BAB 6
IHWAL
KARYA
SENI RUPA
‘REMEH’
INDIKATOR
PEMBELAJARAN BAB 6
Setelah mempelajari bagian bab ini, Anda
diharapkan dapat:
• menunjukkan
contoh pendekatan bahasan seni rupa;
• menjelaskan
pendekatan antropologi dalam membahas seni rupa ;
• menjelaskan
pendekatan sosiologi dalam membahas seni rupa; dan
• menjelaskan
pendekatan psikologi dalam membahas seni rupa
6.1 Karya Seni Rupa “BEYOND THE PURE ART”
Banyak karya seni rupa yang tidak mendapat perhatian khusus
dari para teoretisi seni rupa. Hal itu dikaitkan dengan anggapan bahwa
karya-karya tersebut dianggap bukan karya adiluhung, yang menggambarkan latar
belakang pemikiran akademisi. Karyakarya seni rupa jenis ini dianggap sebagai
karya seni remeh (meminjam istilah yang biasa digunakan mengingatkan secara
teoretis oleh Prof. Sudjoko), yaitu karya-karya yang dibuat oleh para pedesa
(ini juga istilah yang sama dari Prof. Sudjoko). Ketika para pekota di Barat
beranggapan bahwa seni utama adalah seni lukis, seni patung, dan seni bangun
(ditambah seni gambar dan puisi), maka para pekota di hampir semua belahan
dunia pun memegang prinsip tersebut. Ketimpangan sikap sosial yang melatari
pola teori Barat tidak begitu diperhatikan oleh para pelangsung dan pendukung
teori tersebut. Padahal, di banyak tempat, karya seni rupa utama sangat
beragam. Di Indonesia yang mengagungkan teori ketimpangan tadi, juga
mengabaikan begitu banyak karya seni rupa anak bangsa yang bobot nilai estetis maupun
simbolisnya sangat tinggi. Sehingga, ketika akan berbicara masalah estetika
Indonesia, kesulitan yang dibangun dan dikedepankan adalah pertanyaan yang
melemahkan semangat pencarian: “adakah teori estetika Nusantara yang bisa
dijadikan landasan berpijak?”
6.1.1 MENGULAS SENI NUSANTARA
Oleh
Sudjoko
(Makalah
dalam Dialog Kesenirupaan Indonesia: Eksistensi Seni Rupa dalam
Perkembangan Ekonomi), di Gedung Pameran Seni Rupa, Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 25 -
27 Februari 1992
Panitia telah minta saya berbicara “sebagai pendidik”. Jadi
harap maklum saja kalau uraian berikut sesekali juga menyentuh pendidikan.
Dampak Kata
Orang sekarang tidak tahu bahwa kata KRITIK itu disontek
dari bahasa Barat (catatan kaki yang
diubah: tanpa paham bahasa Barat, kita sekarang berhak menjadi sarjana, dan
dosen. Dulu sih mustahil). Yang tahu pun mungkin tidak tahu dari kata apa: critic, critiek, kritisch, critique, critisize,
critical, criticism .... yang maknanya seperti bunglon. Lalu apa itu
‘kritis’, ‘kritisi’ dsb. Saya sudah ketemu sarjana2 yang pusing karenanya. Jangan tanya lagi dosen
muda, mahasiswa ingusan, dan pembaca koran. (Tentu saja yang dipersoalkan DIALOG
ini bukan hanya tulisan, atetapi pembaca pers juga). Kita lebih suka percaya
kepada takhyul “Ah masa nggak tahu? Semua
orang kan sudah tahu”.
Karena segan menyelundupkan bunglon bule ke bahasa kita,
saya memilih kata pribumi saja. Kita berhak mengasihani atau mencela warga yang
meremehkan bahasa Indonesia. Tetapi bahasa asing tak masuk UUD 45 maupun
GBHN,jadi kita boleh saja bego bahasa asing. Jelasnya, saya memilih kata ULAS.
Artinya bahas, kupas, urai, syarah,
yang pokoknya bukan kecam-an (atau belum tentu kecaman). Karenanya makalah saya
untuk PWI Jakarta Raya juga berjudul ‘Ulas Seni’ (catatan kaki yang diubah: Di TIM Jkt, 30-10-’87. Anda lebih suka
‘kupas seni’, ‘bahas seni’ dll? Terserah).
Kata ‘kritik’ memang disebut Kamus Umum Bahasa Indonesia
(KUBI). Sialnya, keterangannya justru tidak cocok dengan maunya ‘kritik’ seni.
(Tetapi yang tahu kan cuma segelintir
‘orang seni’, bukan?). Ketika menyusun KUBi, pak Poerwadarminta
(dan kita) memang belum pernah mendengar sebutan ‘kritik
seni’. Ini baru lho!
Sontek
Orang (berapa
gelintir?) yang tahu kritik seni di Barat bisa berkata, “Maksud kritik seni itu sebenarnya begini”. Dan
“begini” itu yan nebeng maksud Barat
itu, lengkap dengan aneka istilahnya dan teorinya (asal tidak salah mengerti). Memakai tembung (catatan kaki yang diubah: tembung [Jw] bisa berarti sebuah kata,
sekumpulan kata, bahkan juga bahasa) tebeng biasanya memang sekaligus menyedot
isinya asal sono juga. Tentu, sepanjang yang dapat kita cerna (Maklum bahasa Barat ..). Itu tentang
arti
‘kritik seni’.
Dan arti ‘disain’? Dalam suatu bincang disain di ITB yang
diahdiri peminat dari berbagai kota, Solichin Gunawan, seorang ahli, menjawab
kira2 begini: “Wah, susah
dijawab. Tiap tahun artinya berubah. Maka itu kita harus terusmengikuti
literatur
Barat terbaru. Kalau
tidak, kita akan ketinggalan terus”.
Nyontek atau nebeng memang sangat perlu, sebab sering
menguntungkan. Tetapi kalau tiap kali otak kita dibuat sesat atau diobrak-abrik
oleh otak sibule, sudah waktunyalah kita mempertanyakan kedaulatan kita dalam
berpikir.
Kalau mau ngojek silakan, tapi beri arahan yang betul. Kita
harus selalu tahu saat2 kapan nebeng, dan kapan jalan sendiri.
Jangan mengahmba terus dalam gugonan (catatan
kaki yang diubah: [dari gugu] terlalu gampang percaya kepada orang lain)
terus sembari mencurigai akal sendiri.
Dr. Sugito (dosen Fakultas Kedokteran UI) pernah bertanya
kepada saya: “Indonesianya patient apa?”.
Jawab saya, “Pelara saja, atau
pesakit”. Langsung saja pak Gito menjawab, “Salah! Di Barat sekarang, orang sehat juga disebut patient!”. Tuh, gara2 menyembah
istilah bule kita gampang sekali dibikin salah terus, dan linglung, dan ...
bego.
Selama ulah sontek kita masih terus latah saja, pantas juga
kita mempertanyakan kadar kedaulatan bangsa kita. Tetapi ada satu cara
mengatasinya: ambil saja tembung pribumi. Misalnya ULAS SENI. Ini mendorong
kita mencipta maknanya sendiri, dan tidak menggiring naluri kita untuk bertanya
kepada pakar manca (lalu manggut2 kebegoan). Hanya yang sudah
terpaku pada tembung ‘kritik seni’ saja yang akan bertanya, “Apa itu ulas seni?”.
Seni Baru
Ada kata lama yang ketambahan makna baru: SENI. Maknanya
yang lama tetap berlaku, misalnya ‘air seni’. Makna barunya muncul sekitar
tahun 1950, yang kemudian menetaskan tetembung seperti seperti ‘seniman’,
‘kesenian’, ‘pendidikan seni’, ‘film seni’, ‘nyeni’, dan belakangan ini ‘kritik
seni’. Anak kita percaya saja bahwa semua ini sudah ada sejak baheula, padahal
bikinan baru, dan saat lahir juga membuat orang bertanya, “Apa itu seniman? Jago kencing?”
Orang Belanda sendiri yang mengajar ‘seni rupa’ di sini
resminya tidak pernah menggunakan istilah kunstcritiek
(= kritik seni). Nama matakuliahnya saja
Kunstbeschouswing
(‘Tilik Seni’). Dengan sendirinya mahasiswa tidak diajari ‘ngritik’. Lalu
dengan mudiknya guru2 Belanda (yang terakhir pergi tahun 1960) kita
mulai banyak membeo sang adidaya. Jadi kita bilang ‘apresiasi seni’; tidak
misalnya ‘tanggap seni’ atau ‘tilik seni’. Sementara itu sejak 1970an menggema
tembung ‘kritik sastra’, ‘kritik seni’, dan ‘kritik film’. Semua ingin menyamai
krotak-kritik di manca berikut nekateorinya sekalian. Otak kita ‘membayar hak
cipta’ sono dengan menyedot aneka ‘kata orang’ sono, peristilahan, carapikir,
carapilih, caranilai, perilaku di sono dll, tentu sejauh, sesempit, atau
sebenar yang kita ketahui.
Makanya ‘sikampus’ bersikeras bahwa sebelum abad 20 di
Nusantara belum ada ‘disain’ dan ‘disainer’. Yang ada cuma rakyat gugon
(takhyulan) yang membuat barang cuma pakai bantuan jampi2 dan bau
kemenyan. Pokoknya tanpa otak, ilmu disain maupun ergonomics. Pesombong ini sebenarnya tak paham bahasa asing, cuma
membeo gurunya saja, dan tidak pernah memeriksa rerupa buatan rakyat kita,
saking keblingernya dia oleh yang serba Barat.
Kritik Senirupa
Kritik tari ditulis oleh penari. Kritik musik ditulis oleh
pemusik. Kritik sastra oleh sastrawan. Kritik arsitektur oleh arsitek. Kritik
sandiwara oleh pesandiwara.
Yang merasa tidak butuh kritik ialah arsitek. Maka itu
bukan mereka yang suka meributkan kritik seni. Habis, belum juga bangunan
digambar, persekot jutaan rupiah sudah masuk saku. Begitu juga jaminan pelukis
dan pematung yang mendapat projek. (Coba kalau penulis seni bisa dipersekoti
seperti itu. Mendapat setengah juta rupiah saja sudah mustahil ... ). Jadi yang
butuh kritik seni itu sebenarnya siapa? Dan supaya apa?
Yang merasa wajar saja menggunakan peristilahan pribumi,
bahkan kedaerahan, hanya kritik tari dan musik. Yang lain suka mengganti nama2
pribumi dengan nama2 Barat. Dan yang mengulas seni baru maupun seni
adat? Juga kritik tari dan musik. Kritik sandiwara dan bangunan terkadang bisa
begitu juga. Lalu siapa yang tidak pandang bulu, yang enak saja menulis tentang
seni di aneka daerah Nusantara? Lagi2 kritik tari dan musik.
Seni Rupa
Dalam ‘kritik seni’ kita, seni rupa itu sejenis lukisan
berbingkai. Pokoknya yang seperti di sonolah. Hanya kadang2 dia itu
patung, gerabah, dan gambar pena, itupun harus yang ‘murni’. Buatannya mesti
bisa dicap dengan istilah membarat, misalnya ekspresionis, surealis, dan
sebagainya.
Cikenis tidak ada sebab di sono tidak ada chiskenism (kecuali kalau New York punya
pelukis bulu ayam). Paranormalis Indonesia juga tidak ada sebab art history dan criticism sono tak tahu paranormal paranormal painting. Yang pasti mengenalnya pastilah orang melayu,
dan tentu saja bukan ‘kritisi’ ...
Seni rupa itu selalu bikinan ibu kota, itupun tiga saja:
Jakarta, Bandung, dan Yogya. Surabaya bisa juga dirangkul. Entah Solo. Kalau
Semarang, Pekalongan, Manado, Ambon dan lain-lain itu sih “tidak dianggep”.
Oleh siapa? Tentu saja oleh kaum
‘trikota’ tadi. Kalau ditanya, alasannya ‘mutu’. Dan mutu
apa? Tentu saja mutu jenis senirupa yang dirajai triquota.
Nusantara akan tetapi pelenggara (catatan kaki yang diubah: lenggara = selenggara [KUBI]. Jadi bilang saja lenggarawan, lenggarawati, kajilenggara
dsb.) Dialog ini Ditjen Kebudayaan DEPDIKBUD yang tentunya harus mengurusi seluruh Indonesia, berWAWASAN NUSANTARA,
dan tidak pilihsih. Itu bagusnya. Seni itu kan terlalu penting untuk diarahkan
hanya oleh nara-seni 3 kota saja. Politik itu toh terlalu penting untuk diurus
oleh politikus melulu; urusan perang itu toh terlalu penting untuk diserahkan
kepada jenderal melulu.
Pernahkah kita renungkan apa akibatnya kalau seni rupa
Indonesia itu diatur oleh kaum kota besar Jawa melulu? Nyatanya itu toh cuma ‘kliek’ tertentu saja yang jauh dari
alam senirupa Ade Sunandar Sunarya, Ki Warno Waskito, Ir. Guritno, Sumarah
Adhyatman, dan ndoro Go Tik Swan. Perkara kritik seni sama saja. Makanya
senirupa Indonesia itu terlalu penting untuk diatur oleh mereka saja. Kecuali kalau
mereka itu memang Nusantarawan sejati.
Selain itu, Ditjen Kebudayaan tentu berpegang pada
Pancasila dan UUD. Dan kita tahu, di situ ada keadilan bagi seluruh rakyat, ada persatuan Indonesia, ada kerakyatan,
yang semua sejalan dengan Ketuhanan Yang
Maha Esa. Sejak Soedjatmoko dulu mengamanatkan solidaritas sosial, maknanya
di zaman gusur-menggusur kini makin terasa. GBHN juga menamakan tugas
Pemerataan. Rasa cinta tanahair dan bangsa sendiri juga masih tetap rawan. Orang nusa Jawa, termasuk senimannya, tetap
saja suka melupakan atau meremehkan
luar-Jawa. Kita juga lebih sigap melayani wisman daripada wispri. Dan
begitulah seterusnya. Belum lagi perkara ini mengendap, sudah ada pula comotan
baru dari tuan Naisbitt: ‘globalisasi’ (catatan
kaki yang diubah: Sehingga perlu ‘Seminar Nasional Pendidikan Seni dan
Globalisasi Budaya’ di Yogya [Desember 1991]). Dia mengaitkannya cuma dengan
ekonomi Amerika, eh, kita dengan segala-galanya di Indonesia ....
Pokoknya, tiap pikiran untuk mengabaikan sebagian bangsa
dan tanahair, meremehkan budaya maupun
senirupa ‘beyond the Java Sea’
(meminjam ajaran KIAS) adalah benih ketimpangan, kegecotan, perasingan,
kesombongan, kelaliman, dan perpecahan (gecot = tak benar; lalim = tak adil).
Kepada perkara beyond tadi ingin saya
tambahkan dua lagi: ‘beyond the big city’
dan ‘beyond modernism’, sebab kawasan
ini juga sarat seni rupa. Yang tidak sependapat mungkin hanya penganut
polapikir tertentu saja tentang
SENI RUPA. Yang namanya ‘seni’ itu apa? ‘Seni rupa’ itu
apa? Pemodern tentu senang pembongkaran dan pembaruan, termasuk
bongkar-pasang-baru pola pikirnya sendiri.
Saran saya dalam bongkar-pasang ini:
buanglah dulu kotak2
pikir yang bercap ‘seni primitif’, seni tradisional, seni
murni, seni turis, crafts, folk arts,
peasant arts, kitsch, fine arts, major arts, dll, sebagaimana kita harus
membuat DDT, monosodium glutamate, pewarna makanan, dan ratusan obat (Entero,
Vioform, Sulfa Plus, dsb) yang katanya perlu, modern, enak dan manjur. Mulailah
dengan ASI, jangan dengan susu bubuk.
Semua tadi telah sering saya ajarkan. Misalnya di tahun
1991 kepada sekitar 80 mahasiswa senirupa ITB. Mereka lalu menulis pendapat
pribadi tentang makalah saya untuk PWI-Jaya, dan ini dinilai oleh Rina Wayanti
dan Yustiono.
Serbarupa
Orang yang belajar seni rupa di lembaga tinggi kita dapat
memilih bidang yang
kebetulan disukai ‘kritik seni rupa’. Tetapi dia juga bisa
memadaikan diri bidang tenun, batik, ukir, iklan, rekaruang, rekabenda,
rekabuku, pariwara, dll. yang telah atau bakal ada. Saya sendiri mimpi jurusan rekaswatur atau computer design (catatan kaki
yang diubah: Calon gurunya sudah saya siapkan: Rina Wayanti. Mulai tahun
1992 dia akan menekuni Computer Design
dulu di Ohio State University). Singkat kata, dalam pendidikan kita, SENI RUPA
itu sudah jauh lebih luas dari yang selama ini dimaksud oleh
pameran/diskusi/sejarah/hadiah/kritik seni. Aneh tapi nyata.
Guru2nya sering mengerjakan nekarupa. (Pelukis)
Achmad Sadali sering merancang perabot rumah (pesanan orang dan arsitek),
menangani rekaruang gedung besar dll. (Pelukis) Srihadi Sudarsono menggambari
buku dan majalah, menghiasi kapal laut, merancang huruf, mencipta logo dll.
(Pematung) Sunaryo merancang piala, kulit buku, reruang hotel dll. Yusuf
Affendy menenun, melukis, mengajar ‘Busana dan Mode’ (di ITB), banyak menulis
mengenai industri kecil, anyaman, ukiran dll di koran daerah, membuat gerabah
keperluan harian untuk dagangan toko (bukan untuk ‘galeri’), dan menghiasi
ratusan payung dengan bebunga (bersama pedusun, juga tidak untuk
‘pameran seni’). Kerja Sutanto di Pikiran Rakyat setali
tiga uang dengan kerja GM Sudarta di Kompas. Dosen2 lain juga
berbuat serupa.
Itulah
seni rupa. Tetapi itulah yang tidak ada
dalam kritik seni rupa.
Serbamoh
Cuma (kecuali Yusuf Affendy), mereka itu --dan hampir semua sarjana
senirupa lain- tidak doyan menulis makalah dan artikel, bahkan menulis diktat
juga tidak. Di sinilah sumber lain dari
‘masalah kritik seni kita’. Tetapi beginilah bangsa kita dan seniman kita ini,
termasuk yang tertinggi pendidikannya: moh-nulis, selalu berdalih “tidak bisa menulis” atau “bukan tugasku menulis”. Menurut Yus
Badudu ada dalih lain:
“Maklum, saya bukan sastrawan ...”
Karena kuatnya adat mohtulis ini bangsa kita juga tidak
pernah punya minat untuk menggalakkan rangsangan menulis. Kita baru pandai
merangsang orang untuk menjadi penyanyi pop. (Sejuta rupiah satu lagu, 75 juta
rupiah untuk mentas di malam ‘Old and
New’).
Virus Lain Bernama Mohteori
Ini menulari sebagian ‘dosen praktek seni’ (guru melukis,
mematung dll). Nalarnya begini: teori itu bukan kerjaan ‘guru praktek’,
termasuk teori tentang bidang-praktek mereka sendiri. Jadi kalau dikirim ke
luar negeri, mereka hanya mau ‘kerja
praktek’ melulu. Kembalinya tentu saja tanpa ijazah tambahan.
Singkatnya, adat mohtulis-mohteori-mohbaca inilah biang
lain dari masalah ulas seni kita. Memang, belakangan ini muncul momoknya, yaitu
syarat naik pangkat di perti negeri. Momok kertas? Kita lihat saja nanti.
Televisi
Hampir tiap malam TVRI menayangkan seni rupa, sebagai warta
pendek maupun tayangan panjang. Misalnya tentang tenun, batik, busana, anyaman,
kerang, kulit, kue besar, perabot rumah, bunga kering, karangan bunga, giok
Cina, lomba patung es, keris, topeng, wayang, lukisan bulu, lukisan paranormal,
dan banyak lagi dari seluruh Nusantara.
Pewarta TV, mungkin karena tidak pernah belajar teori seni memBarat, leluasa
saja mengejar rerupa yang menarik dan elok.
Kajirupa
Mari kita tengok senirupa kajian tiga ahli, pilihan dari
jutaan buku kajiseni. Tiap sebutan ‘kunst’ (= art) akan saya alih ‘seni’, dan
‘kunstenaar’ (= artist) ‘seniman’. William Willets. 1958. Chinese Art. Dua jilid, 802 halaman.
Ini sejarah senirupa dari masa purba sampai dengan abad 20.
Isinya 8 bab, a.l. Jade (giok) 53
hal., Bronze (gangsa) 48 hal., Lacquer and Silk (rengas dan sutera) 79
hal., dan Pottery (kundian) 100 hal.
Jadi, 280 halaman untuk empat rerupa ini, atau hampir sepertiga buku. Bab 5, Painting and Calligraphy, makan 116
halaman, sebagian untuk lukisan, sebagian untuk suaksara. Dalam Jade dibahas antara lain badik, gelang,
kancing, jimat dan bedor (mata tombak/panah); dalam Lacquer and Silk a.l. pinggan, bejana, jambang, cepu (tempat
menaruh tembakau dsb, dari kayu atau logam), cermin, tenunan; dalam Bronze, aneka bejana/guci.
Prof. Dr. J.H. Kramers. 1953. Over de Kunst van de Islam.
Jenis2 yang dibahas buku seni Islam ini a.l. kunsthandwerk (seni kria), metaalkunst
(seni logam), zijdeweefkunst
(seni tenun sutera), tapjtkunst (seni
ambal), schrijfkunst
(seni tulis), miniaturkunst
(seni lukisil: lukisan mungil, dimuat dalam buku), weefkunst (seni tenun), portretkunst
(seni wajah), boekkunst atau de kunst van het boek (seni buku), calligrafiekunst (seni suaksara:
sebetulnya suaksara saja cukup), snijkunst (seni ukir), knipkunst (seni gunting), ceramische schilderkunst (senilukis kundian), decoreerkunst (seni hias), binnendecoratie
(hias halaman), baksteendecoratie
(hias bata), decoratie atau
muurversiering (hias dinding), stucco-decoratie
(hias turap), glazuurtegel-decoratie
(hias ubin kilap), inlegwerk
(sesemat), tuinaanleg (rekataman), marmermozaiek (dandi pualam), dan glasmakerij (pekacaan).
Prof.
Dr. A.W. Nieuwenhuis. 1923. ‘Kunst en
Kunstvaardigheid in Indie’ Mingguan
Indie, bersambung 40 kali.
Diakui oleh pengarang bahwasanya senirupa Indonesia terlalu
kaya sehingga dia memilih sebagian kecilnya saja dari beberapa daerah. Untuk
ini dia menggunakan istilah2 berikut yang akan saya alih katawi: kunsthandwerk (seni kria), weefkunst (seni tenun), kunstvlechtwerk (seni anyam), kunt van het kopergieten (seni cor
kuningan), snijkunst kunstsmeedwerk
(seni tempa logam), versieringskunst
(seni hias), kunstmederij (apar
senibesi: apar berarti dapur pandai besi), zilversmeedkunst
(seni perak). Pelakunya antara lain siekunsttenaar
(seniman hias), snij-kunstenaar (seniman
rujit/ukir/pahat), dan kunstsmid
(seniman besi). Gambar2 yang
disertakan pengarang, masing2 sebesar satu halaman, melihatkan
slandok (gesper) kuningan/emas, udutan, bun (tempat sirih) emas, pantik (besi
pemercik api) berantai, gelang cor, selendang sutera bersulam emas-perak,
sundusi, kampil (tas kecil), lampit rotan, wadah mesiu dari tanduk, aneka
keris, bedor-pamor lembing), dokoh (hiasan berantai untuk leher), senjata2
kerajaan, sabuk-kia (kia = steek, jahitan) perak, wayang kulit,
wayang kulit + gamelan lengkap, rumah adat berukir, kepala suku Toraja
berpakaian upacara, wanita Aceh menenun, dan pembatik cap.
Seni rupa itu ditilik lewat banyak jurus. Yang barusan tadi
jurus sejarah. Lalu ada jurus antropologi, jurus sosiologi, jurus nafkah rakyat
kecil, jurus pembangunan desa, jurus pariwisata, jurus ekspor nonmigas, jurus
pabrik, pokoknya banyak jurus. Masing2 punya patokannya,
maksud-tujuannya, caranya, kebiasaannya, dan penilaiannya sendiri. Pokoknya
kalau ingin menjawab ‘apa itu seni rupa?’, jangan belum apa2 sudah sok mongkok, mentang2 kita
ini terpelajar dan pekotabesar.
Kritik
Salah satu biang masalah KRITIK SENIRUPA berpangkal pada
tembung ‘kritik seni’ itu sendiri, sebab menyelundupkan muatan2
berikut dari sumber Baratnya: 1) hanya mengitari satu-dua jenis senirupa; 2)
berpatokan ‘seni murni’; 3) hanya menggauli seni baru; 4) hanya menyoroti seni pribadian; 5) hanya menonjolkan seni
kotabesar; 6) hanya melayani kaum tengahatas; 7) hanya menguntungkan senirupa
kota besar Jawa; 8) hanya menggunakan peristilahan Barat.
Kritik senirupa hanya mengurusi sebagian kecil senirupa di
Nusantara (biarpun yang paling besar mulut), alias tidak berwawasan Nusantara.
(Jadi berwawasan apa?) Maka itu ada
baiknya nama diganti dengan bahas seni, tilik seni atau ulas seni saja, lalu
kita isi muatannya. Bertanya “what’s in
name?” memang gampang. Tetapi menjawabnya? .... Bangsa kita punya jawab
sendiri. Kita renungi saja selera bangsa kita
sekarang: cara kita menamai segala sesuatu, dan mengubah
nama-pribumi segala sesuatu, khususnya cara pekota.
Akuilah: kita ini bukan bangsa sukatulis, sukabaca,
sukabuku, dan sukakaji biarpun jumlah sekolah dan universitas naik terus.
Biarpun sudah lama merdeka, kita ini masih jauh dari
mandiri dalam berpikir, dan masih lebih senang dicekoki orang luar. Malah
gengsi dicari lewat nyadong.
Akuliah: perpustakaan kita sepi. Pustaka senirupa terlalu
langka. Yang ada di lembaga senirupa pun jarang dijamah,
dan itupun hanya untuk dilihat gambar2nya (dan ditiru). Belum lagi
soal bahasa asing, dan soal membeli buku. Kalau perkara bacaan, kita ini baru
suka membeli koran, dan itupun baru kita di Jawa saja, dan di kota! Membeli
majalah saja kita sudah pikir2, dan keputusannya pun bukan ‘membeli
majalah seni’. Apalagi membeli buku seni .... Itu sebabnya hampir semua majalah
seni gulung tikar, dan sisanya megap2. Jadilah kita ini bangsa yang
tahu nama Raden Saleh tetapi tidak pernah melihat lukisan Raden Saleh dalam
bentuk apapun. Orang senirupa saja terlalu banyak yang begitu!
TV dan Pers
Dengan demikian dewasa ini peranan pers dan TV menjadi paling menentukan (entah harus sampai
kapan). Segala jenis uraian senirupa masih harus ditumpahkan di situ. Kalau di
negara maju tidak begitu, ya itu karena negara itu sudah maju. Kita pahamilah
ini. Janganlah kita suka mimpi mau seperti sono padahal landasannya tidak ada.
Yang perlu disajikan TV/pers ialah ilmu seni, tanggap seni,
dan ulas seni, secara terpisah maupun tergabung.
Ilmu seni berisi pengetahuan selintas
mengenai aneka istilah, nama, cerita, adat, sejarah, guna, kiat, nafkah dll.
Tanggap seni memberi pengantar dalam
acara melihat, menggunakan, menghargai, dan membuat rerupa.
Ulas seni membimbing pembaca/penonton
dalam menilai seni yang sedang/baru/akan dipamerkan, diberitakan, dibangun dsb.
Sajiannya mesti membuka mata,
membangunkan minat, mendidik, nekarupa, nekasegi, nekataraf, nekamasa, dan
banyak menusantara. Karena jutaan perupa penghasil ribuan jenis rerupa bertekun
di desa, alam pikir, alam maksud, mutu karya, nama pribadi mereka, jasa mereka
dalam ekspor non-migas, impian, cita2 dan masalah hidup mereka
pantas selalu dikemukakan.
Sekian uraian saya.
Tulisan berikut adalah makalah Dr. Sanento Yuliman, dosen
FSRD ITB yang kritikus seni ternama. Tulisannya banyak dimuat di antaranya
dalam majalah Tempo.
6.1.2 BATIK, SANG PENJELAJAH
Pokok pikiran diajukan dalam Sarasehan
Batik, pada 9 September 1990, di Dalem
Ageng Ambarrukmo Palace Hotel, Yogyakarta, dalam rangka Dies Natalis Asrama Mahasiswa GKBI Yogyakarta.
Oleh Saneno
Yuliman
“Menjelajah”, menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia 1976,
berarti menjajah atau bepergian, menyelidiki, dsb, ke mana-mana. Diterapkan
untuk batik, kata itu tentu saja digunakan dalam arti kias. Batik, sebagai
cabang seni, dikatakan menjelajah, dalam arti merambah ke berbagai arah,
mencobakan sejumlah hal yang sebelumnya tidak dilakukan. Saya ingin
menggarisbawahi kenyataan sejarah yang memperlihatkan betapa batik memiliki
sifat penjelajah ini, dan ingin menggarisbawahi sifat ini sebagai unsur pokok
yang di dalam pikiran kita selayaknya membentuk citra kita tentang batik.
Tentu saja itu berarti, saya memegang citra dinamis tentang
batik: saya memandang dinamika sebagai unsur hakiki di dalam batik. Pandangan
begini membawa konsekwensi dalam praktek seperti akan saya bicarakan kemudian.
Perumitan dan Penghalusan
Kita tidak mempunyai tinggalan kain atau perca kain yang
secara arkeologi dapat disimpulkan
sebagai hasil awal-mula batik. Bahkan beberapa pandangan masih mempertengkarkan
asal-usul batik.
Tetapi kita mengetahui praktek yang memungkinkan kita
membayangkan – meskipun tidak amat jelas dan pasti – batik pada suatu tahap
terdahulu. Kain simbut di daerah Banten masa lalu, misalnya, dibuat dengan
teknik palut-dan-celup kain, mirip teknik batik. Hanya, pada simbut permukaan
kain dipalit bukan dengan lilin, melainkan dengan bubur ketan, menggunakan
bilah bambu atau jari. Dengan alasan itu orang dapat mengatakan, simbut bukan
batik. Di beberapa tempat di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah, masa lalu,
terdapat batik sederhana. Di Galumpang, Sulawesi Tengah, misalnya. Di sana
gambar dibuat dengan lilin cair, dipalitkan pada kain dengan sepotong buluh
kecil. Teknik bersahaja memungkinkan pola hias geometrik sederhana, terbentuk
bukan dengan garis malar (kontinyu) melainkan dengan rangkaian titik-titik,
serta pencelupan dengan hanya satu warna.
Keheranan dan renungan dapat diperluas meliputi jenis dan
cara mengolah bahan pewarna alam: nila, soga (diperoleh dari campuran bermacam
tumbuhan seperti kayu tingi, kayu tageran, dan kayu jambal), kunyit, dan
mengkudu; canting bagong, canting pegon, canting popokan atau canting tembokan
– ini ada 3 macam, canting cecek loro, dan canting cecekan -- 5 macam.
Proses pembuatan kain batik cukup rumit. Seluruhnya ada 5
macam proses pokok, dari penyiapan kain hingga nglorod (menghilangkan malam)
dan proses akhir. Masingmasing proses itu berisi sejumlah proses. Penyiapan
kain, misalnya, meliputi 4 tahap atau proses (mencuci, ngetel, nganji,
ngemplong), sedang proses kerja dengan malam, berisi 6 proses (nglowongi,
nembok, mbironi, nonyok, ngremuk, cocohan). Tentunya kita perlu mengingat pula
peralatan dan perlengkapan yang digunakan.
Terdapat perkembangan yang jauh dalam teknik, dari batik
sederhana dan kasar yang telah kita singgung di muka, ke batik Jawa yang kita
sebut tradisional atau klasik. Bagaimana perkembangan begitu terjadi dalam
masyarakat yang selama itu berpedoman pada tradisi? Tentu berjalan lambat dan
lama, berabad-abad, sekalipun seandainya kita memperhitungkan kemungkinan pengaruh
dari luar. Perkembangan itu meniscayakan penjelajahan.
Empat ribu orang wanita sedang membatik yang disaksikan
Rijklof van Goens waktu Gubernur V.O.C. itu mengunjungi keraton Mataram pada
1606 menunjukkan, bahwa pada awal abad ke-17 batik telah menjadi seni, dan
industri, yang penting dalam keraton Mataram. Dalam abad itu ia harus bersaing
dengan tekstil halus, bergambar, dari India (malabar), yang masuk dalam jumlah
besar ke Nusantara. Perkembangan canting dan proses batik niscaya sebagian
dipacu oleh tantangan ini, untuk menghasilkan kain yang tangguh dalam
persaingan.
Sebagian dipacu oleh tuntutan perkembangan kebudayaan Jawa
sendiri. Dalam melukiskan perubahan sosiologis masyarakat Jawa dari abad ke-17
sampai dengan abad ke-19, D.H. Burger melukiskan proses perfeodalan, perumitan,
dan penghalusan kebudayaan Jawa. Batik terpacu melakukan penjelajahan dalam
berbagai seginya untuk memenuhi tuntutan gerak kebudayaan ini. Nyatanya,
kebudayaan Jawa memasukkan busana – dan batik adalah bagian pokok dalam busana
Jawa – ke dalam kagunan adiluhung, “fine arts”, sekedudukan dengan kacurigan
(perkerisan), karawitan, tari, dll.
Perluasan Konsumen dan Penekaragaman
Kebutuhan
Tantangan tidak berhenti dalam abad-17 dan ke-18.
Pemerintah kolonial Hindia Belanda ditegakkan di abad-19, memperkecil dan
memperlemah kekuasaan keratonkeraton, termasuk genggaman mereka atas batik.
Pemerintah Hindia Belanda juga memasukkan bermacam etnis – masyarakat yang
terpilah-pilah ke dalam aneka kelompok etnis adalah ciri penduduk kota pesisir
– ke dalam satu tata pemerintahan, mempergiat komunikasi antar-etnis. Yang
memerlukan batik, meluas: bukan hanya orang Jawa. Tambahkan ke dalamnya ikhwal
pertambahan penduduk.
Paroh kedua abad ke-19 menyaksikan terbukanya Indonesia
bagi modal asing dan hasil industri Eropa, di antaranya tekstil. Batik
ditantang bukan saja oleh kebutuhan yang harus dipenuhi, tetapi juga oleh
persaingan. Kita tahu jelajah baru, bahkan perkembangannya kemudian, yang
diberikan batik sebagai jawaban: mengembangkan canting cap, menyerap bahan
warna sintetis, menyederhanakan cara produksi –
berbagai upaya untuk meninggikan produktivitas dan mengendalikan biaya.
Tentu penting untuk memperhatikan segi kumulatif: penjelajahan ini menambah
pada apa yang sudah ada, dan bukan melupakan atau melenyapkan samasekali.
Jaman kita juga menyaksikan berkembangnya “ungkapan bebas”
atau “ungkapan murni” dalam batik: lukisan batik, lengkap dengan pemidang dan
bingkai, gunanya untuk dipajang di dinding.
Dalam penjelajahannya, batik juga sempat melirik ke teknik
tekstil lainnya, dan merangkulnya. Kita mengenal, misalnya batik-lurik,
campuran batik dan tenun, dan batik-bordir, campuran batik dan bordir.
Masyarakat yang makin sibuk dengan peristiwa penting
silih-ganti, dan semakin
peka terhadap media massa,
mendorong batik menghasilkan kain seperti Sirikit, Cikini (berhubungan
dengan peristiwa Cikini), Trikora, Ampera, dll.
Memudarnya masyarakat tradisional, ekonomi pasar, perluasan
konsumen, tampaknya telah menambah dinamika batik, memperluas dan mempergencar penjelajahannya. Satu lagi:
ketika adat memudar, ikatan etnis, kerabat, dan daerah melonggar, batik bertemu
dengan kumpulan luas individu yang serbaragam. Dan batik, sebagai sandang,
sebagai perlengkapan diri dan perlengkapan rumah, tak ayal memasuki wilayah
pribadi – bertemu dengan citra diri dan cita rasa yang sangat anekaragam dan
berubah-ubah dalam kumpulan individu yang sangat luas itu. Kenyataan ini
memperkuat tuntutan terhadap batik akan penjelajahan yang sadar dan berencana
di jaman sekarang.
Batik, San Penjelajah
Makalah ini tidak bertujuan mencatat sejarah batik, apalagi
terperinci dan lengkap dengan nama-nama pihak dan orang yang berjasa di
dalamnya. Cukuplah bila dapat ditonjolkan ke permukaan salah satu ciri yang
dimiliki batik: sifat penjelajah. Bukan penjelajah yang kian-kemari dengan
tangan hampa. Sebab, kita dapat menyidik sifat selektif dan kumulatif
penjelajahannya: ia tidak membuang segala apa yang telah diperolehnya dalam
perjalanannya, tanpa timbang-timbang dan pilih-pilih.
Bagaimanapun, penjelajahan itu, di jaman sekarang, tidak
dapat berlangsung secara meraba-raba: sekarang, penjelajahan itu perlu sadar,
berencana, kritis. Itu berarti, penjelajahan perlu berlangsung dengan sikap dan
laku menelaah, menilai, dan mencari tindak lanjut. Penjelajahan itu juga perlu
ke berbagai arah: ke arah bahan dan teknik, ke arah rupa, dan ke arah guna. Ke
arah bahan dan teknik, tentu saja berarti telaah perlu pula diarahkan kepada
sistem yang di dalamnya bahan dan teknik itu digarap atau dilaksanakan: telaah
ke arah sistem produksi. Telaah ke arah rupa menyangkut telaah ke arah wahana
yang mendukung rupa itu, yaitu bahan dan teknik. Dan telaah ke arah guna
tentulah menyangkut telaah ke arah pemakaian, yang berkait dengan perilaku
pemakai sehubungan dengan produk. Dan tak pula kurang terkait: saluran, yang
mengantarkan produk kepada pemakai. Dengan kata lain, sistem distribusi.
Akhirnya, telaah tidak semata-mata tertuju kepada apa yang telah ada, yang
potensial. Penjelajahan seperti itu tiada lain praktek penelitian dan pengembangan,
yang bisa berlangsung di dalam perusahaan, atau pun di luarnya.
Jika di masa sekarang, di satu pihak kita melihat orang
berbondong-bondong berebut
kain hasil suatu tempat atau daerah (misalnya, Tuban, “baru
ditemukan”), sedang di lain pihak banyak kegiatan batik gulung-tikar, dan
bergunung-gunung canting cap dijuali (misalnya, di Pekalong-an, yang sudah lama
dikenal), apakah itu bukan sebagai salah satu sebab, karena kejenuhan, karena
orang mencari yang lain atau yang baru, karena tawaran tidak cukup kaya dan
dinamis dalam jenis, guna, dan ragam?
CATATAN
1. A.N.J.Th.a Th. Van der Hoop, Indonesische Siermotiven,
Koninlijk Bataviaasch Genootschap
voor Kunsten en Wetenschappen, 1949, h.72.
2. Frits
A.Wagner, Indonesie, l’Art d’Un Archipel, Albin Michel, 1961, h.146.
3. Dikutip
oleh CN. Soeprapto Haes dalam “Disain Batik Solo”, skripsi, Departemen Seni Rupa ITB, 1974, h.34.
4. Frits
A.Wagner, ...., h.150.
5. D.H.Burger
dan Prajudi, Sedjarah Ekonomis Sosiologis Indonesia, jilid I, Pradnjaparamita, Jakarta, 1962, h.76-92.
6. Lihat
Koesni, Pakem Pengetahuan Tentang Keris, Aneka, Semarang, 1979, h.32-
41.
PUSTAKA RUJUKAN
Myers, Bernard S. 1958. Understanding
the Arts. New York: Holt, Rinehart and Winston
Read, Herbert. 1958. Education
through Art. New York: Pantheon Book Inc.
Rowland,
Kurt. 1973. A History of the Modern
Movement: Art, Architecture, Design.
New York: Van
Nostrand Reinhold Book
Sakri, Adjat. 1993. Seni
Rupa dalam Dunia Modern. Bandung: Penerbitan ITB
Sujoko. 1992. “Mengulas Seni Nusantara”. Makalah
disampaikan dalam Dialog
Kesenirupaan
Indonesia, Eksistensi Seni Rupa dalam Perkembangan Ekonomi di
Gedung Pameran
Seni Rupa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta Sylvester, David (Ed.). 1993. The Book of Art. Vol. 8: Modern Art.
London: Grolier
Yuliman,
Sanento. 1990. “Batik, Sang Penjelajah”. Pokok pikiran disampaikan dalam Sarasehan Batik, 9 September 1990, di
Dalem Ageng Ambarrukmo Palace Hotel,
Yogyakarta
No comments:
Post a Comment