Translate

Wednesday, 19 December 2018


Manusia sebagai makhluk moral
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
         Pertama-tama mari kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah .SWT yang telah memberikan rahmatnya sehingga saya bisa menyelesaikan artikel ini. Dan tak lupa kita haturkan shalawat dan salam atas junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita ke jalan yang benar ke jalan yang di ridhoi oleh Allah SWT. 

Manusia juga disebut sebagai mahkluk yang bermoral. Moral merupakan aturan berperilaku tentang sesuatu yang boleh dan tidak boleh dilakukan.Di masyarakat kita ada aturanaturan yang tertulis maupun tidak tertulis yang mengarahkan manusia untuk bergaul, berpakaian, bersikap, dan lainlain.
Dalam melakukan kegiatan sosial dan ekonominya, manusia hendaknya taat terhadap moral yang berlaku di masyarakat aga tidak merugikan pihak lain.Aturan tersebut bisa berkaitan dengan norma agama maupun norma kemasyarakatan. Contoh tindakan yang bermoral adalah berhemat, menggunakan sumber daya alam dengan baik, jujur, mengkonsumsi barang yang halal, menghargai sesama pemakai jalan, dan memelihara kelestarian alam.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus untuk mengajak manusia agar beribadah hanya kepada Allah Azza wa Jalla saja dan memperbaiki akhlak manusia. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ صَالِحَ اْلأَخْلاَقِ.
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.”

Dalam islam moral dikenal sebagai Akhlak yang mana akhlak atau moral ini digunakan manusia dalam berhubungan terhadap Tuhannya , makhluk lain dan alam sekitarnya.maka oleh sebab itu manusia juga disebut sebagai mahkluk yang bermoral. Moral merupakan aturan berperilaku tentang sesuatu yang boleh dan tidak boleh dilakukan.Di masyarakat kita ada aturan-aturan yang tertulis maupun tidak tertulis yang mengarahkan manusia dalam bergaul, berpakaian, bersikap, dan lainlain.Dalam melakukan kegiatan sosial dan ekonominya, manusia hendaknya taat terhadap moral yang berlaku di masyarakat aga tidak merugikan pihak lain.Aturan tersebut bisa berkaitan dengan norma agama maupun norma kemasyarakatan. Contoh tindakan yang bermoral adalah berhemat, menggunakan sumber daya alam dengan baik, jujur, mengkonsumsi barang yang halal, menghargai sesama pemakai jalan, dan memelihara kelestarian alam. Apakah aturan lalu lintas yang kalian lihat pada gambar di halaman ini? Bisakah kalian menyimpulkan keberadaan atau hakekat manusia sebagai makhluk sosial yang bermoral? Makhluk ekonomi yang bermoral? Makhluk sosial dan ekonomi yang bermoral? Manusia memiliki salingketergantungan satu sama lain, setiap orang membutuhkan kehadiran dan bantuan oranglain dalam pemenuhan kebutuhannya. Dalam usaha memenuhi kebutuhan tersebut, manusia diharapkan tetap memperhatikan aturan sosial yang berlaku di sekelilingnya dan menggunakan ilmu ekonomi yang baik sehingga tindakannya tidak merugikan orang lain.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا، وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْلِنِسَائِهِمْ.
“Kaum Mukminin yang paling sempurna imannya adalah yang akhlaknya paling baik di antara mereka, dan yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik kepada isteri-isterinya.”
Akhlak yang baik adalah bagian dari amal shalih yang dapat menambah keimanan dan memiliki bobot yang berat dalam timbangan. Pemiliknya sangat dicintai oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan akhlak yang baik adalah salah satu penyebab seseorang untuk dapat masuk Surga.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا شَيْءٌ أَثْقَلُ فِيْ مِيْزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍوَإِنَّ اللهَ لَيُبْغِضُ الْفَاحِشَ الْبَذِيْءَ.
“Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin di hari Kiamat melainkan akhlak yang baik, dan sesungguhnya Allah sangat membenci orang yang suka berbicara keji dan kotor.”
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pula:
إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّيْ مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْأَخْلاَقاً
“Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat majelisnya denganku pada hari Kiamat adalah yang paling baik akhlaknya…”
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang kebanyakan yang menyebabkan manusia masuk Surga, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:
تَقْوَى اللهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ، وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ؟فَقَالَ: اَلْفَمُ وَالْفَرْجُ.
“Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.” Dan ketika ditanya tentang kebanyakan yang menyebabkan manusia masuk Neraka, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Lidah dan kemaluan.”

Begitulah sedikit banyaknya mengenai “Manusia Sebagai Makhluk Moral” yang bisa saya jelaskan dan paparkan kepada pembaca sekalian. Semoga apa yang saya jelaskan tadi bisa bermanfaat bagi para pembaca sekalian. Saya ucapkan terimakasih karena telah berkunjung ke Blog saya.  Akhir kata saya tutup dengan Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Daftar Pustaka :



MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK  BUDAYA
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
         Pertama-tama mari kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah .SWT yang telah memberikan rahmatnya sehingga saya bisa menyelesaikan artikel ini. Dan tak lupa kita haturkan shalawat dan salam atas junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita ke jalan yang benar ke jalan yang di ridhoi oleh Allah SWT. 

Manusia Sebagai Makhluk  Budaya artinya makhluk yang berkemampuan melakukan hal-hal yang positif, menciptakan kebaikan, kebenaran, keadilan dan bertanggung jawab. Sebagai makhluk berbudaya, manusia mendayagunakan akal budinya untuk menciptakan kebahagiaan baik bagi dirinya maupun bagi masyarakat demi kesempurnaan hidupnya. Manusia sebagai makhluk berbudaya berarti manusia adalah makhluk yang memiliki kelebihan dari makhluk lain, yaitu manusia memiliki akal yang dapat dipergunakan untuk menghasilkan ide dan gagasan Dengan hasil budaya manusia, maka terjadi pula kehidupan. Pola kehidupan inilah yang menyebabkan hidup bersama dan dengan pola kehidupan ini dapat mempengaruhi cara berfikir dan gerak sosial. Setiap hubungan tersebut harus berjalan seimbang. Selain itu manusia juga diciptakan dengan sesempurna penciptaan, dengan sebaik-baik bentuk yang dimiliki. Hal ini diisyaratkan dalam surat At-Tiin: 4
“Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk
yang sebaik-baiknya”.
Dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa Dia telah menjadikan manusia makhluk ciptaan-Nya yang paling baik; badannya lurus ke atas, cantik parasnya, mengambil dengan tangan apa yang dikehendakinya; bukan seperti kebanyakan binatang yang mengambil benda yang dikehendakinya dengan perantaraan mulut. Kepada manusia diberikan-Nya akal dan dipersiapkan untuk menerima bermacam-macam ilmu pengetahuan dan kepandaian; sehingga dapat berkreasi (berdaya cipta) dan sanggup menguasai alam dan binatang.
Manusia juga harus bersosialisasi dengan lingkungan, yang merupakan pendidikan awal dalam suatu interaksi sosial. Hal ini menjadikan manusia harus mempunyai ilmu pengetahuan yang berlandaskan ketuhanan. Karena dengan ilmu tersebut manusia dapat membedakan antara yang hak dengan yang bukan hak, antara kewajiban dan yang bukan kewajiban. Sehingga norma-norma dalam lingkungan berjalan dengan harmonis dan seimbang. Agar norma-norma tersebut berjalan haruslah manusia di didik dengan berkesinambungan dari “dalam ayunan hingga ia wafat”, agar hasil dari pendidikan –yakni kebudayaan– dapat diimplementasikan dimasyaakat.
Dari penjelasan di atas jelaslah bahwa manusia sebagai makhluk yang paling sempurna bila dibanding dengan makhluk lainnya, mempunyai kewajiban dan tanggung jawab untuk mengelola bumi. Karena manusia diciptakan untuk menjadi khalifah, sebagaimana dijelaskan pada surat Al-Baqarah: 30
Artinya: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.”

Oleh karena itu manusia harus menguasai segala sesuatu yang berhubungan dengan kekhalifahannya disamping tanggung jawab dan etika moral harus dimiliki. Masalah moral adalah yang terpenting, karena sebagaimana Syauqi Bey katakan:
إنّما الأمم الأخلاق مابقيت فإنهمو ذهبت أخلاقهم ذهبوا
Artinya: “Kekalnya suatu bangsa ialah selama akhlaknya kekal, jika akhlaknya sudah lenyap, musnah pulalah bangsa itu”.

Akhlak dalam syair di atas menjadi penyebab punahnya suatu bangsa, dikarenakan jika akhlak suatu bangsa sudah terabaikan, maka peradaban dan budaya bangsa tersebut akan hancur dengan sendirinya. Oleh karena itu untuk menjadi manusia yang berbudaya, harus memiliki ilmu pengetahuan, tekhnologi, budaya dan industrialisasi serta akhlak yang tinggi (tata nilai budaya) sebagai suatu kesinambungan yang saling bersinergi.

Hommes mengemukakan bahwa, informasi IPTEK yang bersumber dari sesuatu masyarakat lain tak dapat lepas dari landasan budaya masyarakat yang membentuk informasi tersebut. Karenanya di tiap informasi IPTEK selalu terkandung isyarat-isyarat budaya masyarakat asalnya. Selanjutnya dikemukakan juga bahwa, karena perbedaan-perbedaan tata nilai budaya dari masyarakat pengguna dan masyarakat asal teknologinya, isyarat-isyarat tersebut dapat diartikan lain oleh masyarakat penerimanya.
Disinilah peran manusia sebagai makhluk yang diberi kelebihan dalam segala hal, untuk dapat memanfaatkan segala fasilitas yang disediakan oleh Allah SWT melalui alam ini. Sehingga dengan alam tersebut manusia dapat membentuk suatu kebudayaan yang bermartabat dan bernilai tinggi. Namun perlu digarisbawahi bahwa setiap kebudayaan akan bernilai tatkala manusia sebagai masyarakat mampu melaksanakan norma-norma yang ada sesuai dengan tata aturan agama.
Begitulah sedikit banyaknya mengenai “Manusia Sebagai Makhluk  Budaya” yang bisa saya jelaskan dan paparkan kepada pembaca sekalian. Semoga apa yang saya jelaskan tadi bisa bermanfaat bagi para pembaca sekalian. Saya ucapkan terimakasih karena telah berkunjung ke Blog saya.  Akhir kata saya tutup dengan Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Daftar Pustaka           
: https://ridwan202.wordpress.com/2008/10/16/manusia-sebagai-makhluk-budaya/
: http://malikabdullahfakih.blogspot.com/201./12/tugas-11-manusia-sebagai-makhluk-budaya.html?m=1




SEJARAH PERINGATAN MAULID NABI MUHAMMAD SAW

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
         Pertama-tama mari kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah .SWT yang telah memberikan rahmatnya sehingga saya bisa menyelesaikan artikel ini. Dan tak lupa kita haturkan shalawat dan salam atas junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita ke jalan yang benar ke jalan yang di ridhoi oleh Allah SWT. 

Maulid Nabi Muhammad SAW kadang-kadang Maulid Nabi atau Maulud saja (Arab: مولد النبي, Mawlid an-Nabī), adalah peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW, yang di Indonesia perayaannya jatuh pada setiap tanggal 12 Rabiul Awal dalam penanggalan Hijriyah. Kata maulid atau milad dalam bahasa Arab berarti hari lahir. Perayaan Maulid Nabi merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Islam jauh setelah Nabi Muhammad SAW wafat. Secara subtansi, peringatan ini adalah ekspresi kegembiraan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad.

Peringatan Maulid Nabi pertama kali dilakukan oleh Raja Irbil (wilayah Irak sekarang), bernama Muzhaffaruddin Al-Kaukabri, pada awal abad ke 7 Hijriyah. Ibn Katsir dalam kitab Tarikh berkata:
Sultan Muzhaffar mengadakan peringatan Maulid Nabi pada bulan Rabi'ul Awal. Dia merayakannya secara besar-besaran. Dia adalah seorang yang berani, pahlawan, alim dan seorang yang adil – semoga Allah merahmatinya.
Dijelaskan oleh Sibth (cucu) Ibn Al-Jauzi bahwa dalam peringatan tersebut, Sultan Al-Muzhaffar mengundang seluruh rakyatnya dan seluruh ulama dari berbagai disiplin ilmu, baik ulama dalam bidang ilmu Fiqh, ulama Hadits, ulama dalam bidang ilmu kalam, ulama usul, para ahli tasawuf, dan lainnya. Sejak tiga hari, sebelum hari pelaksanaan Maulid Nabi, dia telah melakukan berbagai persiapan. Ribuan kambing dan unta disembelih untuk hidangan para hadirin yang akan hadir dalam perayaan Maulid Nabi tersebut. Segenap para ulama saat itu membenarkan dan menyetujui apa yang dilakukan oleh Sultan Al-Muzhaffar tersebut. Mereka semua berpandangan dan menganggap baik perayaan Maulid Nabi yang digelar untuk pertama kalinya itu.
Para ulama, semenjak zaman Sultan Al-Muzhaffar dan zaman selepasnya hingga sampai sekarang ini menganggap bahwa perayaan Maulid Nabi adalah sesuatu yang baik. Para ulama terkemuka dan Huffazh Al-Hadis telah menyatakan demikian. Di antara mereka seperti Al-Hafizh Ibn Dihyah (abad 7 H), Al-Hafizh Al-Iraqi (w. 806 H), Al-Hafizh As-Suyuthi (w. 911 H), Al-Hafizh Al-Sakhawi (w. 902 H), SyeIkh Ibn Hajar Al-Haitami (w. 974 H), Al-Imam Al-Nawawi (w. 676 H), Al-Imam Al-Izz ibn Abd Al-Salam (w. 660 H), mantan mufti Mesir yaitu Syeikh Muhammad Bakhit Al-Muthi’i (w. 1354 H), mantan Mufti Beirut Lubnan yaitu Syeikh Mushthafa Naja (w. 1351 H), dan terdapat banyak lagi para ulama besar yang lainnya. Bahkan Al-Imam Al-Suyuthi menulis karya khusus tentang Maulid yang berjudul “Husn Al-Maqsid Fi Amal Al-Maulid”. Karena itu perayaan Maulid Nabi, yang biasa dirayakan pada bulan Rabiul Awal menjadi tradisi umat Islam di seluruh dunia, dari masa ke masa dan dalam setiap generasi ke generasi.

Ahmad bin ‘Abdul Halim Al Haroni rahimahullah mengatakan,
صَلَاحِ الدِّينِ الَّذِي فَتَحَ مِصْرَ ؛ فَأَزَالَ عَنْهَا دَعْوَةَ العبيديين مِنْ الْقَرَامِطَةِ الْبَاطِنِيَّةِ وَأَظْهَرَ فِيهَا شَرَائِعَ الْإِسْلَامِ
Artinya:
“Sholahuddin-lah yang menaklukkan Mesir. Dia menghapus dakwah ‘Ubaidiyyun yang menganut aliran Qoromithoh Bathiniyyah (aliran yang jelas sesatnya, pen). Shalahuddin-lah yang menghidupkan syari’at Islam di kala itu.”
Dalam perkataan lainnya, Ahmad bin ‘Abdul Halim Al Haroni rahimahullah mengatakan,
فَتَحَهَا مُلُوكُ السُّنَّة مِثْلُ صَلَاحِ الدِّينِ وَظَهَرَتْ فِيهَا كَلِمَةُ السُّنَّةِ الْمُخَالِفَةُ لِلرَّافِضَةِ ثُمَّ صَارَ الْعِلْمُ وَالسُّنَّةُ يَكْثُرُ بِهَا وَيَظْهَرُ
Artinya:
“Negeri Mesir kemudian ditaklukkan oleh raja yang berpegang teguh dengan Sunnah yaitu Shalahuddin. Dia yang menampakkan ajaran Nabi yang shahih di kala itu, berseberangan dengan ajaran Rafidhah (Syi’ah). Pada masa dia, akhirnya ilmu dan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam semakin terbesar luas.”

Sumber lain mengatakan perayaan Maulid yang sebenarnya diprakarsai oleh Dinasti Fatimiyyun sebagaimana dinyatakan oleh banyak ahli sejarah. Berikut perkataan ahli sejarah mengenai Maulid Nabi.

Perayaan di Indonesia
Masyarakat Muslim di Indonesia umumnya menyambut Maulid Nabi dengan mengadakan perayaan-perayaan keagamaan seperti pembacaan shalawat nabi, pembacaan syair Barzanji dan pengajian. Menurut penanggalan Jawa, bulan Rabiul Awaldisebut bulan Mulud, dan acara Muludan juga dirayakan dengan perayaan dan permainan gamelan Sekaten. Adapun pawai endhog-endhogan yang dilaksanakan oleh masyarakat Jawa-Using di Banyuwangi, Jawa Timur.

Begitulah sedikit banyaknya mengenai “Sejarah Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw” yang bisa saya jelaskan dan paparkan kepada pembaca sekalian. Semoga apa yang saya jelaskan tadi bisa bermanfaat bagi para pembaca sekalian. Saya ucapkan terimakasih karena telah berkunjung ke Blog saya.  Akhir kata saya tutup dengan Wassalamu’alaikum Wr. Wb.



Wednesday, 5 December 2018


PENDIDIKAN SEPANJANG HAYAT DALAM KONSEP ISLAM


Assalamu’alaikum Wr. Wb.
         Pertama-tama mari kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah .SWT yang telah memberikan rahmatnya sehingga saya bisa menyelesaikan artikel ini. Dan tak lupa kita haturkan shalawat dan salam atas junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita ke jalan yang benar ke jalan yang di ridhoi oleh Allah SWT. 

Pendidikan sepanjang hayat sebagai prinsip pendidikan Islam. Salah satu prinsip pendidikan Islam adalah prinsip kontinuitas atau berkelanjutan. Dari prinsip inilah dikenal pendidikan seumur hidup. Dalam Islam adalah suatu kewajiban yang tidak pernah dan tidak boleh berakhir. Seruan “membaca” yang ada dalam al-Qur’an (QS. al-‘Alaq:1) merupakan perintah yang tidak mengenal batas waktu.
Dengan demikian, pendidikan Islam mengajarkan kepada manusia untuk terus menuntut ilmu dengan berlandaskan ibadah kepada Allah subhanahu wata’ala serta membentuk forum dialogis yang komprehensip dan konstruktif. Apalagi “Islam merupakan paradigma ilmu pendidikan” dan merupakan wahyu yang diturunkan oleh Allah subhanahu wata’ala sebagai pedoman hidup untuk mencapai kesejahteraan dunia dan akhirat. Namun pedoman tersebut baru dapat dipahamai setelah dipelajari, dipahami, di yakini dan di hayati, dan di amalkan setelah melalui proses pendidikan.

Dalam penitian jalan panjang kehidupan manusia yang diciptakan untuk beribadah kepada Allah ta’ala dengan sarana beriman kepada-Nya tanpa keraguan dan penuh keyakinan, yang mana keyakinan hanya akan didapat dengan ilmu yang bersumber pada wahyu, maka sebuah keniscayaan di dalam masa hidup manusia yang penuh dengan pergolakan dan keguncangan dalam mempertahankan keimanan sampai wafat di atas keimanan (Islam) untuk tetap istiqomah dijalan-Nya harus senantiasa dalam wahana pencapaian ilmu dan pengamalannya.
Allah subhanahu wa ta’ala telah memberikan ratusan perintah dalam Al-Qur’an agar manusia menggunakan akalnya untuk berfikir untuk mendapatkan keimanan, baik bertafakkur dengan ayat-ayat kauniyah(tanda-tanda di alam) yang diciptakan-Nya, ataupun dengan bertadabbur dengan ayat-ayat qauliyah (Al-Qur’an) yang diturunkan-Nya. Allah subhanahu wata’ala berfirman :
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,” (Q.S Ali Imran : 190).
(Al Quran) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan-Nya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran. (Q.S Ibrahim : 52).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa akal dan wahyu ibarat mata dan cahaya,”bahkan akal adalah syarat untuk mengilmui sesuatu dan untuk beramal dengan baik dan sempurna. Akal pun akan menyempurnakan ilmu dan amal. Akan tetapi, akal tidaklah berdiri sendiri.Akal bisa berfungsi jika dia memiliki instink dan kekuatan sebagaimana penglihatan mata bisa berfungsi jika adanya cahaya.Apabila akal mendapati cahaya iman cahaya mentari.Jika bersendirian tanpa cahaya, akal tidak bisa melihat atau mengetahui sesuatu.”(Majmu’ Al-Fatawa, 3/338-339)
Bahkan, Allah subhanahu wata’ala swt melalui firman-Nya (Al-Qur’an) sangat menekankan, bahwa ada perbedaan antara yang berilmu dan yang tidak beilmu. Orang yang beriman dan yang berilmuakan diangkat derajatnya.Karena itulah, Allah subhanahu wata’ala mengancam keras orang-orang yang tidak menggunakan segala potensinya untuk berfikir dan meraih ilmu.Orang-orang seperti ini, dalam al-Quran disamakan derajatnya dengan binatang ternak yang tidak memilki kemanfaatan kecuali hanya bagi kahidupan dunia.

Ayat-ayat al-Quran yang terkait urgensi pendidikan sepanjang hayat. Al-Qur’an memuat banyak sekali ayat-ayat yang mendorong kaum muslimin untuk senantiasa meningkatkan keilmuannya. Bahkan, aktivitas sehari-hari, haruslah ditandai dengan aktivitas keilmuan atau yang terkait dengan ilmu, Allah subhanahu wata’ala berfirman :
1. QS. Thaha: 114  “…Dan Katakanlah: ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.’” Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan maksudnya tambahkanlah kepadaku ilmu dari-Mu.Ibnu Uyainah rahimahullah mengatakan, Nabi n, senantiasa berada dalam tambahan ilmu, hingga Allah subhanahu wata’ala mewafatkan beliau.[6]
Sedangkan Ibnu Majah tmeriwayatkan, dari Abu Hurairah a, ia menuturkan, Rasulullah n bersabda: : "اللَّهُمَّ انْفَعْنِي بِمَا علَّمتني، وَعَلِّمْنِي مَا يَنْفَعُنِي، وَزِدْنِي عِلْمًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ" Ya Allah subhanahu wata’ala jadikanlah apa yang telah Engkau ajarkan kepadaku itu bermanfaat bagiku, dan ajarkanlah apa yang bermanfaat bagiku serta tambahkanlah ilmu kepadaku. Segala puji bagi Allah subhanahu wata’ala atas segala keadaan.” Hadits di atas juga diriwayatkan oleh al-Bazzar, yang ia tambahkan pada bagia akhirnya: وَأَعُوذُ بِاللَّهِ من حال أهل النار". “….Dan aku berlindung kepada Allah subhanahu wata’ala dari keadaan penghuni neraka.”[7] Sementara itu Abu Bakar Jabir al-Jazairi rahimahullah beristifadah  tentang ayat ini adalah anjuran unuk menuntut ilmu dan mencari tambahan ilmu dengan mengakui kebodohan dalam dirinya dan kebutuhan terhadap ilmu.[8] Kita juga bisa melihat semangat berfikir untuk mencapai keimanan pada ayat pertama yang diturunkan Allah subhanahu wata’ala pada manusia. Marilah kita melihat bagaimana Allah subhanahu wata’ala membimbing manusia melalui firman-Nya yang sempurna dengan ayat-ayat yang pertama diturunkan Allah subhanahu wata’ala yang akan dibahas pada point berikutnya.
            2. QS. al-‘Alaq: 1-5 “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan.Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam.Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. al- A’laq:1-5). Sesungguhnya ayat Al-Qur’an yang pertama kali diturunkan adalah ayat-ayat mulia ini.Dia merupakan rahmat pertama yang diberikan Allah subhanahu wata’ala kepada hamba-Nya dan nikmat pertama yang dicurahkan Allah subhanahu wata’ala kepada mereka.Dia merupakan peringatan tentang awal penciptaan manusia dari segumpal darah. Dan sesungguhnya, diantara kemurahan Allah subhanahu wata’ala Ta’ala adalah mengajarkan kepada umat manusia sesuatu yang tadinya tidak diketahui. Maka Allah subhanahu wata’ala mengangkat dan memuliakannya dengan ilmu. Inilah yang hanya diberikanAllah subhanahu wata’ala kepada bapak manusia, Adam q sehingga membedakannya dari malaikat. Dan, ilmu terkadang ada dalam benak. Kadang-kadang juga berada dalam tulisan dan bersifat mentalistik dan formalistik. Kata formalistik memastikan ilmu berada dalam tulisan, namun tidak sebaliknya.
Oleh karena itu, Allah subhanahu wata’ala Ta’ala berfirman, “Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah.Yang mengajarkan dengan perantaraan kalam.Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” Ditegaskan dalam sebuah atsar, فيدواالعلمبالكتابة  ikatlah ilmu itu dengan tulisan.” Dan diterangkan pula, من عمل بما علم ورثه الله علم ما لم يكن يعلم barangsiapa yang mengamalkan apa yang telah ia ketahui, maka Allah subhanahu wata’ala akan mewariskan kepadanya sesuatu (ilmu) yang tidak dia ketahui sebelumnya.” Dalam makna yang luas, iqra’ dengan asal kata qara’a mempunyai makna membaca, memikirkan, menghimpun informasi, menelaah, mendalami, meneliti, menyelidiki, mengumandangkan dan menyampaikan. Apabila kata iqra’ dirangkai dengan kata ismun yang dalm arti luas berarti nama atau tanda. Dengan kata lain ketika ayat ini diturunkan maka Tuhan menciptakan alam semesta memerintahkan manusia manapun yang membaca ayat ini untuk ‘membaca’ atau berfikir tentang seluruh tanda-tanda yang dapat dia indera. Aktivitas ‘membaca’ dan berfikir ini dilakukan agar manusia mengetahui, siapakah Tuhan yang telah menciptakannya adalah maha pemurah dan maha perkasa. Jika kita jujur maka proses terbentuknya manusia dari segumpal darah (alaq), sampai lahir dan tumbuh kembangnya, memang merupakan hal yang sangat luar biasa bagi orang – orang yang berfikir.
Begitulah sedikit banyaknya mengenai “Pendidikan Sepanjang Hayat Dalam Konsep Islam” yang bisa saya jelaskan dan paparkan kepada pembaca sekalian. Semoga apa yang saya jelaskan tadi bisa bermanfaat bagi para pembaca sekalian. Saya ucapkan terimakasih karena telah berkunjung ke Blog saya.  Akhir kata saya tutup dengan Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Daftar Pustaka            :
https://makalahnih.blogspot.com/2014/09/konsep-pendidikan-sepanjang-hayat.html




MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK SIYASAH


Assalamu’alaikum Wr. Wb.
         Pertama-tama mari kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah .SWT yang telah memberikan rahmatnya sehingga saya bisa menyelesaikan artikel ini. Dan tak lupa kita haturkan shalawat dan salam atas junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita ke jalan yang benar ke jalan yang di ridhoi oleh Allah SWT. 

Pengertian Manusia Sebagai Makhluk Siyasah. 
Siyasah secara emitologis berasal dari bentuk masdar dari sasa yasusu yang artinya "mengatur, mengurus, memimpin dan memperintah". di samping itu juga berarti "politik dan penetapan suatu bentuk kebijakan". pada kata sasa memiliki sinonim Dabbara (mengatur), to lead (memimpin), to govern (memerintah) dan policy of government (kebijakan pemerintah). Devinisi yang di kemukakan oleh beberapa tokoh yaitu:
-Ibnu Mansur (ahli bahasa di mesir) menyebutkan siyasah yaitu mengatur sesuatu dengan cara membawa kemaslahatan.
-Abdurrahman menyebutkan bahwa siyasah merupakan hukum dan kebijaksanaan yang mengatur berbagai urusan umat atau masyarakat yang berkaitan dengan pemerintah hukum dan peradilan, lembaga pelaksanaan dan administrasi, begitu pula yang berkaitan dengan hubungan luar negeri.
Jika yang dimaksud dengan siyasah ialah mengatur segenap urusan ummat, maka islam sangat menekankan pentingnya siyasah. Bahkan, islam sangat mencela orang-orang yang tidak mau tahu terhadap urusan ummat. akan tetapi jika siyasah diartikan sebagai orientasi kekuasaan, maka sesungguhnya islam memandang kekuasaan hanya sebagai sarana menyempurnakan pengabdian kepada Allah. Tetapi, islam juga tidak pernah melepaskan diri dari masalah kekuasaan.

Tujuan Dari Pada Siyasah.
Tujuan dari pada siyasah yaitu menata kehidupan manusia di dunia untuk di jadikan bekal bagi kehidupan yang selanjutnya (akhirat). Karena islam memandang kehidupan manusia di dunia sebagai ladang bagi kehidupan akhirat sehingga hidup ini memerlukan konsep yang benar dan sesuai dengan aturan-aturan yang Allah tetapkan melalui Kitab dan RosulNya agar menghasilkan kehidupan yang damai dan harmonis antara satu degan yang lainnya, karena manusia pasti memiliki keinginan hidup dengan orang lain secara damai dengan seluruh bangsa yang ada di dunia ini. Keinginan tersebut merupakan cita-cita yang sesuai bagi kelangsungan hidup manusia dimuka bumi demi tercapainya suatu kepentingan. 

Perlu diketashui bahwasnya agama yang Rahmatal lilalamin Islam dan politik memiliki hubungan yang sangat erat, yang mana islam bukan hanya sekedar agama yang hanya memiliki prosesi-prosesi ritual dan ajaran kasih sayang, bukan hanya mementingkan aspek lega formal tanpa menghiraukan aspek-aspek moral. Yang mana  dalam hal ini politik berfungsi sebagai salah satu sendi kehidupan yang juga di atur oleh islam. Akan tetapi, islam tidak terpaku pada urusan politik saja. Karena agama yang sempurna dan telah disempurkan oleh Allah SWT.

      Begitulah sedikit banyaknya mengenai “Manusia Sebagai Mahkluk Siyasah” yang bisa saya jelaskan dan paparkan kepada pembaca sekalian. Semoga apa yang saya jelaskan tadi bisa bermanfaat bagi para pembaca sekalian. Saya ucapkan terimakasih karena telah berkunjung ke Blog saya.  Akhir kata saya tutup dengan Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Daftar Pustaka            :