Translate

Thursday, 2 July 2020


BEYOND THE MAJOR ART

Hasil penelitian dan bahasan lain tentang karya seni rupa beyond the major art ditampilkan di sini. I Wayan Nuriarta dan I Nyoman Mahayasa,  kedua-duanya  lulusan Jurusan Pendidikan Seni Rupa, FBS-Undiksha, melakukan penelitian untuk menyelesaikan program S1 kependidikannya dengan topik bahasan tentang komik Naruto (Nuriarta) dan grafiti (Mahayasa). Sebagian laporannya menjadi bagian dalam tulisan ini, setelah disesuaikan dengan peruntukan.


6.2 Hasil Penelitian

6.2.1 Komik
(Bagian dari laporan penelitian I Wayan Nuriarta tentang Komik Naruto)

Istilah komik berasal dari bahasa Inggris comic yang berarti cerita atau buku komik, yang bersifat gembira (Echols dan Shadily, 1990:129), cerita bergambar yang lucu (Wojowasito, 1985;75). McCloud (2001) dalam buku Understanding Comics yang unik, karena disusun dalam gaya penceritaan buku komik, gambar-gambar serta  lambang-lambang dan narasi disusun sebagaimana dalam sebuah format buku komik (McCloud, 2001;9) 

Pada dasarnya, komik  merupakan karya seni perpaduan antara seni rupa dengan karya sastra, yang di dalamnya terdapat bentuk-bentuk visual atau gabungan bentuk visual dengan keterangan verbal. Oleh karena itu komik sering dianggap sebagai karya sastra bergambar, dan untuk   membedakan komik bersambung dengan komik lengkap, ungkapan Ingris Co-mic-strips dan Comic-book praktis untuk digunakan karena tidak menimbulkan kekaburan makna. Comic-strips merupakan komik bersambung yang dimuat pada surat kabar, sedangkan comik-book atau buku komik adalah kumpulan cerita bergambar yang terdiri dari satu atau lebih judul dan tema cerita. 

Manga

Secara umum manga diartikan sebagai komik made in Japan. Manga bukan  lagi  menjadi sesuatu hal yang asing bagi generasi muda dan anak-anak pencinta komik dan animasi. Manga sebagai bentuk kesenian visual dari Jepang tidak hanya memiliki kualitas gambar yang baik dan unik, namun juga sangat ditunjang dengan kekutan dan keragaman cerita yang menarik. Manga adalah istilah yang digunakan untuk menyebut komik Jepang. Kata manga digunakan pertama kali oleh seorang seniman bernama Hokusai Katsushika (1760-1849) dan berasal dari dua huruf Cina yaitu kata manga yang artinya gambar manusia untuk menceritakan sesuatu. Manga pertama kali muncul pada abad ke-18 dengan buku komik yang berjudul ‘Kibyoushi’. Dalam sejarah manga, yang tidak boleh dilupakan adalah peranan Osamu Tezuka yang dikenal sebagai “God of Manga”. Tetsuwan Atom adalah manga karya Osamu Tezuka yang terkenal dan mendunia baik sebagai manga maupun anime atau kartun Jepang. 

Ada delapan teknik bercerita manga, menurut McCloud dalam bukunya “Membuat Komik”  ( 2008 : 215 ), yaitu:

1)   Wajah 
Wajah dan figur-figur digambarkan secara sederhana emotif yang memancing identifikasi pembaca. Penggambaran wajah dan figur dibuat secara sederhana tanpa detail. Misalnya hanya dengan garis dan blok hitam, tapi dengan mudah dapat mengenalinya sebagai wajah manusia, wajah laki-laki atau perempuan. 

2)   Kesan Tempat yang Kuat
Rincian lingkungan yang dipicu ingatan indrawi dan ketika dipertemukan dengan karakter ikonik akan memancing “efek masking” yang artinya dalam frame akan tampak gambar yang kurang menyatu karena terlihat perbedaan antara latar belakang dengan gambar tokoh. Latar belakang biasanya digambarkan dengan realis dan tokoh dalam kartun yang sangat sederhana.

3)   Frame Bisu
Penggunaan panel bisu dipadukan dengan transisi aspek ke aspek mendorong pembaca menyusun keinginan untuk memperoleh informasi rupa dari setiap adegan.

4)   Gerak Subjektif
Menggunakan latar yang kurang jelas atau mengganti latar dengan efek garis sehingga pembaca merasa bergerak bersama karakter dalam komik tersebut.

5)   Kematangan Genre
Pemahaman cara bercerita yang unik mendorong terciptanya ratusan genre seperti fiksi ilmiah, fantasi, horor, komedí, detektif dan sebagainya.

6)   Rancangan Karakter
Rancangan karakter yang sangat beragam, menampilkan tipe wajah dan tubuh yang  berbeda serta asesoris yang dengan mudah dapat kita kenal. Misalnya dengan perbedaan warna rambut, sensata yang dibawa setiap tokoh, dan jenis pakaian yng digunakan.

7)   Rincian Dunia Nyata
Dibuat sampai ke hal-hal yang kecil. Sebuah apresiasi untuk sebuah keindahan untuk hal yang remeh dan kaitannya dengan nilai-nilai pengalamann sehari-hari. Bahkan dalam cerita fantastis atau melodramatik.

8)   Efek Ekspresif Emosional
Efek ekspresif emosional yang beragam seperti latar ekspresionistis, karikatur subjektif dan montase, semua menyediakan jendela bagi pembaca untuk melihat yang dirasakan karakter.

Dalam manga sering ditampilkan “aksi “ yang terlihat sebagai montase wajah ekspresif, memenuhi seluruh halaman. Emosi yang ditampilkan melalui efek ekspresionistis, menampilkan bentuk tubuh yang ekstrem, komposisi halaman dan bahasa tubuh memiliki tujuan yang sama untuk meningkatkan ketegangan yang tidak dirasakan dalam komik lain.

Di Indonesia sendiri, kehadiran manga di berbagai kios dan toko buku telah mendominasi komik-komik negara lain. Berdasarkan pengamatan umum , lebih dari  60 % komik yang dijual di toko buku adalah manga, sedangkan selebihnya adalah komik-komik Amerika, Indonesia , Korea, dan lainya.(http:// www. Komik.com, download 4 agustus 2008 ) 

Pada akhir abad 18, manga mulai muncul untuk pertama kalinya. Buku komik yang pertama muncul adalah Kibyoushi yang berisikan cerita dengan gambar beserta narasi dan dialog di sebelah atau mengelilinginya. Tema yang diangkat pun bermacammacam. Pada akhir abad 19, Jepang secara cepat menyerap budaya, pengetahuan dan teknologi Barat, sehingga Kibyoushi tergeser keberadaannya.( http://www. JenisManga.com, download: 19 Oktober 2008).

Dalam sejarah manga, mungkin yang perlu dicatat adalah peranan Osamu Tezuka yang
dikenal sebagai “God of Manga”. Tetsuwan Atom adalah manga karya Osamu Tezuka  yang terkenal dan mendunia baik sebagai manga maupun anime. Manga mulai membanjiri pasar Jepang antara tahun 1940–1960-an, dengan ketebalan 64-96-128 hingga 192 halaman. Walau dicetak pada kertas berkualitas rendah,   produk ini disambut oleh anak-anak dengan sangat antusias. Dan di antara komikus saat itu, Osamu Tezuka tampil ke depan melalui karya-karya fiksi ilmiahnya

Perubahan drastis pada komik Jepang dimulai dengan penerbitan majalah Shonen Sunday dan Shonen Magazine untuk anak-anak pada tahun 1959. Masyarakat Jepang saat itu telah terbiasa dengan serial drama panjang yang diputar setiap minggu, dan kebiasaan baru ini diaplikasikan dalam format manga.




Jenis-jenis manga yaitu:

1. Shoujo Manga
Shoujo manga yaitu manga yang lebih diperuntukkan bagi anak perempuan. Jepang adalah negara pertama yang memelopori lahirnya komik khusus untuk kaum hawa dan satu-satunya di dunia yang perkembangan komik perempuannya sangat maju.

Shoujo manga terbit dalam majalah bulanan shoujo seperti Ribon dan Nakayoshi. Tetapi mayoritas manga-kanya adalah manga-ka pria yang juga mengarang komik untuk majalah shounen. Sebelum tahum 1960 manga-ka wanita masih sangat jarang. Tema shoujo manga waktu itu masih berkisar pada anak sekolahan atau hubungan ibuanak dengan nuansa komedi, horor atau tragedi yang membuat pembacanya meneteskan air mata. Belum ada kisah percintaan romantis seperti sekarang.

Baru setelah tahun 1963 ketika majalah bulanan shoujo berubah menjadi mingguan, dibutuhkan lebih banyak manga-ka sehingga komikus wanita mulai bermunculan. Uniknya para manga-ka wanita ini rata-rata masih belia. Tahun 1964 Nakayoshi menerbitkan karya pertama Machiko Satonaka, manga-ka berumur 16 tahun.

Edisi mingguan ternyata tidak bertahan lama pada majalah shoujo. Para manga-ka menjadi terburu-buru dalam menyelesaikan karyanya sehingga hasilnya kurang memuaskan. Oleh karena itu edisi mingguan berubah menjadi dua mingguan dan banyak majalah yang kembali terbit bulanan.

Variasi tema ini menyebabkan shoujo manga tidak cuma disukai anak sekolahan, tapi juga digemari wanita muda bahkan yang sudah berumah tangga. Dengan alasan ini tahun 80-an penerbit mengeluarkan Josei manga dengan target pembaca wanita muda di atas 18 tahun, misalnya majalah YOU, Judy dan Comic Amour. Josei manga disukai para office ladies dan ibu-ibu muda karena gaya ceritanya mirip telenovela yang menampilkan kisah percintaan.

Saat ini tak dapat disangkal kalau banyak shoujo manga (dalam judul, manga-ka) daripada shounen manga. Di Indonesia saja Serial Cantik dan Serial Misteri/ Horor mendominasi terbitan manga. Lagipula bagi para perempuan di luar Jepang yang di negaranya tidak tersedia komik untuk perempuan, shoujo manga-lah yang bisa memenuhi selera mereka.( http:// www. JenisManga. com, download: 19 Oktober 2008).




2. Shounen Manga
Shounen manga adalah manga yang lebih dikhususkan untuk pembaca laki-laki. Ceritanya berkisar pada hal-hal yang disukai laki-laki, seperti olahraga atau petualangan seru penuh aksi. Popularitas shounen manga berawal dengan terbitnya dua mingguan shounen pada tahun 1959, yaitu Weekly Shounen Magazine (penerbit Kodansha) dan Weekly Shounen Sunday (penerbit Shogakukan).

Keduanya adalah majalah shounen pertama yang terbit seminggu sekali sebab sebelumnya majalah anak-anak selalu terbit bulanan. Isi kedua majalah ini awalnya sama saja dengan majalah Bobo ( majalah anak-anak terbitan PT Gramedia, Jakarta) yang isinya berupa informasi, pengetahuan, dan hiburan berupa manga.

Gekiga yang disukai muda-mudi dan orang dewasa ini membuka peluang bagi munculnya majalah seinen (pemuda berumur 18-25 tahun) seperti Manga Action dan Big Comic yang memuat manga dengan gaya cerita gekiga. Persaingan ketat antara majalah seinen dan shounen dalam memperebutkan pasar ini membuat para manga-ka mengubah gaya mereka.

Shounen manga mengadaptasi gaya gekiga untuk mempertahankan pembaca yang mulai tumbuh dewasa. Sedangkan gekiga yang bernuansa suram dan serius diubah menjadi lebih cerah dengan humor khas shounen manga. Tetapi perubahan ini justru menyebabkan Shounen Magazine dan Shounen Sunday ditinggalkan oleh pembaca cilik mereka yang kemudian memilih membaca Weekly Shounen Jump (penerbit Shueisa) yang tetap mempertahankan gaya shounen manga murni.
Saat pertama kali terbit di tahun l968, Shounen Jump tidak ada apa-apanya dibandingkan dua raksasa majalah Shounen pendahulunya. Manga-ka yang bekerja pada penerbit Shueisa cuma komikus-komikus baru yang belum punya nama karena para manga-ka terkenal telah dimonopoli Kodansha dan Shogakukan. Keadaan ini malah berbalik menjadi keuntungan bagi Jump sebab penerbitnya dapat mengatur manga-ka mereka untuk membuat  manga sesuai dengan selera pembaca yang mereka ketahui dari hasil survei pembaca.( http://www.JenisManga.com, download: 19 Oktober 2008).

3. Doujinshi Manga
Doujinshi adalah manga, tetapi kisah-kisah doujinshi lebih banyak dibuat berdasarkan cerita manga yang sudah ada dan dibuat oleh penggemarnya. Jadi bisa dibilang, doujinshi adalah fanfic dalam bentuk komik. Orang yang membuat doujinshi disebut doujinshika.

Awalnya yang membedakan doujinshi dengan manga adalah doujinshi dibuat oleh komikus amatir. Kisahnya juga bukan berdasarkan manga karangan orang lain, tapi karya orisinil sang komikus. Tapi kemudian muncul doujinshi yang dibuat oleh mangaka profesional (biasanya memakai nama samaran) berupa parodi atau side story dari manga karangannya. Doujinshika belum ada yang menyebarkan manga dalam bentuk tankôbon (yang dikenal dengan istilah volume). Biasanya para doujinshika mengirimkan hasil karyanya untuk dimuat dalam majalah-majalah bertemakan anime. Majalah anime di Jepang sedikit demi sedikit mulai memuat berita tentang acara cosplay di pameran dan penjualan terbitan dōjinshi. Liputan besar-besaran pertama kali dilakukan majalah Fanroad edisi perdana bulan Agustus 1980.


TEKS VISUAL KOMIK NARUTO

Pelukisan Adegan
Naruto adalah manga karya Masashi Kishimoto. Bercerita seputar kehidupan tokoh  utamanya, Naruto Uzumaki, seorang ninja remaja yang penuh semangat, hiperaktif, dan pantang menye-rah; dan petualangannya dalam mewujudkan keinginan untuk mendapatkan gelar Hokage, ninja terkuat di desanya.

Naruto adalah manga yang paling terkenal dan naik daun di seluruh dunia. Sejak awal penerbitannya, Naruto telah memancing permunculan ribuan situs berisi informasi rinci, panduan, dan forum internet tentang manga ini. Beberapa situs terkenal muncul setelah  versi Inggrisnya diterbitkan pada bulan Agustus 2003. Selain itu, muncul pula situs-situs yang menyediakan manga versi Jepang yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

Cara Baca Komik Naruto
Pada cara membaca, ukuran frame memberikan jeda dan menentukan urutan membaca komik Naruto. Jika ada frame yang memiliki ukuran sama, maka frame dibaca berurutan baik yang terjadi secara vertikal maupun horisontal sebelum pindah ke frame dengan ukuran yang berbeda. Teknik membacanya tetap menggunakan pola dari kanan ke kiri dan dari atas ke bawah.

Nugroho (wawancara: 1 Desember 2008) mengatakan, manga Naruto diterbitkan karena manga ini memiliki gambaran secara visual yang sangat menarik, tokohtokohnya memiliki karakter tersendiri sesuai dengan sifatnya. Meskipun cerita karya Masashi Kishimoto ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, namun cara membacanya masih tetap menunjukkan cara membaca tulisan  Jepang yaitu dibaca dari arah kanan ke kiri dan dari arah atas ke bawah seperti teknik menulis dan membaca bahasa Jepang Hiragana atau Katakana.

 
6.2.2 Seni Jalanan (Street Art)
        (Sebagian laporan penelitian I Nyoman Mahayasa tentang Grafiti di Denpasar)


Seni jalanan atau biasa disebut  juga street art kemudian muncul menjadi istilah yang dipakai untuk membedakan dengan karya seni yang dibuat dan ditempatkan dijalanan dengan meminta ijin kepada pihak yang berwenang. Seni jalanan merupakan perkembangan dari grafiti yang biasa di buat dengan cat semprot (aerosol) kemudian berkembang menggunakan berbagai teknik pembuatan misalnya: stensil, stiker, tempelan kertas/ whet pasting, poster atau campuran dari berbagai bentuk seni. Penempatanya dilakukan tanpa ijin dari pihak berwenang dan dilakukan dengan sengaja (misalnya: gerbong kereta, pos polisi, papan reklame dan lain-lain) terkadang memicu timbulnya perkara. Perkara inilah yang sering pelaku seni jalanan  dianggap  sebagai pelaku vandalisme. 

GRAFITI        

Grafiti Menurut kamus Oxford Advanced learner’s Dictionary (A S Hornby, 2000:559).“ Graffiti is drawing or writing on a wall or in public place that they are usuaaly rude, humorous or political”. Dari pengertian di atas dapat dikatakan bahwa seni grafiti merupakan kegiatan menulis atau menggambar pada tembok atau media lainnya di tempat umum yang biasanya kasar, lucu atau mengandung unsur politik. Alat yang digunakan biasanya cat semprot kaleng.

Grafiti (juga dieja grafitty atau grafitti) adalah kegiatan seni rupa yang menggunakan komposisi warna, garis, bentuk dan volume untuk menuliskan kalimat tertentu di atas dinding. Alat yang digunakan biasanya cat semprot kaleng. Menurut Wikipedia (n.d., 19 Januari 2007), graffti adalah salah satu tulisan ataupun penanda yang dengan sengaja dibuat oleh manusia pada suatu permukaan benda, baik itu milik pribadi ataupun publik. Sebuah graffti dapat berupa sebuah karya seni, gambar ataupun katakata. Ketika suatu graffti dikerjakan tanpa sepengetahuan pemilik properti, maka graffti tersebut dapat dikategorikan sebagai sebuah vandalisme. Graffti sendiri telah ada paling tidak sejak peradaban kuno seperti zaman Yunani Klasik dan Kerajaan Roma.

Grafiti berasal dari bahasa Italia “graffito-grafity” (bentuk plural/jamak) yang di dedefinisikan sebagai coretan atau gambar yang digoreskan pada dinding atau permukaan apa saja. Dalam dunia seni rupa, istilah ini diambil dari kata “graffito” yang merupakan nama tehnik  menggores pada keramik sebelum dibakar dan membuat disain pada suatu permukaan  dengan benda tajam atau kapur (biasanya digunakan saat membuat mural atau fresco). Selain itu, graffito juga dianggap berkaitan dengan grafhein (Yunani) yang berarti menulis. (Syamsul Barry, 2008:31)


SEJARAH GRAFITI

Grafiti di Pompeii di atas mengandung tulisan rakyat yang menggunakan bahasa Latin Rakyat dan bukan bahasa Latin Klasik. Kebiasaan melukis di dinding bermula dari manusia primitif sebagai cara mengkomunikasikan perburuan. Pada masa ini, grafitty digunakan sebagai sarana mistisme dan spiritual untuk membangkitkan semangat berburu. Perkembangan kesenian di zaman Mesir kuno juga memperlihatkan aktivitas melukis di dinding-dinding piramida. Lukisan ini mengkomunikasikan alam lain yang ditemui seorang pharaoh (Firaun) setelah dimumikan.

Di indonesia, menurut Soedarso seperti yang dikutip Syamsul Barry (2008:31), goresan gambar yang tertua ditemukan di dinding gua Pattae Kere, yang terletak di daerah Maros, sulawesi selatan( kebudayaan Toala, Mesolitikum, c.4000 tahun yang lalu). Gambar pada gua  itu sangat berbeda dari gambar hiasan dinding buatan jaman purba yang biasanya  bertujuan untuk memperindah tempat tinggal manusia yang mendiaminya . Gambar tersebut bermakna lebih dalam, yaitu mengandung pesan pengharapan (wishful painting).Terlepas dari tujuan pembuatanya, (goresan) gambar pada gua itu dapat dikatagorikan sebagai grafiti.

Dinding memang menjadi satu media utama bagi para bomber. Permukaan yang luas dan datar menjadi salah satu alasanya. Aktifitas menulis di dinding sudah menjadi satu budaya sejak jaman primitive. Digunakan sebagai sarana komunikasi, bahkan juga digunakan untuk menggambarkan mistisme dan spiritual manusia pada massa itu. Tentu saja berbeda alasanya, kenapa pada masa primitive, dinding digunakan sebagai medianya. Kain atau kulit tentunya lebih penting digunakan sebagai pelindung tubuh, daripada untuk dicorat-coret.

Perkembangan zaman dan perubahan tatanan masyarakat ternyata memberi dampak yang cukup besar bagi perkembangan seni grafiti. Yang awalnya hanya sebagai satu media komunikasi, lambat laun berkembang menjadi satu media perlawanan dan protes.   Mulai terpisahkannya masyarakat dalam bentuk kelas-kelas, dan membuat satu kelas tertentu merugikan kelas yang lain. Karena perlawanan secara fisik dari golongan yang lemah dirasa dan secara nyata sering mengalami kekalahan, maka pada akhirnya grafiti muncul sebagai satu bentuk perlawanan baru dari kelas atau golongan yang kalah. Tak sekedar sebagai bentuk baru dalam perlawanan, grafiti juga menjadi media pembangunan kesadaran akan bagi kelas sosial masyarakat yang tergilas oleh kelas yang lain. (http://www.pysam.com,diakses 14 April 2007)


PERKEMBANGAN GRAFITI

Pada perkembangannya, grafiti di sekitar tahun 70-an di Amerika dan Eropa akhirnya  merambah ke wilayah urban sebagai jati diri kelompok yang menjamur di perkotaan. Karena citranya yang kurang bagus, grafiti telanjur menjadi momok bagi keamanan kota. Alasannya adalah karena dianggap memprovokasi perang antar kelompok atau gang. Selain dilakukan di tembok kosong, grafiti pun sering dibuat di dinding kereta api bawah tanah.

Di Amerika Serikat sendiri, setiap negara bagian sudah memiliki peraturan sendiri untuk meredam grafiti. San Diego, California, New York telah memiliki undangundang yang menetapkan bahwa grafiti adalah kegiatan ilegal. Untuk mengidentifikasi pola pembuatannya, grafiti pun dibagi menjadi dua jenis.

-  Gang grafiti
Yaitu grafiti yang berfungsi sebagai identifikasi daerah kekuasaan lewat tulisan nama gang, gang gabungan, para anggota gang, atau tulisan tentang apa yang terjadi di dalam gang itu.

-  Tagging grafiti
Yaitu   jenis grafiti yang  sering dipakai   untuk ketenaran  seseorang atau  kelompok.   Semakin  banyak grafiti jenis ini bertebaran, maka makin terkenallah nama pembuatnya. Karena itu grafiti jenis ini memerlukan tagging atau tanda tangan  dari pembuat atau bomber-nya. Semacam tanggung jawab karya. (http://id.wikipedia.org/ wiki/Grafiti, diakses 14 April 2007).

Grafiti juga memiliki reputasi yang cukup buruk di mata pemerintah hampir di seluruh negara, karena grafiti dituduh sebagai media yang paling frontal untuk menghujat atau pun mengkritik secara keras sebuah pemerintahan di sebuah negara. Walaupun kini banyak grafiti yang telah meninggalkan cara seperti itu, namun tetap saja pemerintah masih banyak yang tidak setuju dengan hal yang satu ini. Bisa dibilang seni ini merupakan sebuah seni yang termasuk kategori underground. Bisa dibilang demikian karena kegiatan ini dilakukan secara diam-diam dan biasanya dilakukan pada malam hari. Membicarakan grafiti dan politik maka tidak akan lepas dengan seorang tokoh yang bernama Alexander Brener. Ialah yang pertama kali membawa politik ke seni, dan ia juga yang pertama kali menyuarakan politik lewat media yang satu ini.  (“Grafiti” di Jalanan Ibu Kota’’, Harian Kompas, Jumat, 29 April 2005).




GRAFITI PADA ZAMAN MODERN

Adanya kelas-kelas sosial yang terpisah terlalu jauh menimbulkan kesulitan bagi masyarakat golongan tertentu untuk mengekspresikan kegiatan seninya. Akibatnya beberapa individu menggunakan sarana yang hampir tersedia di seluruh kota, yaitu dinding.

Pendidikan kesenian yang kurang menyebabkan objek yang sering muncul di grafiti berupa tulisan-tulisan atau sandi yang hanya dipahami golongan tertentu. Biasanya karya ini menunjukkan ketidak puasan terhadap keadaan sosial yang mereka alami.

Meskipun grafiti pada umumnya bersifat merusak dan menyebabkan tingginya biaya pemeliharaan kebersihan kota, namun grafiti tetap merupakan ekspresi seni yang harus dihargai. Ada banyak sekali seniman terkenal yang mengawali karirnya dari kegiatan grafiti.

Grafiti memiliki keindahan tersendiri, karena ia hadir dari seni, kebanyakan pelukis grafitti akan mencurahkan isi hati mereka lewat simbol-simbol, kata-kata, bahkan terkesan komikus. Karena ledakan kreativitas, media yang tidak dimaksudkan sebagai ajang seni dapat menjadi ajang seni, dan kehadirannya patut diapresiasi sebagai wujud kreatif dari kelas yang semestinya lebih dihargai dan diarahkan ke hal-hal positif. Keberadaan warna-warna dapat menjadi pengisi kekosongan dalam ruang-ruang publik yang tidak berkepribadian. (http://freemagz.com, diakses 14 April 2007)

Pada masa modern sekarang ini, grafiti pun mengalami satu perkembangan dalam tujuanya. Untuk menunjukan satu identitas pribadi, seperti yang dilakukan oleh seorang Amerika yang bernama Taki. Ia selalu menuliskan namanya, entah itu didalam kereta atau di dinding bis kota, yang kemudian membuat Taki menjadi terkenal. Hal tersebut kemudian diikuti oleh banyak anak muda disana, yang seperti terinspirasi oleh Taki. Hal ini karena hanya dengan melakukan coretan nama ditempat-tempat umum, maka dengan mudah dapat menjadi terkenal. Grafiti juga dilakukan oleh kelompokkelompok tertentu yang sekali lagi hanya bermotifasi untuk dapat menjadi dikenal kelompoknya. (http://www.pysam.com, diakses 14 April 2007).

Antara Seni, Perlawanan dan Vandalisme

Seni adalah satu bentuk ekspresi kreatif manusia. Seni juga sangat sulit diartikan atau dinilai. Setiap individu, baik sang seniman ataupun penikmat seni itu sendiri, bisa
membuat satu parameter untuk menentukan nilai dan artian dari sebuah karya seni. Ini menunjukan bahwa kebebasan adalah tuhan dari seni itu sendiri (www.prpindonesia.org - Grafiti Action, diakses 14 April 2007). 
Seni dapat diekspresikan dalam berbagai bentuk. Corat-coret di tempat  umum yang ha-nya sekedar untuk menunjukan satu identitas saja adalah bentuk seni juga. Sedikit berbeda bentuk dari coretan cat semprot yang dihasilkan oleh pelaku grafiti yang bermotifasi untuk memperkenalkan identitas pribadi atau golonganya, dengan pelaku yang melakukan grafiti sebagai media propaganda atau kritik atas satu kondisi sosial yang ada. Umumnya pelaku grafiti yang menjadikan grafiti sebagai media perlawanan dan penyadaran, dalam grafitinya selalu meninggalkan pesan-pesan bagi orang yang melihatnya. Sehingga hasil dari coretan tersebut pun, bukan sekedar kata-kata atau tulisan. Namun juga banyak menampilkan gambar-gambar, yang kemudian diolah sedemikian rupa, sehingga juga terlihat sebagai sebuah ekspresi kreatif. Kalaupun bentuk penyampaianya hanya berupa tulisan atau coretan, namun ketika coretan tersebut mempunyai makna, pesan atau kritik sosial, maka makna, pesan ataupun kritik sosial dari coretan tersebut adalah sebuah bentuk seni tersendiri. Karena seni itu sendiri, dalam benutknya yang luas akan selalu meningggalkan pesan. 

Vandalisme, adalah satu stigma yang sering diungkapakan orang terhadap pelaku grafiti maupun grafiti itu sendiri. Pada hakekatnya, vandalisme sendiri merujuk pada perusakan atas barang milik orang lain termasuk juga barang yang diperuntukan untuk kepentingan publik. Namun vandalisme mempunyai aspek emosi dalam melakukanya. Geram dan kesal atau bahakan hanya sekedar untuk melepaskan kebosanan semata, adalah motif dari vandalisme. Jelas memang, ketika merusak kepentingan publik dengan muatan emosi sebagai satu motifasinya, maka bisa kita katakan dia sebagai bentuk dari vandalisme. Berbeda dengan grafiti yang menjadi bagian dari seni, yang lebih menekankan pada unsur penyampaian pesan dan kebebasan berekspresi. 

Grafiti Action Sebagai Sebuah Komoditi

Tak bisa dipungkiri, bahwa grafiti action telah menjadi satu fenomena tersendiri di masyarakat. Khusunya bagi anak muda yang umumnya menjadi pelaku grafiti. Terlepas maksud dan tujuan dari grafiti action tersebut, baik yang pure seni ataupun yang memang ditujukan sebagai bentuk protes. Namun hal ini seperti sudah menjadi satu trend tersendiri dikalangan anak muda. 

“Pasar” memang mempunyai mata dimana-mana. Dimana dia melihat fenomena dan besarnya antusias akan sesuatu hal, maka dia akan menjadikan hal itu sebagai komoditi untuk mendapatkan keuntungan baginya. Contoh sederhanya adalah game play station yang bertemakan grafiti action, walaupun mungkin tidak terlalu laku dipasaran. Namun
“pasar” telah memperlakukan grafiti sebagai sebuah komoditi. Tak ada larangan memang mengenai hal ini, mengenai apa yang hendak dilakukan oleh “pasar” itu. 

Karena kondisi seperti ini mempunyai dua sisi yang berbeda bagi grafiti. Grafiti akan menjadi sangat banyak peminat atau pelakunya, namun disisi lain grafiti seolah-olah telah menjadi barang dagangan. Untuk yang kedua, tentunya sangat buruk dampaknya bagi grafiti. Karena grafiti, seperti halnya hakekat dari seni yang bertujuan untuk ekspresi bebas dan tidak untuk diperjualbelikan. Jika hal ini terus berlanjut, mungkin kita tak akan heran suatu saat, untuk melihat grafiti action harus mengeluarkan sejumlah uang. 

Dan yang mampu untuk melakukan perlawanan terhadap proses penghianatan terhadap grafiti sebagai seni, yang seharusnya tidak diperjual belikan adalah grafiti itu sendiri.
Pada saat yang sama, maka grafiti yang sejati akan melakukan perlawanan atas kondisi ini. Din-ding jalan akan semakin penuh dengan coretan, tembok-tembok publik pun akan sesak de-ngan berbagai macam tulisan atau gambar bernada protes. Tak hanya protes terhadap kondisi dimana grafiti menjadi komoditi, tapi juga protes terhadap sistem yang mem buat grafiti menjadi komoditi. (http://www.prp-indonesia.org - Grafiti Action, diakses 14 April 2007).

Dan ketika protes itu telah sampai kepada titik perlawanan terhadap sistem, maka grafiti tidak akan berjalan sendiri. Dia akan diiringi oleh lautan manusia yang menjadi korban dari sistem ini. 

Grafiti merupakan suatu bentuk karya seni yang telah merambah ke sejumlah kota besar di Indonesia. Karya seni publik yang lahir dari kota New York ini telah mengalami sejumlah perkembangan, dari yang awalnya hanya sekedar corat-coret, kini menjadi lebih artistik dan memiliki nilai seni. Pada tahun 2004, grafiti artistik masuk ke kota Surabaya. Kehadiran grafiti di Surabaya memiliki kontroversial. Masyarakat menilainya dari dua sisi, semakin memperindah kota atau semakin memperburuk kota. Obed Bima Wicandra, S.Sn dan Sophia Novita Angkadjaja, S.Sn, dosen Jurusan Disain Komunikasi Visual UK Petra. (http://fportfolio.petra.ac.id, diakses 14 April 2007).

Aliran Grafiti

Aliran atau gaya dalam grafiti cukup banyak, namun “tag” merupakan salah satu dasar yang harus dimiliki oleh para bomber. Tag merupakan gaya dalam menulis atau membuat gambar-gambar atau tulisan sehingga menarik, biasanya para bomber memiliki ciri khas  ma-sing-masing pada tag-nya tersebut. Selain tag ada pula yang disebut throw-up atau biasa disebut fill-in, ini adalah sebuah teknik menggambar dengan sangat cepat dengan menggunakan dua hingga tiga warna, di mana kecepatan menjadi tujuan utama dalam gaya yang satu ini.


Paling seru dalam grafiti ialah apa yang di sebut dengan wildstyle. Gaya ini adalah sebutan di mana seorang bomber dapat melakukan apa saja, baik itu dari segi disain atau pun pemilihan warna, dan karya yang paling ekstrim menjadi sesuatu yang paling menarik di sini. Para bomber pun saling menghasilkan karya-karya yang terkadang membuat seseorang harus memperhatikan dengan seksama maksud dan arti dari karyakarya mereka tersebut. dikutip dari http://www.freemagz .com, (diakses 14 April 2007).

Dalam seni grafiti, terdapat beberapa aliran-aliran yang sering digunakan oleh para bomber dalam membuat grafiti di tembok-tembok jalanan ibu kota. Berikut ini adalah sedikit penjelasan dari aliran-aliran grafitti :

Bubble, yaitu gaya pola yang umum dipakai writer atau bomber untuk melakukan throw up (menggrafiti dengan cepat).
Wildstyle atau semi wildstyle, yaitu gaya yang sejenis dan biasa dipakai serta populer bagi para writer. Ciri gaya pola ini adalah menggunakan ornamen seperti tanda panah, bintang, dll.
3D, yaitu gaya pola yang mengesankan kesan 3 dimensi.
Tagging. Adalah gaya/pola yang umum dilakukan oleh para bomber di mana hasilnya nampak seperti tanda tangan. Hanya sekadar tulisan. Ini yang kemudian disebut sebagai corat-coret.


Fungsi Grafiti

Dari berbagai macam jenis grafiti yang ada, fungsi grafiti pada zaman modern mengalami perkembangan fungsi. Adapun beberapa fungsi dari Grafiti. (http://www.freemagz .com, diakses 14 April 2007).

1.  Bahasa rahasia kelompok tertentu.

Grafiti  mengalami satu perkembangan dalam tujuanya. Untuk menunjukan satu      identitas pribadi, seperti yang dilakukan oleh seorang Amerika yang bernama Taki. Yang selalu menuliskan namanya, entah itu didalam kereta atau di dinding bis kota, yang kemudian membuat Taki menjadi terkenal. Hal tersebut kemudian diikuti oleh banyak anak muda disana, yang seperti terinspirasi oleh Taki, karena hanya dengan melakukan coretan nama ditempat-tempat umum, maka dengan mudah dapat menjadi terkenal. Grafiti juga dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu yang sekali lagi hanya bermotifasi untuk dapat menjadi dikenal kelompoknya (geng).


2.  Sarana ekspresi 

Seiring perkembangan jaman perubahan gaya hiduf (life style). Adanya kelas-kelas sosial yang terpisah terlalu jauh menimbulkan kesulitan bagi masyarakat golongan tertentu untuk mengekspresikan kegiatan seninya. Akibatnya beberapa individu menggunakan sarana yang hampir tersedia di seluruh kota, yaitu dinding 

3.  Sarana pemberontakan.

Grafiti sebagai media propaganda atau kritik atas satu kondisi sosial yang ada. Umumnya pelaku grafiti yang menjadikan grafiti sebagai media perlawanan dan penyadaran, dalam grafitinya selalu meninggalkan pesan-pesan pagi orang yang melihatnya. Sehingga hasil dari coretan tersebut pun, bukan sekedar kata-kata atau tulisan. Namun juga banyak menampilkan gambar-gambar, yang kemudian diolah sedemikian rupa, sehingga juga terlihat sebagai sebuah ekspresi kreatif. Kalaupun bentuk penyampaianya hanya berupa tulisan atau coretan, namun ketika coretan tersebut mempunyai makna, pesan atau kritik sosial, maka makna, pesan ataupun kritik sosial dari coretan tersebut adalah sebuah bentuk seni tersendiri. Karena seni itu sendiri, dalam bentuknya yang luas akan selalu meningggalkan pesan.
(http://www.freemagz.com, diakses 14 April 2007).

Komunitas Grafiti Di Kota Denpasar

Pengaruh musik R&B, hip-hop, dance dan  skate board turut serta menjadi bagian tak terpisahkan dalam perkembangan grafiiti di Denpasar. Namun Belum ada yang mengetahui pasti kapan dan dimana grafiti di Denpasar  pertama kali ditemukan. Semenjak tahun 2000 komunitas bomber semakin marak di Denpasar, ini dikarenakan pengaruh media elektronik, majalah dan internet yang memberikan banyak informasi tentang gaya hidup remaja saat ini yang kini sering diikuti oleh remaja yang ada di Denpasar. 

Sekelompok remaja dengan mengenakan sweater dan masker sambil menenteng cat semprot di tangan dan mulai berjalan menelusuri jalan-jalan dengan membawa satu tas penuh berisikan cat semprot kaleng. Beberapa saat mereka sempat berdiam diri di bawah lampu merah , dengan pandangan penuh arti menatap tembok-tembok yang kosong dan kusam tersebut. Sedetik kemudian tangan-tangan mereka mulai menyemprot tembok tersebut dengan cat semprot. Tidak ada yang tahu apa yang mereka ciptakan saat itu, sampai keesokan paginya para pengguna jalan mulai melihat hasil  karya para bomber tersebut. Dan karya inilah yang kita kenal sebagai grafiti. 

Rata-rata anggota bomber adalah pemuda berusia 18-23 tahun. Penampilan mereka terkesan semaunya, tidak terikat aturan dan bebas berekspresi. Salah satu bomber yang menamakan kelompoknya “Terror” beranggotakan: Cory, R-jack, Buble B, dan DD. Mereka tengah berkumpul di sebuah warung di kawasan pusat pertokoan di areal jalan Diponogoro. Soal identitas, para bomber (pembuat grafiti) ini memang sengaja ditutup. Mereka hanya mau diekspos memakai nama beken atau nama jalanan seperti cory, Rjack, Buble B, dan DD, soal nama asli dan domisili, mereka meminta tidak di publikasikan. Sebab ini berhubungan dengan aktivitas mereka yang sebelumnya melakukan “vandalisme” (membuat tulisan atau gambar liar di tembok jalanan). Selain itu, mereka sebenarnya menikmati doubel identitas yang mereka gunakan.

Sebelum tahun 2007, di saat tembok-tembok masih banyak yang kosong, masingmasing anggota bomber meluapkan ekspresi mereka. Dengan melakukan tagging (grafiti tulisan identitas) atau vandalisme (perusakan properti tanpa seijin pemiliknya) tulisan dan gambar, mereka memberikan warna pada tembok-tembok.  Alat yang digunakan biasanya cat semprot kaleng (pylox). Berbeda dengan mural yang berupa gambar atau lukisan ditembok yang lebih banyak menggunakan cat kayu, cat besi, cat tembok dan kuas. Komunitas beranggotakan empat personel ini terbentuk tahun 2006 lalu. Kebetulan hanya empat orang yang bisa berkumpul. Dengan berbagai latar belakang anggotanya (saat itu semuanya masih duduk di bangku SMA/SMK dan mahasiswa), mereka bisa menyatu. Kegemaran dan hobby mereka ber-grafiti bisa mempertemukan satu dengan lainnya.

Komunitas grafiti lain diantaranya abilty, flame kidz, U-zack, Socbeker, M2crew, Hollygan, TRN, 5 Cru, Cyber, ABILITY, TRN, WBA, PEGOK, DOZ, 153, WEBER, Racy, #2Bomb, Criz, Buble, popeye dan banyak lagi bomber yang   meramaikan pembuatan grafiti. Mereka terbentuk setelah beberapa perkumpulan kecil para pembuat grafiti di Denpasar, karya-karya mereka kebanyakan hanya berupa tagging (tag/inisial atau singkatan nama) yang tersebar di beberapa sudut tembok yang ada di kota Denpasar. 
             
Begitu banyaknya kelompok-kelompok bomber yang melakukan aksinya di berbagai tempat membuat terjadinya persaingan antar kelompok bomber di Denpasar. Ini bisa dilihat dari grafiti yang bertumpukan untuk menunjukun identitas komunitas mereka. Tableg adalah adalah sebutan untuk grafiti yang menindih grafiti lain yang lebih dulu dibuat. Biasanya, hal ini terjadi karena si pembuat grafiti yang belakangan tidak suka kepada pemilik grafiti sebelumnya.

Sebagai akibat dari tindakan itu, pemilik grafiti yang karyanya di-tableg(ditutup) meminta pertanggung jawaban dari si penableg. Ritus yang menyusul dari tindakan tableg, sebagai bentuk pertanggung jawaban, disebut dengan battle. Namun yang dimaksud dengan battle disini bukan berantem, tapi dengan menunjukan siapa yang bisa menciptakan grafiti yang paling menarik dari kata-kata atau bentuknya yang dapat menarik banyak perhatian.

Penelitian yang berjudul “Keberadaan Grafiti di Kota Denpasar” ini dilakukan di sejumlah jalan-jalan di kota Denpasar. Antara lain, Jalan Diponogoro, Jalan Sudirman, Jalan Dewi Sartika, jalan Hayam Wuruk WR Supratman, jln Teuku Umar, dan tempattempat yang menjadi sasaran para bomber. Para narasumber adalah pelaku grafiti itu sendiri. Kriterianya antara lain telah membuat karya grafiti di beberapa tempat, minimal telah 1 tahun aktif berkarya, grafiti yang dihasilkan berjenis grafiti artistik, dan sering berkarya bersama-sama dengan kelompok grafiti lain.

Motivasi Membuat Grafiti

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan pada para bomber pada tanggal 14 Januari 2008, diketahui bahwa motivasi untuk membuat grafiti tidak lain adalah untuk memperindah kota di samping faktor sekedar menunjukkan dirinya melalui grafiti. Hal ini diungkapkan oleh Cory. Tentu pendapat ini masih menimbulkan perdebatan dalam mengidentifikasikan tentang keindahan kota. Mereka berpendapat bahwa kebersihan tidak relevan dengan keindahan. Tembok yang dicat putih bukanlah keindahan, tetapi kebersihan. Bersih bagi mereka belum tentu indah, sedangkan indah bisa dimaknai dengan bersih.

Awal mulanya perlawanan secara vandalis melalui grafiti memang dilakukan oleh anak muda di Amerika Serikat dan Inggris dan kemudian berkembang ke negara-negara lain termasuk Indonesia. Namun secara konteks kelokalan, vandalis yang dilakukan oleh bomber di Amerika Serikat dan Inggris tersebut tidak lepas dari kebuntuan mereka tidak menikmati kembali ruang publik di samping secara politis dilakukan oleh anak muda yang anti mall, anti kemapanan dan anti pemerintah. Berikut ini adalah tabel yang menjelaskan alasan bomber membuat grafiti di tembok-tembok kota Denpasar:

Pada masa modern sekarang ini, grafiti pun mengalami satu perkembangan dalam tujuanya. Untuk menunjukkan satu identitas pribadi, seperti yang dilakukan oleh seorang Amerika yang bernama Taki. Ia selalu menuliskan namanya, entah itu didalam kereta atau di dinding bis kota, yang kemudian membuat Taki menjadi terkenal. Hal tersebut kemudian diikuti oleh banyak  anak  muda di sana, yang seperti   terinspirasi oleh   Taki,  karena hanya de-ngan   melakukan  coretan nama ditempat-tempat umum, maka dengan mudah dapat menjadi terkenal. Grafiti juga dilakukan oleh kelompokkelompok tertentu yang sekali lagi hanya bermotifasi untuk dapat menjadi dikenal kelompoknya. 

Grafiti merupakan salah satu dari sekian banyak bagian dalam bidang seni. Namun dinding dan tempat umum yang digunakan sebagai media seni dari grafiti, membuat banyak orang tidak menganggap itu sebagai seni, melainkan melihat grafiti sebagai sebuah perilaku yang merusak sarana dan kepentingan publik.

Memang tidak bisa kita jadikan pembenaran, bahwa kebebasan berekspresi bisa disampaikan dengan media apa saja temasuk dinding dan sarana publik sebagai medianya. Namun untuk mendapatkan sarana melampiaskan ekspresinya, seniman harus benyak mengeluarkan uang untuk berekspresi, ternyata tidak mampu dilakukan oleh para bomber. Maka digunakanlah dinding sebagai media mereka, selain pertimbangan utama bahwa sarana tempat-tempat umum adalah media yang paling tepat untuk digunakan dalam grafiti, grafiti harus meninggalkan pesan yang seharusnya pula dilihat oleh banyak orang.

Grafiti merupakan suatu bentuk karya seni yang telah merambah ke sejumlah kota besar di Indonesia. Karya grafiti telah mengalami sejumlah perkembangan, dari yang awalnya hanya sekedar corat-coret, kini menjadi lebih artistik dan memiliki nilai seni. Kehadiran grafiti di Denpasar memiliki kontroversial. Masyarakat menilainya dari dua sisi, semakin memperindah kota atau semakin memperburuk kota. Perkembangannya kini apakah Grafiti yang sudah meng-arah pada bentuknya yang artistik (tidak sekedar corat-coret) mampu memberikan keseimbangan lingkungan secara visual maupun perannya dalam berhubungan dengan budaya maupun masyarakat sosial setempat.

Penelitian ini juga bermaksud untuk mengetahui motivasi dari para pembuat grafiti, yang biasa disebut bomber. Para bomber memiliki motivasi yang beragam ketika membuat grafiti. Ada yang melakukannya untuk memperindah kota, namun ada juga yang melakukannya sebagai bentuk kegiatan vandalisme. Dikatakan vandalisme sebab mereka melakukan karya grafiti di tembok milik seseorang tanpa meminta ijin kepada orang tersebut. Graffitti sendiri cenderung dicap oleh masyarakat sebagai karya vandalisme dan kurang mendapat tempat di hati masyarakat, meskipun dalam grafitti itu terdapat unsur seni kaligrafi.

Dalam melakukan karya grafiti, para bomber mencari tembok-tembok yang tidak terawat untuk digunakan sebagai media. Tembok tak terawat yang dimaksud adalah tembok yang dibiarkan kumuh, tembok yang dulu putih bersih namun sekarang ada lumut hingga kecoklatan, dan tembok yang dibiarkan rusak, dan tembok milik umum yang tidak dirawat oleh instansinya. Namun bagi beberapa bomber yang memiliki jiwa pemberontakan dan anti kemapanan, tembok yang bagus juga dapat menjadi sasaran.
“Mereka jengah dengan warna putih yang menyilaukan mata. Jika di kawasan perumahan, mereka melakukannya untuk mendobrak tatanan yang rapi dengan sengaja memberi karya grafiti agar nampak eye catching,” Kata Cory. Grafitti yang dibuat umumnya adalah tulisan nama-nama gank (kelompok). 

Penelitian ini juga menyatakan bahwa motivasi sebagian besar bomber dalam membuat grafiti adalah untuk memperindah kota. “Bagi mereka, indah tidak sama dengan bersih. Tembok yang dicat putih bukanlah keindahan tetapi kebersihan. Bersih belum tentu indah, tetapi indah bisa dimaknai dengan bersih,” tutur DD. Menurut cory, grafiti merupakan karya seni yang berpotensi memperindah kota apabila grafitti tersebut mampu berinteraksi dengan lingkungannya. “Sayangnya, anak-anak Denpasar membuat grafiti hanya untuk mengikuti trend namun tidak diikuti dengan kualitas visual grafiti. Sehingga, semakin menimbulkan kesemrawutan visual kota yang sudah dikacaukan oleh produk-produk iklan,” jelasnya.

Melihat sekilas coretan demi coretan atau gambar demi gambar yang terdapat di hampir sudut kota Denpasar mungkin kita tidak akan mengerti apa maksudnya. Namun setelah kita perhatikan dengan seksama, maka akan kita temukan sebuah makna yang terkandung dalam gambar atau tulisan tersebut. Inilah yang kita kenal dengan sebutan grafiti.

Grafiti memang sebuah kegiatan seni yang sangat menarik. Di sini para bomber bebas mengekspresikan apa yang diinginkannya dengan menuangkannya ke dalam sebuah media yang berupa tembok dengan menggunakan cat semprot. Grafiti sendiri sebenarnya memiliki aliran tersendiri, seperti tag atau throw up, namun tetap saja aliran “wild style” atau freestyle menjadi salah satu aliran yang favorit bagi para bomber, karena mereka dapat melakukan apa saja baik dari segi disain maupun pemilihan warna. Karena itulah karya dari bomber penganut aliran ini biasanya agak lebih rumit.

Sasaran utama kaum bomber adalah dinding atau tembok yang tak terawat. Tembok yang dicat putih bersih tidak pernah menjadi sasaran empuk bomber yang mengerjakan grafiti artistik. Bilapun ada, maka bisa dipastikan grafiti tersebut bukanlah grafiti artistik melainkan berupa tagging belaka. Bentuk seperti ini memang menjadi semacam ‘musuh’ bagi bomber grafiti artistik. Jangankan tembok yang dicat putih bersih, karya grafiti artistik pun mereka timpa dengan tulisan atau kata-kata yang justru semakin memperburuk citra.

Oleh karena itulah, penilaian keburukan citra bersih tidak disama-ratakan kepada semua bentuk grafiti. Ada grafiti yang memang benar-benar bertujuan untuk memperindah kota, tetapi ada juga grafiti yang memang untuk merusak yang indah dan baik. Melihat tujuan grafiti artistik seperti di atas, maka pemilihan tempat pun direncanakan sebaik mungkin. Tembok yang tak terawat terlebih pada jalan-jalan utama atau strategis mereka timpa dengan grafiti artistik.

Tembok yang tak terawat tersebut, menurut DD dan Cory diasumsikannya sebagai bentuk pengingkaran terhadap hak miliknya sendiri. Artinya adalah mereka yang mempunyai tembok tidak sanggup merawatnya, karena itulah bomber mengambil alihnya dengan maksud menghilangkan kesan tak terawat dengan bahasa rupa yaitu grafiti artistik. Kalaupun ada tembok yang terawat hingga dicat putih bersih tetapi ada grafiti artistiknya, itu karena ada permintaan dari pemilik tembok tersebut.

Bentuk ‘pengambil alihan’ tembok yang tak terawat tersebut menjadi bentuk kepedulian mengenai bangunan di jalan-jalan strategis yang tidak merawatnya dengan baik, sehingga menimbulkan kesan kotor dari setiap pengendara kendaraan yang melintasinya. Tembok tak terawat didefinisikan mereka, sebagai berikut:
1)                  Tembok yang dibiarkan kumuh, sehingga poster dan pamflet iklan sangat mudah menempelkannya. Tembok semacam ini akan segera ditimpa oleh grafiti.

2)                  Tembok yang  dahulunya putih  bersih, namun lama kelamaan  memudar,  bahkan  warnanya cenderung kecoklatan dan kehitaman atau kehijauan karena lumut. Untuk tembok yang seperti ini, biasanya sebelum ditimpa grafiti, bomber akan mengecatnya dulu dengan warna putih untuk menimbulkan kesan segar.

3)                  Tembok yang dibiarkan rusak. Biasanya tembok ini dibiarkan beberapa bagiannya telah rusak dan oleh pemiliknya langsung ditindas dengan warna putih. Dalam jangka waktu ke depan, bagian yang rusak ini menjadi sangat kelihatan bentuknya dan mengurangi nilai kebersihan dan keindahan. Dengan pemberian warna, rusaknya bagian tembok bisa diminimalisir.

4)                  Tembok di ruang publik dan milik umum, namun tidak dirawat keberadaannya. Lokasinya yang memungkinkan publik melihat karena berada di tempat strategis menjadikan titik ini tidak berkesan indah karena tidak dirawat oleh instansi terkait. Biasanya berupa tembok di areal pertokoan, gang,  dan bangunan-bangunan tak terawat. 

Selain tembok yang tak terawat tersebut, kaum bomber juga mengarahkan sasarannya pada tembok yang terawat. Tembok yang dicat putih pun menjadi sasaran mereka. Berbeda dengan tagging yang asal membuat grafiti, namun tak terlihat estetis, grafiti yang dibuat secara artistik ini merupakan cara mereka menawarkan alternatif bila tembok tidak hanya dicat putih. 

Bomber Flame Kidz berpendapat bahwa kota tidak hanya bersih namun juga harus indah. Belum lagi panasnya kota oleh terik matahari, membuat warna putih terasa menyilaukan mata dan tampak semakin monoton. Pengendara kendaraan pun bisa menikmati gambar-gambar yang dibuat hanya sekedar melepas kepenatan mereka berkendara serta mengusir rasa kesal terhadap kemacetan lalu lintas kota. Memang karena tidak adanya kompromi dengan pihak pemilik menjadikan grafiti tetap menjadi
’musuh’ bagi mereka yang cinta dengan warna putih. Gagasan mereka secara underground disikapi miring, karena ruang tersebut merupakan ruang hunian yang bersifat privasi. Walaupun tembok tersebut milik publik, kejengahan kaum bomber tersebut dinilai sebagai usaha untuk ’merebut’ kembali ruang publik yang selama ini telah dikuasai oleh pembangunan gedung-gedung dan ruko.

Memang dalam gagasan ini sikap underground menjadi masalah utama, hal ini tak bisa dilepaskan dari sikap mereka sebagai anak muda yang ingin mendobrak tatanan, anti kemapanan dan pemberontak. Sikap underground ditunjukkan dengan tidak adanya ijin dari pemilik tembok serta melakukan grafiti biasanya dari sore menjelang malam atau di tengah malam hingga pagi hari. Berikut ini tembok terawat yang menjadi incaran mereka:

1)                  Tembok milik publik. Meskipun dirawat, namun kejengahan kaum bomber yang tidak bisa melihat tembok dicat putih dijadikan sasaran empuk olehnya. Menurut mereka tembok publik yang dicat putih bersih tidak mencerminkan keindahan, namun kebosanan dan membuat silau pada mata, apalagi kalau terik matahari di siang hari begitu menyengat. Inilah yang ditentang oleh mereka. Biasanya pagar yang membentang panjang.
 
2)                  Tembok milik pribadi. Beberapa kawasan yang dijadikan sasaran biasanya adalah perumahan. Masih dengan alasan mereka, bahwa warna  putih sangat membosankan dan menyilaukan mata, mereka juga berpendapat bahwa kebersihan bukanlah keindahan namun kemapanan. Grafiti artistik di daerah ini menjadi ‘buruk rupa’ karena secara teknis belum semaksimal karya grafiti seperti halnya di Jakarta dan Jogjakarta, sehingga penghuni rumah di kawasan perumahan yang umumnya mempunyai nilai rasa terhadap artistik visual tinggi belum menilai positif grafiti artistik tersebut. Selain itu penggarapan yang terkesan tidak terkoordinasi dengan baik, menjadikan karya grafiti di beberapa tempat secara visual kurang menarik, meskipun yang dikerjakannya adalah grafiti artistik.


PUSTAKA RUJUKAN

   
Mahayasa, I Nyoman. 2009. Grafiti Kota Denpasar. Skripsi pada Jurusan Pendidikan         Seni Rupa, FBS UNDIKSHA
Nuriarta, I Wayan. 2009. Analisis Bahasa Visual Komik Naruto. Skripsi pada Jurusan         Pendidikan Seni Rupa, FBS-UNDIKSHA           



No comments:

Post a Comment