Translate

Thursday, 2 July 2020


                                                       BAB 6                  
IHWAL KARYA 
SENI RUPA ‘REMEH’




INDIKATOR PEMBELAJARAN BAB 6


Setelah mempelajari bagian bab ini, Anda diharapkan dapat:


      menunjukkan contoh pendekatan bahasan seni rupa;
      menjelaskan pendekatan antropologi dalam membahas seni rupa ;
      menjelaskan pendekatan sosiologi dalam membahas seni rupa; dan
      menjelaskan pendekatan psikologi dalam membahas seni rupa


6.1 Karya Seni Rupa “BEYOND THE PURE ART”

Banyak karya seni rupa yang tidak mendapat perhatian khusus dari para teoretisi seni rupa. Hal itu dikaitkan dengan anggapan bahwa karya-karya tersebut dianggap bukan karya adiluhung, yang menggambarkan latar belakang pemikiran akademisi. Karyakarya seni rupa jenis ini dianggap sebagai karya seni remeh (meminjam istilah yang biasa digunakan mengingatkan secara teoretis oleh Prof. Sudjoko), yaitu karya-karya yang dibuat oleh para pedesa (ini juga istilah yang sama dari Prof. Sudjoko). Ketika para pekota di Barat beranggapan bahwa seni utama adalah seni lukis, seni patung, dan seni bangun (ditambah seni gambar dan puisi), maka para pekota di hampir semua belahan dunia pun memegang prinsip tersebut. Ketimpangan sikap sosial yang melatari pola teori Barat tidak begitu diperhatikan oleh para pelangsung dan pendukung teori tersebut. Padahal, di banyak tempat, karya seni rupa utama sangat beragam. Di Indonesia yang mengagungkan teori ketimpangan tadi, juga mengabaikan begitu banyak karya seni rupa anak bangsa yang bobot nilai estetis maupun simbolisnya sangat tinggi. Sehingga, ketika akan berbicara masalah estetika Indonesia, kesulitan yang dibangun dan dikedepankan adalah pertanyaan yang melemahkan semangat pencarian: “adakah teori estetika Nusantara yang bisa dijadikan landasan berpijak?”

  

6.1.1 MENGULAS SENI NUSANTARA

           Oleh Sudjoko
           (Makalah dalam Dialog Kesenirupaan Indonesia: Eksistensi Seni Rupa dalam     
            Perkembangan Ekonomi), di Gedung Pameran Seni Rupa, Departemen  
            Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 25 - 27 Februari 1992      


Panitia telah minta saya berbicara “sebagai pendidik”. Jadi harap maklum saja kalau uraian berikut sesekali juga menyentuh pendidikan.

Dampak Kata 

Orang sekarang tidak tahu bahwa kata KRITIK itu disontek dari bahasa Barat (catatan kaki yang diubah: tanpa paham bahasa Barat, kita sekarang berhak menjadi sarjana, dan dosen. Dulu sih mustahil). Yang tahu pun mungkin tidak tahu dari kata apa: critic, critiek, kritisch, critique, critisize, critical, criticism .... yang maknanya seperti bunglon. Lalu apa itu ‘kritis’, ‘kritisi’ dsb. Saya sudah ketemu sarjana2  yang pusing karenanya. Jangan tanya lagi dosen muda, mahasiswa ingusan, dan pembaca koran. (Tentu saja yang dipersoalkan DIALOG ini bukan hanya tulisan, atetapi pembaca pers juga). Kita lebih suka percaya kepada takhyul “Ah masa nggak tahu? Semua orang kan sudah tahu”.

Karena segan menyelundupkan bunglon bule ke bahasa kita, saya memilih kata pribumi saja. Kita berhak mengasihani atau mencela warga yang meremehkan bahasa Indonesia. Tetapi bahasa asing tak masuk UUD 45 maupun GBHN,jadi kita boleh saja bego bahasa asing. Jelasnya, saya memilih kata ULAS. Artinya bahas, kupas, urai, syarah, yang pokoknya bukan kecam-an (atau belum tentu kecaman). Karenanya makalah saya untuk PWI Jakarta Raya juga berjudul ‘Ulas Seni’ (catatan kaki yang diubah: Di TIM Jkt, 30-10-’87. Anda lebih suka ‘kupas seni’, ‘bahas seni’ dll? Terserah).

Kata ‘kritik’ memang disebut Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI). Sialnya, keterangannya justru tidak cocok dengan maunya ‘kritik’ seni. (Tetapi yang tahu kan cuma segelintir ‘orang seni’, bukan?). Ketika menyusun KUBi, pak Poerwadarminta
(dan kita) memang belum pernah mendengar sebutan ‘kritik seni’. Ini baru lho!

Sontek

Orang (berapa gelintir?) yang tahu kritik seni di Barat bisa berkata, “Maksud kritik seni itu sebenarnya begini”. Dan “begini” itu yan nebeng maksud Barat itu, lengkap dengan aneka istilahnya dan teorinya (asal tidak salah mengerti). Memakai tembung (catatan kaki yang diubah: tembung [Jw] bisa berarti sebuah kata, sekumpulan kata, bahkan juga bahasa) tebeng biasanya memang sekaligus menyedot isinya asal sono juga. Tentu, sepanjang yang dapat kita cerna (Maklum bahasa Barat ..). Itu tentang arti
‘kritik seni’. 

Dan arti ‘disain’? Dalam suatu bincang disain di ITB yang diahdiri peminat dari berbagai kota, Solichin Gunawan, seorang ahli, menjawab kira2 begini: “Wah, susah dijawab. Tiap tahun artinya berubah. Maka itu kita harus terusmengikuti literatur
Barat terbaru. Kalau tidak, kita akan ketinggalan terus”.

Nyontek atau nebeng memang sangat perlu, sebab sering menguntungkan. Tetapi kalau tiap kali otak kita dibuat sesat atau diobrak-abrik oleh otak sibule, sudah waktunyalah kita mempertanyakan kedaulatan kita dalam berpikir.

Kalau mau ngojek silakan, tapi beri arahan yang betul. Kita harus selalu tahu saat2  kapan nebeng, dan kapan jalan sendiri. Jangan mengahmba terus dalam gugonan (catatan kaki yang diubah: [dari gugu] terlalu gampang percaya kepada orang lain) terus sembari mencurigai akal sendiri.

Dr. Sugito (dosen Fakultas Kedokteran UI) pernah bertanya kepada saya: “Indonesianya patient apa?”. Jawab saya, “Pelara saja, atau pesakit”. Langsung saja pak Gito menjawab, “Salah! Di Barat sekarang, orang sehat juga disebut patient!”. Tuh, gara2 menyembah istilah bule kita gampang sekali dibikin salah terus, dan linglung, dan ... bego.

Selama ulah sontek kita masih terus latah saja, pantas juga kita mempertanyakan kadar kedaulatan bangsa kita. Tetapi ada satu cara mengatasinya: ambil saja tembung pribumi. Misalnya ULAS SENI. Ini mendorong kita mencipta maknanya sendiri, dan tidak menggiring naluri kita untuk bertanya kepada pakar manca (lalu manggut2 kebegoan). Hanya yang sudah terpaku pada tembung ‘kritik seni’ saja yang akan bertanya, “Apa itu ulas seni?”.

Seni Baru

Ada kata lama yang ketambahan makna baru: SENI. Maknanya yang lama tetap berlaku, misalnya ‘air seni’. Makna barunya muncul sekitar tahun 1950, yang kemudian menetaskan tetembung seperti seperti ‘seniman’, ‘kesenian’, ‘pendidikan seni’, ‘film seni’, ‘nyeni’, dan belakangan ini ‘kritik seni’. Anak kita percaya saja bahwa semua ini sudah ada sejak baheula, padahal bikinan baru, dan saat lahir juga membuat orang bertanya, “Apa itu seniman? Jago kencing?”

Orang Belanda sendiri yang mengajar ‘seni rupa’ di sini resminya tidak pernah menggunakan istilah kunstcritiek (= kritik seni). Nama matakuliahnya saja
Kunstbeschouswing (‘Tilik Seni’). Dengan sendirinya mahasiswa tidak diajari ‘ngritik’. Lalu dengan mudiknya guru2 Belanda (yang terakhir pergi tahun 1960) kita mulai banyak membeo sang adidaya. Jadi kita bilang ‘apresiasi seni’; tidak misalnya ‘tanggap seni’ atau ‘tilik seni’. Sementara itu sejak 1970an menggema tembung ‘kritik sastra’, ‘kritik seni’, dan ‘kritik film’. Semua ingin menyamai krotak-kritik di manca berikut nekateorinya sekalian. Otak kita ‘membayar hak cipta’ sono dengan menyedot aneka ‘kata orang’ sono, peristilahan, carapikir, carapilih, caranilai, perilaku di sono dll, tentu sejauh, sesempit, atau sebenar yang kita ketahui.

Makanya ‘sikampus’ bersikeras bahwa sebelum abad 20 di Nusantara belum ada ‘disain’ dan ‘disainer’. Yang ada cuma rakyat gugon (takhyulan) yang membuat barang cuma pakai bantuan jampi2 dan bau kemenyan. Pokoknya tanpa otak, ilmu disain maupun ergonomics. Pesombong ini sebenarnya tak paham bahasa asing, cuma membeo gurunya saja, dan tidak pernah memeriksa rerupa buatan rakyat kita, saking keblingernya dia oleh yang serba Barat.

Kritik Senirupa

Kritik tari ditulis oleh penari. Kritik musik ditulis oleh pemusik. Kritik sastra oleh sastrawan. Kritik arsitektur oleh arsitek. Kritik sandiwara oleh pesandiwara.

Yang merasa tidak butuh kritik ialah arsitek. Maka itu bukan mereka yang suka meributkan kritik seni. Habis, belum juga bangunan digambar, persekot jutaan rupiah sudah masuk saku. Begitu juga jaminan pelukis dan pematung yang mendapat projek. (Coba kalau penulis seni bisa dipersekoti seperti itu. Mendapat setengah juta rupiah saja sudah mustahil ... ). Jadi yang butuh kritik seni itu sebenarnya siapa? Dan supaya apa?
Yang merasa wajar saja menggunakan peristilahan pribumi, bahkan kedaerahan, hanya kritik tari dan musik. Yang lain suka mengganti nama2 pribumi dengan nama2 Barat. Dan yang mengulas seni baru maupun seni adat? Juga kritik tari dan musik. Kritik sandiwara dan bangunan terkadang bisa begitu juga. Lalu siapa yang tidak pandang bulu, yang enak saja menulis tentang seni di aneka daerah Nusantara? Lagi2  kritik tari dan musik.
 
Seni Rupa  
Dalam ‘kritik seni’ kita, seni rupa itu sejenis lukisan berbingkai. Pokoknya yang seperti di sonolah. Hanya kadang2 dia itu patung, gerabah, dan gambar pena, itupun harus yang ‘murni’. Buatannya mesti bisa dicap dengan istilah membarat, misalnya ekspresionis, surealis, dan sebagainya. 
Cikenis tidak ada sebab di sono tidak ada chiskenism (kecuali kalau New York punya pelukis bulu ayam). Paranormalis Indonesia juga tidak ada sebab art history dan criticism sono tak tahu paranormal paranormal painting. Yang pasti mengenalnya pastilah orang melayu, dan tentu saja bukan ‘kritisi’ ...

Seni rupa itu selalu bikinan ibu kota, itupun tiga saja: Jakarta, Bandung, dan Yogya. Surabaya bisa juga dirangkul. Entah Solo. Kalau Semarang, Pekalongan, Manado, Ambon dan lain-lain itu sih “tidak dianggep”. Oleh siapa? Tentu saja oleh kaum
‘trikota’ tadi. Kalau ditanya, alasannya ‘mutu’. Dan mutu apa? Tentu saja mutu jenis senirupa yang dirajai triquota.

Nusantara akan tetapi pelenggara (catatan kaki yang diubah: lenggara = selenggara [KUBI]. Jadi bilang saja lenggarawan, lenggarawati, kajilenggara dsb.) Dialog ini Ditjen Kebudayaan DEPDIKBUD yang tentunya harus mengurusi seluruh Indonesia, berWAWASAN NUSANTARA, dan tidak pilihsih. Itu bagusnya. Seni itu kan terlalu penting untuk diarahkan hanya oleh nara-seni 3 kota saja. Politik itu toh terlalu penting untuk diurus oleh politikus melulu; urusan perang itu toh terlalu penting untuk diserahkan kepada jenderal melulu. 

Pernahkah kita renungkan apa akibatnya kalau seni rupa Indonesia itu diatur oleh kaum kota besar Jawa melulu? Nyatanya itu toh cuma ‘kliek’ tertentu saja yang jauh dari alam senirupa Ade Sunandar Sunarya, Ki Warno Waskito, Ir. Guritno, Sumarah Adhyatman, dan ndoro Go Tik Swan. Perkara kritik seni sama saja. Makanya senirupa Indonesia itu terlalu penting untuk diatur oleh mereka saja. Kecuali kalau mereka itu memang Nusantarawan sejati.

Selain itu, Ditjen Kebudayaan tentu berpegang pada Pancasila dan UUD. Dan kita tahu, di situ ada keadilan bagi seluruh rakyat, ada persatuan Indonesia, ada kerakyatan, yang semua sejalan dengan Ketuhanan Yang Maha Esa. Sejak Soedjatmoko dulu mengamanatkan solidaritas sosial, maknanya di zaman gusur-menggusur kini makin terasa. GBHN juga menamakan tugas Pemerataan. Rasa cinta tanahair dan bangsa sendiri juga masih tetap rawan. Orang nusa Jawa, termasuk senimannya, tetap saja suka melupakan  atau meremehkan luar-Jawa. Kita juga lebih sigap melayani wisman daripada wispri. Dan begitulah seterusnya. Belum lagi perkara ini mengendap, sudah ada pula comotan baru dari tuan Naisbitt: ‘globalisasi’ (catatan kaki yang diubah: Sehingga perlu ‘Seminar Nasional Pendidikan Seni dan Globalisasi Budaya’ di Yogya [Desember 1991]). Dia mengaitkannya cuma dengan ekonomi Amerika, eh, kita dengan segala-galanya di Indonesia ....

Pokoknya, tiap pikiran untuk mengabaikan sebagian bangsa dan tanahair, meremehkan budaya  maupun senirupa ‘beyond the Java Sea’ (meminjam ajaran KIAS) adalah benih ketimpangan, kegecotan, perasingan, kesombongan, kelaliman, dan perpecahan (gecot = tak benar; lalim = tak adil). Kepada perkara beyond tadi ingin saya tambahkan dua lagi: ‘beyond the big city’ dan ‘beyond modernism’, sebab kawasan ini juga sarat seni rupa. Yang tidak sependapat mungkin hanya penganut polapikir tertentu saja tentang
SENI RUPA. Yang namanya ‘seni’ itu apa? ‘Seni rupa’ itu apa? Pemodern tentu senang pembongkaran dan pembaruan, termasuk bongkar-pasang-baru pola pikirnya sendiri.

Saran  saya  dalam bongkar-pasang  ini:  buanglah  dulu kotak2 pikir  yang bercap  ‘seni primitif’, seni tradisional, seni murni, seni turis, crafts, folk arts, peasant arts, kitsch, fine arts, major arts, dll, sebagaimana kita harus membuat DDT, monosodium glutamate, pewarna makanan, dan ratusan obat (Entero, Vioform, Sulfa Plus, dsb) yang katanya perlu, modern, enak dan manjur. Mulailah dengan ASI, jangan dengan susu bubuk.

Semua tadi telah sering saya ajarkan. Misalnya di tahun 1991 kepada sekitar 80 mahasiswa senirupa ITB. Mereka lalu menulis pendapat pribadi tentang makalah saya untuk PWI-Jaya, dan ini dinilai oleh Rina Wayanti dan Yustiono.

Serbarupa

Orang yang belajar seni rupa di lembaga tinggi kita dapat memilih bidang yang 
kebetulan disukai ‘kritik seni rupa’. Tetapi dia juga bisa memadaikan diri bidang tenun, batik, ukir, iklan, rekaruang, rekabenda, rekabuku, pariwara, dll. yang telah atau bakal ada. Saya sendiri mimpi  jurusan rekaswatur atau computer design (catatan kaki yang diubah: Calon gurunya sudah saya siapkan: Rina Wayanti. Mulai tahun 1992 dia akan menekuni Computer Design dulu di Ohio State University). Singkat kata, dalam pendidikan kita, SENI RUPA itu sudah jauh lebih luas dari yang selama ini dimaksud oleh pameran/diskusi/sejarah/hadiah/kritik seni. Aneh tapi nyata.

Guru2nya sering mengerjakan nekarupa. (Pelukis) Achmad Sadali sering merancang perabot rumah (pesanan orang dan arsitek), menangani rekaruang gedung besar dll. (Pelukis) Srihadi Sudarsono menggambari buku dan majalah, menghiasi kapal laut, merancang huruf, mencipta logo dll. (Pematung) Sunaryo merancang piala, kulit buku, reruang hotel dll. Yusuf Affendy menenun, melukis, mengajar ‘Busana dan Mode’ (di ITB), banyak menulis mengenai industri kecil, anyaman, ukiran dll di koran daerah, membuat gerabah keperluan harian untuk dagangan toko (bukan untuk ‘galeri’), dan menghiasi ratusan payung dengan bebunga (bersama pedusun, juga tidak untuk
‘pameran seni’). Kerja Sutanto di Pikiran Rakyat setali tiga uang dengan kerja GM Sudarta di Kompas. Dosen2 lain juga berbuat serupa.

Itulah seni rupa. Tetapi itulah yang tidak ada dalam kritik seni rupa.
Serbamoh               

Cuma (kecuali Yusuf Affendy),  mereka itu --dan hampir semua sarjana senirupa lain- tidak doyan menulis makalah dan artikel, bahkan menulis diktat juga tidak. Di sinilah sumber lain  dari ‘masalah kritik seni kita’. Tetapi beginilah bangsa kita dan seniman kita ini, termasuk yang tertinggi pendidikannya: moh-nulis, selalu berdalih “tidak bisa menulis” atau “bukan tugasku menulis”. Menurut Yus Badudu ada dalih lain:
“Maklum, saya bukan sastrawan ...”
Karena kuatnya adat mohtulis ini bangsa kita juga tidak pernah punya minat untuk menggalakkan rangsangan menulis. Kita baru pandai merangsang orang untuk menjadi penyanyi pop. (Sejuta rupiah satu lagu, 75 juta rupiah untuk mentas di malam ‘Old and
New’).


Virus Lain Bernama Mohteori

Ini menulari sebagian ‘dosen praktek seni’ (guru melukis, mematung dll). Nalarnya begini: teori itu bukan kerjaan ‘guru praktek’, termasuk teori tentang bidang-praktek mereka sendiri. Jadi kalau dikirim ke luar negeri, mereka hanya mau ‘kerja praktek’ melulu. Kembalinya tentu saja tanpa ijazah tambahan.
Singkatnya, adat mohtulis-mohteori-mohbaca inilah biang lain dari masalah ulas seni kita. Memang, belakangan ini muncul momoknya, yaitu syarat naik pangkat di perti negeri. Momok kertas? Kita lihat saja nanti.


Televisi      

Hampir tiap malam TVRI menayangkan seni rupa, sebagai warta pendek maupun tayangan panjang. Misalnya tentang tenun, batik, busana, anyaman, kerang, kulit, kue besar, perabot rumah, bunga kering, karangan bunga, giok Cina, lomba patung es, keris, topeng, wayang, lukisan bulu, lukisan paranormal, dan banyak lagi dari seluruh Nusantara. Pewarta TV, mungkin karena tidak pernah belajar teori seni memBarat, leluasa saja mengejar rerupa yang menarik dan elok.

Kajirupa

Mari kita tengok senirupa kajian tiga ahli, pilihan dari jutaan buku kajiseni. Tiap sebutan ‘kunst’ (= art) akan saya alih ‘seni’, dan ‘kunstenaar’ (= artist) ‘seniman’. William Willets. 1958. Chinese Art. Dua jilid, 802 halaman.  

Ini sejarah senirupa dari masa purba sampai dengan abad 20. Isinya 8 bab, a.l. Jade (giok) 53 hal., Bronze (gangsa) 48 hal., Lacquer and Silk (rengas dan sutera) 79 hal., dan Pottery (kundian) 100 hal. Jadi, 280 halaman untuk empat rerupa ini, atau hampir sepertiga buku. Bab 5, Painting and Calligraphy, makan 116 halaman, sebagian untuk lukisan, sebagian untuk suaksara. Dalam Jade dibahas antara lain badik, gelang, kancing, jimat dan bedor (mata tombak/panah); dalam Lacquer and Silk a.l. pinggan, bejana, jambang, cepu (tempat menaruh tembakau dsb, dari kayu atau logam), cermin, tenunan; dalam Bronze, aneka bejana/guci. 


Prof. Dr. J.H. Kramers. 1953. Over de Kunst van de Islam.

Jenis2 yang dibahas buku seni Islam ini a.l. kunsthandwerk (seni kria), metaalkunst
(seni logam), zijdeweefkunst (seni tenun sutera), tapjtkunst (seni ambal), schrijfkunst
(seni tulis), miniaturkunst (seni lukisil: lukisan mungil, dimuat dalam buku), weefkunst (seni tenun), portretkunst (seni wajah), boekkunst atau de kunst van het boek (seni buku), calligrafiekunst (seni suaksara: sebetulnya suaksara saja cukup), snijkunst   (seni ukir),   knipkunst  (seni gunting), ceramische schilderkunst (senilukis kundian), decoreerkunst (seni hias), binnendecoratie (hias halaman), baksteendecoratie (hias bata), decoratie atau muurversiering (hias dinding), stucco-decoratie (hias turap), glazuurtegel-decoratie (hias ubin kilap), inlegwerk (sesemat), tuinaanleg (rekataman), marmermozaiek (dandi pualam), dan glasmakerij (pekacaan). 

Prof. Dr. A.W. Nieuwenhuis. 1923. ‘Kunst en Kunstvaardigheid in Indie’  Mingguan Indie, bersambung 40 kali.

Diakui oleh pengarang bahwasanya senirupa Indonesia terlalu kaya sehingga dia memilih sebagian kecilnya saja dari beberapa daerah. Untuk ini dia menggunakan istilah2 berikut yang akan saya alih katawi: kunsthandwerk (seni kria), weefkunst (seni tenun), kunstvlechtwerk (seni anyam), kunt van het kopergieten (seni cor kuningan), snijkunst kunstsmeedwerk (seni tempa logam), versieringskunst (seni hias), kunstmederij (apar senibesi: apar berarti dapur pandai besi), zilversmeedkunst (seni perak). Pelakunya antara lain siekunsttenaar (seniman hias), snij-kunstenaar (seniman rujit/ukir/pahat), dan kunstsmid (seniman besi). Gambar2  yang disertakan pengarang, masing2 sebesar satu halaman, melihatkan slandok (gesper) kuningan/emas, udutan, bun (tempat sirih) emas, pantik (besi pemercik api) berantai, gelang cor, selendang sutera bersulam emas-perak, sundusi, kampil (tas kecil), lampit rotan, wadah mesiu dari tanduk, aneka keris, bedor-pamor lembing), dokoh (hiasan berantai untuk leher), senjata2  kerajaan, sabuk-kia (kia = steek, jahitan) perak, wayang kulit, wayang kulit + gamelan lengkap, rumah adat berukir, kepala suku Toraja berpakaian upacara, wanita Aceh menenun, dan pembatik cap.
Seni rupa itu ditilik lewat banyak jurus. Yang barusan tadi jurus sejarah. Lalu ada jurus antropologi, jurus sosiologi, jurus nafkah rakyat kecil, jurus pembangunan desa, jurus pariwisata, jurus ekspor nonmigas, jurus pabrik, pokoknya banyak jurus. Masing2 punya patokannya, maksud-tujuannya, caranya, kebiasaannya, dan penilaiannya sendiri. Pokoknya kalau ingin menjawab ‘apa itu seni rupa?’, jangan belum apa2  sudah sok mongkok, mentang2 kita ini terpelajar dan pekotabesar.


Kritik

Salah satu biang masalah KRITIK SENIRUPA berpangkal pada tembung ‘kritik seni’ itu sendiri, sebab menyelundupkan muatan2 berikut dari sumber Baratnya: 1) hanya mengitari satu-dua jenis senirupa; 2) berpatokan ‘seni murni’; 3) hanya menggauli seni baru; 4) hanya menyoroti  seni pribadian; 5) hanya menonjolkan seni kotabesar; 6) hanya melayani kaum tengahatas; 7) hanya menguntungkan senirupa kota besar Jawa; 8) hanya menggunakan peristilahan Barat.

Kritik senirupa hanya mengurusi sebagian kecil senirupa di Nusantara (biarpun yang paling besar mulut), alias tidak berwawasan Nusantara. (Jadi berwawasan apa?) Maka itu ada baiknya nama diganti dengan bahas seni, tilik seni atau ulas seni saja, lalu kita isi muatannya. Bertanya “what’s in name?” memang gampang. Tetapi menjawabnya? .... Bangsa kita punya jawab sendiri. Kita renungi saja selera bangsa kita  sekarang:  cara  kita menamai segala sesuatu, dan mengubah nama-pribumi segala sesuatu, khususnya cara pekota.

Akuilah: kita ini bukan bangsa sukatulis, sukabaca, sukabuku, dan sukakaji biarpun jumlah sekolah dan universitas naik terus.

Biarpun sudah lama merdeka, kita ini masih jauh dari mandiri dalam berpikir, dan masih lebih senang dicekoki orang luar. Malah gengsi dicari lewat nyadong.

Akuliah: perpustakaan kita sepi. Pustaka senirupa terlalu langka.  Yang  ada di lembaga senirupa pun jarang dijamah, dan itupun hanya untuk dilihat gambar2nya (dan ditiru). Belum lagi soal bahasa asing, dan soal membeli buku. Kalau perkara bacaan, kita ini baru suka membeli koran, dan itupun baru kita di Jawa saja, dan di kota! Membeli majalah saja kita sudah pikir2, dan keputusannya pun bukan ‘membeli majalah seni’. Apalagi membeli buku seni .... Itu sebabnya hampir semua majalah seni gulung tikar, dan sisanya megap2. Jadilah kita ini bangsa yang tahu nama Raden Saleh tetapi tidak pernah melihat lukisan Raden Saleh dalam bentuk apapun. Orang senirupa saja terlalu banyak yang begitu!

TV dan Pers 

Dengan demikian dewasa ini peranan pers dan TV menjadi paling menentukan (entah harus sampai kapan). Segala jenis uraian senirupa masih harus ditumpahkan di situ. Kalau di negara maju tidak begitu, ya itu karena negara itu sudah maju. Kita pahamilah ini. Janganlah kita suka mimpi mau seperti sono padahal landasannya tidak ada.

Yang perlu disajikan TV/pers ialah ilmu seni, tanggap seni, dan ulas seni, secara terpisah maupun tergabung.

Ilmu seni berisi pengetahuan selintas mengenai aneka istilah, nama, cerita, adat, sejarah, guna, kiat, nafkah dll.
Tanggap seni memberi pengantar dalam acara melihat, menggunakan, menghargai, dan membuat rerupa.
Ulas seni membimbing pembaca/penonton dalam menilai seni yang sedang/baru/akan dipamerkan, diberitakan, dibangun dsb.
Sajiannya mesti membuka mata, membangunkan minat, mendidik, nekarupa, nekasegi, nekataraf, nekamasa, dan banyak menusantara. Karena jutaan perupa penghasil ribuan jenis rerupa bertekun di desa, alam pikir, alam maksud, mutu karya, nama pribadi mereka, jasa mereka dalam ekspor non-migas, impian, cita2 dan masalah hidup mereka pantas selalu dikemukakan.

Sekian uraian saya.


Tulisan berikut adalah makalah Dr. Sanento Yuliman, dosen FSRD ITB yang kritikus seni ternama. Tulisannya banyak dimuat di antaranya dalam majalah Tempo. 

6.1.2 BATIK, SANG PENJELAJAH
         Pokok pikiran diajukan dalam Sarasehan Batik, pada 9 September 1990,    di Dalem Ageng Ambarrukmo Palace Hotel, Yogyakarta, dalam rangka Dies           Natalis Asrama  Mahasiswa GKBI Yogyakarta.
         Oleh Saneno Yuliman

“Menjelajah”, menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia 1976, berarti menjajah atau bepergian, menyelidiki, dsb, ke mana-mana. Diterapkan untuk batik, kata itu tentu saja digunakan dalam arti kias. Batik, sebagai cabang seni, dikatakan menjelajah, dalam arti merambah ke berbagai arah, mencobakan sejumlah hal yang sebelumnya tidak dilakukan. Saya ingin menggarisbawahi kenyataan sejarah yang memperlihatkan betapa batik memiliki sifat penjelajah ini, dan ingin menggarisbawahi sifat ini sebagai unsur pokok yang di dalam pikiran kita selayaknya membentuk citra kita tentang batik.
Tentu saja itu berarti, saya memegang citra dinamis tentang batik: saya memandang dinamika sebagai unsur hakiki di dalam batik. Pandangan begini membawa konsekwensi dalam praktek seperti akan saya bicarakan kemudian.

Perumitan dan Penghalusan

Kita tidak mempunyai tinggalan kain atau perca kain yang secara arkeologi dapat  disimpulkan sebagai hasil awal-mula batik. Bahkan beberapa pandangan masih mempertengkarkan asal-usul batik.

Tetapi kita mengetahui praktek yang memungkinkan kita membayangkan – meskipun tidak amat jelas dan pasti – batik pada suatu tahap terdahulu. Kain simbut di daerah Banten masa lalu, misalnya, dibuat dengan teknik palut-dan-celup kain, mirip teknik batik. Hanya, pada simbut permukaan kain dipalit bukan dengan lilin, melainkan dengan bubur ketan, menggunakan bilah bambu atau jari. Dengan alasan itu orang dapat mengatakan, simbut bukan batik. Di beberapa tempat di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah, masa lalu, terdapat batik sederhana. Di Galumpang, Sulawesi Tengah, misalnya. Di sana gambar dibuat dengan lilin cair, dipalitkan pada kain dengan sepotong buluh kecil. Teknik bersahaja memungkinkan pola hias geometrik sederhana, terbentuk bukan dengan garis malar (kontinyu) melainkan dengan rangkaian titik-titik, serta pencelupan dengan hanya satu warna.

Keheranan dan renungan dapat diperluas meliputi jenis dan cara mengolah bahan pewarna alam: nila, soga (diperoleh dari campuran bermacam tumbuhan seperti kayu tingi, kayu tageran, dan kayu jambal), kunyit, dan mengkudu; canting bagong, canting pegon, canting popokan atau canting tembokan – ini ada 3 macam, canting cecek loro, dan canting cecekan -- 5 macam.

Proses pembuatan kain batik cukup rumit. Seluruhnya ada 5 macam proses pokok, dari penyiapan kain hingga nglorod (menghilangkan malam) dan proses akhir. Masingmasing proses itu berisi sejumlah proses. Penyiapan kain, misalnya, meliputi 4 tahap atau proses (mencuci, ngetel, nganji, ngemplong), sedang proses kerja dengan malam, berisi 6 proses (nglowongi, nembok, mbironi, nonyok, ngremuk, cocohan). Tentunya kita perlu mengingat pula peralatan dan perlengkapan yang digunakan.

Terdapat perkembangan yang jauh dalam teknik, dari batik sederhana dan kasar yang telah kita singgung di muka, ke batik Jawa yang kita sebut tradisional atau klasik. Bagaimana perkembangan begitu terjadi dalam masyarakat yang selama itu berpedoman pada tradisi? Tentu berjalan lambat dan lama, berabad-abad, sekalipun seandainya kita memperhitungkan kemungkinan pengaruh dari luar. Perkembangan itu meniscayakan penjelajahan.
Empat ribu orang wanita sedang membatik yang disaksikan Rijklof van Goens waktu Gubernur V.O.C. itu mengunjungi keraton Mataram pada 1606 menunjukkan, bahwa pada awal abad ke-17 batik telah menjadi seni, dan industri, yang penting dalam keraton Mataram. Dalam abad itu ia harus bersaing dengan tekstil halus, bergambar, dari India (malabar), yang masuk dalam jumlah besar ke Nusantara. Perkembangan canting dan proses batik niscaya sebagian dipacu oleh tantangan ini, untuk menghasilkan kain yang tangguh dalam persaingan.

Sebagian dipacu oleh tuntutan perkembangan kebudayaan Jawa sendiri. Dalam melukiskan perubahan sosiologis masyarakat Jawa dari abad ke-17 sampai dengan abad ke-19, D.H. Burger melukiskan proses perfeodalan, perumitan, dan penghalusan kebudayaan Jawa. Batik terpacu melakukan penjelajahan dalam berbagai seginya untuk memenuhi tuntutan gerak kebudayaan ini. Nyatanya, kebudayaan Jawa memasukkan busana – dan batik adalah bagian pokok dalam busana Jawa – ke dalam kagunan adiluhung, “fine arts”, sekedudukan dengan kacurigan (perkerisan), karawitan, tari, dll.


Perluasan Konsumen dan Penekaragaman Kebutuhan

Tantangan tidak berhenti dalam abad-17 dan ke-18. Pemerintah kolonial Hindia Belanda ditegakkan di abad-19, memperkecil dan memperlemah kekuasaan keratonkeraton, termasuk genggaman mereka atas batik. Pemerintah Hindia Belanda juga memasukkan bermacam etnis – masyarakat yang terpilah-pilah ke dalam aneka kelompok etnis adalah ciri penduduk kota pesisir – ke dalam satu tata pemerintahan, mempergiat komunikasi antar-etnis. Yang memerlukan batik, meluas: bukan hanya orang Jawa. Tambahkan ke dalamnya ikhwal pertambahan penduduk.

Paroh kedua abad ke-19 menyaksikan terbukanya Indonesia bagi modal asing dan hasil industri Eropa, di antaranya tekstil. Batik ditantang bukan saja oleh kebutuhan yang harus dipenuhi, tetapi juga oleh persaingan. Kita tahu jelajah baru, bahkan perkembangannya kemudian, yang diberikan batik sebagai jawaban: mengembangkan canting cap, menyerap bahan warna sintetis, menyederhanakan cara produksi –  berbagai upaya untuk meninggikan produktivitas dan mengendalikan biaya. Tentu penting untuk memperhatikan segi kumulatif: penjelajahan ini menambah pada apa yang sudah ada, dan bukan melupakan atau melenyapkan samasekali.

Jaman kita juga menyaksikan berkembangnya “ungkapan bebas” atau “ungkapan murni” dalam batik: lukisan batik, lengkap dengan pemidang dan bingkai, gunanya untuk dipajang di dinding.

Dalam penjelajahannya, batik juga sempat melirik ke teknik tekstil lainnya, dan merangkulnya. Kita mengenal, misalnya batik-lurik, campuran batik dan tenun, dan batik-bordir, campuran batik dan bordir.

Masyarakat yang makin sibuk dengan peristiwa penting silih-ganti,  dan  semakin  peka terhadap  media   massa,   mendorong batik menghasilkan kain seperti Sirikit, Cikini (berhubungan dengan peristiwa Cikini), Trikora, Ampera, dll.

Memudarnya masyarakat tradisional, ekonomi pasar, perluasan konsumen, tampaknya telah menambah dinamika batik, memperluas dan  mempergencar penjelajahannya. Satu lagi: ketika adat memudar, ikatan etnis, kerabat, dan daerah melonggar, batik bertemu dengan kumpulan luas individu yang serbaragam. Dan batik, sebagai sandang, sebagai perlengkapan diri dan perlengkapan rumah, tak ayal memasuki wilayah pribadi – bertemu dengan citra diri dan cita rasa yang sangat anekaragam dan berubah-ubah dalam kumpulan individu yang sangat luas itu. Kenyataan ini memperkuat tuntutan terhadap batik akan penjelajahan yang sadar dan berencana di jaman sekarang.


Batik, San Penjelajah

Makalah ini tidak bertujuan mencatat sejarah batik, apalagi terperinci dan lengkap dengan nama-nama pihak dan orang yang berjasa di dalamnya. Cukuplah bila dapat ditonjolkan ke permukaan salah satu ciri yang dimiliki batik: sifat penjelajah. Bukan penjelajah yang kian-kemari dengan tangan hampa. Sebab, kita dapat menyidik sifat selektif dan kumulatif penjelajahannya: ia tidak membuang segala apa yang telah diperolehnya dalam perjalanannya, tanpa timbang-timbang dan pilih-pilih.

Bagaimanapun, penjelajahan itu, di jaman sekarang, tidak dapat berlangsung secara meraba-raba: sekarang, penjelajahan itu perlu sadar, berencana, kritis. Itu berarti, penjelajahan perlu berlangsung dengan sikap dan laku menelaah, menilai, dan mencari tindak lanjut. Penjelajahan itu juga perlu ke berbagai arah: ke arah bahan dan teknik, ke arah rupa, dan ke arah guna. Ke arah bahan dan teknik, tentu saja berarti telaah perlu pula diarahkan kepada sistem yang di dalamnya bahan dan teknik itu digarap atau dilaksanakan: telaah ke arah sistem produksi. Telaah ke arah rupa menyangkut telaah ke arah wahana yang mendukung rupa itu, yaitu bahan dan teknik. Dan telaah ke arah guna tentulah menyangkut telaah ke arah pemakaian, yang berkait dengan perilaku pemakai sehubungan dengan produk. Dan tak pula kurang terkait: saluran, yang mengantarkan produk kepada pemakai. Dengan kata lain, sistem distribusi. Akhirnya, telaah tidak semata-mata tertuju kepada apa yang telah ada, yang potensial. Penjelajahan seperti itu tiada lain praktek penelitian dan pengembangan, yang bisa berlangsung di dalam perusahaan, atau pun di luarnya.

Jika di masa sekarang, di satu pihak kita melihat orang berbondong-bondong berebut
kain hasil suatu tempat atau daerah (misalnya, Tuban, “baru ditemukan”), sedang di lain pihak banyak kegiatan batik gulung-tikar, dan bergunung-gunung canting cap dijuali (misalnya, di Pekalong-an, yang sudah lama dikenal), apakah itu bukan sebagai salah satu sebab, karena kejenuhan, karena orang mencari yang lain atau yang baru, karena tawaran tidak cukup kaya dan dinamis dalam jenis, guna, dan ragam?

CATATAN

1.  A.N.J.Th.a  Th. Van der Hoop, Indonesische Siermotiven, Koninlijk Bataviaasch      Genootschap voor Kunsten en Wetenschappen, 1949, h.72.
2.  Frits A.Wagner, Indonesie, l’Art d’Un Archipel, Albin Michel, 1961, h.146.
3.  Dikutip oleh CN. Soeprapto Haes dalam “Disain Batik Solo”, skripsi, Departemen      Seni Rupa ITB, 1974, h.34.
4.  Frits A.Wagner, ...., h.150.
5.  D.H.Burger dan Prajudi, Sedjarah Ekonomis Sosiologis Indonesia, jilid I,      Pradnjaparamita, Jakarta, 1962, h.76-92.
6.  Lihat Koesni, Pakem Pengetahuan Tentang Keris, Aneka, Semarang, 1979, h.32-
    41. 



PUSTAKA RUJUKAN

Myers, Bernard S. 1958. Understanding the Arts. New York: Holt, Rinehart and        Winston   
Read, Herbert. 1958. Education through Art. New York: Pantheon Book Inc.      
Rowland, Kurt. 1973. A History of the Modern Movement: Art, Architecture, Design. 
       New York: Van Nostrand Reinhold Book
Sakri, Adjat. 1993. Seni Rupa dalam Dunia Modern. Bandung: Penerbitan ITB
Sujoko. 1992. “Mengulas Seni Nusantara”. Makalah disampaikan dalam Dialog 
       Kesenirupaan Indonesia, Eksistensi Seni Rupa dalam Perkembangan Ekonomi di 
       Gedung Pameran Seni Rupa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta   Sylvester, David (Ed.). 1993. The Book of Art. Vol. 8: Modern Art. London: Grolier
Yuliman, Sanento. 1990. “Batik, Sang Penjelajah”. Pokok pikiran disampaikan dalam         Sarasehan Batik, 9 September 1990, di Dalem Ageng Ambarrukmo Palace Hotel,         Yogyakarta


No comments:

Post a Comment