Translate

Monday, 4 May 2020

Sebagai bahasan tambahan, di sini dipaparkan bahasan tentang keberadaan seni modern dan postmodern dari sisi sejarah, yang dikutip dengan beberapa perubahan dari bagian laporan skripsi (BAB II) yang ditulis oleh Meiyani Hertanto, S.Sn., yang diajukan dalam menyelesaikan ujian akhir di FSRD ITB (1991).



4.5 DESAIN SESUDAH MODERNISME
      Oleh Meiyani Hertanto, S.Sn.
      (Bagian kecil dari laporan skripsi Desain Sesudah Modernisme di FSRD ITB)

Pada dasarnya, tidak ada kesepakatan yang ketat tentang kapan tepatnya awal pemunculan Modernisme atau Erakan Modern ini. Para kritikus lazim menunjuk masa Revolusi Industri di Eropa pada pertengahan abad 18 hingga 19 sebagai  pemicu awal terjadinya perubahan-perubahan mendasar dalam pola kehidupan dan tatanan masyarakat Barat, baik di bidang ekonomi, politik, sosial maupun budaya. Secara garis besar, Kenneth Frampton (1980), menggolongkan berbagai transformasi ini ke dalam 3 kategori, yaitu transformasi budaya (1750 - 1900), tranformasi wilayah (urban development, 1800 - 1909), dan transformasi bidang teknik (structure engineering, 1775 - 1939).

Di dalam konteks perubahan ini pula pengertian “desain” dalam artian modern, yaitu kegiatan desain yang terpisah dari kegiatan produksinya dan desain sebagai bagian dari nilai komersial suatu produk, mulai terbentuk. Perkembangan awalnya sangat diwarnai oleh gejolak perdebatan antara mempertahankan konsep tradisional seni kriya (craft) dengan kemodernan sisitem kerja mesin dalam proses produksi massal.

Pemunculan Art Nouveau sebenarnya sangat dipengaruhi oleh aliran Art & Craft Movement yang telah berkembang di Inggris pada pertengahan abad 19, dengan tokohnya John Ruskin dan William Morris. Secara umum, kedua aliran ini sering diartikan sebagai reaksi ideologis para perancang terhadap gelombang industrialisasi dan mekanisasi, yang dianggap telah menurunkan mutu desain dan kebanggaan kaum perajin terhadap barang-barang yang diproduksi secara massal.

Secara teori dan dari sudut pandang etis politis, Art Nouveau dapat dikatakan bertujuan menyatukan seni dan teknologi dalamkehidupan sodial sehari-hari. Namun secara praktis dan dari sudut pandang budaya, aliran ini sering dianggap sebagai ‘reaksi panik’ kaum borjuis terhadap dampak industrialisasi yang semakin dominan, yaitu dengan terbentuknya selera pasaran karena melimpahnya barang-barang yang dulunya hanya bisa dikonsumsi oleh orang-orang kaya.
Art Nouveau segera berkembang pesat di seluruh Eropa dan pengaruhnya juga ke Amerika Serikat. Beberapa tokohnya misalnya adalah Hector Guimard di Perancis, Victor Horta dan Henry van de Velde di Belgia, kelompok Vienna Secession di Austria, dan dalam bentuk radikal oleh arsitek ‘eksentrik’ Antonio Gaudi di Spanyol. Di Amerika Serikat pengaruh Art Nouveau terutama tampak pada kerajinan gelas dan metal dari Studio Tiffany.

Di Jerman aliran ini dinamakan Jugendstil, sedang di Scotlandia dengan garis-garis  yang lebih  linier dikembangkan oleh kelompok The Glasgow Four dengan tokohnya Charles Rennie Mackintosch. Karya-karya Mackintosch inilah, khususnya bangunan The Glasgow School of Art, yang sering dikatakan merupakan cikal bakal pendekatan desain Modernisme, karena sudah menunjukkan kebaruan-kebaruan dalam pengolahan bahan dan konsturksi, meskipun masih belum meninggalkan penggunaan ornamen.

Memasuki dekade awal abad 20, lengkung-lengkung Art Nouveau yang telah merambah ke hampir segala jenis produkdesain dan arsitektur seakan-akan mengalami kejenuhan dan me-munculkan semacam ‘reaksi balik’. Di kalangan arsitek dan pendesain terdapat kesamaan kecenderungan untuk meninggalkan konsep lama’menempelkan’ seni pada permukaan benda-benda, karena hal itu dipandang tidak lagi sesuai dengan tuntutan jaman.

Hal ini misalnya yang mendasari berdirinya Deutsche Werkbund (1907), sebuah organisasi para perancang yang bertujuan meningkatkan pamor ekonomi dan budaya Jerman melalui desain industrinya. Salah seorang tokoh DW adalah Peter Behrens, yang bekerja sebagai konsultan desain pada perusahaan industri raksasa AEG. Sementara itu reaksi muncul di Amerika Serikat terhadap awal era standarisasi dan mekanisasi industri ini adalah dicanangkannya paham fungsionalisme dalam pendekatan desain, sebagaimana disuarakan oleh arsitek kenamaan Louis Sullivan, dalam sebuah slogannya yang kemudian menjadi salah satu ‘dogma’ Modernisme: Form even follows function. That is the law (Bentuk selalu mengikuti fungsi. Itulah hukumnya).

Dari sejak itu mulailah dikembangkan suatu ‘gaya industri’ (industrial style) yang menganut nilai-nilai yag rasional, sederhana, dan menampilkan kaidah estetika mesin; menyimbolkan mulainya abad modern dalam kejayaan teknologi.

Merunut faktor-faktor penyebab munculnya prinsip desain modernisme sebenarnya sangatlah kompleks, seperti halnya dengan menentukan kapan awal pemunculannya. Secara garis besar beberapa faktor pendukung bisa disebutkan berikut ini: Pertama, industrialisasi bersamaan dengan berkembangnya kapitalisme telah mendorong lahirnya ‘kelas menengah’ baru yang cukup makmur. Kebutuhan dan kemampuan dalam pemilikan barang-barang menjadi semakin luas ke berbagai lapisan masyarakat.
Dengan alasan untuk memenuhi tuntutan ‘demokratisasi’ ini maka diperlukan desaindesain yang sederhana dan terstandarisasi sehingga bisa diproduksi secara massal dengan harga yang terjangkau, serta tidak mewakili selera kelas tertentu (impersonal).

Kedua, kemajuan teknologi telah memunculkan sejumlah fungsi baru dalam kebutuhan hidup masyarakat modern, sedang fungsi-fungsi lama mengalami transformasi. Tipetipe bangunan yang sebelumnya tidak dikembangkan seperti pabrik, gedung perkantoran dan pertokoan, rumah sakit, sekolah dan hotel besar merupakan tantangan baru dalam bidang arsitektur. Sedang revolusi gaya hidup yang ditandai dengan berperannya rumah-rumah ‘sub-urban’, rumah tanpa pembantu, penggunaan peralatan listrik seperti radio, televisi, alat pembersih debu, lemari es, dan sebagainya, telah menimbulkan problem-problem baru dalam perancangan dan penataannya.         

Ketiga, ditemukannya metode pengolahan dan teknik penggunaan bahan-bhan mterial baru. Dengan menggunakan material baja, beton bertulang dan kaca lebar, desain arsitektur dimungkinkan untuk mengeksploitasi bentuk-bentuk baru yang tadinya tidak dikenal, seperti bangun-an berkantilever atau gedung-gedung pencakar langit dengan kerangka baja dan selaput dinding kaca (curtain wall). Desain industri juga makin berkembang melalui sejumlah eksperimentasi dan eksplorasi bahan, seperti berbagai jenis plastik, serat gelas (fibre glass), logam ringan se-jenis aluminium atau campuran (alloy), baja tak berkarat (stainless steel), pelengkungan kayu lapis (laminated bentwood) dan sebagainya.





Pokok-pokok Gagasan dalam Modernisme

Pokok gagasan Modernisme lazim disebut juga ‘rasionalisme’, dan dalam penerapannya dapat dijabarkan lagi dalam beberapa ‘turunan’nya. Berikut ini, untuk lebih memudahkan dalam memahami Modernisme, akan diuraikan beberapa pokok gagasan yang dianut di dalamnya. Pokok-pokok gagasan ini sebenarnya tidaklah dapat dipandang sebagai bagian yang berdiri sendiri-sendiri secara terpisah, namun merupakan suatu kesatuan yang saling berkaitan dan saling pengaruh antara satu dengan yang lainnya.


a. Fungsionalisme  

Salah satu aspek rasional desain adalah apabila ia mampu memenuhi sasaran praktisnya, yaitu fungsional. Meskipun nilai fungsi selalu melekat dalam konsep desain dari sejak awal, namun dalam pendekatan Modernisme, aspek ini menjadi gagasan yang diutamakan.



Bentuk furniture yang dipengaruhi aliran tertentu, yang mengutamakan tafsir ulang terhadap bentuk-bentukfurniture yang ada pada masa sebelumnya dengan nafas baru.


Ada beberapa analogi pembenaran dalam penerapan paham fungsionalisme ini. Pertama adalah analogi ‘biologis’, yaitu para perancang mendasari pengamatannya pada alam dan bentuk-bentuk mahluk hidup. Mereka mengamati bahwa suatu organ mempunyai bentuk tertentu, bahkan berevolusi menuju suatu bentuk tertentu karena
tuntutan fungsinya. Analogi ini berkembang dalam pendekatan desain yang ‘organis’, yaitu bahwa bentuk luar suatu benda atau bangunan ditentukan oleh tuntutan fungsi dan struktur di dalamnya. Analogi yang lain adalah analogi ‘mekanis’. Dalam analogi ini, pengamatan para perancang didasarkan pada bentuk-bentuk hasil kemajuan teknik seperti kapal, pesawat terbang, bendungan atau jembatan.
  
Modernisme muncul dalam semangat industri dan mekanisasi. Mesin menjadi kunci utama. Kekaguman terhadap mesin sebagai fenomena perubahan peradaban manusia masa itu, menjadikan mesin sebagai sumber inspirasi dan panutan dalam berbagai gerakan/aliran seni dan desain yang muncul secara menjamur pada dua dekade awal abad 20.

Estetika mesin merupakan hasil penggabungan antara konsep seni dengan industri, yaitu kaidah-kaidah yang muncul dalam tuntutan rasionalitas industri. Nilai estetikanya mengacu baik pada bentuk mesin itu sendiri yang lugas, fungsional, tanpa ornamen atau dekorasi; sifat dan cara kerja mesin yang rasional dan efisien; serta pada bendabenda yang dihasilkan oleh sistem kerja mesin, yaitu sederhan, presisi dan terstandarisasi. Maka bentuk-bentuk desain yang dihasilkan adalah bentuk yang sederhana (simple), bersih (clean), dan jelas (clear). Kesederhanaan bentuk seringkali ditampilkan dengan penggunaan atau penyusunan bentuk dasar geometris atau bentuk-bentuk primer --seperti kotak, kubus, silinder, atau segitiga-- warna tunggal atau polos, serta anti ornamen. Bentuk dasar geometris selain dianggap mampu mengungkapkan sikap progresif dari mesin, juga kualitas abstraksinya yang impersonal dikatakan menyimpan nilai keindahan yang ‘abadi’ dan universal sebagaimana telah dikemukakan oleh Plato pada jamannya. Sedang ornamen baik dalam bentuk, warna, maupun motif menjadi tidak penting bahkanharus dihindari karena selain tidak memenuhi kriteria di atas, penggunaan ornamen juga mencerminkan kebudayaan kuno atau tradisional, dan tidak modern.

Kebenaran dan Kejujuran

Kemunculan Modernisme sering diasumsikan merupakan akibat logis yang tak  terhindarkan dari proses mesin. Salah satu konsekuensi cara berpikir rasional yang merupakan dasar pendekatan desain Modernisma adalah kebenaran dan kejujuran. Maka kaum Modernis juga menganut pandangan bahwa rancangan yang baik adalah yang mempu menampilkan nilai-nilai kebenaran (truth) serta kejujuran (honesty) baik terhadap fungsi, material, maupun struktur/konstruksi.

Namun demikian perlu juga dikemukakan di sini bahwa konsepsi tentang ‘kebenaran dan kejujuran’ yang diajukan para penganjur Modernisme ini, sebenarnya sulit unutk diterima sebagai kategori ‘rasional-teknis’. Karena, bagaimanapun ‘kebenaran dan kejujuran’ adalah konsep yang sangat bersifat moralis-ideologis dan berlaku normatif. Artinya, konsep ini lebih sering berlaku sekadar sebagai justifikasi ideologis bagi keabsahan diterapkannya Modernisme, yang pada akhirnya, sebagaimanan akan ditunjukkan kemudian, tidak dapat terus berguna untuk memepertahankan Modernisme sebagai ‘jalur utama’ desain pada paruh akhir dekade 70-an.

c.   Gaya Universal

Gelombang kebaruan pada pergantian abad yang dibawa oleh penemuan mesin, seolaholah menuntut suatu kebaruan gaya atau corak desain yang sama sekali baru  dan  tidak mengacu pada gaya-gaya yang sudah ada sebelumnya. Pemunculan Modernisme, yang didasarkan pda pendekatan-pendekatan yang rasional, fungsional dan terukur, serta di dalamnya terkandung nilai-nilai kebenaran dan kejujuran, dianggap memenuhi pencarian gaya yang sesuai dan mampu mewakili semangat jaman modern ini (Zeitgeist = spirit of the age). Hal ini terlihat dari berbagai eksperimen desain yang dilakukan par tokoh Modernisme dalam mencari bentuk desain baku (type-form), yang didasarkan pada pandangan bahwa desain yang baik adalah desain yang dengan tegas mampu memenuhi satu fungsi utama saja, sehingga dengan demikian desain tersebut seakan-akan sudah tidak dapat atau tidak perlu dikembangkan lagi, karena yang selebih dari itu akan dianggap sebagai tidak esensial atau tidak efisien.

Pandangan universalis ini tampaknya juga erat kaitannya dengan tumbuhnya semacam keyakinan bahwa pola-pola pembangunan yang telah dilakukan di Barat dapat (bahkan
‘harus) diterapkan di belahan dunia manapun yangingin mencapai kemajuan atau kemodernan. Setidak-tidaknya, kemudian tersebuar luas semacam andangan. Dalam usaha penyebaran Modernisme sebagai suatu ‘totalitas’ gaya yang universal inilah, para pendukungnya mereas perlu untuk menggunakan konsepsi-konsepsi moralistik seperti kebenaran dan kejujuran sebagai justifikasi ideaologisnya.

Dinamika Perkembangan Modernisme

Memahami Modernisme memang bukan merupakan hal yang mudah, terlebih jika berasumsi bahwa Modernisme merupakan sebuah garya atau aliran yang tunggal, dan bisa dengan sederhana dan tegas ditunjukkan definisi serta batasan-batasannya. Dalam perkembangan sejarahnya ternyata Modernisme tidak selalu berjalan dalam garis sejarah yang lurus atau dengan pemahaman yang selalu seragam. Sejarawan arsitektur C. Norberg Shulz, dalam bukunya Meaning in Western Architecture, bahkan tidak menggunakan istilah “modern” dalam pembabakannya, melainkan menganggap bahwa paham yang dominan pada paruh pertama abad ini adalah “Fungsionalisme”.

Dari situ dapat dipahami bahwa yang bernaung di bawah istilah Modernisme sebenarnya ada beragam aliran yang masing-masing memiliki penekanan khusus pada aspek gagasan tertentu, namun dengan tetap berpegang pada paradigma fungsi sebagai faktor determinan, serta fenome-na mesin sebagai sumber acuan. Perbedaan aliranaliran itu terutama ditentukan oleh konteks sosio-historis masyarakat dan negara tempat aliran itu berkembang, serta pengaruh dari tokoh-tokohnya.

Pada dekade-dekade awal abad 20 dapat disebutkan beberapa gerakan yang berpandangan ke depan (avant-garde) dalam desain misalnya adalah aliran Futurisme di Italia (1908) dan Konstruktivisme di Rusia (1917). Keduanya banyak melakukan eksperimen dalam desain arsitektur, grafis serta tekstil (fashion), dengan olahan garis, bentuk, ban ruang geometris yang bertujuan mencverminkan ekspresi desain yang modern dan progresif. Keufa aliran yang sangat erat berkaitan dengan kondisi politik negaranya masing-masing ini, mengalami kemunduran ketika terjadi situasi perubahan politik yang tidak mendukungnya lagi.


Salah satu tonggak perkembangan Modernismeadalah berdirinya sekolah desain Bauhaus yang dipimpin oleh Walter Gropius, di Weimar (1919), dan kemudian pindah ke Dessau (1925), Jerman. Prinsip dasar pendidikan Bauhaus adalah mengintegrasikan semua cabang ilmu pendukung desain --seni kriya dan teknik-- dengan tujuan menghasilkan desain-desain yang mampu menjawab realitas sosial dalam tantangan budaya industri modern. Dengan sejumlah tenaga pengajar adalah tokoh-tokoh seniman pembaharu aliran Kubisme Abstrak dan Konstruktivisme, seperti Paul Klee, Kandinsky, The van Doesburg, dan Josep Albers, Bauhaus menerpakan metode belajar yang memebelot dari konsep Romantisme dan Historisisme karya-karya klasik. Hasilnya adalah keberanian eksperimentasi individual dalam metode pangolahan bahan, serta ‘cara baru’ dalam memandang bentuk yaitu dengan mereduksinya ke elemen-elemen dasar bentuk geometris, dan kemudian memanipualsikannya kembali dalam olahan dengan yang sederhana, ‘jujur’ dan rasional.

Sangat banyak teori desain yang disumbangkan Bauhaus pada perkembangan desain dan arsitektur modern  secara  keseluruhan,  mulai  dari  simbolisme  estetika  abad  modern me-lalui  bentuk-bentuk geometris hingga pendekatan fungsionalisme murni yang ‘tanpa gaya’. Melalui Bauhaus pula sepat timbul dua cabang aliran dalam arsitektur Modernisme, yaitu ekspresionisme dan rasionalisme.

Gagasan Modernisme yang secara nyata berusaha dikaitkan dengan wujud idealisme sosial, yaitu penyediaan kebutuhan akan rumah tinggal dalam jumlah banyak dan cepat namun dengan harga yang minimum, tampak dalam sejumlah karya dan ungkapan tokoh arsitek yang tergabung dalam CIAM (Congres Internationaux d’Architectur Moderne), dan terangkum dalam manifesto-manifesto kongresnya yang berlangsung sepuluh kali dari tahun 1929 hingga 1956. Dan karena berusaha membangun bangunan-bangunan yang bersifat komunal ini, beberapa tokoh arsitektur modern sering dituduh berpaham sosialis. Bangunan perumahan atau apartemen berbiaya rendah menjadi sentral garapan para arsitel CIAM dalam komitmennya menjawab tantangan sosial yaitu kebutuhan akan perumahan dengan meledaknya jumlah kaum buruh industri maupun kebutuhan yang timbul akibat perang. Akibatnya ciri-ciri fisik prinsip desain modern seper-ti bidang-bidang polos (biasanya putih karena melambangkan kebersihan), atap datar dan jalur jendela memanjang (ribbon windows), sering dianggap sebagai simbol konvensional dari ‘arsitektur sosialis’.   

CIAMX kemudian dikenal sebagai aliran Brutalisme yang berkembang di Inggris sesudah Perang Dunia II. Brutalisme sendiri berasal dari kata ‘beton brut’, yang memiliki pengertian meng-expose permukaan beton secara ‘telanjang’ (tanpa ditutup dengan finishing lebih lanjut) pada tampak bangunan. Gaya ini lahir dengan alasan sekonomis serta ‘moralistik’ yaitu untuk dapat membangun secara ‘baik dan benar’ di tengah keterbatasan biaya dan material, dalam mas sulit sesudah perang.
Usaha menjadikan Modernisme sebagai satu-satunya gaya ‘paling benar’ mewakili semangat jaman dan berlaku secara internasional dilakukan oleh Museum of Modern Art (MOMA) di New York yang dimotori oleh H.R. Hitchock dan Philip Johnson, dengan mengadakan pame-ran “The International Style” pada tahun 1932.

Demikianlah, sebenarnya terdapat cukup ‘kerumitan’ dalam menjabarkan dan memahami Modernisme karena di dalamnya sangat diwarnai oleh berbagai keragaman aliran dan pendekatan. Aliran-aliran tersebut juga tidak berdiri secara sendiri-sendiri melainkan saling mempengaruhi dan tumpang tindih, sehingga memunculkan sejumlah nuansa persinggungan yang sangat jamak.

Salah satu upaya ‘memperbaharui’ cara pandang ini dicoba dilakukan oleh Charles Jenkcs dengan membuat semacam ‘peta evolusi’ dari perkembangan gagasan
Modernisme, yang dipahami sebagai sebuah ‘Gerakan Kemodernan’ yang pluralistik.

Menurut Jencks, gagasan-gagasan yang muncul dalam arsitektur modern berkembang secara evolusioner dalam 6 tradisi politik, tanpa pernah benar-benar mengalami kepunahan namun sekadar mengalmi ‘pasang surut’ dan perubahan bentuk (transformasi), atau merupakan overlapping dari satu tradisi dengan tradisi lainnya. Secara ringkas keenam tradisi tersebuat adalah sebagai berikut:

a.   Tradisi Idealis  

Merupakan sentral dari apa yang lazim kita kenal sebagai Modernisme. Gagasangagasan dalam tradisi ini sangat didasari oleh idealisme-idealisme, baik idealisme sosial maupun idealisme dalam mencapai kesempurnaan bentuk.

b.  Tradisi Kesadaran (Self Conscious)

Tradisi ini mengutamakan idealisme seperti tradisi pertama, tapi dengan kesadaran yang sa-ngat berlebih-lebihan (hyperconscious), misalnya ada usaha untuk mencapai nilai keabadian melalui monumentalitas, atau penonjolan inovasi-inovasi teknologi.

c.   Tradisi Intuitif

Penekanan gagasan dalam  tradisi ini adalah pada kebebasan ekspresi, imajinasi, dan kreativitas individual.
d.  Tradisi Logis

Ciri tradisi ini adalah dengan sistematika dan perhitungan yang sempurna berusaha mewujudkan utopi-utopi teknologis secara sangat rasional. ss
e.   Tradisi Ketaksadaran (Unself Conscious)

Dinamakan demikian karena sikap dalam tradisi ini didasarkan pada sistem produksi massa atau pre-fabrikasi yang bukan lagi dikuasai manusia secara individu/personal.

f.    Tradisi Aktivis

Gagasan-gagasan dalam tradisi ini sangat menekankan pada tujuan-tujuan sosial atau sebagai agen perubahan sosial.

Jencks mengakui bahwa pengelompokan politik ke dalam 6 tradisi ini merupakan penyederhanaan dari kenyataan sesungguhnya yang lebih rumit. Dari keenam tradisi ini kemudian dapat ditarik kesamaan-kesamaan asumsi sehingga secara ringkas seluruh gagasan tersebut dapat dibedakan ke dalam 2 kutub yang berlawanan namun saling melengkapi, yaitu gagasan tentang kesamaan dan keadilan sosial lebih dianut dalam Tradisi Aktivis, Unself Conscious, Logis, dan Idealis; sedangkan tradisi Self Conscious, Idealis dan Intuitif, lebih mengacu pada kebebasan otonomi dan ekspresi estetik.

 

No comments:

Post a Comment