BEYOND THE MAJOR ART
Hasil penelitian dan bahasan lain tentang karya seni rupa beyond the major art ditampilkan di
sini. I Wayan Nuriarta dan I Nyoman Mahayasa,
kedua-duanya lulusan Jurusan
Pendidikan Seni Rupa, FBS-Undiksha, melakukan penelitian untuk menyelesaikan
program S1 kependidikannya dengan topik bahasan tentang komik Naruto (Nuriarta)
dan grafiti (Mahayasa). Sebagian laporannya menjadi bagian dalam tulisan ini,
setelah disesuaikan dengan peruntukan.
6.2 Hasil Penelitian
6.2.1 Komik
(Bagian dari laporan penelitian I Wayan Nuriarta tentang Komik Naruto)
Istilah komik berasal dari bahasa Inggris comic yang
berarti cerita atau buku komik, yang bersifat gembira (Echols dan Shadily,
1990:129), cerita bergambar yang lucu (Wojowasito, 1985;75). McCloud (2001)
dalam buku Understanding Comics yang unik, karena disusun dalam gaya penceritaan
buku komik, gambar-gambar serta
lambang-lambang dan narasi disusun sebagaimana dalam sebuah format buku
komik (McCloud, 2001;9)
Pada dasarnya, komik
merupakan karya seni perpaduan antara seni rupa dengan karya sastra,
yang di dalamnya terdapat bentuk-bentuk visual atau gabungan bentuk visual
dengan keterangan verbal. Oleh karena itu komik sering dianggap sebagai karya
sastra bergambar, dan untuk membedakan
komik bersambung dengan komik lengkap, ungkapan Ingris Co-mic-strips dan
Comic-book praktis untuk digunakan karena tidak menimbulkan kekaburan makna.
Comic-strips merupakan komik bersambung yang dimuat pada surat kabar, sedangkan
comik-book atau buku komik adalah kumpulan cerita bergambar yang terdiri dari
satu atau lebih judul dan tema cerita.
Manga
Secara umum manga diartikan sebagai komik made in Japan.
Manga bukan lagi menjadi sesuatu hal yang asing bagi generasi
muda dan anak-anak pencinta komik dan animasi. Manga sebagai bentuk kesenian
visual dari Jepang tidak hanya memiliki kualitas gambar yang baik dan unik,
namun juga sangat ditunjang dengan kekutan dan keragaman cerita yang menarik.
Manga adalah istilah yang digunakan untuk menyebut komik Jepang. Kata manga
digunakan pertama kali oleh seorang seniman bernama Hokusai Katsushika (1760-1849)
dan berasal dari dua huruf Cina yaitu kata manga yang artinya gambar manusia
untuk menceritakan sesuatu. Manga pertama kali muncul pada abad ke-18 dengan
buku komik yang berjudul ‘Kibyoushi’. Dalam sejarah manga, yang tidak boleh
dilupakan adalah peranan Osamu Tezuka yang dikenal sebagai “God of Manga”.
Tetsuwan Atom adalah manga karya Osamu Tezuka yang terkenal dan mendunia baik
sebagai manga maupun anime atau kartun Jepang.
Ada delapan teknik bercerita manga, menurut McCloud dalam
bukunya “Membuat Komik” ( 2008 : 215 ),
yaitu:
1) Wajah
Wajah dan figur-figur digambarkan secara sederhana emotif
yang memancing identifikasi pembaca. Penggambaran wajah dan figur dibuat secara
sederhana tanpa detail. Misalnya hanya dengan garis dan blok hitam, tapi dengan
mudah dapat mengenalinya sebagai wajah manusia, wajah laki-laki atau
perempuan.
2) Kesan
Tempat yang Kuat
Rincian lingkungan yang dipicu ingatan indrawi dan ketika
dipertemukan dengan karakter ikonik akan memancing “efek masking” yang artinya
dalam frame akan tampak gambar yang kurang menyatu karena terlihat perbedaan
antara latar belakang dengan gambar tokoh. Latar belakang biasanya digambarkan
dengan realis dan tokoh dalam kartun yang sangat sederhana.
3) Frame
Bisu
Penggunaan panel bisu dipadukan dengan transisi aspek ke
aspek mendorong pembaca menyusun keinginan untuk memperoleh informasi rupa dari
setiap adegan.
4) Gerak
Subjektif
Menggunakan latar yang kurang jelas atau mengganti latar
dengan efek garis sehingga pembaca merasa bergerak bersama karakter dalam komik
tersebut.
5) Kematangan
Genre
Pemahaman cara bercerita yang unik mendorong terciptanya
ratusan genre seperti fiksi ilmiah, fantasi, horor, komedí, detektif dan
sebagainya.
6) Rancangan
Karakter
Rancangan karakter yang sangat beragam, menampilkan tipe
wajah dan tubuh yang berbeda serta
asesoris yang dengan mudah dapat kita kenal. Misalnya dengan perbedaan warna
rambut, sensata yang dibawa setiap tokoh, dan jenis pakaian yng digunakan.
7) Rincian
Dunia Nyata
Dibuat sampai ke hal-hal yang kecil. Sebuah apresiasi untuk
sebuah keindahan untuk hal yang remeh dan kaitannya dengan nilai-nilai
pengalamann sehari-hari. Bahkan dalam cerita fantastis atau melodramatik.
8) Efek
Ekspresif Emosional
Efek ekspresif emosional yang beragam seperti latar
ekspresionistis, karikatur subjektif dan montase, semua menyediakan jendela
bagi pembaca untuk melihat yang dirasakan karakter.
Dalam manga sering ditampilkan “aksi “ yang terlihat
sebagai montase wajah ekspresif, memenuhi seluruh halaman. Emosi yang
ditampilkan melalui efek ekspresionistis, menampilkan bentuk tubuh yang
ekstrem, komposisi halaman dan bahasa tubuh memiliki tujuan yang sama untuk
meningkatkan ketegangan yang tidak dirasakan dalam komik lain.
Di Indonesia sendiri, kehadiran manga di berbagai kios dan
toko buku telah mendominasi komik-komik negara lain. Berdasarkan pengamatan
umum , lebih dari 60 % komik yang dijual
di toko buku adalah manga, sedangkan selebihnya adalah komik-komik Amerika,
Indonesia , Korea, dan lainya.(http:// www. Komik.com, download 4 agustus 2008
)
Pada akhir abad 18, manga mulai muncul untuk pertama
kalinya. Buku komik yang pertama muncul adalah Kibyoushi yang berisikan cerita
dengan gambar beserta narasi dan dialog di sebelah atau mengelilinginya. Tema
yang diangkat pun bermacammacam. Pada akhir abad 19, Jepang secara cepat
menyerap budaya, pengetahuan dan teknologi Barat, sehingga Kibyoushi tergeser
keberadaannya.( http://www. JenisManga.com, download: 19 Oktober 2008).
Dalam sejarah manga, mungkin yang perlu dicatat adalah
peranan Osamu Tezuka yang
dikenal sebagai “God of Manga”. Tetsuwan Atom adalah manga
karya Osamu Tezuka yang terkenal dan
mendunia baik sebagai manga maupun anime. Manga mulai membanjiri pasar Jepang
antara tahun 1940–1960-an, dengan ketebalan 64-96-128 hingga 192 halaman. Walau
dicetak pada kertas berkualitas rendah,
produk ini disambut oleh anak-anak dengan sangat antusias. Dan di antara
komikus saat itu, Osamu Tezuka tampil ke depan melalui karya-karya fiksi
ilmiahnya
Perubahan drastis pada komik Jepang dimulai dengan
penerbitan majalah Shonen Sunday dan Shonen Magazine untuk anak-anak pada tahun
1959. Masyarakat Jepang saat itu telah terbiasa dengan serial drama panjang
yang diputar setiap minggu, dan kebiasaan baru ini diaplikasikan dalam format
manga.
Jenis-jenis manga yaitu:
1. Shoujo Manga
Shoujo manga yaitu manga yang lebih diperuntukkan bagi anak
perempuan. Jepang adalah negara pertama yang memelopori lahirnya komik khusus
untuk kaum hawa dan satu-satunya di dunia yang perkembangan komik perempuannya
sangat maju.
Shoujo manga terbit dalam majalah bulanan shoujo seperti
Ribon dan Nakayoshi. Tetapi mayoritas manga-kanya adalah manga-ka pria yang
juga mengarang komik untuk majalah shounen. Sebelum tahum 1960 manga-ka wanita
masih sangat jarang. Tema shoujo manga waktu itu masih berkisar pada anak
sekolahan atau hubungan ibuanak dengan nuansa komedi, horor atau tragedi yang
membuat pembacanya meneteskan air mata. Belum ada kisah percintaan romantis
seperti sekarang.
Baru setelah tahun 1963 ketika majalah bulanan shoujo
berubah menjadi mingguan, dibutuhkan lebih banyak manga-ka sehingga komikus
wanita mulai bermunculan. Uniknya para manga-ka wanita ini rata-rata masih
belia. Tahun 1964 Nakayoshi menerbitkan karya pertama Machiko Satonaka,
manga-ka berumur 16 tahun.
Edisi mingguan ternyata tidak bertahan lama pada majalah
shoujo. Para manga-ka menjadi terburu-buru dalam menyelesaikan karyanya
sehingga hasilnya kurang memuaskan. Oleh karena itu edisi mingguan berubah
menjadi dua mingguan dan banyak majalah yang kembali terbit bulanan.
Variasi tema ini menyebabkan shoujo manga tidak cuma
disukai anak sekolahan, tapi juga digemari wanita muda bahkan yang sudah
berumah tangga. Dengan alasan ini tahun 80-an penerbit mengeluarkan Josei manga
dengan target pembaca wanita muda di atas 18 tahun, misalnya majalah YOU, Judy
dan Comic Amour. Josei manga disukai para office ladies dan ibu-ibu muda karena
gaya ceritanya mirip telenovela yang menampilkan kisah percintaan.
Saat ini tak dapat disangkal kalau banyak shoujo manga
(dalam judul, manga-ka) daripada shounen manga. Di Indonesia saja Serial Cantik
dan Serial Misteri/ Horor mendominasi terbitan manga. Lagipula bagi para
perempuan di luar Jepang yang di negaranya tidak tersedia komik untuk
perempuan, shoujo manga-lah yang bisa memenuhi selera mereka.( http:// www.
JenisManga. com, download: 19 Oktober 2008).
2. Shounen Manga
Shounen manga adalah manga yang lebih dikhususkan untuk
pembaca laki-laki. Ceritanya berkisar pada hal-hal yang disukai laki-laki,
seperti olahraga atau petualangan seru penuh aksi. Popularitas shounen manga
berawal dengan terbitnya dua mingguan shounen pada tahun 1959, yaitu Weekly
Shounen Magazine (penerbit Kodansha) dan Weekly Shounen Sunday (penerbit
Shogakukan).
Keduanya adalah majalah shounen pertama yang terbit
seminggu sekali sebab sebelumnya majalah anak-anak selalu terbit bulanan. Isi
kedua majalah ini awalnya sama saja dengan majalah Bobo ( majalah anak-anak
terbitan PT Gramedia, Jakarta) yang isinya berupa informasi, pengetahuan, dan
hiburan berupa manga.
Gekiga yang disukai muda-mudi dan orang dewasa ini membuka
peluang bagi munculnya majalah seinen (pemuda berumur 18-25 tahun) seperti
Manga Action dan Big Comic yang memuat manga dengan gaya cerita gekiga. Persaingan
ketat antara majalah seinen dan shounen dalam memperebutkan pasar ini membuat
para manga-ka mengubah gaya mereka.
Shounen manga mengadaptasi gaya gekiga untuk mempertahankan
pembaca yang mulai tumbuh dewasa. Sedangkan gekiga yang bernuansa suram dan
serius diubah menjadi lebih cerah dengan humor khas shounen manga. Tetapi
perubahan ini justru menyebabkan Shounen Magazine dan Shounen Sunday
ditinggalkan oleh pembaca cilik mereka yang kemudian memilih membaca Weekly
Shounen Jump (penerbit Shueisa) yang tetap mempertahankan gaya shounen manga
murni.
Saat pertama kali terbit di tahun l968, Shounen Jump tidak
ada apa-apanya dibandingkan dua raksasa majalah Shounen pendahulunya. Manga-ka
yang bekerja pada penerbit Shueisa cuma komikus-komikus baru yang belum punya
nama karena para manga-ka terkenal telah dimonopoli Kodansha dan Shogakukan.
Keadaan ini malah berbalik menjadi keuntungan bagi Jump sebab penerbitnya dapat
mengatur manga-ka mereka untuk membuat
manga sesuai dengan selera pembaca yang mereka ketahui dari hasil survei
pembaca.( http://www.JenisManga.com, download: 19 Oktober 2008).
3. Doujinshi Manga
Doujinshi adalah manga, tetapi kisah-kisah doujinshi lebih
banyak dibuat berdasarkan cerita manga yang sudah ada dan dibuat oleh
penggemarnya. Jadi bisa dibilang, doujinshi adalah fanfic dalam bentuk komik.
Orang yang membuat doujinshi disebut doujinshika.
Awalnya yang membedakan doujinshi dengan manga adalah
doujinshi dibuat oleh komikus amatir. Kisahnya juga bukan berdasarkan manga
karangan orang lain, tapi karya orisinil sang komikus. Tapi kemudian muncul
doujinshi yang dibuat oleh mangaka profesional (biasanya memakai nama samaran)
berupa parodi atau side story dari manga karangannya. Doujinshika belum ada
yang menyebarkan manga dalam bentuk tankôbon (yang dikenal dengan istilah
volume). Biasanya para doujinshika mengirimkan hasil karyanya untuk dimuat
dalam majalah-majalah bertemakan anime. Majalah anime di Jepang sedikit demi
sedikit mulai memuat berita tentang acara cosplay di pameran dan penjualan
terbitan dōjinshi. Liputan besar-besaran pertama kali dilakukan majalah Fanroad
edisi perdana bulan Agustus 1980.
TEKS VISUAL KOMIK NARUTO
Pelukisan Adegan
Naruto adalah manga karya Masashi Kishimoto. Bercerita
seputar kehidupan tokoh utamanya, Naruto
Uzumaki, seorang ninja remaja yang penuh semangat, hiperaktif, dan pantang
menye-rah; dan petualangannya dalam mewujudkan keinginan untuk mendapatkan
gelar Hokage, ninja terkuat di desanya.
Naruto adalah manga yang paling terkenal dan naik daun di
seluruh dunia. Sejak awal penerbitannya, Naruto telah memancing permunculan
ribuan situs berisi informasi rinci, panduan, dan forum internet tentang manga
ini. Beberapa situs terkenal muncul setelah
versi Inggrisnya diterbitkan pada bulan Agustus 2003. Selain itu, muncul
pula situs-situs yang menyediakan manga versi Jepang yang telah diterjemahkan
ke dalam bahasa Inggris.
Cara Baca Komik Naruto
Pada cara membaca, ukuran frame memberikan jeda dan
menentukan urutan membaca komik Naruto. Jika ada frame yang memiliki ukuran
sama, maka frame dibaca berurutan baik yang terjadi secara vertikal maupun
horisontal sebelum pindah ke frame dengan ukuran yang berbeda. Teknik
membacanya tetap menggunakan pola dari kanan ke kiri dan dari atas ke bawah.
Nugroho (wawancara: 1 Desember 2008) mengatakan, manga
Naruto diterbitkan karena manga ini memiliki gambaran secara visual yang sangat
menarik, tokohtokohnya memiliki karakter tersendiri sesuai dengan sifatnya.
Meskipun cerita karya Masashi Kishimoto ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa
Indonesia, namun cara membacanya masih tetap menunjukkan cara membaca
tulisan Jepang yaitu dibaca dari arah
kanan ke kiri dan dari arah atas ke bawah seperti teknik menulis dan membaca
bahasa Jepang Hiragana atau Katakana.
6.2.2 Seni Jalanan (Street Art)
(Sebagian
laporan penelitian I Nyoman Mahayasa tentang
Grafiti di Denpasar)
Seni jalanan atau biasa disebut juga street art kemudian muncul menjadi
istilah yang dipakai untuk membedakan dengan karya seni yang dibuat dan
ditempatkan dijalanan dengan meminta ijin kepada pihak yang berwenang. Seni
jalanan merupakan perkembangan dari grafiti yang biasa di buat dengan cat
semprot (aerosol) kemudian berkembang menggunakan berbagai teknik pembuatan
misalnya: stensil, stiker, tempelan kertas/ whet pasting, poster atau campuran
dari berbagai bentuk seni. Penempatanya dilakukan tanpa ijin dari pihak
berwenang dan dilakukan dengan sengaja (misalnya: gerbong kereta, pos polisi,
papan reklame dan lain-lain) terkadang memicu timbulnya perkara. Perkara inilah
yang sering pelaku seni jalanan dianggap sebagai pelaku vandalisme.
GRAFITI
Grafiti Menurut kamus Oxford Advanced learner’s Dictionary
(A S Hornby, 2000:559).“ Graffiti is drawing or writing on a wall or in public
place that they are usuaaly rude, humorous or political”. Dari pengertian di
atas dapat dikatakan bahwa seni grafiti merupakan kegiatan menulis atau
menggambar pada tembok atau media lainnya di tempat umum yang biasanya kasar,
lucu atau mengandung unsur politik. Alat yang digunakan biasanya cat semprot
kaleng.
Grafiti (juga dieja grafitty atau grafitti) adalah kegiatan
seni rupa yang menggunakan komposisi warna, garis, bentuk dan volume untuk
menuliskan kalimat tertentu di atas dinding. Alat yang digunakan biasanya cat
semprot kaleng. Menurut Wikipedia (n.d., 19 Januari 2007), graffti adalah salah
satu tulisan ataupun penanda yang dengan sengaja dibuat oleh manusia pada suatu
permukaan benda, baik itu milik pribadi ataupun publik. Sebuah graffti dapat
berupa sebuah karya seni, gambar ataupun katakata. Ketika suatu graffti
dikerjakan tanpa sepengetahuan pemilik properti, maka graffti tersebut dapat
dikategorikan sebagai sebuah vandalisme. Graffti sendiri telah ada paling tidak
sejak peradaban kuno seperti zaman Yunani Klasik dan Kerajaan Roma.
Grafiti berasal dari bahasa Italia “graffito-grafity”
(bentuk plural/jamak) yang di dedefinisikan sebagai coretan atau gambar yang
digoreskan pada dinding atau permukaan apa saja. Dalam dunia seni rupa, istilah
ini diambil dari kata “graffito” yang merupakan nama tehnik menggores pada keramik sebelum dibakar dan
membuat disain pada suatu permukaan
dengan benda tajam atau kapur (biasanya digunakan saat membuat mural
atau fresco). Selain itu, graffito juga dianggap berkaitan dengan grafhein
(Yunani) yang berarti menulis. (Syamsul Barry, 2008:31)
SEJARAH GRAFITI
Grafiti di Pompeii di atas mengandung tulisan rakyat yang
menggunakan bahasa Latin Rakyat dan bukan bahasa Latin Klasik. Kebiasaan
melukis di dinding bermula dari manusia primitif sebagai cara mengkomunikasikan
perburuan. Pada masa ini, grafitty digunakan sebagai sarana mistisme dan
spiritual untuk membangkitkan semangat berburu. Perkembangan kesenian di zaman
Mesir kuno juga memperlihatkan aktivitas melukis di dinding-dinding piramida.
Lukisan ini mengkomunikasikan alam lain yang ditemui seorang pharaoh (Firaun)
setelah dimumikan.
Di indonesia, menurut Soedarso seperti yang dikutip Syamsul
Barry (2008:31), goresan gambar yang tertua ditemukan di dinding gua Pattae
Kere, yang terletak di daerah Maros, sulawesi selatan( kebudayaan Toala,
Mesolitikum, c.4000 tahun yang lalu). Gambar pada gua itu sangat berbeda dari gambar hiasan dinding
buatan jaman purba yang biasanya
bertujuan untuk memperindah tempat tinggal manusia yang mendiaminya .
Gambar tersebut bermakna lebih dalam, yaitu mengandung pesan pengharapan
(wishful painting).Terlepas dari tujuan pembuatanya, (goresan) gambar pada gua
itu dapat dikatagorikan sebagai grafiti.
Dinding memang menjadi satu media utama bagi para bomber.
Permukaan yang luas dan datar menjadi salah satu alasanya. Aktifitas menulis di
dinding sudah menjadi satu budaya sejak jaman primitive. Digunakan sebagai
sarana komunikasi, bahkan juga digunakan untuk menggambarkan mistisme dan
spiritual manusia pada massa itu. Tentu saja berbeda alasanya, kenapa pada masa
primitive, dinding digunakan sebagai medianya. Kain atau kulit tentunya lebih
penting digunakan sebagai pelindung tubuh, daripada untuk dicorat-coret.
Perkembangan zaman dan perubahan tatanan masyarakat ternyata
memberi dampak yang cukup besar bagi perkembangan seni grafiti. Yang awalnya
hanya sebagai satu media komunikasi, lambat laun berkembang menjadi satu media
perlawanan dan protes. Mulai
terpisahkannya masyarakat dalam bentuk kelas-kelas, dan membuat satu kelas
tertentu merugikan kelas yang lain. Karena perlawanan secara fisik dari
golongan yang lemah dirasa dan secara nyata sering mengalami kekalahan, maka
pada akhirnya grafiti muncul sebagai satu bentuk perlawanan baru dari kelas
atau golongan yang kalah. Tak sekedar sebagai bentuk baru dalam perlawanan,
grafiti juga menjadi media pembangunan kesadaran akan bagi kelas sosial
masyarakat yang tergilas oleh kelas yang lain. (http://www.pysam.com,diakses 14
April 2007)
PERKEMBANGAN GRAFITI
Pada perkembangannya, grafiti di sekitar tahun 70-an di
Amerika dan Eropa akhirnya merambah ke
wilayah urban sebagai jati diri kelompok yang menjamur di perkotaan. Karena
citranya yang kurang bagus, grafiti telanjur menjadi momok bagi keamanan kota.
Alasannya adalah karena dianggap memprovokasi perang antar kelompok atau gang.
Selain dilakukan di tembok kosong, grafiti pun sering dibuat di dinding kereta
api bawah tanah.
Di Amerika Serikat sendiri, setiap negara bagian sudah
memiliki peraturan sendiri untuk meredam grafiti. San Diego, California, New
York telah memiliki undangundang yang menetapkan bahwa grafiti adalah kegiatan
ilegal. Untuk mengidentifikasi pola pembuatannya, grafiti pun dibagi menjadi
dua jenis.
- Gang grafiti
Yaitu grafiti yang berfungsi sebagai identifikasi daerah
kekuasaan lewat tulisan nama gang, gang gabungan, para anggota gang, atau
tulisan tentang apa yang terjadi di dalam gang itu.
- Tagging grafiti
Yaitu jenis grafiti
yang sering dipakai untuk ketenaran seseorang atau kelompok.
Semakin banyak grafiti jenis ini
bertebaran, maka makin terkenallah nama pembuatnya. Karena itu grafiti jenis
ini memerlukan tagging atau tanda tangan
dari pembuat atau bomber-nya. Semacam tanggung jawab karya.
(http://id.wikipedia.org/ wiki/Grafiti, diakses 14 April 2007).
Grafiti juga memiliki reputasi yang cukup buruk di mata
pemerintah hampir di seluruh negara, karena grafiti dituduh sebagai media yang
paling frontal untuk menghujat atau pun mengkritik secara keras sebuah
pemerintahan di sebuah negara. Walaupun kini banyak grafiti yang telah
meninggalkan cara seperti itu, namun tetap saja pemerintah masih banyak yang
tidak setuju dengan hal yang satu ini. Bisa dibilang seni ini merupakan sebuah
seni yang termasuk kategori underground. Bisa dibilang demikian karena kegiatan
ini dilakukan secara diam-diam dan biasanya dilakukan pada malam hari.
Membicarakan grafiti dan politik maka tidak akan lepas dengan seorang tokoh
yang bernama Alexander Brener. Ialah yang pertama kali membawa politik ke seni,
dan ia juga yang pertama kali menyuarakan politik lewat media yang satu
ini. (“Grafiti” di Jalanan Ibu Kota’’,
Harian Kompas, Jumat, 29 April 2005).
GRAFITI PADA ZAMAN MODERN
Adanya kelas-kelas sosial yang terpisah terlalu jauh
menimbulkan kesulitan bagi masyarakat golongan tertentu untuk mengekspresikan
kegiatan seninya. Akibatnya beberapa individu menggunakan sarana yang hampir
tersedia di seluruh kota, yaitu dinding.
Pendidikan kesenian yang kurang menyebabkan objek yang
sering muncul di grafiti berupa tulisan-tulisan atau sandi yang hanya dipahami
golongan tertentu. Biasanya karya ini menunjukkan ketidak puasan terhadap
keadaan sosial yang mereka alami.
Meskipun grafiti pada umumnya bersifat merusak dan
menyebabkan tingginya biaya pemeliharaan kebersihan kota, namun grafiti tetap
merupakan ekspresi seni yang harus dihargai. Ada banyak sekali seniman terkenal
yang mengawali karirnya dari kegiatan grafiti.
Grafiti memiliki keindahan tersendiri, karena ia hadir dari
seni, kebanyakan pelukis grafitti akan mencurahkan isi hati mereka lewat
simbol-simbol, kata-kata, bahkan terkesan komikus. Karena ledakan kreativitas,
media yang tidak dimaksudkan sebagai ajang seni dapat menjadi ajang seni, dan
kehadirannya patut diapresiasi sebagai wujud kreatif dari kelas yang semestinya
lebih dihargai dan diarahkan ke hal-hal positif. Keberadaan warna-warna dapat
menjadi pengisi kekosongan dalam ruang-ruang publik yang tidak berkepribadian.
(http://freemagz.com, diakses 14 April 2007)
Pada masa modern sekarang ini, grafiti pun mengalami satu
perkembangan dalam tujuanya. Untuk menunjukan satu identitas pribadi, seperti
yang dilakukan oleh seorang Amerika yang bernama Taki. Ia selalu menuliskan
namanya, entah itu didalam kereta atau di dinding bis kota, yang kemudian
membuat Taki menjadi terkenal. Hal tersebut kemudian diikuti oleh banyak anak
muda disana, yang seperti terinspirasi oleh Taki. Hal ini karena hanya dengan
melakukan coretan nama ditempat-tempat umum, maka dengan mudah dapat menjadi
terkenal. Grafiti juga dilakukan oleh kelompokkelompok tertentu yang sekali
lagi hanya bermotifasi untuk dapat menjadi dikenal kelompoknya. (http://www.pysam.com,
diakses 14 April 2007).
Antara Seni, Perlawanan dan Vandalisme
Seni adalah satu bentuk ekspresi kreatif manusia. Seni juga
sangat sulit diartikan atau dinilai. Setiap individu, baik sang seniman ataupun
penikmat seni itu sendiri, bisa
membuat satu parameter untuk menentukan nilai dan artian
dari sebuah karya seni. Ini menunjukan bahwa kebebasan adalah tuhan dari seni
itu sendiri (www.prpindonesia.org - Grafiti Action, diakses 14 April
2007).
Seni dapat diekspresikan dalam berbagai bentuk. Corat-coret
di tempat umum yang ha-nya sekedar untuk
menunjukan satu identitas saja adalah bentuk seni juga. Sedikit berbeda bentuk
dari coretan cat semprot yang dihasilkan oleh pelaku grafiti yang bermotifasi
untuk memperkenalkan identitas pribadi atau golonganya, dengan pelaku yang
melakukan grafiti sebagai media propaganda atau kritik atas satu kondisi sosial
yang ada. Umumnya pelaku grafiti yang menjadikan grafiti sebagai media
perlawanan dan penyadaran, dalam grafitinya selalu meninggalkan pesan-pesan
bagi orang yang melihatnya. Sehingga hasil dari coretan tersebut pun, bukan
sekedar kata-kata atau tulisan. Namun juga banyak menampilkan gambar-gambar,
yang kemudian diolah sedemikian rupa, sehingga juga terlihat sebagai sebuah
ekspresi kreatif. Kalaupun bentuk penyampaianya hanya berupa tulisan atau
coretan, namun ketika coretan tersebut mempunyai makna, pesan atau kritik
sosial, maka makna, pesan ataupun kritik sosial dari coretan tersebut adalah
sebuah bentuk seni tersendiri. Karena seni itu sendiri, dalam benutknya yang
luas akan selalu meningggalkan pesan.
Vandalisme, adalah satu stigma yang sering diungkapakan
orang terhadap pelaku grafiti maupun grafiti itu sendiri. Pada hakekatnya,
vandalisme sendiri merujuk pada perusakan atas barang milik orang lain termasuk
juga barang yang diperuntukan untuk kepentingan publik. Namun vandalisme
mempunyai aspek emosi dalam melakukanya. Geram dan kesal atau bahakan hanya
sekedar untuk melepaskan kebosanan semata, adalah motif dari vandalisme. Jelas
memang, ketika merusak kepentingan publik dengan muatan emosi sebagai satu
motifasinya, maka bisa kita katakan dia sebagai bentuk dari vandalisme. Berbeda
dengan grafiti yang menjadi bagian dari seni, yang lebih menekankan pada unsur
penyampaian pesan dan kebebasan berekspresi.
Grafiti Action Sebagai Sebuah Komoditi
Tak bisa dipungkiri, bahwa grafiti action telah menjadi
satu fenomena tersendiri di masyarakat. Khusunya bagi anak muda yang umumnya
menjadi pelaku grafiti. Terlepas maksud dan tujuan dari grafiti action
tersebut, baik yang pure seni ataupun yang memang ditujukan sebagai bentuk
protes. Namun hal ini seperti sudah menjadi satu trend tersendiri dikalangan
anak muda.
“Pasar” memang mempunyai mata dimana-mana. Dimana dia
melihat fenomena dan besarnya antusias akan sesuatu hal, maka dia akan
menjadikan hal itu sebagai komoditi untuk mendapatkan keuntungan baginya.
Contoh sederhanya adalah game play station yang bertemakan grafiti action,
walaupun mungkin tidak terlalu laku dipasaran. Namun
“pasar” telah memperlakukan grafiti sebagai sebuah
komoditi. Tak ada larangan memang mengenai hal ini, mengenai apa yang hendak
dilakukan oleh “pasar” itu.
Karena kondisi seperti ini mempunyai dua sisi yang berbeda
bagi grafiti. Grafiti akan menjadi sangat banyak peminat atau pelakunya, namun
disisi lain grafiti seolah-olah telah menjadi barang dagangan. Untuk yang
kedua, tentunya sangat buruk dampaknya bagi grafiti. Karena grafiti, seperti
halnya hakekat dari seni yang bertujuan untuk ekspresi bebas dan tidak untuk
diperjualbelikan. Jika hal ini terus berlanjut, mungkin kita tak akan heran
suatu saat, untuk melihat grafiti action harus mengeluarkan sejumlah uang.
Dan yang mampu untuk melakukan perlawanan terhadap proses
penghianatan terhadap grafiti sebagai seni, yang seharusnya tidak diperjual
belikan adalah grafiti itu sendiri.
Pada saat yang sama, maka grafiti yang sejati akan
melakukan perlawanan atas kondisi ini. Din-ding jalan akan semakin penuh dengan
coretan, tembok-tembok publik pun akan sesak de-ngan berbagai macam tulisan
atau gambar bernada protes. Tak hanya protes terhadap kondisi dimana grafiti
menjadi komoditi, tapi juga protes terhadap sistem yang mem buat grafiti
menjadi komoditi. (http://www.prp-indonesia.org - Grafiti Action, diakses 14
April 2007).
Dan ketika protes itu telah sampai kepada titik perlawanan
terhadap sistem, maka grafiti tidak akan berjalan sendiri. Dia akan diiringi
oleh lautan manusia yang menjadi korban dari sistem ini.
Grafiti merupakan suatu bentuk karya seni yang telah
merambah ke sejumlah kota besar di Indonesia. Karya seni publik yang lahir dari
kota New York ini telah mengalami sejumlah perkembangan, dari yang awalnya
hanya sekedar corat-coret, kini menjadi lebih artistik dan memiliki nilai seni.
Pada tahun 2004, grafiti artistik masuk ke kota Surabaya. Kehadiran grafiti di
Surabaya memiliki kontroversial. Masyarakat menilainya dari dua sisi, semakin
memperindah kota atau semakin memperburuk kota. Obed Bima Wicandra, S.Sn dan
Sophia Novita Angkadjaja, S.Sn, dosen Jurusan Disain Komunikasi Visual UK
Petra. (http://fportfolio.petra.ac.id, diakses 14 April 2007).
Aliran Grafiti
Aliran atau gaya dalam grafiti cukup banyak, namun “tag”
merupakan salah satu dasar yang harus dimiliki oleh para bomber. Tag merupakan
gaya dalam menulis atau membuat gambar-gambar atau tulisan sehingga menarik,
biasanya para bomber memiliki ciri khas
ma-sing-masing pada tag-nya tersebut. Selain tag ada pula yang disebut
throw-up atau biasa disebut fill-in, ini adalah sebuah teknik menggambar dengan
sangat cepat dengan menggunakan dua hingga tiga warna, di mana kecepatan
menjadi tujuan utama dalam gaya yang satu ini.
Paling seru dalam grafiti ialah apa yang di sebut dengan
wildstyle. Gaya ini adalah sebutan di mana seorang bomber dapat melakukan apa
saja, baik itu dari segi disain atau pun pemilihan warna, dan karya yang paling
ekstrim menjadi sesuatu yang paling menarik di sini. Para bomber pun saling
menghasilkan karya-karya yang terkadang membuat seseorang harus memperhatikan
dengan seksama maksud dan arti dari karyakarya mereka tersebut. dikutip dari
http://www.freemagz .com, (diakses 14 April 2007).
Dalam seni grafiti, terdapat beberapa aliran-aliran yang
sering digunakan oleh para bomber dalam membuat grafiti di tembok-tembok
jalanan ibu kota. Berikut ini adalah sedikit penjelasan dari aliran-aliran
grafitti :
Bubble, yaitu gaya pola yang umum
dipakai writer atau bomber untuk melakukan throw up (menggrafiti dengan cepat).
Wildstyle atau semi wildstyle, yaitu
gaya yang sejenis dan biasa dipakai serta populer bagi para writer. Ciri gaya
pola ini adalah menggunakan ornamen seperti tanda panah, bintang, dll.
3D, yaitu gaya pola yang mengesankan kesan 3 dimensi.
Tagging. Adalah gaya/pola yang umum
dilakukan oleh para bomber di mana hasilnya nampak seperti tanda tangan. Hanya
sekadar tulisan. Ini yang kemudian disebut sebagai corat-coret.
Fungsi Grafiti
Dari berbagai macam jenis grafiti yang ada, fungsi grafiti
pada zaman modern mengalami perkembangan fungsi. Adapun beberapa fungsi dari
Grafiti. (http://www.freemagz .com, diakses 14 April 2007).
1. Bahasa
rahasia kelompok tertentu.
Grafiti mengalami
satu perkembangan dalam tujuanya. Untuk menunjukan satu identitas pribadi, seperti yang dilakukan
oleh seorang Amerika yang bernama Taki. Yang selalu menuliskan namanya, entah
itu didalam kereta atau di dinding bis kota, yang kemudian membuat Taki menjadi
terkenal. Hal tersebut kemudian diikuti oleh banyak anak muda disana, yang
seperti terinspirasi oleh Taki, karena hanya dengan melakukan coretan nama
ditempat-tempat umum, maka dengan mudah dapat menjadi terkenal. Grafiti juga
dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu yang sekali lagi hanya bermotifasi
untuk dapat menjadi dikenal kelompoknya (geng).
2. Sarana
ekspresi
Seiring perkembangan jaman perubahan gaya hiduf (life
style). Adanya kelas-kelas sosial yang terpisah terlalu jauh menimbulkan
kesulitan bagi masyarakat golongan tertentu untuk mengekspresikan kegiatan
seninya. Akibatnya beberapa individu menggunakan sarana yang hampir tersedia di
seluruh kota, yaitu dinding
3. Sarana
pemberontakan.
Grafiti sebagai media propaganda atau kritik atas satu
kondisi sosial yang ada. Umumnya pelaku grafiti yang menjadikan grafiti sebagai
media perlawanan dan penyadaran, dalam grafitinya selalu meninggalkan
pesan-pesan pagi orang yang melihatnya. Sehingga hasil dari coretan tersebut pun,
bukan sekedar kata-kata atau tulisan. Namun juga banyak menampilkan
gambar-gambar, yang kemudian diolah sedemikian rupa, sehingga juga terlihat
sebagai sebuah ekspresi kreatif. Kalaupun bentuk penyampaianya hanya berupa
tulisan atau coretan, namun ketika coretan tersebut mempunyai makna, pesan atau
kritik sosial, maka makna, pesan ataupun kritik sosial dari coretan tersebut
adalah sebuah bentuk seni tersendiri. Karena seni itu sendiri, dalam bentuknya
yang luas akan selalu meningggalkan pesan.
(http://www.freemagz.com, diakses 14 April 2007).
Komunitas Grafiti Di Kota Denpasar
Pengaruh musik R&B, hip-hop, dance dan skate board turut serta menjadi bagian tak
terpisahkan dalam perkembangan grafiiti di Denpasar. Namun Belum ada yang
mengetahui pasti kapan dan dimana grafiti di Denpasar pertama kali ditemukan. Semenjak tahun 2000
komunitas bomber semakin marak di Denpasar, ini dikarenakan pengaruh media
elektronik, majalah dan internet yang memberikan banyak informasi tentang gaya
hidup remaja saat ini yang kini sering diikuti oleh remaja yang ada di
Denpasar.
Sekelompok remaja dengan mengenakan sweater dan masker
sambil menenteng cat semprot di tangan dan mulai berjalan menelusuri
jalan-jalan dengan membawa satu tas penuh berisikan cat semprot kaleng.
Beberapa saat mereka sempat berdiam diri di bawah lampu merah , dengan
pandangan penuh arti menatap tembok-tembok yang kosong dan kusam tersebut.
Sedetik kemudian tangan-tangan mereka mulai menyemprot tembok tersebut dengan
cat semprot. Tidak ada yang tahu apa yang mereka ciptakan saat itu, sampai
keesokan paginya para pengguna jalan mulai melihat hasil karya para bomber tersebut. Dan karya inilah
yang kita kenal sebagai grafiti.
Rata-rata anggota bomber adalah pemuda berusia 18-23 tahun.
Penampilan mereka terkesan semaunya, tidak terikat aturan dan bebas
berekspresi. Salah satu bomber yang menamakan kelompoknya “Terror”
beranggotakan: Cory, R-jack, Buble B, dan DD. Mereka tengah berkumpul di sebuah
warung di kawasan pusat pertokoan di areal jalan Diponogoro. Soal identitas,
para bomber (pembuat grafiti) ini memang sengaja ditutup. Mereka hanya mau
diekspos memakai nama beken atau nama jalanan seperti cory, Rjack, Buble B, dan
DD, soal nama asli dan domisili, mereka meminta tidak di publikasikan. Sebab
ini berhubungan dengan aktivitas mereka yang sebelumnya melakukan “vandalisme”
(membuat tulisan atau gambar liar di tembok jalanan). Selain itu, mereka
sebenarnya menikmati doubel identitas yang mereka gunakan.
Sebelum tahun 2007, di saat tembok-tembok masih banyak yang
kosong, masingmasing anggota bomber meluapkan ekspresi mereka. Dengan melakukan
tagging (grafiti tulisan identitas) atau vandalisme (perusakan properti tanpa
seijin pemiliknya) tulisan dan gambar, mereka memberikan warna pada
tembok-tembok. Alat yang digunakan
biasanya cat semprot kaleng (pylox). Berbeda dengan mural yang berupa gambar
atau lukisan ditembok yang lebih banyak menggunakan cat kayu, cat besi, cat
tembok dan kuas. Komunitas beranggotakan empat personel ini terbentuk tahun
2006 lalu. Kebetulan hanya empat orang yang bisa berkumpul. Dengan berbagai
latar belakang anggotanya (saat itu semuanya masih duduk di bangku SMA/SMK dan
mahasiswa), mereka bisa menyatu. Kegemaran dan hobby mereka ber-grafiti bisa
mempertemukan satu dengan lainnya.
Komunitas grafiti lain diantaranya abilty, flame kidz,
U-zack, Socbeker, M2crew, Hollygan, TRN, 5 Cru, Cyber, ABILITY, TRN, WBA,
PEGOK, DOZ, 153, WEBER, Racy, #2Bomb, Criz, Buble, popeye dan banyak lagi bomber
yang meramaikan pembuatan grafiti.
Mereka terbentuk setelah beberapa perkumpulan kecil para pembuat grafiti di
Denpasar, karya-karya mereka kebanyakan hanya berupa tagging (tag/inisial atau
singkatan nama) yang tersebar di beberapa sudut tembok yang ada di kota
Denpasar.
Begitu banyaknya kelompok-kelompok bomber yang melakukan
aksinya di berbagai tempat membuat terjadinya persaingan antar kelompok bomber
di Denpasar. Ini bisa dilihat dari grafiti yang bertumpukan untuk menunjukun
identitas komunitas mereka. Tableg adalah adalah sebutan untuk grafiti yang
menindih grafiti lain yang lebih dulu dibuat. Biasanya, hal ini terjadi karena
si pembuat grafiti yang belakangan tidak suka kepada pemilik grafiti
sebelumnya.
Sebagai akibat dari tindakan itu, pemilik grafiti yang
karyanya di-tableg(ditutup) meminta pertanggung jawaban dari si penableg. Ritus
yang menyusul dari tindakan tableg, sebagai bentuk pertanggung jawaban, disebut
dengan battle. Namun yang dimaksud dengan battle disini bukan berantem, tapi
dengan menunjukan siapa yang bisa menciptakan grafiti yang paling menarik dari
kata-kata atau bentuknya yang dapat menarik banyak perhatian.
Penelitian yang berjudul “Keberadaan Grafiti di Kota
Denpasar” ini dilakukan di sejumlah jalan-jalan di kota Denpasar. Antara lain,
Jalan Diponogoro, Jalan Sudirman, Jalan Dewi Sartika, jalan Hayam Wuruk WR
Supratman, jln Teuku Umar, dan tempattempat yang menjadi sasaran para bomber.
Para narasumber adalah pelaku grafiti itu sendiri. Kriterianya antara lain telah
membuat karya grafiti di beberapa tempat, minimal telah 1 tahun aktif berkarya,
grafiti yang dihasilkan berjenis grafiti artistik, dan sering berkarya
bersama-sama dengan kelompok grafiti lain.
Motivasi Membuat Grafiti
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan pada para bomber
pada tanggal 14 Januari 2008, diketahui bahwa motivasi untuk membuat grafiti
tidak lain adalah untuk memperindah kota di samping faktor sekedar menunjukkan
dirinya melalui grafiti. Hal ini diungkapkan oleh Cory. Tentu pendapat ini
masih menimbulkan perdebatan dalam mengidentifikasikan tentang keindahan kota.
Mereka berpendapat bahwa kebersihan tidak relevan dengan keindahan. Tembok yang
dicat putih bukanlah keindahan, tetapi kebersihan. Bersih bagi mereka belum
tentu indah, sedangkan indah bisa dimaknai dengan bersih.
Awal mulanya perlawanan secara vandalis melalui grafiti
memang dilakukan oleh anak muda di Amerika Serikat dan Inggris dan kemudian
berkembang ke negara-negara lain termasuk Indonesia. Namun secara konteks
kelokalan, vandalis yang dilakukan oleh bomber di Amerika Serikat dan Inggris
tersebut tidak lepas dari kebuntuan mereka tidak menikmati kembali ruang publik
di samping secara politis dilakukan oleh anak muda yang anti mall, anti kemapanan
dan anti pemerintah. Berikut ini adalah tabel yang menjelaskan alasan bomber
membuat grafiti di tembok-tembok kota Denpasar:
Pada masa modern sekarang ini, grafiti pun mengalami satu
perkembangan dalam tujuanya. Untuk menunjukkan satu identitas pribadi, seperti
yang dilakukan oleh seorang Amerika yang bernama Taki. Ia selalu menuliskan
namanya, entah itu didalam kereta atau di dinding bis kota, yang kemudian
membuat Taki menjadi terkenal. Hal tersebut kemudian diikuti oleh banyak anak
muda di sana, yang seperti
terinspirasi oleh Taki, karena hanya de-ngan melakukan
coretan nama ditempat-tempat umum, maka dengan mudah dapat menjadi
terkenal. Grafiti juga dilakukan oleh kelompokkelompok tertentu yang sekali
lagi hanya bermotifasi untuk dapat menjadi dikenal kelompoknya.
Grafiti merupakan salah satu dari sekian banyak bagian
dalam bidang seni. Namun dinding dan tempat umum yang digunakan sebagai media
seni dari grafiti, membuat banyak orang tidak menganggap itu sebagai seni,
melainkan melihat grafiti sebagai sebuah perilaku yang merusak sarana dan
kepentingan publik.
Memang tidak bisa kita jadikan pembenaran, bahwa kebebasan
berekspresi bisa disampaikan dengan media apa saja temasuk dinding dan sarana
publik sebagai medianya. Namun untuk mendapatkan sarana melampiaskan
ekspresinya, seniman harus benyak mengeluarkan uang untuk berekspresi, ternyata
tidak mampu dilakukan oleh para bomber. Maka digunakanlah dinding sebagai media
mereka, selain pertimbangan utama bahwa sarana tempat-tempat umum adalah media
yang paling tepat untuk digunakan dalam grafiti, grafiti harus meninggalkan
pesan yang seharusnya pula dilihat oleh banyak orang.
Grafiti merupakan suatu bentuk karya seni yang telah
merambah ke sejumlah kota besar di Indonesia. Karya grafiti telah mengalami
sejumlah perkembangan, dari yang awalnya hanya sekedar corat-coret, kini
menjadi lebih artistik dan memiliki nilai seni. Kehadiran grafiti di Denpasar
memiliki kontroversial. Masyarakat menilainya dari dua sisi, semakin memperindah
kota atau semakin memperburuk kota. Perkembangannya kini apakah Grafiti yang
sudah meng-arah pada bentuknya yang artistik (tidak sekedar corat-coret) mampu
memberikan keseimbangan lingkungan secara visual maupun perannya dalam
berhubungan dengan budaya maupun masyarakat sosial setempat.
Penelitian ini juga bermaksud untuk mengetahui motivasi
dari para pembuat grafiti, yang biasa disebut bomber. Para bomber memiliki
motivasi yang beragam ketika membuat grafiti. Ada yang melakukannya untuk
memperindah kota, namun ada juga yang melakukannya sebagai bentuk kegiatan
vandalisme. Dikatakan vandalisme sebab mereka melakukan karya grafiti di tembok
milik seseorang tanpa meminta ijin kepada orang tersebut. Graffitti sendiri
cenderung dicap oleh masyarakat sebagai karya vandalisme dan kurang mendapat
tempat di hati masyarakat, meskipun dalam grafitti itu terdapat unsur seni
kaligrafi.
Dalam melakukan karya grafiti, para bomber mencari
tembok-tembok yang tidak terawat untuk digunakan sebagai media. Tembok tak
terawat yang dimaksud adalah tembok yang dibiarkan kumuh, tembok yang dulu
putih bersih namun sekarang ada lumut hingga kecoklatan, dan tembok yang
dibiarkan rusak, dan tembok milik umum yang tidak dirawat oleh instansinya.
Namun bagi beberapa bomber yang memiliki jiwa pemberontakan dan anti kemapanan,
tembok yang bagus juga dapat menjadi sasaran.
“Mereka jengah dengan warna putih yang menyilaukan mata.
Jika di kawasan perumahan, mereka melakukannya untuk mendobrak tatanan yang
rapi dengan sengaja memberi karya grafiti agar nampak eye catching,” Kata Cory.
Grafitti yang dibuat umumnya adalah tulisan nama-nama gank (kelompok).
Penelitian ini juga menyatakan bahwa motivasi sebagian
besar bomber dalam membuat grafiti adalah untuk memperindah kota. “Bagi mereka,
indah tidak sama dengan bersih. Tembok yang dicat putih bukanlah keindahan
tetapi kebersihan. Bersih belum tentu indah, tetapi indah bisa dimaknai dengan
bersih,” tutur DD. Menurut cory, grafiti merupakan karya seni yang berpotensi
memperindah kota apabila grafitti tersebut mampu berinteraksi dengan
lingkungannya. “Sayangnya, anak-anak Denpasar membuat grafiti hanya untuk mengikuti
trend namun tidak diikuti dengan kualitas visual grafiti. Sehingga, semakin
menimbulkan kesemrawutan visual kota yang sudah dikacaukan oleh produk-produk
iklan,” jelasnya.
Melihat sekilas coretan demi coretan atau gambar demi
gambar yang terdapat di hampir sudut kota Denpasar mungkin kita tidak akan
mengerti apa maksudnya. Namun setelah kita perhatikan dengan seksama, maka akan
kita temukan sebuah makna yang terkandung dalam gambar atau tulisan tersebut.
Inilah yang kita kenal dengan sebutan grafiti.
Grafiti memang sebuah kegiatan seni yang sangat menarik. Di
sini para bomber bebas mengekspresikan apa yang diinginkannya dengan
menuangkannya ke dalam sebuah media yang berupa tembok dengan menggunakan cat
semprot. Grafiti sendiri sebenarnya memiliki aliran tersendiri, seperti tag
atau throw up, namun tetap saja aliran “wild style” atau freestyle menjadi
salah satu aliran yang favorit bagi para bomber, karena mereka dapat melakukan
apa saja baik dari segi disain maupun pemilihan warna. Karena itulah karya dari
bomber penganut aliran ini biasanya agak lebih rumit.
Sasaran utama kaum bomber adalah dinding atau tembok yang
tak terawat. Tembok yang dicat putih bersih tidak pernah menjadi sasaran empuk
bomber yang mengerjakan grafiti artistik. Bilapun ada, maka bisa dipastikan
grafiti tersebut bukanlah grafiti artistik melainkan berupa tagging belaka.
Bentuk seperti ini memang menjadi semacam ‘musuh’ bagi bomber grafiti artistik.
Jangankan tembok yang dicat putih bersih, karya grafiti artistik pun mereka timpa
dengan tulisan atau kata-kata yang justru semakin memperburuk citra.
Oleh karena itulah, penilaian keburukan citra bersih tidak
disama-ratakan kepada semua bentuk grafiti. Ada grafiti yang memang benar-benar
bertujuan untuk memperindah kota, tetapi ada juga grafiti yang memang untuk
merusak yang indah dan baik. Melihat tujuan grafiti artistik seperti di atas,
maka pemilihan tempat pun direncanakan sebaik mungkin. Tembok yang tak terawat
terlebih pada jalan-jalan utama atau strategis mereka timpa dengan grafiti
artistik.
Tembok yang tak terawat tersebut, menurut DD dan Cory
diasumsikannya sebagai bentuk pengingkaran terhadap hak miliknya sendiri.
Artinya adalah mereka yang mempunyai tembok tidak sanggup merawatnya, karena
itulah bomber mengambil alihnya dengan maksud menghilangkan kesan tak terawat
dengan bahasa rupa yaitu grafiti artistik. Kalaupun ada tembok yang terawat
hingga dicat putih bersih tetapi ada grafiti artistiknya, itu karena ada
permintaan dari pemilik tembok tersebut.
Bentuk ‘pengambil alihan’ tembok yang tak terawat tersebut
menjadi bentuk kepedulian mengenai bangunan di jalan-jalan strategis yang tidak
merawatnya dengan baik, sehingga menimbulkan kesan kotor dari setiap pengendara
kendaraan yang melintasinya. Tembok tak terawat didefinisikan mereka, sebagai
berikut:
1)
Tembok yang dibiarkan kumuh, sehingga poster dan
pamflet iklan sangat mudah menempelkannya. Tembok semacam ini akan segera
ditimpa oleh grafiti.
2)
Tembok yang
dahulunya putih bersih, namun
lama kelamaan memudar, bahkan
warnanya cenderung kecoklatan dan kehitaman atau kehijauan karena lumut.
Untuk tembok yang seperti ini, biasanya sebelum ditimpa grafiti, bomber akan
mengecatnya dulu dengan warna putih untuk menimbulkan kesan segar.
3)
Tembok yang dibiarkan rusak. Biasanya tembok ini
dibiarkan beberapa bagiannya telah rusak dan oleh pemiliknya langsung ditindas
dengan warna putih. Dalam jangka waktu ke depan, bagian yang rusak ini menjadi
sangat kelihatan bentuknya dan mengurangi nilai kebersihan dan keindahan.
Dengan pemberian warna, rusaknya bagian tembok bisa diminimalisir.
4)
Tembok di ruang publik dan milik umum, namun
tidak dirawat keberadaannya. Lokasinya yang memungkinkan publik melihat karena
berada di tempat strategis menjadikan titik ini tidak berkesan indah karena
tidak dirawat oleh instansi terkait. Biasanya berupa tembok di areal pertokoan,
gang, dan bangunan-bangunan tak
terawat.
Selain tembok yang tak terawat tersebut, kaum bomber juga
mengarahkan sasarannya pada tembok yang terawat. Tembok yang dicat putih pun
menjadi sasaran mereka. Berbeda dengan tagging yang asal membuat grafiti, namun
tak terlihat estetis, grafiti yang dibuat secara artistik ini merupakan cara
mereka menawarkan alternatif bila tembok tidak hanya dicat putih.
Bomber Flame Kidz berpendapat bahwa kota tidak hanya bersih
namun juga harus indah. Belum lagi panasnya kota oleh terik matahari, membuat
warna putih terasa menyilaukan mata dan tampak semakin monoton. Pengendara
kendaraan pun bisa menikmati gambar-gambar yang dibuat hanya sekedar melepas
kepenatan mereka berkendara serta mengusir rasa kesal terhadap kemacetan lalu
lintas kota. Memang karena tidak adanya kompromi dengan pihak pemilik
menjadikan grafiti tetap menjadi
’musuh’ bagi mereka yang cinta dengan warna putih. Gagasan
mereka secara underground disikapi miring, karena ruang tersebut merupakan
ruang hunian yang bersifat privasi. Walaupun tembok tersebut milik publik,
kejengahan kaum bomber tersebut dinilai sebagai usaha untuk ’merebut’ kembali
ruang publik yang selama ini telah dikuasai oleh pembangunan gedung-gedung dan
ruko.
Memang dalam gagasan ini sikap underground menjadi masalah
utama, hal ini tak bisa dilepaskan dari sikap mereka sebagai anak muda yang
ingin mendobrak tatanan, anti kemapanan dan pemberontak. Sikap underground
ditunjukkan dengan tidak adanya ijin dari pemilik tembok serta melakukan
grafiti biasanya dari sore menjelang malam atau di tengah malam hingga pagi
hari. Berikut ini tembok terawat yang menjadi incaran mereka:
1)
Tembok milik publik. Meskipun dirawat, namun
kejengahan kaum bomber yang tidak bisa melihat tembok dicat putih dijadikan
sasaran empuk olehnya. Menurut mereka tembok publik yang dicat putih bersih
tidak mencerminkan keindahan, namun kebosanan dan membuat silau pada mata,
apalagi kalau terik matahari di siang hari begitu menyengat. Inilah yang
ditentang oleh mereka. Biasanya pagar yang membentang panjang.
2)
Tembok milik pribadi. Beberapa kawasan yang
dijadikan sasaran biasanya adalah perumahan. Masih dengan alasan mereka, bahwa
warna putih sangat membosankan dan
menyilaukan mata, mereka juga berpendapat bahwa kebersihan bukanlah keindahan
namun kemapanan. Grafiti artistik di daerah ini menjadi ‘buruk rupa’ karena
secara teknis belum semaksimal karya grafiti seperti halnya di Jakarta dan
Jogjakarta, sehingga penghuni rumah di kawasan perumahan yang umumnya mempunyai
nilai rasa terhadap artistik visual tinggi belum menilai positif grafiti
artistik tersebut. Selain itu penggarapan yang terkesan tidak terkoordinasi
dengan baik, menjadikan karya grafiti di beberapa tempat secara visual kurang
menarik, meskipun yang dikerjakannya adalah grafiti artistik.
PUSTAKA RUJUKAN
Mahayasa, I Nyoman. 2009. Grafiti Kota Denpasar. Skripsi pada Jurusan Pendidikan Seni Rupa, FBS UNDIKSHA
Nuriarta, I Wayan. 2009. Analisis Bahasa Visual Komik Naruto. Skripsi pada Jurusan Pendidikan Seni Rupa,
FBS-UNDIKSHA
No comments:
Post a Comment