MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK BUDAYA
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Pertama-tama
mari kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah .SWT yang telah memberikan
rahmatnya sehingga saya bisa menyelesaikan artikel ini. Dan tak lupa kita
haturkan shalawat dan salam atas junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang telah
membawa kita ke jalan yang benar ke jalan yang di ridhoi oleh Allah SWT.
Manusia Sebagai Makhluk Budaya artinya makhluk
yang berkemampuan melakukan hal-hal yang positif, menciptakan kebaikan,
kebenaran, keadilan dan bertanggung jawab. Sebagai makhluk berbudaya, manusia
mendayagunakan akal budinya untuk menciptakan kebahagiaan baik bagi dirinya
maupun bagi masyarakat demi kesempurnaan hidupnya. Manusia sebagai makhluk
berbudaya berarti manusia adalah makhluk yang memiliki kelebihan dari makhluk
lain, yaitu manusia memiliki akal yang dapat dipergunakan untuk menghasilkan
ide dan gagasan Dengan hasil budaya manusia, maka terjadi pula kehidupan.
Pola kehidupan inilah yang menyebabkan hidup bersama dan dengan pola kehidupan
ini dapat mempengaruhi cara berfikir dan gerak sosial. Setiap
hubungan tersebut harus berjalan seimbang. Selain itu manusia juga diciptakan dengan
sesempurna penciptaan, dengan sebaik-baik bentuk yang dimiliki. Hal ini
diisyaratkan dalam surat At-Tiin: 4
“Sesungguhnya kami Telah menciptakan
manusia dalam bentuk
yang sebaik-baiknya”.
Dalam
ayat ini Allah menegaskan bahwa Dia telah menjadikan manusia makhluk
ciptaan-Nya yang paling baik; badannya lurus ke atas, cantik parasnya,
mengambil dengan tangan apa yang dikehendakinya; bukan seperti kebanyakan
binatang yang mengambil benda yang dikehendakinya dengan perantaraan mulut.
Kepada manusia diberikan-Nya akal dan dipersiapkan untuk menerima
bermacam-macam ilmu pengetahuan dan kepandaian; sehingga dapat berkreasi
(berdaya cipta) dan sanggup menguasai alam dan binatang.
Manusia
juga harus bersosialisasi dengan lingkungan, yang merupakan pendidikan awal
dalam suatu interaksi sosial. Hal ini menjadikan manusia harus mempunyai ilmu
pengetahuan yang berlandaskan ketuhanan. Karena dengan ilmu tersebut manusia
dapat membedakan antara yang hak dengan yang bukan hak, antara kewajiban dan
yang bukan kewajiban. Sehingga norma-norma dalam lingkungan berjalan dengan
harmonis dan seimbang. Agar norma-norma tersebut berjalan haruslah manusia di
didik dengan berkesinambungan dari “dalam ayunan hingga ia wafat”, agar hasil
dari pendidikan –yakni kebudayaan– dapat diimplementasikan dimasyaakat.
Dari penjelasan
di atas jelaslah bahwa manusia sebagai makhluk yang paling sempurna bila
dibanding dengan makhluk lainnya, mempunyai kewajiban dan tanggung jawab untuk
mengelola bumi. Karena manusia diciptakan untuk menjadi khalifah, sebagaimana
dijelaskan pada surat Al-Baqarah: 30
Artinya: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para
malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.”
Oleh karena itu
manusia harus menguasai segala sesuatu yang berhubungan dengan kekhalifahannya
disamping tanggung jawab dan etika moral harus dimiliki. Masalah moral adalah
yang terpenting, karena sebagaimana Syauqi Bey katakan:
إنّما
الأمم الأخلاق مابقيت فإنهمو ذهبت أخلاقهم ذهبوا
Artinya: “Kekalnya
suatu bangsa ialah selama akhlaknya kekal, jika akhlaknya sudah lenyap, musnah
pulalah bangsa itu”.
Akhlak dalam
syair di atas menjadi penyebab punahnya suatu bangsa, dikarenakan jika akhlak
suatu bangsa sudah terabaikan, maka peradaban dan budaya bangsa tersebut akan
hancur dengan sendirinya. Oleh karena itu untuk menjadi manusia yang berbudaya,
harus memiliki ilmu pengetahuan, tekhnologi, budaya dan industrialisasi serta
akhlak yang tinggi (tata nilai budaya) sebagai suatu kesinambungan yang saling
bersinergi.
Hommes
mengemukakan bahwa, informasi IPTEK yang bersumber dari sesuatu masyarakat lain
tak dapat lepas dari landasan budaya masyarakat yang membentuk informasi
tersebut. Karenanya di tiap informasi IPTEK selalu terkandung isyarat-isyarat
budaya masyarakat asalnya. Selanjutnya dikemukakan juga bahwa, karena
perbedaan-perbedaan tata nilai budaya dari masyarakat pengguna dan masyarakat
asal teknologinya, isyarat-isyarat tersebut dapat diartikan lain oleh masyarakat
penerimanya.
Disinilah peran
manusia sebagai makhluk yang diberi kelebihan dalam segala hal, untuk dapat
memanfaatkan segala fasilitas yang disediakan oleh Allah SWT melalui alam ini.
Sehingga dengan alam tersebut manusia dapat membentuk suatu kebudayaan yang
bermartabat dan bernilai tinggi. Namun perlu digarisbawahi bahwa setiap
kebudayaan akan bernilai tatkala manusia sebagai masyarakat mampu melaksanakan
norma-norma yang ada sesuai dengan tata aturan agama.
Begitulah sedikit
banyaknya mengenai “Manusia Sebagai Makhluk Budaya” yang bisa saya
jelaskan dan paparkan kepada pembaca sekalian. Semoga apa yang saya jelaskan
tadi bisa bermanfaat bagi para pembaca sekalian. Saya ucapkan terimakasih
karena telah berkunjung ke Blog saya. Akhir kata saya tutup dengan
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Daftar Pustaka
: https://ridwan202.wordpress.com/2008/10/16/manusia-sebagai-makhluk-budaya/
: http://malikabdullahfakih.blogspot.com/201./12/tugas-11-manusia-sebagai-makhluk-budaya.html?m=1
No comments:
Post a Comment