Translate

Tuesday, 7 April 2020


Posisi Bidang Kerja Desain dalam Seni Rupa

Pada kesempatan saya kali ini saya akan membawakan marteri selanjutnya dari mata kuliah TINJAUAN SENI. Materi ini akan menjelaskan mengenai Posisi Bidang Kerja Desain dalam Seni Rupa


Posisi Bidang Kerja Desain dalam Seni Rupa

1.  Fenomena Desain


Istilah desain telah banyak digunakan di dalam aneka jenis kegiatan masa kini. Tetapi, pengertian tentangnya belum dipahami secara menyeluruh. Pengertian desain, dalam kamus umum sama dengan konstruksi, pola (Echols dan Shadily, 1990: 177); rencana (Wojowasito, 1982: 104); gagasan awal, rancangan, perencanaan, susunan, projek, hasil yang tepat, produksi, membuat, mencipta, menyiapkan, menyusun, meningkatkan, pikiran, maksud, kejelasan (Webster, 1974: 207); gubahan, ciptaan, bentukan, dan rangkuman.

Dalam pengertian praktis, Luzadder (1986: 243 - 244) menyebutkan batasan tentang pengertian desain: “(1) membentuk atau menyusun dalam fikiran, (2) mengusahakan suatu rencana, (3) merencanakan dan membentuk (fashion) suatu sistim (konstruksi) dan (4) mengolah sketsa pendahuluan dan/atau rencana untuk sustu sistim yang harus dibuat”. Tetapi, dalam kebanyakan penggunaannya istilah kata ini dipakai sebagai padan kata rancangan. Istilah merancang (kata kerja) bisa berarti menggubah sesuatu yang baru; menyusun sesuatu yang telah ada menjadi sesuatu yang baru, cara baru, untuk meningkatkan daya guna. Atau yang lebih lebih ekstrem, merancanga adalah merencanakan sesuatu yang baru sama sekali. Kegiatan merancang, seperti ditegaskan oleh Luzadder (ibid: 243 - 244) “merupakan seni dan sekaligus ilmu pengetahuan”. Kata desain ini (sekitar tahun 2000-an), belum masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) maupun Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI).

Saliya (dalam Sachari, 1986: 28) menulis:
“Tampaknya pengertian desain di Indonesia lelbih mengarah kepada kegiatannya, bukan ke konsepnya. Ini dapat dilihat dari sulitnya menerjemahkan kata ‘design’ ke dalam Bahasa Indonesia. Sementara ini ada kesepakatan-terbatas (Arsitektur) untuk menerjemahkannya dengan ‘(me)-rancang-(an)’; yang tidak puas dengan terjemahan itu membuatnya dengan mengindonesiakan menjadi ‘desain’ atau ‘disain’.”

Desain adalah proses dan juga hasil dari proses. Proses meliputi konsep gagasan dan metode. Hasil dari proses mencakup gaya dan estetika. Secara nyata proses dan hasil dari proses itu terkait dengan pengaruh dari luar seperti kemajuan sains dan teknologi; lingkungan sosial budaya; dan kaidah estetika yang berlaku. Oleh karena itu, desain tidak netral, tidak bisa menentukan perkembangan dirinya sendiri.
Berkembangnya kegiatan desain sejalan dengan kebutuhan industri. Heskett (1980: 6) menulis:

“Pertumbuhan perdagangan pada jaman pertengahan merupakan suatu fase yang amat penting bagi perkembangan menuju spesialisasi.Di negara-negara Eropa Barat yang sedang berkembang seperti Florentina, Venesia, Neremberg dan Bruges, bengkelbengkel besar dikembangkan untuk melayani selera-selera canggih (sophisticated) kehidupan istana, gereja-gereja dan saudagar-saudagar kaya. Kendati keahlian tradisional dan teknik-tekniknya masih tetap kuat, akan tetapi kecakapan itu sudah terspesialisasi. Tidak sedikit barang-barang sejenis telah dibuat oleh para pengrajinpengrajin di kota yang tinggi tingkat kecakapan dan kepekaan seninya dengan proses produksi yang masih berdasarkan metode kerajinan (craft methods) untuk memperbanyak model-model yang telah dibuat. Karena itu batas antara seniman dan pengrajin masih bebaur, ini tergantung dari kadar kemampuan yang diperoleh lewat pengalaman dan teknik yang berlaku pada masa itu, ketimbang pada perbedaan sifat dan jenis kegiatannya”.

Ketika disadari bahwa produk yang sama tetapi dengan desain yang berbeda memberi pengaruh lebih baik kepada perhatian pengguna, maka pengembangan produk benda merupakan suatu hal yang tak bisa ditunda. Friendrich Naumann, seorang pengarang dan politikus, tahun 1906 menulis sebuah artikel tentang perlunya pendekatan baru dalam memecahkan masalah-maslah yang dihadapi oleh industri. Naumann kembali menegaskan bahwa antara seniman, produser, dan penjual, harus berada dalam kondisi kerja sama. Selanjutnya ia menegaskan bahwa antara seniman (unsur estetis) dengan mesin (unsur produktif) harus dipadukan sehingga “sejak adanya keinginan memproduksi desain secara mekanis, estetika baru harus ditemukan, karena memproduksi secara manual (dengan tangan) akan menyia-nyiakan kemampuan mesin. Seni yang belum sempurna ini harus disempurnakan, dan mesin harus diberi roh dan dipakai sebagai pendidikan cita rasa”.


2.  Desain Sebagai Bidang Kegiatan Seni Rupa 


Pengelompokan hasil kegiatan seni rupa menjadi seni murni dan seni terap, seperti telah diuraikan, menunjukkan posisi pelakunya. Istilah seni terap digunakan untuk menunjuk karya-karya yang dibuat oleh para pedesa. Sementara itu, sebutan seni murni ditujukan kepada karya-karya yang dibuat oleh para pekota. Tetapi, seni terap itu, pada kenyataannya, digarap juga oleh orang-orang kota yang selam ini merasa berbeda posisi (baca: lebih tinggi tingkat sosialnya) dibanding orang desa. Agar posisi orang kota penggarap seni terap tidak ikut diremehkan, maka mereka menerapkan penanda sebutan khusus kepada produk mereka, bahwa produk mereka dikerjakan berdasarkan konsep tertentu. Konsep dalam berkarya diposisikan sebagai pembeda antara pedesa dengan pekota. Padahal, konsep tersebut, tentu ada dalam dua kondisi yang tidak sama: yang maujud (digembar-gemborkan, dipresentasikan, dibukukan dalam teori) dan yang tidak maujud, tidak pernah dipresentasikan, tidak peprnah diangkat sebagai bahan wacana, apalagi perdebatan. Konsep tersebut dianggap mendasari penyebutan istilah desain!

Tak bisa dipungkiri, desain telah menjadi satu label keberhasilan benda produk. Sejalan dengan pemikiran masyarakat kota yang lebih terdidik, benda produk dilahirkan dalam kesenggangan pencarian. Kebaruan, kelainan, keunikan sebagai gambaran tuntutan pola pikir para medernis, baik dalam hal bentuk maupun aneka kemungkinannya, telah dipadukan dengan produk desain mereka. Aneka riset dilakukan untuk mengembangkan temuan desain baru. Sejarah mencatat bidang seni rupa ini telah menjadi contoh keberhasila yang luar biasa.

Manusia bisa terlibat dalam produk desain setiap waktu, tanpa disadari. Mulai bangun tidur, menjalankan kewajiban harian, hingga menjelang tidur kembali, manusia selalu berhadapan dan ada di dalam penggunaan produk desain. Menarik sekali apa yang dijadikan tema Orasi Ilmiah Dr. Sanento Yuliman dalam Dies Natalis ITB tahun 1990an, tentang posisi karya seni rupa dalam semua sisi kehidupan manusia. Pemaparan tersebut adalah upaya Sanento untuk menyadarkan masyarakat ilmiah bidang teknologi yang kerap kurang bijak dalam menempatkan bidang kajian seni rupa dalam hubungannya dengan bidang teknologi.


3.  Desain Yang Tak Pernah Berhenti


Berikuti ini adalah contoh desain yang tak pernah berhenti yang dilakukan juga oleh masyarakat desa. Cuma, karena mereka tidak pernah mau menggembar-gemborkan temuan, konsep, atau keinginan berbeda dibanding masyarakat yang lain, perubahanperubahan itu tidak pernah mengemuka. Tulisan tentang 40-an jenis tipat (ketupat, kemasan ketupat) yang menggambarkan desain yang tak pernah berhenti, ditulis oleh Ketut Kendi Paradika, S.Pd. berupa laporan sebagian hasil penelitiannya dalam menyelesaikan tugas kahir program S-1 di Jurusan Pendidikan Seni Rupa, FBSUNDIKSHA (Tipat Banten di Desa Kaliasem, Buleleng, 2008). Beberapa di antaranya dijelaskan dengan uraian cara pembuatannya. Di samping itu, disertakan pula sebagai perbandingan, hasil penelitian untuk keperluan yang sama dan di jurusan yang sama, yang dilaporkan oleh I Wayan Alit Angga Wasta (Kerajinan Layang-Layang di Desa Lodtunduh, Kecamatan Ubud, 2007).

 3.1  JENIS ATAU BENTUK RUPA TIPAT BANTEN DI DESA KALIASEM,
      KECAMATAN BANJAR, KABUPATEN BULELENG
     


Jenis tipat banten memiliki bentuk yang sangat beragam. Bentuk menjadi identitas dimana dan kapan tipat tersebut digunakan, Secara religius tipat yang dibuat sedemikian rupa merupakan pelengkap upakara atau banten, dibalik fungsinya tersebut jika diamati tipat banten juga memiliki unsur estetika baik itu keindahan dan keunikan tersendiri.

Jenis atau bentuk tipat banten sesuai dengan data yang diperoleh di desa Kaliasem, kecamatan Banjar, kabupaten Buleleng, antara lain adalah sebagai berikut :

Tipat Nasi
Tipat nasi merupakan tipat yang banyak dijumpai pada berbagai perlengkapan upakara atau banten. Bentuknya menyerupai segi empat atau belah ketupat, dengan panjang sisinya ± 5 cm. Tipat Nasi dapat disebut dengan tipat Kelanan. Disebut tipat kelanan jika berjumlah 6 (enam) sesuai dengan keperluan upakara.

Tipat Sirikan
Tipat Sirikan bentuknya menyerupai tipat nasi, namun bentuk tipat sirikan lebih pipih dan menyerupai segi empat jajaran genjang, Tipat sirikan juga dapat disebut tipat Kelanan jika berjumlah 6 (enam).  Umumnya tipat sirikan panjang sisinya ± 6 cm.

Tipat Mrasada
Tipat ini merupakan tipat yang berukuran kecil, bentuknya segi empat jajaran genjang mirip dengan tipat sirikan hanya saja tipat mrasada ukurannya lebih kecil karena hanya terbuat dari setengah pilah dari helai busung janur. Ukuran panjang sisinya ± 4 cm.

Tipat Galeng
Tipat galeng bentuknya menyerupai galeng (bahasa Bali) yang artinya bantal.
Berbentuk segi empat pipih menyerupai tipat sirikan namun lebih memanjang. Ukurannya ± 5 Cm x 10 Cm.

Tipat Dampulan
Tipat dampulan bentuknya segi empat jajaran genjang. Bentuknya hampir sama dengan tipat sirikan, hanya saja bentuknya lebih besar dan dua sudutnya lebih turun ke bawah, serta pada salah satu bagian sudutnya dihiasi dengan jalinan bentuk kepala burung. Tipat ini memiliki ukuran panjang masing-masing sisinya ± 7 cm 

Tipat Gong
Tipat gong merupakan tipat yang berbentuk instrument gamelan Bali yang disebut gong, bentuk tipat gong mirip dengan tipat sirikan namun ukurannya lebih besar dan ada tonjolan segi empat di bagian atasnya. Ukuran panjang sisi bawah ± 8 cm, dan sisi tonjolan di atasnya 3 cm.       

Tipat Panggul
Tipat panggul merupakan tipat pendamping dari tipat gong, bentuknya menyerupai alat pemukul gamelan gong yang disebut panggul. Bentuknya bulat agak memanjang dengan bentuk pegangan bulat lebih kecil dan lebih memanjang lagi, panjang keseluruhannya ± 6 cm, dengan panjang bulatan panggul sekitar 3 cm, dan panjang pegangannya 3 cm.

Tipat Taluh
Dilihat dari namanya taluh (bahasa Bali) artinya adalah telor. Jadi bentuk tipat taluh ini bulat menyerupai telor, panjang diameternya ± 4 cm.

Tipat Gatep
Tipat ini secara keseluruhan bentuknya menyerupai buah gatep. Bentuknya bulat tersusun dari beberapa sudut yang berdiagonal. Tipat ini beurukuran kecil dengan diameter ± 2 cm. dan masih banyak lagi.

Uraian berikut adalah sebagian dari laporan hasil penelitian skripsi tentang layanglayang. 

3.2               BENTUK LAYANG-LAYANG  DI DESA LODTUNDUH,        KECAMATAN UBUD, KABUPATEN GIANYAR


Layang-layang berekor

Yang dimaksud dengan sebutan ekor dalam layang-layang adalah penambahan kain panjang yang disambungkan pada bagian bawah layang-layang. Ini ditegaskan agar tidak tertukar dengan pengertian ekor pada model layang-layang bentuk burung. 

a. Layang-layang bentuk Naga

Bentuk naga merupakan bentuk yang pertama kali dikembangkan perusahaan Jaya Sairam dan  layang-layang naga paling banyak penjualannya. Layang layang naga diproduksi bermacam-macam ukuran ada extra small, small, medium, large, dan extra large. Pada ukuran small bentuk ornamen kepala naga agak sederhana, sedangkan pada ukuran medium, large, dan extra large bentuk ornamen kepala semakin detail dan tampak lebih bagus dan lebih galak. 



Untuk layang-layang ukuran large dan extra large, layang-layang ini tidak sepenuhnya untuk dimainkan atau sebagai hiburan tapi bisa juga difungsikan sebagai barang penghias atau pajangan pada tembok. Layang layang bentuk naga bisa ditutup dan dikembangkan sehingga mudah di bawa kemana-mana. 

Konstruksi bantang (kerangka) layang-layang naga terdiri atas:

-  Bantang badan bentuk T

Bantang badan bahan bambunya dibuat lebih besar dan lebih keras, karena bantang badan akan menjadi pegangan dari bantang sayap atas dan sayap bawah, disamping itu bantang badan nantinya juga sebagai tempat mengikat tali timbang.

-  Bantang sayap atas

Bantang sayap atas dipasang pada bantang badan bagian atas. Bantang ini berfungsi menahan tekanan bagian atas layang-layang. Bantang sayap atas dibuat agak lentur agar tidak mudah patah saat diterpa angin. Biasanya diraut mengecil keujung sehingga bagian ujung  akan lebih lentur.

-  Bantang sayap bawah 
Bantang sayap bawah ukurannya lebih pendek dari bantang atas, bantang ini dipasang  pada bantang badan bagian bawah. Bantang ini berfungsi menahan tekanan yang ada dibagian bawah layang-layang.

-  Benang pinggir

Benang pinggir fungsinya menyatukan bentuk menjadi satu kesatuan sehingga lebih kuat menahan terpaan angin.

b.  Layang-layang bentuk monyet

Layang-layang bentuk monyet  bermotif binatang monyet yang berada di pohon kelapa dan duduk  diatas buahnya dengan tangan terhentang dan tangan kiri monyet memegang sebuah kelapa. Ukuranya dibuat bermacam-macam ada extra small, small, medium, large, dan extra large. Konstruksi bantang yang digunakan sama dengan kontruksi bantang pada bentuk naga.


c.   Layang-layang bentuk macan

Layang-layang bentuk macan bermotif macan bersayap dengan mulut terbuka menampakkan wajah garang dengan kedua kaki depannya direntangkan  dan kedua kaki belakang ditekuk. Ukuranya dibuat bermacam-macam ada extra small, small, medium, large, dan extra large. Konstruksi bantang yang digunakan sama dengan konstruksi bantang pada bentuk naga



Layang-layang tidak berekor

a.   Layang-layang kupu-kupu

Layang-layang kupu-kupu bermotif kupu-kupu dengan sayap terbuka dan warna warni penggambarannya secara dekoratif  dan pewarnaanya sayapnya menggunakan tehnik ketul ( seperti pointilisme) dan bergradasi. Ukuranya dibuat bermacam-macam ada extra small, small, medium, large, dan extra large. Konstruksi bantang yang digunakan sama dengan kontruksi bantang pada bentuk naga.

b.  Layang-layang burung

Layang layang bentuk burung ada bermacam-macam seperti bentuk burung elang, burung hantu, burung cendrawasih, dan burung onta. Secara mendasar semua bentuk burung tersebut bermotifnya burung yang sedang terbang, perbedaannya terletak pada hiasan kepala yaitu sesuai dengan bentuk burung yang dibuat. . Ukuranya dibuat bermacam-macam ada extra small, small, medium, large, dan extra large. Kontruksi bantang yang digunakan sama dengan konstruksi bantang pada bentuk naga.  

c.   Layang-layang bentuk capung

Layang-layang bentuk capung bermotif binatang capung dengan dua pasang sayap terbuka. Pewarnaannya menggaunakan tehnik gradasi dengan arsiran. Ukuranya dibuat bermacam-macam ada extra small, small, medium, large, dan extra large.

d.  Layang-layang bentuk kelelawar

Layang-layang kelelawar bermotif kelelawar terbang dengan mulut terbuka. Ukuranya dibuat bermacam-macam ada extra small, small, medium, large, dan extra large. Kontruksi bantang yang di gunakan sama dengan konstruksi bantang pada bentuk naga.

Nilai Estetis dan Fungsional layang-layang di Desa Lodtunduh, 
Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar

Layang-layang bentuk naga

Salah satu dari layang-layang berekor adalah layang-layang bentuk naga yang sangat bagus. Layang-layang naga berbentuk tiruan binatang naga yang bersayap dengan mulut terbuka. Konstruksi bantangnya  bisa ditutup dan dikembangkan sehingga mudah dibawa kemana-mana. Fungsi layang layang naga sebagai benda mainan atau hiburan, pada ukuran medium, large, dan extra large bisa difungsikan sebagai benda hiasan. \

Sebagai informasi tambahan, terkait dengan kepiawaian masyarakat Bali dalam mengolah lingkungannya dalam suatu kegiatan kreatif, kegiatan mendesain yang tak pernah berhenti, bahasan berikut ini mengungkap tentang pemanfaatan uang kepeng di Bali. 


3.3  UANG KEPENG DI BALI

Panji Koming dan Pailul, tokoh kartun ciptaan Dwi Koendoro, masih menggunakan uang “kepeng” untuk kegiatan transaksi jual beli mereka. Kedua tokoh tersebut adalah tokoh zaman Nusantara Lama yang dihadirkan kembali untuk “menyungging” kehidupan masa kini oleh pekartunnya dalam koran Kompas Minggu. Uang kepeng, bagi mereka, adalah nyawa kehidupan sehari-hari. Jauh setelah zaman Panji Koming, di Bali, uang kepeng masih memiliki harga yang tinggi. Bahkan, banyak masyarakat Bali yang sangat bangga bisa memiliki koleksi uang kepeng yang banyak daripada memiliki uang rupiah! 

Bagi Made Gede Koming, penduduk Gianyar, Bali, kepeng juga masih memiliki nilai yang sama dengan rupiah atau dollar, poundsterling, yen, mark, ringgit, dan berjenis duit modern lainnya. Kepeng bisa dirupiahkan. Bahkan, beberapa jenis kepeng bernilai tukar lebih mahal, sekitar 200-300 ribu rupiah per keping. Kepeng yang bergambar tokoh-tokoh wayang seperti Arjuna dan Bima serta gambar binatang seperti jaran dan gajah, misalnya, dianggap memiliki tuah. Malah ada sejenis kepeng yang disebut paica, yang dianggap sebagai anuge-rah kekuatan tertentu. Oleh karena itu, masih banyak masyarakat Bali yang mempercayai hal itu. Koming, pun merasakan derasnya perputaran uang kepeng itu, terutama pada bulan-bulan tertentu.

Keterkaitan masa lalu dengan masa kini, pada masyarakat Bali, sangat kental. Masyarakat Bali yang beragama Hindu masih mengusung pola hidup yang erat kaitannya dengan para leluhur. Kawitan merupakan istilah yang digunakan sebagai sebutan tentang keterkaitan itu. Seorang warga Hindu Bali dianggap tidak bisa lepas dari ikatan asal (wit, ane mula), baik dengan leluhur maupun desa kelahiran. Oleh karena itu, pada setiap upacara besar, orang-orang Bali yang beragama Hindu, yang telah tinggal di luar desa, juga di luar Bali, harus pulang kampung untuk melaksanakan upacara di desa kawitannya. Hal lain yang menunjukkan bahwa masyarakat Bali masih terkait dengn keberadaan catatan masa lalu adalah pemanfaatan uang bolong (pis bolong, jinah bolong) yang biasa disebut ke-peng, dalam aneka kegiatan upacara.

Uang bolong dimaksud adalah uang logam (terbuat dari bahan krawang atau sejenis bahan pembuatan gamelan, kuningan, juga perunggu) yang memiliki lubang pada bagian tengahnya. Lubang pada uang tersebut umumnya berbentuk segi empat. Ada juga yang berbentuk bundar, segi enam sama sisi, juga segi banyak tak beraturan. Orang Belanda menyebutnya Chinesche Duit atau juga Chinese Coins.

Masyarakat Bali yang terkait dengan uang kepeng ini mengenal, paling tidak, lima jenis pis bolong. Ada yang disebut pis lumrah (uang bolong yang paling banyak ditemukan beredar), pis krinyah atau mas (berwarna kuning), pis kuci atau jepun (berwarna hitam, diperkirakan dari Jepang masa lalu), pis lembang (permukaannya rata), dan pis wadon (wadon sangka, bermotif; wadon sari, biasa dipakai untuk pelengkap sajen). Menurut aneka catatan, uang kepeng tersebut terdiri atas tiga kelompok. Kelompok pertama disebut kepeng asli Cina atau Jepang, yaitu kepeng yang berisi tulisan huruf kanji. Kedua, kepepng lokal Nusantara yang berhuruf Jawa Kuno atau Dewanagari, berhuruf Arab, dan berhiasan bentuk wayang atau flora lokal. Ketiga, kepeng “tiruan” buatan masa kini. Kepeng masa kini berkualitas sangat rendah, mudah meleleh ketika terbakar api. Sedangkan kepeng masa lalu, misalnya yang telah menjadi pelengkap upacara pembakaran jenazah (pelebon, ngaben), uang tersebut masih bisa utuh, bisa digunakan lagi.

Kepeng Cina berisi tulisan huruf kanji Cina pada kedua bagian permukaannya (jou), baik pada permukaan atas (mien atau sleh) maupun pada permukaan bawah (pei atau trep). Lubang-nya (hao) berbentuk segi empat sama sisi. Pada bagian muka tertulis informasi  (“legenda”) tentang gelar kaisar Cina yang sedang memerintah. Tulisan tersebut mengisi bagian sleh, mengelilingi hao, bagian atas, kanan, dan kiri. Tipografi dan hiasan tersebut, seperti dicatat oleh Darmayendra (2000) dari sumber Balai Arkeologi Bali, cara membacanya berurutan atas-kanan-bawah-kiri, atau bisa juga atas-bawah-kanan-kiri. 

Selanjutnya, disebutkan ada lima gaya tulisan yang ditemukan dalam kepeng Cina: 1) zhuan shu (seal script style), gaya tulisan melengkung menyerupai materai, yaitu gaya tulisan tertua yang dipakai pada masa Dinasi Sui dan sebelumnya; 2) li shu (square plain script style), gaya tulisan persegi; 3) kai shu (regular script style), gaya tulisan baku; 4) xing shu (running script style), gaya tulisan sambung; dan 5) cao shu (cursive script style), gaya tulisan miring. Bagian trep berisi tulisan tentang nama tempat pembuatan uang kepeng tersebut.

Uang Nusantara Lama ukurannya lebih besar daripada uang Cina. Menurut catatan yang ada pada Museum Bali, ditemukan uang kepeng yang bertuliskan pangeran ratu dengan huruf Jawa Kuno (Dewanagari) yang diperkirakan dari Banten. Lubang yang terdapat pada uang kepeng tersebut berbentuk segi enam beraturan. Tulisan pada sleh disusun melingkari lubang. Pada bagian trep berisi goresan-goresan yang kurang begitu jelas maknanya. Begitu pun pada uang kepeng Palembang. Tulisannya, huruf Arab, disusun melingkari lubang yang bentuknya membundar. Tulisan pada bagian sleh: Hadza Fulus fi Balad Palembang 1198. Bagian trepnya polos tanpa tulisan apapun.

Tulisan-tulisan tersebut, kini, tidak menunjukkan harga satuan uang kepeng yang sebenarnya, karena perhitungannya dalam transaksi adalah jumlah biji uang tersebut. Satu biji uang kepeng disebut keteng, aketeng. Di pasar uang kepeng, misalnya di Gianyar, masyarakat mengenal jumlah kepeng tertentu yang dijual secara ikatan. Uang kepeng, untuk memudahkan pendistribusiannya, sekaligus juga berkaitan dengan kepercayaan tertentu, diikat dengan benang tukelan untuk kepeng yang jumlahnya 25 (selae keteng), diikat dengan tali tali bambu (200 biji, satak keteng), dan diikat dengan tali ampen, tali serat (1.000 biji, siu keteng). Tetapi untuk satuan jumlah kepeng yang disebut satak, jumlahnya dikurangi sebanyak 5 biji yang disebut long, dan satuan siu keteng dikurangi 25 biji.

Tentang pengurangan tersebut, ada yang menyebutkan untuk mengurangi “pembengkakan hitungan (embet)” dalam transaksi. Tetapi, alasan-alasan tentang masalah pengurangan tersebut belum begitu jelas. Sidemen (1998) mencatat, model pengurangan seperti itu ditemukan juga dalam perhitungan uang kepeng (satuannya disebut picis) di Jawa, setiap pembayaran 1 puon (1.000 picis) selalu dikurangi 30 picis. Ngurah Nala dan Adia Wiratmadja (1991) menjelaskan bahwa dalam setiap korban suci (yadnya) di Bali dilengkapi dengan aneka simbol berupa sesajen. Sesajen tersebut dibuat dari unsur tumbuh-tumbuhan, binatang, termasuk mineral. Uang kepang dianggap memiliki unsur-unsur panca datu (lima jenis logam): emas, perak, tembaga, besi,  dan logam campuran.  Kelima  unsur tadi, menurut Sudana dan Budiastra (1999) bertalian dengan konsep keseimbangan dunia dalam faham agama Hindu. Emas di Barat, perak di Timur, tembaga di Selatan, dan besi di Utara. Sedangkan di tengahtengah adalah besi campuran. Semua itu dihubungkan dengan posisi nama-nama dewa Mahadewa, Iswara, Brahma, Wisnu, dan Syiwa dalam kepercayaan Hindu. Oleh karena itu, uang kepeng biasa dijadikan sebagai pengganti unsur-unsur logam tersebut.
Uang kepeng digunakan sebagai salah satu pelengkap sesajen (persembahan) dalam upacara. Panca yadnya adalah upacara yang terkait dengan keberadaan kepeng tersebut, terdiri atas dewa yadnya, rsi yadnya, pitra yadnya, manusa yadnya, dan butha yadnya. Pitra yadnya dan manusa yadnya, terutama, yang banyak memerlukan kelengkapan kepeng. Karena rutinnya upacara-upacara tersebut, pemakaian uang kepeng tidak pernah berhenti. Pada bulan Juli – September, setiap tahun, pesanan uang kepeng meningkat keras. Pada bulan-bulan tadi transaksi jual-beli uang kepeng di pasar  tradisional  Bali menjadi masa paling ramai, bertalian dengan bulan upacara bagi masyarakat Hindu.

Permintaan pasar tidak sebanding dengan ketersediaan kepeng. Apalagi ketersediaan kepeng Cina, kepeng asli, sudah semakin berkurang. Kesulitan tadi terkait juga dengan akar kreasi seniman Bali sendiri yang cenderung merambah hal-hal yang baru yang bisa diuangkan. Bentuk gubahan patung yang bahannya dari uang kepeng adalah salah satu yang terkait erat dengan hal tadi. Kesulitan-kesulitan tersebut, kemudian, mendatangkan cara baru dalam menaggulangi kekurangan uang kepeng. Kini, banyak kepeng baru, buatan baru, yang “dianggap” bisa menutupi kebutuhan terhadap kepeng. Tetapi, banyak masyarakat Hindu yang kemudian merasa kurang sempurna aktivitas upacaranya ketika memakai kepeng buatan baru, karena kualitas uang baru itu lebih buruk daripada uang yang asli. Kepeng baru, tampaknya, dibuat dengan perhitungan yang sangat ekonomis, tidak tahan lama, agar produksi bisa tetap berjalan.

Kelangkaan kepeng asli, secara sejarah, juga pernah terkait dengan sikap pemerintah Belanda yang ingin menghilangkan fungsi kepepng tersebut sebagai uang pembayaran yang syah pada saat itu. Tetapi, keteguhan masyarakat Bali dalam mempertahankan keberadaan kepeng sebagai sarana upacara, khususnya, melunturkan keinginan Belanda, sehingga penggunaan kepeng dalam keseharian masyarakat Bali saat itu tidak dipermasalahkan lagi. Bahkan, hingga kini, kepeng tetap memiliki nilai khusus sebagai uang masa lalu yang berharga. Bagitupun keberlanjutan dan kelangkaannya telah menggubgah para pengolah logam untuk membuat jenis uang kepeng baru, sekalipun dengan kualitas bahan yang lebih rendah dan berharga lebih murah dibanding uang kepeng asli. 

Harga uang kepeng, seperti diakui oleh salah seorang penjual kepeng di Klungkung, cukup beragam. Jenis uang kepeng lama, uang berwarna emas Rp 800,00 perbiji, uang kuci yang berwarna hitam Rp 900,00 perbiji, dan uang lumrah Rp 500,00 perbiji. Jenis uang kepeng “baru” terdiri atas uang super (warna kuning) Rp 20.000,00 per 200 biji, uang kuci Rp 15.000,00 per 200 biji, dan uang lumrah Rp 12.000,00 per 200 biji. 

PUSTAKA RUJUKAN

“Art”, Chambers’s Encyclopedia, Vol. 1. London: George Newnes Limited
“Art”, Collier’s Encyclopedia, Vol. 2. Canada: MacMillan Educational Corporation “Art”, The Encyclopedia Americana, Vol. 2. New York: American Corporation Echols, John M. dan Hassan Shadily. 1990. Kamus Inggris Indonesia. Jakarta:         Gramedia
Heskett, John. 1980. Desain Industri. Diterjemahkan oleh Chandra Johan dan Agus         Sachari. Jakarta: Rajawali
Luzadder, Warren J. 1981. Menggambar Teknik Untuk Disain, Pengembangan 
       Produk, dan Kontrol Numerik. Jakarta: Erlangga
Moeliono, Anton M. (djp). 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai         Pustaka
Myers, Bernard S. 1958. Understanding The Arts. New York: Holt, Rinehart and         Winston, Inc
Sachari, Agus (Ed.). 1986. Paradigma Desain Indonesia. Jakarta: Rajawali Sudjoko. 1988. “Seni-Budaya Tahun 2000”, dalam Perubahan, Pembaruan, dan         Kesadaran Menghadapi Abad Ke-21. Jakarta: Dian Rakyat
Supangkat, Jim. 1992. “Kembali Ke Satu Seni Rupa”, Katalog Jakarta Art & Design         Expo 1992
Wojowasito, S. 1982. Kamus Inggeris Indonesia. Bandung: Pangarang   


No comments:

Post a Comment