Posisi Bidang Kerja Desain dalam Seni Rupa
Pada kesempatan saya kali ini saya akan membawakan marteri selanjutnya dari mata kuliah TINJAUAN SENI. Materi ini akan menjelaskan mengenai Posisi Bidang Kerja
Desain dalam Seni Rupa
Posisi Bidang Kerja
Desain dalam Seni Rupa
1. Fenomena
Desain
Istilah desain telah banyak digunakan di dalam aneka
jenis kegiatan masa kini. Tetapi, pengertian tentangnya belum dipahami secara
menyeluruh. Pengertian desain, dalam kamus umum sama dengan konstruksi, pola
(Echols dan Shadily, 1990: 177); rencana (Wojowasito, 1982: 104); gagasan awal,
rancangan, perencanaan, susunan, projek, hasil yang tepat, produksi, membuat,
mencipta, menyiapkan, menyusun, meningkatkan, pikiran, maksud, kejelasan
(Webster, 1974: 207); gubahan, ciptaan, bentukan, dan rangkuman.
Dalam pengertian praktis, Luzadder (1986: 243 - 244)
menyebutkan batasan tentang pengertian desain: “(1) membentuk atau menyusun
dalam fikiran, (2) mengusahakan suatu rencana, (3) merencanakan dan membentuk
(fashion) suatu sistim (konstruksi) dan (4) mengolah sketsa pendahuluan
dan/atau rencana untuk sustu sistim yang harus dibuat”. Tetapi, dalam
kebanyakan penggunaannya istilah kata ini dipakai sebagai padan kata rancangan.
Istilah merancang (kata kerja) bisa berarti menggubah sesuatu yang baru;
menyusun sesuatu yang telah ada menjadi sesuatu yang baru, cara baru, untuk
meningkatkan daya guna. Atau yang lebih lebih ekstrem, merancanga adalah
merencanakan sesuatu yang baru sama sekali. Kegiatan merancang, seperti
ditegaskan oleh Luzadder (ibid: 243 - 244) “merupakan seni dan sekaligus ilmu
pengetahuan”. Kata desain ini (sekitar tahun 2000-an), belum masuk ke dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) maupun Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI).
Saliya (dalam Sachari, 1986: 28) menulis:
“Tampaknya pengertian desain di Indonesia lelbih
mengarah kepada kegiatannya, bukan ke konsepnya. Ini dapat dilihat dari
sulitnya menerjemahkan kata ‘design’ ke dalam Bahasa Indonesia. Sementara ini
ada kesepakatan-terbatas (Arsitektur) untuk menerjemahkannya dengan
‘(me)-rancang-(an)’; yang tidak puas dengan terjemahan itu membuatnya dengan
mengindonesiakan menjadi ‘desain’ atau ‘disain’.”
Desain adalah proses dan juga hasil dari proses.
Proses meliputi konsep gagasan dan metode. Hasil dari proses mencakup gaya dan
estetika. Secara nyata proses dan hasil dari proses itu terkait dengan pengaruh
dari luar seperti kemajuan sains dan teknologi; lingkungan sosial budaya; dan
kaidah estetika yang berlaku. Oleh karena itu, desain tidak netral, tidak bisa
menentukan perkembangan dirinya sendiri.
Berkembangnya kegiatan desain sejalan dengan kebutuhan
industri. Heskett (1980: 6) menulis:
“Pertumbuhan perdagangan pada jaman pertengahan
merupakan suatu fase yang amat penting bagi perkembangan menuju spesialisasi.Di
negara-negara Eropa Barat yang sedang berkembang seperti Florentina, Venesia,
Neremberg dan Bruges, bengkelbengkel besar dikembangkan untuk melayani
selera-selera canggih (sophisticated) kehidupan istana, gereja-gereja dan
saudagar-saudagar kaya. Kendati keahlian tradisional dan teknik-tekniknya masih
tetap kuat, akan tetapi kecakapan itu sudah terspesialisasi. Tidak sedikit
barang-barang sejenis telah dibuat oleh para pengrajinpengrajin di kota yang
tinggi tingkat kecakapan dan kepekaan seninya dengan proses produksi yang masih
berdasarkan metode kerajinan (craft methods) untuk memperbanyak model-model
yang telah dibuat. Karena itu batas antara seniman dan pengrajin masih bebaur,
ini tergantung dari kadar kemampuan yang diperoleh lewat pengalaman dan teknik
yang berlaku pada masa itu, ketimbang pada perbedaan sifat dan jenis
kegiatannya”.
Ketika disadari bahwa produk yang sama tetapi dengan
desain yang berbeda memberi pengaruh lebih baik kepada perhatian pengguna, maka
pengembangan produk benda merupakan suatu hal yang tak bisa ditunda. Friendrich
Naumann, seorang pengarang dan politikus, tahun 1906 menulis sebuah artikel
tentang perlunya pendekatan baru dalam memecahkan masalah-maslah yang dihadapi
oleh industri. Naumann kembali menegaskan bahwa antara seniman, produser, dan
penjual, harus berada dalam kondisi kerja sama. Selanjutnya ia menegaskan bahwa
antara seniman (unsur estetis) dengan mesin (unsur produktif) harus dipadukan
sehingga “sejak adanya keinginan memproduksi desain secara mekanis, estetika
baru harus ditemukan, karena memproduksi secara manual (dengan tangan) akan
menyia-nyiakan kemampuan mesin. Seni yang belum sempurna ini harus
disempurnakan, dan mesin harus diberi roh dan dipakai sebagai pendidikan cita
rasa”.
2. Desain
Sebagai Bidang Kegiatan Seni Rupa
Pengelompokan hasil kegiatan seni rupa menjadi seni
murni dan seni terap, seperti telah diuraikan, menunjukkan posisi pelakunya.
Istilah seni terap digunakan untuk menunjuk karya-karya yang dibuat oleh para
pedesa. Sementara itu, sebutan seni murni ditujukan kepada karya-karya yang
dibuat oleh para pekota. Tetapi, seni terap itu, pada kenyataannya, digarap
juga oleh orang-orang kota yang selam ini merasa berbeda posisi (baca: lebih
tinggi tingkat sosialnya) dibanding orang desa. Agar posisi orang kota
penggarap seni terap tidak ikut diremehkan, maka mereka menerapkan penanda
sebutan khusus kepada produk mereka, bahwa produk mereka dikerjakan berdasarkan
konsep tertentu. Konsep dalam berkarya diposisikan sebagai pembeda antara
pedesa dengan pekota. Padahal, konsep tersebut, tentu ada dalam dua kondisi
yang tidak sama: yang maujud (digembar-gemborkan, dipresentasikan, dibukukan
dalam teori) dan yang tidak maujud, tidak pernah dipresentasikan, tidak peprnah
diangkat sebagai bahan wacana, apalagi perdebatan. Konsep tersebut dianggap
mendasari penyebutan istilah desain!
Tak bisa dipungkiri, desain telah menjadi satu label
keberhasilan benda produk. Sejalan dengan pemikiran masyarakat kota yang lebih
terdidik, benda produk dilahirkan dalam kesenggangan pencarian. Kebaruan,
kelainan, keunikan sebagai gambaran tuntutan pola pikir para medernis, baik
dalam hal bentuk maupun aneka kemungkinannya, telah dipadukan dengan produk
desain mereka. Aneka riset dilakukan untuk mengembangkan temuan desain baru.
Sejarah mencatat bidang seni rupa ini telah menjadi contoh keberhasila yang
luar biasa.
Manusia bisa terlibat dalam produk desain setiap
waktu, tanpa disadari. Mulai bangun tidur, menjalankan kewajiban harian, hingga
menjelang tidur kembali, manusia selalu berhadapan dan ada di dalam penggunaan
produk desain. Menarik sekali apa yang dijadikan tema Orasi Ilmiah Dr. Sanento
Yuliman dalam Dies Natalis ITB tahun 1990an, tentang posisi karya seni rupa
dalam semua sisi kehidupan manusia. Pemaparan tersebut adalah upaya Sanento
untuk menyadarkan masyarakat ilmiah bidang teknologi yang kerap kurang bijak
dalam menempatkan bidang kajian seni rupa dalam hubungannya dengan bidang
teknologi.
3. Desain
Yang Tak Pernah Berhenti
Berikuti ini adalah contoh desain yang tak pernah
berhenti yang dilakukan juga oleh masyarakat desa. Cuma, karena mereka tidak
pernah mau menggembar-gemborkan temuan, konsep, atau keinginan berbeda
dibanding masyarakat yang lain, perubahanperubahan itu tidak pernah mengemuka.
Tulisan tentang 40-an jenis tipat
(ketupat, kemasan ketupat) yang menggambarkan desain yang tak pernah berhenti,
ditulis oleh Ketut Kendi Paradika, S.Pd. berupa laporan sebagian hasil
penelitiannya dalam menyelesaikan tugas kahir program S-1 di Jurusan Pendidikan
Seni Rupa, FBSUNDIKSHA (Tipat Banten di Desa Kaliasem, Buleleng, 2008).
Beberapa di antaranya dijelaskan dengan uraian cara pembuatannya. Di samping
itu, disertakan pula sebagai perbandingan, hasil penelitian untuk keperluan
yang sama dan di jurusan yang sama, yang dilaporkan oleh I Wayan Alit Angga
Wasta (Kerajinan Layang-Layang di Desa Lodtunduh, Kecamatan Ubud, 2007).
3.1 JENIS
ATAU BENTUK RUPA TIPAT BANTEN DI DESA KALIASEM,
KECAMATAN BANJAR, KABUPATEN BULELENG
Jenis tipat banten memiliki bentuk yang sangat
beragam. Bentuk menjadi identitas dimana dan kapan tipat tersebut digunakan,
Secara religius tipat yang dibuat sedemikian rupa merupakan pelengkap upakara
atau banten, dibalik fungsinya tersebut jika diamati tipat banten juga memiliki
unsur estetika baik itu keindahan dan keunikan tersendiri.
Jenis atau bentuk tipat banten sesuai dengan data yang
diperoleh di desa Kaliasem, kecamatan Banjar, kabupaten Buleleng, antara lain
adalah sebagai berikut :
Tipat Nasi
Tipat nasi merupakan tipat yang banyak dijumpai pada
berbagai perlengkapan upakara atau banten. Bentuknya menyerupai segi empat atau
belah ketupat, dengan panjang sisinya ± 5 cm. Tipat Nasi dapat disebut dengan
tipat Kelanan. Disebut tipat kelanan jika berjumlah 6 (enam) sesuai dengan
keperluan upakara.
Tipat Sirikan
Tipat Sirikan bentuknya menyerupai tipat nasi, namun
bentuk tipat sirikan lebih pipih dan menyerupai segi empat jajaran genjang,
Tipat sirikan juga dapat disebut tipat Kelanan jika berjumlah 6 (enam). Umumnya tipat sirikan panjang sisinya ± 6 cm.
Tipat Mrasada
Tipat ini merupakan tipat yang berukuran kecil,
bentuknya segi empat jajaran genjang mirip dengan tipat sirikan hanya saja
tipat mrasada ukurannya lebih kecil karena hanya terbuat dari setengah pilah
dari helai busung janur. Ukuran panjang sisinya ± 4 cm.
Tipat Galeng
Tipat galeng bentuknya menyerupai galeng (bahasa Bali)
yang artinya bantal.
Berbentuk segi empat pipih menyerupai tipat sirikan
namun lebih memanjang. Ukurannya ± 5 Cm x 10 Cm.
Tipat Dampulan
Tipat dampulan bentuknya segi empat jajaran genjang.
Bentuknya hampir sama dengan tipat sirikan, hanya saja bentuknya lebih besar
dan dua sudutnya lebih turun ke bawah, serta pada salah satu bagian sudutnya
dihiasi dengan jalinan bentuk kepala burung. Tipat ini memiliki ukuran panjang
masing-masing sisinya ± 7 cm
Tipat Gong
Tipat gong merupakan tipat yang berbentuk instrument
gamelan Bali yang disebut gong, bentuk tipat gong mirip dengan tipat sirikan
namun ukurannya lebih besar dan ada tonjolan segi empat di bagian atasnya.
Ukuran panjang sisi bawah ± 8 cm, dan sisi tonjolan di atasnya 3 cm.
Tipat Panggul
Tipat panggul merupakan tipat pendamping dari tipat
gong, bentuknya menyerupai alat pemukul gamelan gong yang disebut panggul.
Bentuknya bulat agak memanjang dengan bentuk pegangan bulat lebih kecil dan
lebih memanjang lagi, panjang keseluruhannya ± 6 cm, dengan panjang bulatan
panggul sekitar 3 cm, dan panjang pegangannya 3 cm.
Tipat Taluh
Dilihat dari namanya taluh (bahasa Bali) artinya
adalah telor. Jadi bentuk tipat taluh ini bulat menyerupai telor, panjang
diameternya ± 4 cm.
Tipat Gatep
Tipat ini secara keseluruhan bentuknya menyerupai buah
gatep. Bentuknya bulat tersusun dari beberapa sudut yang berdiagonal. Tipat ini
beurukuran kecil dengan diameter ± 2 cm. dan masih banyak lagi.
Uraian berikut adalah sebagian dari laporan hasil
penelitian skripsi tentang layanglayang.
3.2 BENTUK LAYANG-LAYANG DI DESA LODTUNDUH, KECAMATAN UBUD, KABUPATEN GIANYAR
Layang-layang berekor
Yang dimaksud dengan sebutan ekor dalam layang-layang
adalah penambahan kain panjang yang disambungkan pada bagian bawah
layang-layang. Ini ditegaskan agar tidak tertukar dengan pengertian ekor pada
model layang-layang bentuk burung.
a. Layang-layang bentuk Naga
Bentuk naga merupakan bentuk yang pertama kali
dikembangkan perusahaan Jaya Sairam dan
layang-layang naga paling banyak penjualannya. Layang layang naga
diproduksi bermacam-macam ukuran ada extra small, small, medium, large, dan
extra large. Pada ukuran small bentuk ornamen kepala naga agak sederhana,
sedangkan pada ukuran medium, large, dan extra large bentuk ornamen kepala
semakin detail dan tampak lebih bagus dan lebih galak.
Untuk layang-layang ukuran large dan extra large,
layang-layang ini tidak sepenuhnya untuk dimainkan atau sebagai hiburan tapi
bisa juga difungsikan sebagai barang penghias atau pajangan pada tembok. Layang
layang bentuk naga bisa ditutup dan dikembangkan sehingga mudah di bawa
kemana-mana.
Konstruksi bantang (kerangka) layang-layang naga
terdiri atas:
- Bantang
badan bentuk T
Bantang badan bahan bambunya dibuat lebih besar dan
lebih keras, karena bantang badan akan menjadi pegangan dari bantang sayap atas
dan sayap bawah, disamping itu bantang badan nantinya juga sebagai tempat mengikat
tali timbang.
- Bantang
sayap atas
Bantang sayap atas dipasang pada bantang badan bagian
atas. Bantang ini berfungsi menahan tekanan bagian atas layang-layang. Bantang
sayap atas dibuat agak lentur agar tidak mudah patah saat diterpa angin. Biasanya
diraut mengecil keujung sehingga bagian ujung
akan lebih lentur.
- Bantang
sayap bawah
Bantang sayap bawah ukurannya lebih pendek dari
bantang atas, bantang ini dipasang pada
bantang badan bagian bawah. Bantang ini berfungsi menahan tekanan yang ada
dibagian bawah layang-layang.
- Benang
pinggir
Benang pinggir fungsinya menyatukan bentuk menjadi
satu kesatuan sehingga lebih kuat menahan terpaan angin.
b. Layang-layang
bentuk monyet
Layang-layang bentuk monyet bermotif binatang monyet yang berada di pohon
kelapa dan duduk diatas buahnya dengan
tangan terhentang dan tangan kiri monyet memegang sebuah kelapa. Ukuranya
dibuat bermacam-macam ada extra small, small, medium, large, dan extra large.
Konstruksi bantang yang digunakan sama dengan kontruksi bantang pada bentuk
naga.
c. Layang-layang
bentuk macan
Layang-layang bentuk macan bermotif macan bersayap
dengan mulut terbuka menampakkan wajah garang dengan kedua kaki depannya
direntangkan dan kedua kaki belakang
ditekuk. Ukuranya dibuat bermacam-macam ada extra small, small, medium, large,
dan extra large. Konstruksi bantang yang digunakan sama dengan konstruksi
bantang pada bentuk naga
Layang-layang tidak berekor
a. Layang-layang
kupu-kupu
Layang-layang kupu-kupu bermotif kupu-kupu dengan
sayap terbuka dan warna warni penggambarannya secara dekoratif dan pewarnaanya sayapnya menggunakan tehnik
ketul ( seperti pointilisme) dan bergradasi. Ukuranya dibuat bermacam-macam ada
extra small, small, medium, large, dan extra large. Konstruksi bantang yang
digunakan sama dengan kontruksi bantang pada bentuk naga.
b. Layang-layang
burung
Layang layang bentuk burung ada bermacam-macam seperti
bentuk burung elang, burung hantu, burung cendrawasih, dan burung onta. Secara
mendasar semua bentuk burung tersebut bermotifnya burung yang sedang terbang,
perbedaannya terletak pada hiasan kepala yaitu sesuai dengan bentuk burung yang
dibuat. . Ukuranya dibuat bermacam-macam ada extra small, small, medium, large,
dan extra large. Kontruksi bantang yang digunakan sama dengan konstruksi
bantang pada bentuk naga.
c. Layang-layang
bentuk capung
Layang-layang bentuk capung bermotif binatang capung
dengan dua pasang sayap terbuka. Pewarnaannya menggaunakan tehnik gradasi
dengan arsiran. Ukuranya dibuat bermacam-macam ada extra small, small, medium,
large, dan extra large.
d. Layang-layang
bentuk kelelawar
Layang-layang kelelawar bermotif kelelawar terbang
dengan mulut terbuka. Ukuranya dibuat bermacam-macam ada extra small, small,
medium, large, dan extra large. Kontruksi bantang yang di gunakan sama dengan
konstruksi bantang pada bentuk naga.
Nilai Estetis dan Fungsional layang-layang di Desa
Lodtunduh,
Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar
Layang-layang bentuk naga
Salah satu dari layang-layang berekor adalah
layang-layang bentuk naga yang sangat bagus. Layang-layang naga berbentuk
tiruan binatang naga yang bersayap dengan mulut terbuka. Konstruksi
bantangnya bisa ditutup dan dikembangkan
sehingga mudah dibawa kemana-mana. Fungsi layang layang naga sebagai benda
mainan atau hiburan, pada ukuran medium, large, dan extra large bisa
difungsikan sebagai benda hiasan. \
Sebagai informasi tambahan, terkait dengan kepiawaian
masyarakat Bali dalam mengolah lingkungannya dalam suatu kegiatan kreatif,
kegiatan mendesain yang tak pernah berhenti, bahasan berikut ini mengungkap
tentang pemanfaatan uang kepeng di Bali.
3.3 UANG
KEPENG DI BALI
Panji Koming dan Pailul, tokoh kartun ciptaan Dwi
Koendoro, masih menggunakan uang “kepeng” untuk kegiatan transaksi jual beli
mereka. Kedua tokoh tersebut adalah tokoh zaman Nusantara Lama yang dihadirkan
kembali untuk “menyungging” kehidupan masa kini oleh pekartunnya dalam koran
Kompas Minggu. Uang kepeng, bagi mereka, adalah nyawa kehidupan sehari-hari.
Jauh setelah zaman Panji Koming, di Bali, uang kepeng masih memiliki harga yang
tinggi. Bahkan, banyak masyarakat Bali yang sangat bangga bisa memiliki koleksi
uang kepeng yang banyak daripada memiliki uang rupiah!
Bagi Made Gede Koming, penduduk Gianyar, Bali, kepeng
juga masih memiliki nilai yang sama dengan rupiah atau dollar, poundsterling,
yen, mark, ringgit, dan berjenis duit modern lainnya. Kepeng bisa dirupiahkan.
Bahkan, beberapa jenis kepeng bernilai tukar lebih mahal, sekitar 200-300 ribu
rupiah per keping. Kepeng yang bergambar tokoh-tokoh wayang seperti Arjuna dan
Bima serta gambar binatang seperti jaran dan gajah, misalnya, dianggap memiliki
tuah. Malah ada sejenis kepeng yang disebut paica, yang dianggap sebagai
anuge-rah kekuatan tertentu. Oleh karena itu, masih banyak masyarakat Bali yang
mempercayai hal itu. Koming, pun merasakan derasnya perputaran uang kepeng itu,
terutama pada bulan-bulan tertentu.
Keterkaitan masa lalu dengan masa kini, pada
masyarakat Bali, sangat kental. Masyarakat Bali yang beragama Hindu masih
mengusung pola hidup yang erat kaitannya dengan para leluhur. Kawitan merupakan
istilah yang digunakan sebagai sebutan tentang keterkaitan itu. Seorang warga
Hindu Bali dianggap tidak bisa lepas dari ikatan asal (wit, ane mula), baik dengan leluhur maupun desa kelahiran. Oleh
karena itu, pada setiap upacara besar, orang-orang Bali yang beragama Hindu,
yang telah tinggal di luar desa, juga di luar Bali, harus pulang kampung untuk
melaksanakan upacara di desa kawitannya. Hal lain yang menunjukkan bahwa
masyarakat Bali masih terkait dengn keberadaan catatan masa lalu adalah
pemanfaatan uang bolong (pis bolong,
jinah bolong) yang biasa disebut ke-peng, dalam aneka kegiatan upacara.
Uang bolong dimaksud adalah uang logam (terbuat dari
bahan krawang atau sejenis bahan pembuatan gamelan, kuningan, juga perunggu)
yang memiliki lubang pada bagian tengahnya. Lubang pada uang tersebut umumnya
berbentuk segi empat. Ada juga yang berbentuk bundar, segi enam sama sisi, juga
segi banyak tak beraturan. Orang Belanda menyebutnya Chinesche Duit atau juga Chinese
Coins.
Masyarakat Bali yang terkait dengan uang kepeng ini
mengenal, paling tidak, lima jenis pis bolong. Ada yang disebut pis lumrah
(uang bolong yang paling banyak ditemukan beredar), pis krinyah atau mas
(berwarna kuning), pis kuci atau jepun (berwarna hitam, diperkirakan dari
Jepang masa lalu), pis lembang (permukaannya rata), dan pis wadon (wadon
sangka, bermotif; wadon sari, biasa dipakai untuk pelengkap sajen). Menurut
aneka catatan, uang kepeng tersebut terdiri atas tiga kelompok. Kelompok
pertama disebut kepeng asli Cina atau Jepang, yaitu kepeng yang berisi tulisan
huruf kanji. Kedua, kepepng lokal Nusantara yang berhuruf Jawa Kuno atau
Dewanagari, berhuruf Arab, dan berhiasan bentuk wayang atau flora lokal.
Ketiga, kepeng “tiruan” buatan masa kini. Kepeng masa kini berkualitas sangat
rendah, mudah meleleh ketika terbakar api. Sedangkan kepeng masa lalu, misalnya
yang telah menjadi pelengkap upacara pembakaran jenazah (pelebon, ngaben), uang
tersebut masih bisa utuh, bisa digunakan lagi.
Kepeng Cina berisi tulisan huruf kanji Cina pada kedua
bagian permukaannya (jou), baik pada
permukaan atas (mien atau sleh) maupun pada permukaan bawah (pei atau trep). Lubang-nya (hao)
berbentuk segi empat sama sisi. Pada bagian muka tertulis informasi (“legenda”) tentang gelar kaisar Cina yang
sedang memerintah. Tulisan tersebut mengisi bagian sleh, mengelilingi hao,
bagian atas, kanan, dan kiri. Tipografi dan hiasan tersebut, seperti dicatat
oleh Darmayendra (2000) dari sumber Balai Arkeologi Bali, cara membacanya
berurutan atas-kanan-bawah-kiri, atau bisa juga atas-bawah-kanan-kiri.
Selanjutnya, disebutkan ada lima gaya tulisan yang
ditemukan dalam kepeng Cina: 1) zhuan shu (seal script style), gaya tulisan
melengkung menyerupai materai, yaitu gaya tulisan tertua yang dipakai pada masa
Dinasi Sui dan sebelumnya; 2) li shu (square
plain script style), gaya tulisan persegi; 3) kai shu (regular script style), gaya tulisan baku; 4) xing shu (running script style), gaya tulisan sambung; dan 5) cao shu (cursive script style), gaya tulisan
miring. Bagian trep berisi tulisan tentang nama tempat pembuatan uang kepeng
tersebut.
Uang Nusantara Lama ukurannya lebih besar daripada
uang Cina. Menurut catatan yang ada pada Museum Bali, ditemukan uang kepeng
yang bertuliskan pangeran ratu dengan huruf Jawa Kuno (Dewanagari) yang
diperkirakan dari Banten. Lubang yang terdapat pada uang kepeng tersebut
berbentuk segi enam beraturan. Tulisan pada sleh disusun melingkari lubang.
Pada bagian trep berisi goresan-goresan yang kurang begitu jelas maknanya.
Begitu pun pada uang kepeng Palembang. Tulisannya, huruf Arab, disusun
melingkari lubang yang bentuknya membundar. Tulisan pada bagian sleh: Hadza Fulus fi Balad Palembang 1198.
Bagian trepnya polos tanpa tulisan apapun.
Tulisan-tulisan tersebut, kini, tidak menunjukkan
harga satuan uang kepeng yang sebenarnya, karena perhitungannya dalam transaksi
adalah jumlah biji uang tersebut. Satu biji uang kepeng disebut keteng,
aketeng. Di pasar uang kepeng, misalnya di Gianyar, masyarakat mengenal jumlah
kepeng tertentu yang dijual secara ikatan. Uang kepeng, untuk memudahkan
pendistribusiannya, sekaligus juga berkaitan dengan kepercayaan tertentu,
diikat dengan benang tukelan untuk kepeng yang jumlahnya 25 (selae keteng),
diikat dengan tali tali bambu (200 biji, satak keteng), dan diikat dengan tali
ampen, tali serat (1.000 biji, siu keteng). Tetapi untuk satuan jumlah kepeng
yang disebut satak, jumlahnya dikurangi sebanyak 5 biji yang disebut long, dan
satuan siu keteng dikurangi 25 biji.
Tentang pengurangan tersebut, ada yang menyebutkan
untuk mengurangi “pembengkakan hitungan (embet)” dalam transaksi. Tetapi,
alasan-alasan tentang masalah pengurangan tersebut belum begitu jelas. Sidemen
(1998) mencatat, model pengurangan seperti itu ditemukan juga dalam perhitungan
uang kepeng (satuannya disebut picis) di Jawa, setiap pembayaran 1 puon (1.000 picis) selalu dikurangi 30
picis. Ngurah Nala dan Adia Wiratmadja (1991) menjelaskan bahwa dalam setiap
korban suci (yadnya) di Bali
dilengkapi dengan aneka simbol berupa sesajen. Sesajen tersebut dibuat dari unsur
tumbuh-tumbuhan, binatang, termasuk mineral. Uang kepang dianggap memiliki
unsur-unsur panca datu (lima jenis logam): emas, perak, tembaga, besi, dan logam campuran. Kelima
unsur tadi, menurut Sudana dan Budiastra (1999) bertalian dengan konsep
keseimbangan dunia dalam faham agama Hindu. Emas di Barat, perak di Timur,
tembaga di Selatan, dan besi di Utara. Sedangkan di tengahtengah adalah besi
campuran. Semua itu dihubungkan dengan posisi nama-nama dewa Mahadewa, Iswara,
Brahma, Wisnu, dan Syiwa dalam kepercayaan Hindu. Oleh karena itu, uang kepeng
biasa dijadikan sebagai pengganti unsur-unsur logam tersebut.
Uang kepeng digunakan sebagai salah satu pelengkap
sesajen (persembahan) dalam upacara. Panca yadnya adalah upacara yang terkait
dengan keberadaan kepeng tersebut, terdiri atas dewa yadnya, rsi yadnya, pitra
yadnya, manusa yadnya, dan butha yadnya. Pitra yadnya dan manusa yadnya,
terutama, yang banyak memerlukan kelengkapan kepeng. Karena rutinnya
upacara-upacara tersebut, pemakaian uang kepeng tidak pernah berhenti. Pada
bulan Juli – September, setiap tahun, pesanan uang kepeng meningkat keras. Pada
bulan-bulan tadi transaksi jual-beli uang kepeng di pasar tradisional
Bali menjadi masa paling ramai, bertalian dengan bulan upacara bagi
masyarakat Hindu.
Permintaan pasar tidak sebanding dengan ketersediaan
kepeng. Apalagi ketersediaan kepeng Cina, kepeng asli, sudah semakin berkurang.
Kesulitan tadi terkait juga dengan akar kreasi seniman Bali sendiri yang
cenderung merambah hal-hal yang baru yang bisa diuangkan. Bentuk gubahan patung
yang bahannya dari uang kepeng adalah salah satu yang terkait erat dengan hal
tadi. Kesulitan-kesulitan tersebut, kemudian, mendatangkan cara baru dalam
menaggulangi kekurangan uang kepeng. Kini, banyak kepeng baru, buatan baru,
yang “dianggap” bisa menutupi kebutuhan terhadap kepeng. Tetapi, banyak
masyarakat Hindu yang kemudian merasa kurang sempurna aktivitas upacaranya
ketika memakai kepeng buatan baru, karena kualitas uang baru itu lebih buruk
daripada uang yang asli. Kepeng baru, tampaknya, dibuat dengan perhitungan yang
sangat ekonomis, tidak tahan lama, agar produksi bisa tetap berjalan.
Kelangkaan kepeng asli, secara sejarah, juga pernah
terkait dengan sikap pemerintah Belanda yang ingin menghilangkan fungsi kepepng
tersebut sebagai uang pembayaran yang syah pada saat itu. Tetapi, keteguhan
masyarakat Bali dalam mempertahankan keberadaan kepeng sebagai sarana upacara,
khususnya, melunturkan keinginan Belanda, sehingga penggunaan kepeng dalam
keseharian masyarakat Bali saat itu tidak dipermasalahkan lagi. Bahkan, hingga
kini, kepeng tetap memiliki nilai khusus sebagai uang masa lalu yang berharga.
Bagitupun keberlanjutan dan kelangkaannya telah menggubgah para pengolah logam
untuk membuat jenis uang kepeng baru, sekalipun dengan kualitas bahan yang
lebih rendah dan berharga lebih murah dibanding uang kepeng asli.
Harga uang kepeng, seperti diakui oleh salah seorang
penjual kepeng di Klungkung, cukup beragam. Jenis uang kepeng lama, uang
berwarna emas Rp 800,00 perbiji, uang kuci yang berwarna hitam Rp 900,00
perbiji, dan uang lumrah Rp 500,00 perbiji. Jenis uang kepeng “baru” terdiri
atas uang super (warna kuning) Rp 20.000,00 per 200 biji, uang kuci Rp
15.000,00 per 200 biji, dan uang lumrah Rp 12.000,00 per 200 biji.
PUSTAKA RUJUKAN
“Art”, Chambers’s
Encyclopedia, Vol. 1. London: George Newnes Limited
“Art”, Collier’s
Encyclopedia, Vol. 2. Canada: MacMillan Educational Corporation “Art”, The Encyclopedia Americana, Vol. 2. New
York: American Corporation Echols, John M. dan Hassan Shadily. 1990. Kamus Inggris Indonesia. Jakarta: Gramedia
Heskett, John. 1980. Desain Industri. Diterjemahkan oleh Chandra Johan dan Agus Sachari. Jakarta: Rajawali
Luzadder, Warren J. 1981. Menggambar
Teknik Untuk Disain, Pengembangan
Produk, dan Kontrol Numerik.
Jakarta: Erlangga
Moeliono, Anton M. (djp). 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
Myers, Bernard S. 1958. Understanding The Arts. New York: Holt, Rinehart and Winston, Inc
Sachari,
Agus (Ed.). 1986. Paradigma Desain
Indonesia. Jakarta: Rajawali Sudjoko. 1988. “Seni-Budaya Tahun 2000”, dalam
Perubahan, Pembaruan, dan Kesadaran Menghadapi Abad Ke-21.
Jakarta: Dian Rakyat
Supangkat, Jim. 1992. “Kembali Ke Satu Seni Rupa”,
Katalog Jakarta Art & Design
Expo 1992
Wojowasito, S. 1982. Kamus Inggeris Indonesia. Bandung: Pangarang
No comments:
Post a Comment