Sebagai bahasan tambahan, di sini
dipaparkan bahasan tentang keberadaan seni modern dan postmodern dari sisi
sejarah, yang dikutip dengan beberapa perubahan dari bagian laporan skripsi
(BAB II) yang ditulis oleh Meiyani Hertanto, S.Sn., yang diajukan dalam
menyelesaikan ujian akhir di FSRD ITB (1991).
4.5 DESAIN SESUDAH MODERNISME
Oleh Meiyani Hertanto, S.Sn.
(Bagian kecil dari
laporan skripsi Desain Sesudah Modernisme di FSRD ITB)
Pada dasarnya, tidak ada kesepakatan yang ketat tentang kapan
tepatnya awal pemunculan Modernisme atau Erakan Modern ini. Para kritikus lazim
menunjuk masa Revolusi Industri di Eropa pada pertengahan abad 18 hingga 19
sebagai pemicu awal terjadinya
perubahan-perubahan mendasar dalam pola kehidupan dan tatanan masyarakat Barat,
baik di bidang ekonomi, politik, sosial maupun budaya. Secara garis besar,
Kenneth Frampton (1980), menggolongkan berbagai transformasi ini ke dalam 3
kategori, yaitu transformasi budaya (1750 - 1900), tranformasi wilayah (urban
development, 1800 - 1909), dan transformasi bidang teknik (structure
engineering, 1775 - 1939).
Di dalam konteks perubahan ini
pula pengertian “desain” dalam artian modern, yaitu kegiatan desain yang
terpisah dari kegiatan produksinya dan desain sebagai bagian dari nilai
komersial suatu produk, mulai terbentuk. Perkembangan awalnya sangat diwarnai
oleh gejolak perdebatan antara mempertahankan konsep tradisional seni kriya
(craft) dengan kemodernan sisitem kerja mesin dalam proses produksi massal.
Pemunculan Art Nouveau sebenarnya
sangat dipengaruhi oleh aliran Art & Craft Movement yang telah berkembang
di Inggris pada pertengahan abad 19, dengan tokohnya John Ruskin dan William
Morris. Secara umum, kedua aliran ini sering diartikan sebagai reaksi ideologis
para perancang terhadap gelombang industrialisasi dan mekanisasi, yang dianggap
telah menurunkan mutu desain dan kebanggaan kaum perajin terhadap barang-barang
yang diproduksi secara massal.
Secara teori dan dari sudut
pandang etis politis, Art Nouveau dapat dikatakan bertujuan menyatukan seni dan
teknologi dalamkehidupan sodial sehari-hari. Namun secara praktis dan dari
sudut pandang budaya, aliran ini sering dianggap sebagai ‘reaksi panik’ kaum
borjuis terhadap dampak industrialisasi yang semakin dominan, yaitu dengan
terbentuknya selera pasaran karena melimpahnya barang-barang yang dulunya hanya
bisa dikonsumsi oleh orang-orang kaya.
Art Nouveau segera berkembang
pesat di seluruh Eropa dan pengaruhnya juga ke Amerika Serikat. Beberapa
tokohnya misalnya adalah Hector Guimard di Perancis, Victor Horta dan Henry van
de Velde di Belgia, kelompok Vienna Secession di Austria, dan dalam bentuk
radikal oleh arsitek ‘eksentrik’ Antonio Gaudi di Spanyol. Di Amerika Serikat
pengaruh Art Nouveau terutama tampak pada kerajinan gelas dan metal dari Studio
Tiffany.
Di Jerman aliran ini dinamakan
Jugendstil, sedang di Scotlandia dengan garis-garis yang lebih
linier dikembangkan oleh kelompok The Glasgow Four dengan tokohnya
Charles Rennie Mackintosch. Karya-karya Mackintosch inilah, khususnya bangunan
The Glasgow School of Art, yang sering dikatakan merupakan cikal bakal
pendekatan desain Modernisme, karena sudah menunjukkan kebaruan-kebaruan dalam
pengolahan bahan dan konsturksi, meskipun masih belum meninggalkan penggunaan
ornamen.
Memasuki dekade awal abad 20,
lengkung-lengkung Art Nouveau yang telah merambah ke hampir segala jenis
produkdesain dan arsitektur seakan-akan mengalami kejenuhan dan me-munculkan
semacam ‘reaksi balik’. Di kalangan arsitek dan pendesain terdapat kesamaan
kecenderungan untuk meninggalkan konsep lama’menempelkan’ seni pada permukaan
benda-benda, karena hal itu dipandang tidak lagi sesuai dengan tuntutan jaman.
Hal ini misalnya yang mendasari
berdirinya Deutsche Werkbund (1907), sebuah organisasi para perancang yang
bertujuan meningkatkan pamor ekonomi dan budaya Jerman melalui desain
industrinya. Salah seorang tokoh DW adalah Peter Behrens, yang bekerja sebagai
konsultan desain pada perusahaan industri raksasa AEG. Sementara itu reaksi
muncul di Amerika Serikat terhadap awal era standarisasi dan mekanisasi
industri ini adalah dicanangkannya paham fungsionalisme dalam pendekatan
desain, sebagaimana disuarakan oleh arsitek kenamaan Louis Sullivan, dalam
sebuah slogannya yang kemudian menjadi salah satu ‘dogma’ Modernisme: Form even follows function. That is the law (Bentuk
selalu mengikuti fungsi. Itulah hukumnya).
Dari sejak itu mulailah
dikembangkan suatu ‘gaya industri’ (industrial
style) yang menganut nilai-nilai yag rasional, sederhana, dan menampilkan
kaidah estetika mesin; menyimbolkan mulainya abad modern dalam kejayaan
teknologi.
Merunut faktor-faktor penyebab munculnya prinsip desain
modernisme sebenarnya sangatlah kompleks, seperti halnya dengan menentukan
kapan awal pemunculannya. Secara garis besar beberapa faktor pendukung bisa
disebutkan berikut ini: Pertama, industrialisasi bersamaan dengan berkembangnya
kapitalisme telah mendorong lahirnya ‘kelas menengah’ baru yang cukup makmur.
Kebutuhan dan kemampuan dalam pemilikan barang-barang menjadi semakin luas ke
berbagai lapisan masyarakat.
Dengan alasan untuk memenuhi
tuntutan ‘demokratisasi’ ini maka diperlukan desaindesain yang sederhana dan
terstandarisasi sehingga bisa diproduksi secara massal dengan harga yang terjangkau,
serta tidak mewakili selera kelas tertentu (impersonal).
Kedua, kemajuan teknologi telah
memunculkan sejumlah fungsi baru dalam kebutuhan hidup masyarakat modern,
sedang fungsi-fungsi lama mengalami transformasi. Tipetipe bangunan yang
sebelumnya tidak dikembangkan seperti pabrik, gedung perkantoran dan pertokoan,
rumah sakit, sekolah dan hotel besar merupakan tantangan baru dalam bidang
arsitektur. Sedang revolusi gaya hidup yang ditandai dengan berperannya
rumah-rumah ‘sub-urban’, rumah tanpa pembantu, penggunaan peralatan listrik
seperti radio, televisi, alat pembersih debu, lemari es, dan sebagainya, telah
menimbulkan problem-problem baru dalam perancangan dan penataannya.
Ketiga, ditemukannya metode
pengolahan dan teknik penggunaan bahan-bhan mterial baru. Dengan menggunakan
material baja, beton bertulang dan kaca lebar, desain arsitektur dimungkinkan
untuk mengeksploitasi bentuk-bentuk baru yang tadinya tidak dikenal, seperti
bangun-an berkantilever atau gedung-gedung pencakar langit dengan kerangka baja
dan selaput dinding kaca (curtain wall).
Desain industri juga makin berkembang melalui sejumlah eksperimentasi dan
eksplorasi bahan, seperti berbagai jenis plastik, serat gelas (fibre glass), logam ringan se-jenis
aluminium atau campuran (alloy), baja
tak berkarat (stainless steel),
pelengkungan kayu lapis (laminated
bentwood) dan sebagainya.
Pokok-pokok Gagasan dalam Modernisme
Pokok gagasan Modernisme lazim
disebut juga ‘rasionalisme’, dan dalam penerapannya dapat dijabarkan lagi dalam
beberapa ‘turunan’nya. Berikut ini, untuk lebih memudahkan dalam memahami
Modernisme, akan diuraikan beberapa pokok gagasan yang dianut di dalamnya.
Pokok-pokok gagasan ini sebenarnya tidaklah dapat dipandang sebagai bagian yang
berdiri sendiri-sendiri secara terpisah, namun merupakan suatu kesatuan yang
saling berkaitan dan saling pengaruh antara satu dengan yang lainnya.
a. Fungsionalisme
Salah satu aspek rasional desain
adalah apabila ia mampu memenuhi sasaran praktisnya, yaitu fungsional. Meskipun
nilai fungsi selalu melekat dalam konsep desain dari sejak awal, namun dalam
pendekatan Modernisme, aspek ini menjadi gagasan yang diutamakan.
Bentuk furniture yang dipengaruhi aliran tertentu,
yang mengutamakan tafsir ulang terhadap bentuk-bentukfurniture yang ada pada
masa sebelumnya dengan nafas baru.
Ada beberapa analogi pembenaran
dalam penerapan paham fungsionalisme ini. Pertama adalah analogi ‘biologis’,
yaitu para perancang mendasari pengamatannya pada alam dan bentuk-bentuk mahluk
hidup. Mereka mengamati bahwa suatu organ mempunyai bentuk tertentu, bahkan
berevolusi menuju suatu bentuk tertentu karena
tuntutan fungsinya. Analogi ini
berkembang dalam pendekatan desain yang ‘organis’, yaitu bahwa bentuk luar
suatu benda atau bangunan ditentukan oleh tuntutan fungsi dan struktur di
dalamnya. Analogi yang lain adalah analogi ‘mekanis’. Dalam analogi ini,
pengamatan para perancang didasarkan pada bentuk-bentuk hasil kemajuan teknik
seperti kapal, pesawat terbang, bendungan atau jembatan.
Modernisme muncul dalam semangat
industri dan mekanisasi. Mesin menjadi kunci utama. Kekaguman terhadap mesin
sebagai fenomena perubahan peradaban manusia masa itu, menjadikan mesin sebagai
sumber inspirasi dan panutan dalam berbagai gerakan/aliran seni dan desain yang
muncul secara menjamur pada dua dekade awal abad 20.
Estetika mesin merupakan hasil
penggabungan antara konsep seni dengan industri, yaitu kaidah-kaidah yang
muncul dalam tuntutan rasionalitas industri. Nilai estetikanya mengacu baik
pada bentuk mesin itu sendiri yang lugas, fungsional, tanpa ornamen atau
dekorasi; sifat dan cara kerja mesin yang rasional dan efisien; serta pada
bendabenda yang dihasilkan oleh sistem kerja mesin, yaitu sederhan, presisi dan
terstandarisasi. Maka bentuk-bentuk desain yang dihasilkan adalah bentuk yang
sederhana (simple), bersih (clean), dan jelas (clear). Kesederhanaan bentuk seringkali ditampilkan dengan
penggunaan atau penyusunan bentuk dasar geometris atau bentuk-bentuk primer
--seperti kotak, kubus, silinder, atau segitiga-- warna tunggal atau polos,
serta anti ornamen. Bentuk dasar geometris selain dianggap mampu mengungkapkan
sikap progresif dari mesin, juga kualitas abstraksinya yang impersonal
dikatakan menyimpan nilai keindahan yang ‘abadi’ dan universal sebagaimana
telah dikemukakan oleh Plato pada jamannya. Sedang ornamen baik dalam bentuk,
warna, maupun motif menjadi tidak penting bahkanharus dihindari karena selain
tidak memenuhi kriteria di atas, penggunaan ornamen juga mencerminkan
kebudayaan kuno atau tradisional, dan tidak modern.
Kebenaran dan Kejujuran
Kemunculan Modernisme sering
diasumsikan merupakan akibat logis yang tak
terhindarkan dari proses mesin. Salah satu konsekuensi cara berpikir
rasional yang merupakan dasar pendekatan desain Modernisma adalah kebenaran dan
kejujuran. Maka kaum Modernis juga menganut pandangan bahwa rancangan yang baik
adalah yang mempu menampilkan nilai-nilai kebenaran (truth) serta kejujuran (honesty)
baik terhadap fungsi, material, maupun struktur/konstruksi.
Namun demikian perlu juga
dikemukakan di sini bahwa konsepsi tentang ‘kebenaran dan kejujuran’ yang
diajukan para penganjur Modernisme ini, sebenarnya sulit unutk diterima sebagai
kategori ‘rasional-teknis’. Karena, bagaimanapun ‘kebenaran dan kejujuran’
adalah konsep yang sangat bersifat moralis-ideologis dan berlaku normatif.
Artinya, konsep ini lebih sering berlaku sekadar sebagai justifikasi ideologis
bagi keabsahan diterapkannya Modernisme, yang pada akhirnya, sebagaimanan akan
ditunjukkan kemudian, tidak dapat terus berguna untuk memepertahankan Modernisme
sebagai ‘jalur utama’ desain pada paruh akhir dekade 70-an.
c. Gaya Universal
Gelombang kebaruan pada
pergantian abad yang dibawa oleh penemuan mesin, seolaholah menuntut suatu
kebaruan gaya atau corak desain yang sama sekali baru dan
tidak mengacu pada gaya-gaya yang sudah ada sebelumnya. Pemunculan
Modernisme, yang didasarkan pda pendekatan-pendekatan yang rasional, fungsional
dan terukur, serta di dalamnya terkandung nilai-nilai kebenaran dan kejujuran,
dianggap memenuhi pencarian gaya yang sesuai dan mampu mewakili semangat jaman
modern ini (Zeitgeist = spirit of the age).
Hal ini terlihat dari berbagai eksperimen desain yang dilakukan par tokoh
Modernisme dalam mencari bentuk desain baku (type-form), yang didasarkan pada pandangan bahwa desain yang baik
adalah desain yang dengan tegas mampu memenuhi satu fungsi utama saja, sehingga
dengan demikian desain tersebut seakan-akan sudah tidak dapat atau tidak perlu
dikembangkan lagi, karena yang selebih dari itu akan dianggap sebagai tidak
esensial atau tidak efisien.
Pandangan universalis ini
tampaknya juga erat kaitannya dengan tumbuhnya semacam keyakinan bahwa
pola-pola pembangunan yang telah dilakukan di Barat dapat (bahkan
‘harus) diterapkan di belahan dunia manapun yangingin
mencapai kemajuan atau kemodernan. Setidak-tidaknya, kemudian tersebuar luas
semacam andangan. Dalam usaha penyebaran Modernisme sebagai suatu ‘totalitas’
gaya yang universal inilah, para pendukungnya mereas perlu untuk menggunakan
konsepsi-konsepsi moralistik seperti kebenaran dan kejujuran sebagai
justifikasi ideaologisnya.
Dinamika Perkembangan Modernisme
Memahami Modernisme memang bukan
merupakan hal yang mudah, terlebih jika berasumsi bahwa Modernisme merupakan
sebuah garya atau aliran yang tunggal, dan bisa dengan sederhana dan tegas
ditunjukkan definisi serta batasan-batasannya. Dalam perkembangan sejarahnya
ternyata Modernisme tidak selalu berjalan dalam garis sejarah yang lurus atau
dengan pemahaman yang selalu seragam. Sejarawan arsitektur C. Norberg Shulz,
dalam bukunya Meaning in Western
Architecture, bahkan tidak menggunakan istilah “modern” dalam pembabakannya,
melainkan menganggap bahwa paham yang dominan pada paruh pertama abad ini
adalah “Fungsionalisme”.
Dari situ dapat dipahami bahwa
yang bernaung di bawah istilah Modernisme sebenarnya ada beragam aliran yang
masing-masing memiliki penekanan khusus pada aspek gagasan tertentu, namun
dengan tetap berpegang pada paradigma fungsi sebagai faktor determinan, serta
fenome-na mesin sebagai sumber acuan. Perbedaan aliranaliran itu terutama
ditentukan oleh konteks sosio-historis masyarakat dan negara tempat aliran itu
berkembang, serta pengaruh dari tokoh-tokohnya.
Pada dekade-dekade awal abad 20
dapat disebutkan beberapa gerakan yang berpandangan ke depan (avant-garde) dalam desain misalnya
adalah aliran Futurisme di Italia (1908) dan Konstruktivisme di Rusia (1917).
Keduanya banyak melakukan eksperimen dalam desain arsitektur, grafis serta
tekstil (fashion), dengan olahan
garis, bentuk, ban ruang geometris yang bertujuan mencverminkan ekspresi desain
yang modern dan progresif. Keufa aliran yang sangat erat berkaitan dengan
kondisi politik negaranya masing-masing ini, mengalami kemunduran ketika
terjadi situasi perubahan politik yang tidak mendukungnya lagi.
Salah satu tonggak perkembangan
Modernismeadalah berdirinya sekolah desain Bauhaus yang dipimpin oleh Walter
Gropius, di Weimar (1919), dan kemudian pindah ke Dessau (1925), Jerman.
Prinsip dasar pendidikan Bauhaus adalah mengintegrasikan semua cabang ilmu
pendukung desain --seni kriya dan teknik-- dengan tujuan menghasilkan
desain-desain yang mampu menjawab realitas sosial dalam tantangan budaya
industri modern. Dengan sejumlah tenaga pengajar adalah tokoh-tokoh seniman
pembaharu aliran Kubisme Abstrak dan Konstruktivisme, seperti Paul Klee,
Kandinsky, The van Doesburg, dan Josep Albers, Bauhaus menerpakan metode
belajar yang memebelot dari konsep Romantisme dan Historisisme karya-karya
klasik. Hasilnya adalah keberanian eksperimentasi individual dalam metode
pangolahan bahan, serta ‘cara baru’ dalam memandang bentuk yaitu dengan
mereduksinya ke elemen-elemen dasar bentuk geometris, dan kemudian
memanipualsikannya kembali dalam olahan dengan yang sederhana, ‘jujur’ dan
rasional.
Sangat banyak teori desain yang
disumbangkan Bauhaus pada perkembangan desain dan arsitektur modern secara
keseluruhan, mulai dari
simbolisme estetika abad
modern me-lalui bentuk-bentuk
geometris hingga pendekatan fungsionalisme murni yang ‘tanpa gaya’. Melalui
Bauhaus pula sepat timbul dua cabang aliran dalam arsitektur Modernisme, yaitu
ekspresionisme dan rasionalisme.
Gagasan Modernisme yang secara
nyata berusaha dikaitkan dengan wujud idealisme sosial, yaitu penyediaan
kebutuhan akan rumah tinggal dalam jumlah banyak dan cepat namun dengan harga
yang minimum, tampak dalam sejumlah karya dan ungkapan tokoh arsitek yang
tergabung dalam CIAM (Congres
Internationaux d’Architectur Moderne), dan terangkum dalam
manifesto-manifesto kongresnya yang berlangsung sepuluh kali dari tahun 1929
hingga 1956. Dan karena berusaha membangun bangunan-bangunan yang bersifat
komunal ini, beberapa tokoh arsitektur modern sering dituduh berpaham sosialis.
Bangunan perumahan atau apartemen berbiaya rendah menjadi sentral garapan para
arsitel CIAM dalam komitmennya menjawab tantangan sosial yaitu kebutuhan akan
perumahan dengan meledaknya jumlah kaum buruh industri maupun kebutuhan yang
timbul akibat perang. Akibatnya ciri-ciri fisik prinsip desain modern seper-ti
bidang-bidang polos (biasanya putih karena melambangkan kebersihan), atap datar
dan jalur jendela memanjang (ribbon windows), sering dianggap sebagai simbol
konvensional dari ‘arsitektur sosialis’.
CIAMX kemudian dikenal sebagai
aliran Brutalisme yang berkembang di Inggris sesudah Perang Dunia II.
Brutalisme sendiri berasal dari kata ‘beton brut’,
yang memiliki pengertian meng-expose
permukaan beton secara ‘telanjang’ (tanpa ditutup dengan finishing lebih lanjut) pada tampak bangunan. Gaya ini lahir dengan
alasan sekonomis serta ‘moralistik’ yaitu untuk dapat membangun secara ‘baik
dan benar’ di tengah keterbatasan biaya dan material, dalam mas sulit sesudah
perang.
Usaha menjadikan Modernisme
sebagai satu-satunya gaya ‘paling benar’ mewakili semangat jaman dan berlaku
secara internasional dilakukan oleh Museum of Modern Art (MOMA) di New York
yang dimotori oleh H.R. Hitchock dan Philip Johnson, dengan mengadakan pame-ran
“The International Style” pada tahun 1932.
Demikianlah, sebenarnya terdapat
cukup ‘kerumitan’ dalam menjabarkan dan memahami Modernisme karena di dalamnya
sangat diwarnai oleh berbagai keragaman aliran dan pendekatan. Aliran-aliran
tersebut juga tidak berdiri secara sendiri-sendiri melainkan saling
mempengaruhi dan tumpang tindih, sehingga memunculkan sejumlah nuansa
persinggungan yang sangat jamak.
Salah satu upaya ‘memperbaharui’
cara pandang ini dicoba dilakukan oleh Charles Jenkcs dengan membuat semacam
‘peta evolusi’ dari perkembangan gagasan
Modernisme, yang dipahami sebagai
sebuah ‘Gerakan Kemodernan’ yang pluralistik.
Menurut Jencks, gagasan-gagasan
yang muncul dalam arsitektur modern berkembang secara evolusioner dalam 6
tradisi politik, tanpa pernah benar-benar mengalami kepunahan namun sekadar
mengalmi ‘pasang surut’ dan perubahan bentuk (transformasi), atau merupakan
overlapping dari satu tradisi dengan tradisi lainnya. Secara ringkas keenam
tradisi tersebuat adalah sebagai berikut:
a. Tradisi Idealis
Merupakan sentral dari apa yang
lazim kita kenal sebagai Modernisme. Gagasangagasan dalam tradisi ini sangat
didasari oleh idealisme-idealisme, baik idealisme sosial maupun idealisme dalam
mencapai kesempurnaan bentuk.
b. Tradisi Kesadaran (Self Conscious)
Tradisi ini mengutamakan
idealisme seperti tradisi pertama, tapi dengan kesadaran yang sa-ngat
berlebih-lebihan (hyperconscious),
misalnya ada usaha untuk mencapai nilai keabadian melalui monumentalitas, atau
penonjolan inovasi-inovasi teknologi.
c. Tradisi Intuitif
Penekanan gagasan dalam tradisi ini adalah pada kebebasan ekspresi,
imajinasi, dan kreativitas individual.
d. Tradisi Logis
Ciri tradisi ini adalah dengan
sistematika dan perhitungan yang sempurna berusaha mewujudkan utopi-utopi
teknologis secara sangat rasional. ss
e. Tradisi Ketaksadaran (Unself Conscious)
Dinamakan demikian karena sikap
dalam tradisi ini didasarkan pada sistem produksi massa atau pre-fabrikasi yang
bukan lagi dikuasai manusia secara individu/personal.
f. Tradisi Aktivis
Gagasan-gagasan dalam tradisi ini
sangat menekankan pada tujuan-tujuan sosial atau sebagai agen perubahan sosial.
Jencks mengakui bahwa
pengelompokan politik ke dalam 6 tradisi ini merupakan penyederhanaan dari
kenyataan sesungguhnya yang lebih rumit. Dari keenam tradisi ini kemudian dapat
ditarik kesamaan-kesamaan asumsi sehingga secara ringkas seluruh gagasan
tersebut dapat dibedakan ke dalam 2 kutub yang berlawanan namun saling
melengkapi, yaitu gagasan tentang kesamaan dan keadilan sosial lebih dianut
dalam Tradisi Aktivis, Unself Conscious,
Logis, dan Idealis; sedangkan tradisi Self
Conscious, Idealis dan Intuitif, lebih mengacu pada kebebasan otonomi dan
ekspresi estetik.

