji uang tersebut. Satu biji uang kepeng disebut keteng,
aketeng. Di pasar uang kepeng, misalnya di Gianyar, masyarakat mengenal jumlah
kepeng tertentu yang dijual secara ikatan. Uang kepeng, untuk memudahkan
pendistribusiannya, sekaligus juga berkaitan dengan kepercayaan tertentu,
diikat dengan benang tukelan untuk kepeng yang jumlahnya 25 (selae keteng),
diikat dengan tali tali bambu (200 biji, satak keteng), dan diikat dengan tali
ampen, tali serat (1.000 biji, siu keteng). Tetapi untuk satuan jumlah kepeng
yang disebut satak, jumlahnya dikurangi sebanyak 5 biji yang disebut long, dan
satuan siu keteng dikurangi 25 biji.
Tentang pengurangan tersebut, ada yang menyebutkan
untuk mengurangi “pembengkakan hitungan (embet)” dalam transaksi. Tetapi,
alasan-alasan tentang masalah pengurangan tersebut belum begitu jelas. Sidemen
(1998) mencatat, model pengurangan seperti itu ditemukan juga dalam perhitungan
uang kepeng (satuannya disebut picis) di Jawa, setiap pembayaran 1 puon (1.000 picis) selalu dikurangi 30
picis. Ngurah Nala dan Adia Wiratmadja (1991) menjelaskan bahwa dalam setiap
korban suci (yadnya) di Bali
dilengkapi dengan aneka simbol berupa sesajen. Sesajen tersebut dibuat dari unsur
tumbuh-tumbuhan, binatang, termasuk mineral. Uang kepang dianggap memiliki
unsur-unsur panca datu (lima jenis logam): emas, perak, tembaga, besi, dan logam campuran. Kelima
unsur tadi, menurut Sudana dan Budiastra (1999) bertalian dengan konsep
keseimbangan dunia dalam faham agama Hindu. Emas di Barat, perak di Timur,
tembaga di Selatan, dan besi di Utara. Sedangkan di tengahtengah adalah besi
campuran. Semua itu dihubungkan dengan posisi nama-nama dewa Mahadewa, Iswara,
Brahma, Wisnu, dan Syiwa dalam kepercayaan Hindu. Oleh karena itu, uang kepeng
biasa dijadikan sebagai pengganti unsur-unsur logam tersebut.
Uang kepeng digunakan sebagai salah satu pelengkap
sesajen (persembahan) dalam upacara. Panca yadnya adalah upacara yang terkait
dengan keberadaan kepeng tersebut, terdiri atas dewa yadnya, rsi yadnya, pitra
yadnya, manusa yadnya, dan butha yadnya. Pitra yadnya dan manusa yadnya,
terutama, yang banyak memerlukan kelengkapan kepeng. Karena rutinnya
upacara-upacara tersebut, pemakaian uang kepeng tidak pernah berhenti. Pada
bulan Juli – September, setiap tahun, pesanan uang kepeng meningkat keras. Pada
bulan-bulan tadi transaksi jual-beli uang kepeng di pasar tradisional
Bali menjadi masa paling ramai, bertalian dengan bulan upacara bagi
masyarakat Hindu.
Permintaan pasar tidak sebanding dengan ketersediaan
kepeng. Apalagi ketersediaan kepeng Cina, kepeng asli, sudah semakin berkurang.
Kesulitan tadi terkait juga dengan akar kreasi seniman Bali sendiri yang
cenderung merambah hal-hal yang baru yang bisa diuangkan. Bentuk gubahan patung
yang bahannya dari uang kepeng adalah salah satu yang terkait erat dengan hal
tadi. Kesulitan-kesulitan tersebut, kemudian, mendatangkan cara baru dalam
menaggulangi kekurangan uang kepeng. Kini, banyak kepeng baru, buatan baru,
yang “dianggap” bisa menutupi kebutuhan terhadap kepeng. Tetapi, banyak
masyarakat Hindu yang kemudian merasa kurang sempurna aktivitas upacaranya
ketika memakai kepeng buatan baru, karena kualitas uang baru itu lebih buruk
daripada uang yang asli. Kepeng baru, tampaknya, dibuat dengan perhitungan yang
sangat ekonomis, tidak tahan lama, agar produksi bisa tetap berjalan.
Kelangkaan kepeng asli, secara sejarah, juga pernah
terkait dengan sikap pemerintah Belanda yang ingin menghilangkan fungsi kepepng
tersebut sebagai uang pembayaran yang syah pada saat itu. Tetapi, keteguhan
masyarakat Bali dalam mempertahankan keberadaan kepeng sebagai sarana upacara,
khususnya, melunturkan keinginan Belanda, sehingga penggunaan kepeng dalam
keseharian masyarakat Bali saat itu tidak dipermasalahkan lagi. Bahkan, hingga
kini, kepeng tetap memiliki nilai khusus sebagai uang masa lalu yang berharga.
Bagitupun keberlanjutan dan kelangkaannya telah menggubgah para pengolah logam
untuk membuat jenis uang kepeng baru, sekalipun dengan kualitas bahan yang
lebih rendah dan berharga lebih murah dibanding uang kepeng asli.
Harga uang kepeng, seperti diakui oleh salah seorang
penjual kepeng di Klungkung, cukup beragam. Jenis uang kepeng lama, uang
berwarna emas Rp 800,00 perbiji, uang kuci yang berwarna hitam Rp 900,00
perbiji, dan uang lumrah Rp 500,00 perbiji. Jenis uang kepeng “baru” terdiri
atas uang super (warna kuning) Rp 20.000,00 per 200 biji, uang kuci Rp
15.000,00 per 200 biji, dan uang lumrah Rp 12.000,00 per 200 biji.
PUSTAKA RUJUKAN
“Art”, Chambers’s
Encyclopedia, Vol. 1. London: George Newnes Limited
“Art”, Collier’s
Encyclopedia, Vol. 2. Canada: MacMillan Educational Corporation “Art”, The Encyclopedia Americana, Vol. 2. New
York: American Corporation Echols, John M. dan Hassan Shadily. 1990. Kamus Inggris Indonesia. Jakarta: Gramedia
Heskett, John. 1980. Desain Industri. Diterjemahkan oleh Chandra Johan dan Agus Sachari. Jakarta: Rajawali
Luzadder, Warren J. 1981. Menggambar
Teknik Untuk Disain, Pengembangan
Produk, dan Kontrol Numerik.
Jakarta: Erlangga
Moeliono, Anton M. (djp). 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
Myers, Bernard S. 1958. Understanding The Arts. New York: Holt, Rinehart and Winston, Inc
Sachari,
Agus (Ed.). 1986. Paradigma Desain
Indonesia. Jakarta: Rajawali Sudjoko. 1988. “Seni-Budaya Tahun 2000”, dalam
Perubahan, Pembaruan, dan Kesadaran Menghadapi Abad Ke-21.
Jakarta: Dian Rakyat
Supangkat, Jim. 1992. “Kembali Ke Satu Seni Rupa”,
Katalog Jakarta Art & Design
Expo 1992
Wojowasito, S. 1982. Kamus Inggeris Indonesia. Bandung: Pangarang
Subscribe to:
Comments (Atom)